BAGIKAN

Laporan dari Antara

Bidan dan dokter kerapklai main mata saat menangani ibu hamil, mereka mendorong persalinan lewat operasi caesar, kendati si pasien menolak. Angka lahir caesar di Indonesia termasuk tinggi di atas standar dunia kesehatan internasional.

 

SURYANI, usia 28 tahun, mengatup bibirnya rapat. Tak lama kemudian menarik nafas panjang dan melepaskannya. Ada rasa jengkel kala mengenang masa 11 bulan lalu.

Semua bermula saat ia dibilang hamil oleh dokter kandungan. Ia tentu senang mendengarnya, juga suaminya M. Yusuf.

Anak yang diidam-idamkan itu sejak setahun selepas perkawinan akan segera hadir di tengah-tengah mereka. Sejak itu pula, ia mulai menjaga asupan gizi hingga berhati-hati dalam berperilaku. Dan satu hal, Yani bertekad agar dapat melahirkan normal.

“Segala upaya saya lakukan, mulai dari membaca berbagai referensi melalui buku dan internet, juga mengikuti senam hamil ,” ujar tenaga administrasi di salah satu pabrik sepatu terbesar di Tangerang itu.

Bulan pun berganti, tidak ada kendala yang dialaminya. Semuanya berjalan tanpa masalah. Saat kehamilan berusia delapan bulan, kepala janin sudah berada di bawah dan tepat di atas jalan lahir.

Bekal pengetahuan yang akan digunakan saat persalinan pun sudah lengkap. Pada sesi senam hamil, ia mengetahui teknik pernapasan yang baik saat persalinan.

“Semua saran orangtua saya ikuti. Minum air kelapa muda, air kacang hijau dan jalan di atas bebatuan saya lalui,” kenang perempuan berkacamata itu.

Saat usia kehamilan menjelang sembilan bulan, ia dan suaminya sepakat melakukan proses persalinan di klinik bidan terdekat. Alasannya sederhana, bidan merupakan pejuang melahirkan secara normal dan sabar menunggu proses persalinan. Berbeda dengan dokter kandungan yang seringkali, meski tak selalu, menyarankan operasi caesar.

“Setelah diperiksa bidan, diperkirakan hari perkiraan lahir pada akhir Februari. Sama dengan yang disampaikan dokter kandungan sebelumnya.”

Perkiraan tinggal perkiraan, akhir Februari belum ada tanda-tanda hendak melahirkan. Ia pun kembali mendatangi klinik bidan itu, Klinik Choirunnisa.

“Bidan menyatakan tidak ada masalah, masih bisa ditunggu,” kata perempuan berkulit kuning langsat itu.

Selang dua hari setelah pemeriksaan terakhir, usai salat subuh, ia merasakan tanda-tanda hendak melahirkan. Bergegas, suaminya Yusuf mengajak ke klinik tersebut.

Di klinik, ia disuruh berjalan kaki untuk mengurangi sakit akibat kontraksi. Ia menjalani sepenuh hati. Kontraksi yang terjadi makin sering, Yani berharap agar proses itu cepat terlalui.

“Menjelang maghrib, datang bidan kepala. Dia menyatakan kandungan saya sudah lewat bulan, dan tidak akan bertanggungjawab jika janin saya kenapa-kenapa. Bidan itu meminta saya untuk menandatangani ‘inform consent’ jika saya menolak dirujuk.”

Yusuf, yang menemani duduk di samping Yani, mengenang saat itu posisinya dilematis. Ia menginginkan istrinya bisa melahirkan secara normal, namun juga ingin agar anak yang dilahirkan sehat.

“Bidan itu juga menaku-nakuti saya dengan menceritakan jika kemarin ada yang melahirkan lewat waktu dan anaknya harus dirawat karena terminum tinjanya saat dalam kandungan. Tentunya, saya semakin takut dan memutuskan untuk dirujuk saja.”

Yusuf memilih dirujuk, dengan pertimbangan jika terjadi hal buruk pada si janin bisa langsung ditangani pihak rumahsakit.

Proses rujuk-merujuk berlangsung singkat, bidan minta segera membawa Yani ke rumahsakit tujuan. Dokter yang menangani Yani, selain praktik di rumahsakit itu, juga praktik di klinik bidan tersebut.

“Saya menolak ditangani dokter yang juga praktik di klinik itu. Sampai-sampai bidan bertanya mengapa saya menolak. Tapi akhirnya, bidan itu mengalah dan merekomendasikan dr. Birza,” kenangnya.

