BAGIKAN

Bagaimana menjalani hari-hari setelah peristiwa serangan mematikan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, mengungsi di suatu kampung di pinggiran Jakarta, selama empat tahun terakhir?

 

NAYATI datang terlambat ke pengajian, lalu menyapa, “Kapan datang? Nginep di mana?”

Lalu kami mengobrol pelan di belakang. Agaknya ini pertemuan keempat setelah kali pertama kami bertemu empat tahun lalu. Tak banyak yang berubah, kecuali badannya yang agak berisi. Seperti kabar yang saya dengar, ia tengah mengandung.

“Sehat hamilnya?”

Nayati tersenyum malu, “Iya, kebobolan. Tahunya hamil aja pas udah tiga bulan.”

“Nanti habis pengajian saya main ke rumah ibu, ya.”

Rumahnya semipermanen berukuran 4×5 meter dari batako dan tripleks. Ada suaminya, juga Ela dan Lina, dua anak perempuannya yang masih kecil. Mereka cantik dan ceria. Ela tengah mengerjakan tugas sekolah. Ia tersenyum malu-malu.

Saya disambut di ruang utama sekaligus ruang tidur tempat belajar Ela dan Nina. Ada ranjang pegas tempat dua anak perempuan manis tadi tidur. Nayati dan suaminya menggelar kasur di bawah.

“Tadi saya agak telat karena ngurusin dagangan dulu,” ujar Nayati.

Pengajian tadi kegiatan bulanan untuk perempuan Ahmadiyah; salah satu program internal rutin jemaat Ahmadiyah untuk pembinaan rohani anggotanya, termasuk kini di lingkungan Nayati dan keluarganya tinggal. Jemaat Ahmadiyah Indonesia termasuk organisasi keagamaan yang rapi dan terorganisir.

Di luar rumah, saya melihat gerobak dan sayur sisa jualan tadi pagi. Ada ikan asin, tempe, kangkung dan macam lain. Dagangan ini diputar lagi sore hari. Seperti di Cikeusik, di sini Nayati berjualan. Jualan sayur keliling adalah usaha yang Nayati lakoni empat tahun terakhir.

Nayati menyuguhkan air dan makanan ringan.

“Kata Bu Mira, ibu kesulitan ngurus KTP, ya?” Saya mencoba bertanya hati-hati.

Empat tahun lalu, 6 Februari 2011, sekitar 1.500 orang menyerang sebuah rumah dan keluarga muslim Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, ujung barat pulau Jawa, tujuh jam berkendaraan dari Jakarta. Serangan itu menewaskan tiga Ahmadi dan melukai lima Ahmadi lain. 12 orang dari kelompok penyerang dihukum ringan, antara 3-6 bulan penjara; sebaliknya, seorang Ahmadi dijerat pula menjalani 6 bulan penjara.

Sebelum bertemu Nayati, saya mengobrol dengan Bu Mira, istri mubaligh setempat yang jadi tempat berbagi batin antara perempuan penyintas Cikeusik di wilayah itu: Nayati dan dua saudara perempuan. Mendiskusikan kondisi terkini ibu-ibu Cikeusik dan bagaimana sebaiknya menjalin percakapan. Saya membayangkan, setelah tahun-tahun padat—diwawancarai wartawan dan peneliti dari dalam dan luar negeri, diundang pelbagai organisasi masyarakat sipil untuk testimoni dan kegiatan-kegiatan advokasi—pasti jenuh harus membicarakan lagi dan lagi; sementara kondisi mereka, sejauh ini, masih belum stabil.

Di luar dugaan, Nayati bercerita.

“Iya. Saya urus di sini. Sama RT dikasih, sama RW dikasih. Tapi pas ke lurah, kata lurah, ‘Mana surat pindah kamu?’”

Berkas penting seperti KTP, kartu keluarga, akta kelahiran—tak ada yang sempat terbawa. Saat ia menengok lagi, rumahnya telah dijarah.

“Sudah tiga kali saya nyoba (ke rumah di Cikeusik). Sendirian. Enggak sama suami. Suami saya takut,” katanya. Suami Nayati, Udin, tersenyum.

Butuh surat pindah untuk mendapat KTP baru. Terakhir, ia berusaha ke Cikeusik pada Maret 2014. Tiap kepulangan tak pernah bisa terlalu lama dan surat pindah tak pernah bisa dikantongi. Jawaban aparat desa sampai kecamatan sama: keluar dari Ahmadiyah atau jual aset mereka dengan harga murah. Aset yang dimaksud adalah tanah, sawah, dan rumah milik keluarga besar Nayati.

Nayati berpikir, kartu identitas bisa membantu meringankan hidupnya. Setidaknya, bila punya kartu identitas, ia bisa mengurus beasiswa sekolah bagi keempat anak. Juga, yang paling dekat, bisa mendapat biaya ringan untuk persalinan nanti.

Empat anaknya—Rahman, Arif, Ela dan Lina—menginjak usia sekolah. Ela dan Lina di sekolah dasar. Arif baru lulus sekolah menengah atas. Rahman masih kuliah. Niatan Rahman untuk berpendidikan tinggi didukung orangtuanya. Kepada Nayati, Rahman mengatakan ingin kuliah supaya bisa bekerja lebih baik untuk meringankan kehidupan orangtua dan adik-adiknya.

“Jangan jadi orang bodoh. Orang bodoh cuma habis umur, habis tenaga. Mati,” ujar Rahman.

Biaya sekolah Rahman, dalam satu semester untuk kuliah dan makan, bisa lebih dari Rp 10 juta. Ia studi diploma tiga teknologi pertanian. Biayanya didapat dari hasil Nayati berjualan keliling sayuran dan Udin sebagai buruh bangunan. Seorang anggota jemaat—demikian para Ahmadi menyebut organisasinya—adalah pemborong bangunan. Ia mengajak Udin untuk bekerja bersamanya.

Arif, anak keduanya, sejak kejadian Cikeusik, bercita-cita sekolah hukum. Keinginan Arif sempat tak disetujui kakaknya. Menurut Rahman, hukum adalah dunia yang rawan bahaya. Arif tetap percaya diri dengan pilihan rencana itu. Arif anak yang cerdas dan luwes berbicara.

Menunggu kakaknya selesai kuliah, sehingga ia dapat melanjutkan sekolah hukum, sekarang Arif membantu saudaranya berjualan es. Bila punya modal, ia ingin bisa membuka warung sendiri berupa toko sembako. Saran Nayati, jika ada modal, buka usaha yang untungnya besar, jangan sembako. Mebel, misal. Dimulai dari bekerja di toko mebel, “Nggak apa-apa jadi kuli sementara, tapi kita bisa ambil ilmunya,” saran Nayati.

 

ADA tiga perempuan Cikeusik yang tinggal di cabang jemaat tersebut. Nayati, Maryamah, dan Nurhayati. Ketiganya kakak-adik. Nur paling kecil. Ia tinggal di rumah kontrakan bersama dua anaknya, Ramli dan Ayu. Ramli masih TK, Ayu belum sekolah. Saya ditawari menginap di rumahnya.

Hanya ada Nur dan Ayu. Beberapa hari lalu Ramli dibawa suamianya, Baim, ke Indramayu. Di rumah, Nur merasa kesepian sejak Maryamah pindah kontrakan. Rumahnya agak jauh dari akses jalan. Semula Nur dan Maryamah tinggal serumah. Beberapa bulan lalu Maryamah pindah sekira 500 meter ke rumah kontrakan yang dekat dengan jalan agar bisa buka warung.

Tak seperti Nayati yang belum punya KTP, Nur sudah punya KTP baru. Ia membayar Rp 500 ribu, jumlah uang yang tak sedikit baginya, untuk membuat KTP. Syarat membuat kartu identitas baru harus ada surat pindah atau berkas lama.

“Saya ngubek-ngubek tas. Alhamdulillah, ada nemu fotokopian KTP lama selembar-lembarnya itu,” ujar Nur.