Sesampai di rumahsakit, yang terjadi di luar harapan. Dokter di rumahsakit itu segera minta untuk melakukan operasi Sectio Caesar.

“Saya ingat betul, ketika itu saya terbaring kesakitan di ranjang rumahsakit sementara suami sedang mengurus administrasi. Dokter itu bolak-balik dan menanyakan ke bidan, ‘Apakah mau dioperasi atau tidak?’ Kalau tidak, dia mau pulang. Dokter itu seperti orang tidak sabaran,” tutur Yani, kesal.

Saat Yusuf kembali, ia berargumen dan mengatakan istrinya mampu melahirkan normal, namun kemudian terbantahkan oleh dokter yang mengatakan kehamilannya sudah lewat waktu.

“Dokter tidak menjelaskan dampak dari operasi itu kepada saya. Itu yang juga saya sesalkan,” kenang Yusuf.

Hanya kurun waktu sejam, sejak proses rujukan dilakukan, operasi caesar dilakukan. Enam jam setelah proses persalinan itu, Yani baru sadarkan diri.

“Kalau mengingat itu, saya sakit hati. Teman saya hamil kembar, dan bisa melahirkan normal,” timpal Yani.

Ia pun mencurigai adanya kerjasama antara bidan dan dokter maupun rumahsakit itu karena sebelumnya bidan merekomendasikan dokter yang juga praktik di rumahsakit itu.

Yani tak hanya merasakan dampak proses persalinan dalam waktu singkat, namun sepanjang hidupnya. Sejak melahirkan, aktivitasnya tidak sepadat dulu. Jika terlalu letih, ada nyeri terasa di bawah perutnya. Tepat di sayatan bekas operasi itu.

 

Kisah Titin

Lain cerita Yani, lain pula cerita Titin. Rohani, usia 45 tahun, masih ingat jelas saat anak keduanya, Titin Suhartini, dirujuk dari klinik bersalin ke rumahsakit. Saat itu awal Oktober 2012.

Titin mengalami mulas-mulas pada pagi hari dan langsung dibawa ke klinik bersalin Choirunnisa milik bidan Muwarni yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Tak lama di rumah bersalin, dengan setengah memaksa bidan memintanya dirujuk ke rumahsakit dengan alasan sungsang.

Bidan merujuknya ke Rumahsakit Ariya Medika dan merekomendasikan dr. Birza. Begitu tiba di rumahsakit, dokter segera melakukan tindakan operasi. Keluarga hanya pasrah dengan apa yang terjadi.

“Suaminya disuruh masuk ke dalam dan tandatangan. Tidak ada penjelasan dari dokter ke keluarga,” kata Rohani.

Sebagai perempuan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, Rohani hanya pasrah dengan apa yang terjadi pada anaknya. Ibu tiga anak itu sama sekali awam dengan dunia kedokteran.

Operasi itu menghabiskan dana Rp 7 juta. Bagi Rohani yang berjualan bunga di pasar, biaya operasi itu sangat besar.

Apalagi menantunya, Ahmadi, bekerja sebatas buruh kontrak di pabrik konveksi. Perusahaan itu tidak menanggung biaya pengobatan.

Cucunya, Muhammad Irfan Daffa Syaputra, lahir selamat dan sehat. Rohani dan keluarga besarnya sangat gembira menyambut kehadiran cucu keduanya itu.

Namun kebahagian tak berlangsung lama. Selang 25 hari setelah melahirkan Titin meninggal. Dokter menjelaskan penyebab kematiannya adalah infeksi pada rahim.

“Kalau ingat itu, saya suka menangis sendiri,” ujarnya, lirih.

 

“Bayi punya waktu sendiri untuk lahir”

Pelopor gerakan Gentle Birth Untuk Semua bidan Yesie Aprilia mengatakan hari perkiraan lahir bukan harga mati kelahiran bayi. Taksiran hari lahir sekedar perkiraan. Ia meyakini bahwa bayi mempunyai waktu sendiri untuk lahir, “Lagi pula, dari mana kita tahu bahwa perhitungan hari perkiraan lahir itu tepat?!”

Yesie, yang menetap di Klaten, mengatakan perempuan dengan kondisi kehamilan sungsang pun, sebenarnya masih mempunyai kesempatan untuk melahirkan secara normal asalkan memenuhi persyaratan seperti janin tidak terlalu besar, plasenta dalam keadaan baik, dan tidak ada kelainan.

Disinggung mengenai air ketuban yang kurang, Yesie mengatakan air ketuban diproduksi oleh tubuh. Semakin banyak minum, maka tubuh akan memproduksi air ketuban.