Sehari-hari Nur berjualan pepes ikan dan tahu. Pagi hari, dari ikan yang dibeli di pasar berjarak sekira 1,5 km dari rumah, ia membuas pepes ikan. Malamnya ia masak pepes tahu. Lantas ia berjualan keliling dari rumah ke rumah hingga petang dengan sepeda pemberian salah satu anggota jemaat. Kedua anaknya dititipkan di rumah Nayati atau Maryamah. Ela dan Lina, anak Nayati, menjaga anak-anak Nur saat bermain.

“Suka diomongin tetangga. Tetangga pernah bilang ke anak saya, ‘Ramli, itu bukan Mama kamu. Masak Mama kamu pulang habis magrib, anaknya nggak diurus.’”

“Kan saya sedih diomongin gitu. Coba kalau ada pendamping di sini… Anak saya ada yang ngurusin di rumah. Bisa gantian.”

Sejak kejadian Cikeusik, Baim, suaminya, tak tinggal bersama. Baim bukan anggota jemaat Ahmadiyah. Ia pulang ke Indramayu, satu wilayah di pinggiran pantai utara Jawa Barat. Suaminya enggan menemani Nur tinggal bersama di tempat baru. Sesekali suaminya menjenguk. Paling lama ia pernah tinggal sepuluh hari. “Mungkin karena di sini banyak orang Ahmadiyah kali, ya. Saya juga nggak paham sih maunya dia apa?”

Cabang jemaat yang terletak di pinggiran Jakarta ini cukup besar, anggotanya mencapai 400 orang.

Di Indramayu, suaminya tidak bekerja. Nur menghidupi sendiri dan anak-anaknya.

“Kadang saya mikir, ‘Apa pisah aja, ya? Mungkin Allah Ta’ala punya rencana lain.’ Tapi kasihan sama anak-anak.”

Nur juga memikirkan aset-asetnya di Cikeusik: tanah, sawah dan rumah—hasil ia bekerja selama tujuh tahun sebagai buruh migran di Arab Saudi. Pada 2008, sepulang dari Arab Saudi, ia membelinya. Urusan pindah nama tanah belum selesai, posisinya masih rawan. Ia mempertahankan pernikahan karena hanya suaminya yang bisa pulang dengan aman mengurus tanah dan rumah di sana.

“Suami saya kan non-Ahmadi. Jadi kalau pulang, enggak diapa-apain, enggak diancam.”

“Kalau rumah bocor, saya minta tolong suami pulang ke sana, biar enggak rusak.”

“Saya suka enggak tahan. Dia itu pengennya saya pulang lagi ke Cikeusik. Tinggal bareng lagi di sana. Ya gimana, orang saya nggak bisa pulang ke sana. Ya, saya maunya pulang. Emangnya enggak pengen pulang?!”

Di lingkungan baru, bahkan setelah empat tahun, hidup lebih berat bagi Nur. Apa-apa keluar uang. Beras dan bahan makanan, biasanya bisa didapat dari sawah dan lahannya di Cikeusik, harus ia beli. Sementara hasil jualan pepes hanya cukup untuk kebutuhan satu hari; untuk esoknya harus mencari lagi.

“Ya, sedih sebenernya. Kalau orang-orang punya pasangan bisa curhat masalahnya, gimana solusinya, gimana kondisi ekonomi. Ini sendiri aja.”

Berjualan pepes, selain usaha menghidupi diri, juga usaha menghadapi rasa sepi di rumah. Biaya sewa rumah kontrakannya dibantu oleh anggota jemaat setempat secara kolektif.

“Tapi ya, sampai kapan sih ditanggung terus? Pengennya cepat mandiri. Cuma kalau berusaha sendiri, kapan cepat mandirinya? Pemerintah bantu apa gitu…”

Di antara yang lain, Nur masih menaruh harap pada pemerintah Indonesia.

Beberapa bulan sebelum pemilihan umum, orangtua Nur pulang. Mereka ke Polres Pandeglang. Meminta Kepolres memberi surat pengantar supaya tanah keluarganya bisa digarap. Sawah dan tanah keluarga Matori dan anak-anaknya ditelantarkan. Orang-orang yang hendak garap dan bagi hasil atas tanah milliknya diancam-ancam jawara setempat.

Sawah Nayati sempat bisa digarap. Orang yang menggarap beralibi kepada aparat desa dan jawara yang suka mengancam bahwa sawah tersebut bukan lagi milik Nayati, sudah digadaikan kepadanya. Namun, ia tak jujur dalam bagi hasil. Nayati jengkel. Ia mengganti garapan pada orang lain. Orang itu marah dan menghasut yang lain. Akibatnya, sawah Nayati belum digarap lagi karena penggarap lain takut atas ancaman.

“Emak saya bilang ke Kapolres, ‘Minta tandatangan Bapak, biar tanah bisa disambut (digarap). Penghasilannya buat saya makan. Saya itu sudah tua,’” cerita Nur.

“Kapolres langsung telepon orang desa, ‘Kasihan. Ini (tanah) buat makan.’ Jawaban orang desa, ‘Nggak boleh. Jual aja.’”

Setara Institute, lembaga pemantau kebebasan beragama, mencatat ada 230 penyerangan terhadap minoritas agama di Indonesia pada 2013 dan 107 kasus hingga November 2014. Korban dari muslim Ahmadiyah, Kristen, Syiah, penganut tarekat dan sufi, serta pemeluk keyakinan pribumi.
Nur dan Nayati menyebut nama Aep, pengganti lurah sebelumnya. Aep satu aparat desa yang suka mendesak untuk menjual aset tanah. Lurah sebelumnya, Johar, ditangkap terkait kasus korupsi bantuan raskin. Johar menjabat lurah saat serangan mematikan 6 Februari 2011. Dalam orasinya, sebelum serangan, ia menyerukan pembubaran Ahmadiyah di wilayahnya.

“Kata Emak saya ke Kapolsek, ‘Enggak apa-apa, Pak, enggak usah tandatangan. Cap jempol juga enggak apa-apa.’” Nur tertawa menirukan ucapan Emaknya.

“Ya, namanya orang desa ya, ngertinya cap jempol,” Nur terkekeh.

“Makanya Kapolres kalau enggak mau ngasih surat pengantar, ya sudah, presiden aja langsung. Coba kalo ada presiden di belakang kita. Enggak akan berani orang-orang sana ngancam-ngancam kami.”

Dalam obrolan kami, Nur sering mengatakan tentang menulis surat kepada presiden. “Kalau mau nulis surat ke Jokowi itu gimana, Mbak? Harus lewat mana?”

Nur tampak punya harapan pada pemerintahan baru. Ia mendengar presiden baru adalah sosok yang bisa diharapkan terkait masalah toleransi.

“Kan presidennya udah bukan SBY, udah ganti. Masak enggak bisa ngamanin kita?”

Harapan Nur, bila tidak bisa menetap lagi di sana, setidaknya ia bisa pulang dengan waktu yang cukup luang untuk mengurus pindah nama tanah. “Bisa setengah bulan atau sebulan aja gitu, buat ngurus surat-surat. Ini mah baru nyampe, udah disuruh pergi lagi.” Dua kali Nur pernah mencoba pulang.

Bila urusan surat-surat rampung, ia juga bisa mengambil keputusan yang lebih strategis terkait pernikahannya.

Masih sulit bagi Nur melepas asetnya di kampung, hasil jerih payah dari nol. Sementara di sini, di lingkungannya yang baru, tiada kepastian yang bisa ia genggam. “Seperti mengejar gerobak kosong meninggalkan gerobak yang penuh,” istilah Nur.

Saat berangkat ke Arab Saudi, ia baru lulus SMP. Nur kelahiran 1982. Kali pertama mendaftar ke penyalur tenaga kerja, ia ditolak sebab umur belum memenuhi syarat. Ia pulang dan menangis, “Padahal saya kan ingin mengubah nasib orangtua, kok enggak diterima?”

Setelahnya, ada orang dari penyalur tenaga kerja di Jakarta menawarinya. Ia sering berdoa, “Ya Allah, berilah pertolongan supaya dikasih perubahan.”

Dari gajinya, sedikit demi sedikit, ia bisa membeli tanah dan menyekolahkan kedua adik lelakinya, Tarno dan Yadi, hingga sekolah menengah atas. “Biar ada yang pendidikannya tinggi. Enggak cuma lulus SMP doang.”