Yesie menuturkan bahwa sulit mencari tenaga kesehatan yang pro-melahirkan secara normal, terutama di kota besar. Ia menyarankan agar para ibu memilih layanan kesehatan dengan tingkat kejadian operasi caesar rendah.

“Operasi caesar hanya memerlukan waktu singkat, tidak perlu menunggu lama untuk observasi,” ujarnya.

Operasi caesar bisa menjadi prosedur untuk menyelamatkan nyawa ibu maupun bayinya. Namun data terakhir menunjukkan bahwa operasi caesar menempatkan perempuan pada peningkatan resiko untuk terjadi komplikasi medis pada kehamilan dan kelahiran berikutnya.

Operasi caesar juga dapat menempatkan beberapa wanita pada peningkatan resiko psikologis. Untuk itu, perlu dilakukan semacam dorongan pada perempuan untuk memberdayakan diri mereka, untuk menghindari operasi caesar.

“Tubuh perempuan diciptakan sedemikian rupa untuk bisa melahirkan. Bayi seharusnya lahir melalui jalan lahir, bukan melalui ‘pintu’,” ujar Yesie.

 

Modus rujukan antara bidan dan dokter

Kisah rujuk-merujuk saat persalinan tidak hanya dialami oleh Suryani dan Titin. Mantan pegawai Klinik Choirunnisa, Puteri Lenggogeni, menyebutkan rujuk-merujuk itu kerap terjadi.

Dari rata-rata tujuh persalinan setiap bulan di klinik itu, sebanyak lima diantaranya dirujuk ke rumahsakit.

“Sebagian besar memang dirujuk ke rumahsakit yang ada di dekat sini,” ujar Puteri.

Puteri bilang, sebagian besar rujukan ke rumahsakit Ariya Medika. Puteri berhenti bekerja di klinik itu setahun lalu karena alasan gaji yang tidak sesuai.

Mantan pegawai lain, Dewi P, mengatakan sejak dua tahun terakhir sangat jarang pasien melahirkan di klinik itu.

Kalaupun ada, itu pun pasien yang sebelumnya operasi caesar di rumahsakit.

“Kalau dirawat di klinik, memang sistemnya paket. Lebih murah dibandingkan rawatan lanjutan di rumahsakit,” jelas Dewi.

Seorang pasien yang pernah melahirkan di klinik itu, Khotimah, usia 27 tahun, mengatakan dulu ia juga hendak dirujuk ke rumahsakit oleh klinik tersebut. Tapi ia urung karena ia dan keluarganya sungkan dirujuk walau bidan kepala sudah minta ia dirujuk.

“Alasan dirujuk karena pembukaannya tidak maju-maju. Saya tidak mau dirujuk. Kurang lebih empat jam setelah itu, saya melahirkan secara normal,” kenangnya.

Warga Tangerang lain, Tri Handayani, mengatakan biaya rawat inap yang lebih murah merupakan bujuk rayu dari bidan agar pasien mau melakukan bedah caesar.

“Biasanya harganya paket, mulai Rp 5 juta hingga Rp7 juta,” ucapnya menetap di kawasan Serpong.

Tri sendiri mengalaminya ketika melahirkan anak pertamanya, Daffa. Saat itu air ketubannya berkurang. Ia dirujuk bidan ke rumahsakit tertentu dan diberi iming-iming kalau biaya rawatan lanjutan lebih murah. Tri menolak dan memilih rumahsakit lain.

Ketua Indonesian Hospital and Clinic Watch (Inhotch) Fikri Suadu mengatakan kerja sama antara bidan, dokter serta rumahsakit merupakan fenomena umum yang sudah lama terjadi.

Bidan merujuk pasien ke rumahsakit tertentu, untuk segera dilakukan tindakan operasi caesar. Dokter yang menanganinya pun, tak lain tak bukan adalah dokter kandungan yang juga praktek di klinik bidan tersebut.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu mengatakan idealnya sebelum melakukan operasi, minimal harus dilakukan tindakan observasi hingga 24 jam. Tak langsung operasi.

“Besar uang yang didapat bidan, tergantung biaya operasi. Jika biaya operasi Rp 5 juta, ya bidan bisa mendapatkan uang sekitar Rp 1 hingga Rp2 juta,” katanya.