Tahun-tahun itu adalah waktu saat kondisi ekonomi keluarga Matori masih sulit. Saat serangan mematikan 6 Februari 2011, usaha anak-anaknya tengah maju.

 

WARUNG Maryamah berukuran 3×4 meter, jadi satu dengan rumah. Setengah bagian depan dijadikan warung, setengah bagian belakang sebagai tempat tidur, dapur, dan kamar mandi. Seperti rumah Nayati, tempat Maryamah dekat dari masjid, tempat anggota jemaat biasa shalat berjamaah dan pengajian.

Kami mengobrol di ruang untuk tidur. Kasur digulung supaya kami bisa duduk. Beberapa kali, disela obrolan kami, ia melayani pembeli. Siang itu agak panas. Maryamah menyalakan kipas angin dan melepas kerudung, mengenakan daster.

“Kalau ngurusi yang beli saya suka gini aja. Enggak pake kerudung, habisnya panas. Kalau ke tetangga sebelah minta es juga suka pakai handuk aja buat nutupin kepala.”

“Suka dimarahin sebenarnya sama Nayati karena enggak pakai kerudung,” ujar Maryamah sambil tertawa-tawa. Pembawaannya riang.

Warungnya menjual kebutuhan sehari-hari: jajanan ringan, jus pop ice, gas dan air galon. Saat saya datang, ada agen minuman ringan menawarkan kerjasama: meminjamkan lemari pendingin asalkan Maryamah menjual produknya. Maryamah menerimanya. Ia pernah disarankan tetangga untuk beli lemari es. Tapi Maryamah realistis, keuntungan warungnya belum banyak, tak mau ia menambah beban membeli kulkas lewat kredit.

Sebelum membuka toko kelontong, Maryamah berjualan keliling. Membuat peyek dan makanan kecil lain. Saat masih awal mencari nafkah, mula-mula ia merasa takut bila ada orang suka bertanya tentang kisahnya di Cikeusik. Namun Maryamah melihat mereka mendengarkan ceritanya dengan simpatik. Tetap membeli dagangan meski tahu ia Ahmadi.

Ia berpikir tak selamanya ia bisa bertahan dengan berjualan makanan kecil dengan berkeliling. Toko kelontongnya kini berjalan empat bulan.

Saat di Cikeusik, usahanya sudah besar. Ia punya usaha penangkapan ikan dan sejumlah perahu yang dijalankan anakbuahnya. Ikan hasil tangkapan lantas dijual ke tempat pelelangan. Di rumah ia buka warung. Juga punya usaha bakso, yang dijual keliling oleh tiga pedagang. Rutinitasnya: pagi ke pelelangan ikan, lalu menggiling bakso, diteruskan membuka warung.

Saat mengungsi, praktis pelbagai usaha itu ia tinggalkan. Mulai dari nol lagi.

Ia dan Nur beberapa kali kehabisan modal. Beras tak terbeli. Pernah beras tinggal setengah liter, ia dan Nur puasa, supaya nasinya dimakan anak-anak. “Sebenarnya bisa sih minta ke Pak Ketua. Tapi kita masih muda, kan malu ya. Masak’ minta-minta?”

Maryamah paham bila terjepit, ia bisa minta bantuan ke anggota dan pengurus jemaat. Namun urung ia lakukan. Ia sadar tak selamanya bisa bergantung pada yang lain. Dan ia tak mau demikian.

Bulan puasa tahun lalu ia putus asa. Pergi ke rumah Emaknya di Bogor dengan sisa uang Rp 100 ribu, “Saya cuma bawa kopi serenteng doang ke Emak, cuma bisa ngasih itu. Nyampe sana, dua hari saya nangis aja.”

“Habis itu, ya sudah. Kata Emak, ‘Buka warung, modalnya pinjam-pinjam.’”

Modal ia pinjam dari dua saudara yang ada di Aceh dan Kalimantan.

Ia mencari kontrakan di pinggir jalan gang, dianggap strategis untuk berjualan. Mulanya ia pindah diam-diam, tak bilang kepada pemilik kontrakan. Alasannya, “Takut enggak laku, pulangnya malu.”

“Sekarang mah Mpok Leha udah tahu. Waktu itu saya cuma ngasih tahu Pak Mubaligh. Saya datang, minta doanya mau buka warung kecil-kecilan.” Dialeknya sudah mengikuti orang Betawi.

Saya ditawari makan oleh Maryamah. Ia memasakkan mie instan dan telor.

“Saya mah seneng kalau ada yang maen, ada temen ngobrol. Anggap saja kita saudara.”

Maryamah sering mengajak ibu-ibu tetangga main ke warung, makan masakannya. “Biar gantian kan, masak’ saya terus yang dikasih makan sama mereka.”

Menurut Jemaat Ahmadiyah Indonesia, serangan terhadap aset Ahmadiyah lebih dari 180 kali sejak SKB 2008 anti-Ahmadiyah, sekira 80 persen terkonsentrasi di pulau Jawa, dan sedikitnya 245 masjid dan rumah dirusak dan dibakar. Tak kurang ada 12 surat keputusan anti-Ahmadiyah sejak kekerasan Cikeusik: Sumatera Selatan, Kampar (Riau), Pandeglang, Palu, Samarinda, Jawa Timur, Banjarmasin, Banten, Bogor, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Depok. Menambah daftar pelarangan serupa sebelum 2011: Pekanbaru (2010), Sukabumi (2006), Cianjur (2005), Garut (2005), Kuningan (2002), dan Lombok Timur (1983).
Kebiasaan ini terbawa dari kampung halaman. Di Cikeusik, depan warungnya, ia meletakkan meja dan kursi untuk orang-orang duduk. Bahkan, dari ceritanya, malam hari rumahnya selalu ramai. Bapak-bapak yang ikut ronda biasa berkumpul. Maryamah menyediakan kopi dan camilan. “Itung-itung rumah kita ada yang jaga, kan,” Maryamah mengenang.

Maryamah tak berniat kembali di Cikeusik. Namun seperti Nur, ia berharap tanahnya bisa digarap, rumahnya bisa dikontrakkan.

“Harapan ke depan enggak neko-neko. Kalau aman mah, ke situ cuma pengen nengok. Ambil hasil. Kalau diem di situ juga udah enggak mau, sih. Udah enggak bakal enak lagi.”

“Kan kita observasi juga. Enggak semena-mena pengin tinggal di sana lagi. Coba ke lelang lagi, ke pasar lagi, tadinya yang sama kita ramah, kita sapa aja enggak nyahut.”

“Terus posisi juga… Kita udah enggak punya apa-apa. Dulu mah kita pas lagi maju kan, saya ngerangkul orang-orang. Kan saya sakit hati.”

Maryamah tampak emosi. Ia menggebu-gebu. Kemudian ia mereda.

“Ya, ada sih beberapa yang ngerangkul… Kan kita sudah dewasa, bisa ngerasain. Daripada terluka dua kali jadi saya lari. Mending ikut sini ada yang ngerangkul. Harta dan suami saya buang.”

Ia tertawa dengan pilihan kalimatnya.

Ia dan suami pertama, Musa, cerai. Ia pilih pisah setelah dua tahun tanpa kejelasan. Musa tidak mendukung ia mengungsi. Sementara Maryamah tak punya pilihan. Maryamah istri kedua. Ia berhubungan baik dengan mantan suami dan istri pertama. Bila pulang ke Cikeusik, Maryamah menginap di rumah Musa dan istrinya.

“Kita juga terimakasih banyak sama mereka, dirangkul. Saya juga ngalah aja. Ini juga kalau ke sana ke rumah madu. Semua keluarga kalau ke sana juga ke rumah madu. Kan tahu mantan suami saya kalau saya keluarga baik-baik.”

Ia menyebut madu untuk istri pertama Musa.

“Mantan suami saya ngikut ke sini enggak mau, diikutin enggak bisa. Terkatung-katung selama dua-tiga tahun. Saya nangis siang malam. Diurusin kagak, ditengokin kagak.”