Praktik macam itu kerap terjadi dan sangat merugikan masyarakat. Suadu menuding salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesejahteraan tenaga kesehatan.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan dokter-dokter di daerah penghasilannya Rp 2,5 juta per bulan. Sementara dokter di perkotaan mendapat tambahan dari buka praktik di rumah. IDI menyebut idealnya gaji dokter Rp 20 juta. Sementara gaji bidan di daerah hanya Rp 1,5 juta dan bidan daerah terpencil Rp 1,7 ribu.

“Pemerintah terkesan abai terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan, sehingga membuat tenaga kesehatan menjadikan pasien sebagai sarana untuk mengumpulkan pundi-pundi. Rumahsakit pun tak luput menjadikan pasien sebagai objek,” tukas Suadu.

 

Demi selamatkan pasien

Muwarni, Pemilik Klinik Choirunnisa yang juga bidan kepala, membantah jika ada kerjasama antara pihaknya dengan dokter maupun rumahsakit.

“Kalau rujukan itu dilakukan berdasarkan Aturan Persalinan Normal dan juga Partograf (alat bantu yang memantau progresi persalinan),” jelasnya.

Muwarni melakukan rujukan atas persetujuan dari keluarga pasien. Disinggung mengenai adanya bayi yang perlu mendapat rawatan karena dilahirkan lewat waktu, Muwarni mengatakan dia tidak ingat akan hal itu.

“Saya kalau merujuk, hanya pasien yang keadaannya betul-betul gawat ataupun ada penyulit,” kata Muwarni yang memiliki dua klinik itu.

Dulu Muwarni mengakui pasien yang dirujuk cukup banyak terutama di Klinik Choirunnisa. Tapi sejak suaminya meninggal pada pertengahan Oktober 2013, ia berencana menutup salah satu kliniknya.

Sementara itu, dokter Birza SpOG yang melakukan tindakan operasi pada Yani mengatakan tindakan yang dilakukannya semata menyelamatkan ibu dan bayi tersebut.

Idealnya, observasi dilakukan untuk anak pertama selama delapan hingga 24 jam. Ia beralasan segera melakukan operasi karena akan membahayakan bayi jika melahirkan secara normal.

Kehamilan sudah lewat waktu membahayakan karena memengaruhi janin. Kehamilan lewat 42 minggu mengakibatkan jumlah cairan berkurang. Dan plasenta tidak bekerja secara optimal untuk memberi pasokan makanan serta oksigen ke janin.

Kehamilan lewat waktu menyebabkan keluarnya kotoran janin yang bersifat racun (mekonium) ke dalam cairan ketuban. Bila janin menghirup cairan ini, ia bisa lahir dengan paru-paru yang bermasalah, seperti pneumonia atau radang paru.

“Satu-satunya yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi, ya harus dioperasi,” jawabnya.

Kepala Bagian Satuan Pemeriksa Internal Rumahsakit Ariya Medika Ida Jubaidah mengatakan pihaknya memang bekerjasama dengan klinik dalam proses rujukan.

“Tapi kami tidak bekerjasama dalam arti kata negatif. Kalau ada pasien yang kondisinya gawat darurat, segera dirujuk ke rumahsakit,” katanya.

Pihak rumahsakit beralasan, sebagian besar pasiennya adalah pasien rujukan dengan kondisi gawat darurat. Berbeda dengan rumahsakit ibu dan anak.

“Jarang sekali yang melahirkan normal, karena memang rujukan dari bidan-bidan di dekat rumahsakit,” jelas perempuan yang menetap di Cengkareng itu.

Biaya persalinan melalui operasi caesar berkisar Rp 6 juta hingga Rp 7,5 juta untuk kelas III. Jauh lebih mahal dengan persalinan normal, sekira Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

 

“Kurang komunikasi pada pasien”

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr Nurdadi Saleh SpOG melihat permasalahan itu disebabkan kurangnya komunikasi pada pasien.

Akibatnya, pasien sering berburuk sangka pada dokter dan menganggap tindakan yang dilakukan dokter semata karena uang.

“Saya selalu menghimbau kepada sejawat untuk melakukan komunikasi dengan pasien dan juga keluarganya,” ujar pria yang sehari-hari mengendarai Toyota Land Cruiser Prado itu.

Nurdadi berpendapat, kasus yang menimpa dokter Ayu di Manado misalnya, terjadi hanya karena kurangnya komunikasi. Dokter Ayu digugat keluarga pasien karena diduga melakukan malpraktik ketika melakukan operasi caesar dan mengakibatkan pasien meninggal dunia.

“Dokter tidak menjelaskan secara rinci pada keluarga mengenai kondisi pasien,” ujarnya.

Seharusnya, sebelum keluarga menandatangani inform concent, mereka mendapat penjelasan lebih rinci mengenai kondisi pasien dan tindakan yang akan dilakukan.

“Berikut dampaknya. Misalnya, kalau anak ibu dioperasi caesar, resikonya bisa bermacam-macam seperti infeksi, nyeri, eboli udara dan sebagainya,” jelas Nurdadi yang bermukim di kawasan Menteng itu.

 

Semata bisnis

Ribka Tjiptaning, ketua Komisi IX di mana salah satu amanat komisi ini mengawasi kesehatan, mengatakan adanya indikasi bisnis saat bidan merujuk pasiennya merupakan kisah lama yang masih tetap berlanjut hingga kini.

Indikasi bisnis itu tidak hanya terjadi saat bidan melakukan rujuk, tapi juga terjadi di rumahsakit.

Itu ditemukannya saat melakukan kunjungan kerja ke sebuah rumahsakit di Bengkulu pada akhir 2013. Politikus dari PDI-Perjuangan itu menemukan sendiri adanya indikasi bisnis dengan tiadanya pelayanan kebidanan di rumsahsakit umum daerah Bengkulu.

“Seharusnya di rumahsakit itu ada lima spelisiasi dasar yakni dokter kandungan, penyakit dalam, anastesi, kebidanan dan anak. Tapi di rumahsakit itu hanya empat pelayanan, kebidanan tidak ada. Rumahsakit beralasan kalau banyak pasien yang mau operasi caesar saat melahirkan,” jelasnya.

Ia menjelaskan seharusnya operasi caesar dilakukan karena adanya indikasi medis bukan indikasi bisnis.

Keluarga Tjiptaning sendiri pernah mengalaminya saat menantunya divonis oleh dokter kandungan harus melahirkan melalui operasi. “Saya bingung, saya yang dokter mengecek tidak masalah apa-apa. Dan terbukti, menantu saya akhirnya melahirkan normal,” jelas perempuan berambut pendek itu.

Tjiptaning menyayangkan jika ada dokter yang melakukan operasi caesar terhadap pasien tanpa adan indikasi medis. Ia tak heran dokter kandungan di perkotaan bisa hidup mapan lantaran praktik curang tersebut.

“Seharusnya di rumahsakit itu ada lima spelisiasi dasar yakni dokter kandungan, penyakit dalam, anastesi, kebidanan dan anak. Tapi di rumahsakit itu hanya empat pelayanan, kebidanan tidak ada. Rumahsakit beralasan kalau banyak pasien yang mau operasi caesar saat melahirkan,” jelasnya.

Saat ini sebagian besar dokter sudah mulai kehilangan idealisme, menurut Tjiptaning. Dokter seharusnya bekerja untuk kemanusiaan, bukan karena ingin memiliki banyak uang.

“Sedikit-sedikit operasi. Padahal fungsi obstetri itu ya menunggui ibu melahirkan sekaligus diberi motivasi, itu yang hilang saat ini. Terbukti dengan dokter kandungan yang kaya raya sekarang ini.”

Bedah caesar, katanya,sama halnya dengan menambah pemasukan cukup besar bagi rumahsakit. Mulai dari biaya kamar, infus, kunjungan dokter, obat-obatan, dan pelayanan lain.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi sendiri mengimbau para dokter tidak mudah memberi rekomendasi operasi caesar untuk pasiennya.

Angka kelahiran melalui operasi caesar mencapai 60 persen dari rata-rata kelahiran yang mencapai 4,7 juta jiwa di Indonesia. Itu jauh melampaui batasan internasional yang diterapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 26 persen.

Nafsiah Mboi mengatakan seharusnya operasi dijalankan bila memang harus, bukan karena permintaan dari pasien agar lahir pada tanggal tertentu atau agar tidak merusak jalan lahir.

Operasi caesar seyogianya dilakukan jika kondisi pasien benar-benar tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Bukan karena setengah hati atau “dipaksa” oleh tenaga kesehatan.[]

 

——-

Liputan ini dipublikasikan di antaranews dalam dua versi. Satu versi hanya bisa biakses bila berlangganan, terbit 21 Maret 2014, dipecah jadi dua bagian. Versi yang diakses bebas disiarkan 23 Maret dengan judul “Mereka tak berdaya di tangan tenaga kesehatan”.

Indriani, penerima hibah Pindai untuk liputan kritis atas isu kesehatan publik, bekerja di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara sejak 2011. Ia meliput isu kesejahteraan rakyat dan hiburan.