“Kalau enggak cepet-cepet ambil keputusan, kan yang konyol kita. Dia mah di sana ada keluarga. Daripada saya ngorbanin anak, ngorbanin keluarga. Udah aja.”

Terbiasa dagang, akhirnya, Maryamah mengambil langkah yang menurutnya lebih strategis.

Tahun-tahun pertama mengungsi Maryamah masih sering bolak-balik ke rumah Musa di Rangkasbitung, Banten. Sekolah anaknya, Nina, jadi terganggu.

Maryamah menikah lagi dengan Darsa, mantan anak buah yang mengurus perusahaan perahunya. Perahu-perahu itu sudah rusak, bocor, dan tenggelam karena berbulan-bulan terbengkalai.

Darsa mencari Maryamah. Setahun lebih Maryamah mengabaikan telepon dari Darsa. Ia takut itu dari penyerang yang masih mengejar-ngejar. Setelah berselang cukup lama, ia berani menjawabnya, dan ternyata dari Darsa. Maryamah memberi petunjuk alamat tempat tinggal barunya. Darsa masuk Ahmadiyah. Setahun kemudian ia menikahi Maryamah. Sekarang Darsa bekerja sebagai buruh bangunan.

“Saya nikah lagi. Biar, deh. Enggak milih yang cakep, enggak milih yang kaya, yang penting mau nerima kita apa adanya. Kalau dulu mah, apa-apa ada. Kalau sekarang, posisinya orang buangan gini. Pakaian juga, kalau enggak dikasih orang mah, enggak punya.”

Karena mengungsi mendadak, Maryamah dan saudara-saudaranya tak sempat membawa apapun, termasuk pakaian. Saat dibawa oleh polisi untuk menyelamatkan diri, mereka mengira hanya pergi sementara dari rumah. Tahunya, bahkan hingga empat tahun ini, dengan kondisi yang tak sama lagi selamanya, mereka tak bisa kembali.

Selesai mengobrol dan makan, saya beli susu di warung Maryamah. Saat hendak saya bayar, ia menolak.

“Kalau lagi ke sini, main aja ke tempat saya lagi. Mampir, ya,” ujar Maryamah.

 

ELA mengenang kali pertama mengenal keluarga besar Maryamah. Ayah Maryamah, Matori beserta anak istri dan cucu pindah ke cabang pinggiran Jakarta tempat Ela dan suaminya, Ahmad, bertugas jadi mubaligh waktu itu.

Matori beranak delapan. Ia, istri dan anak-anaknya masuk Ahmadiyah. Menghidupi sebuah cabang jemaat kecil di Cikeusik. Matori dan keenam anaknya harus mengungsi setelah penyerangan. Dua anak lain tinggal di Aceh dan Kalimantan.

Kali pertama pindah, Matori dan lima anaknya tinggal di satu rumah kontrakan. Putra sulung, Ismail Suparman diungsikan ke tempat lain sebab alasan keamanan. Sebagai mubaligh yang sedang membina jemaat wilayah Cikeusik, Suparman paling dicari-cari saat serangan terjadi.

“Rumahnya memang besar, sih. Tapi kan tetep aja ya, walau saudara, yang namanya sudah masing-masing berkeluarga mah, ya enggak nyaman,” cerita Ela.

Kondisi yang tak tentu dan terus menuntut perkembangan, membuat Ela dan pengurus cabang Ahmadiyah melakukan evaluasi secara rutin. Selang beberapa waktu, Matori, istri dan anak lelaki dipindahkan ke Bogor. Diberi lahan sawah untuk digarap. Menurut cerita Maryamah, sawah tersebut adalah pemberian Amir, sebutan bagi ketua nasional jemaat.

Maryamah, Nayati, dan Nur pindah ke kontrakan yang lebih kecil. Namun Nayati lantas memutuskan pisah rumah.

Ela meminjamkan tanahnya kepada Nayati. Kemudian anggota jemaat lain membantu membangun rumah. Ada yang menyumbang material bangunan, uang atau tenaga. Meski sederhana, pondasi rumah dibuat kokoh.

Bila mengingat bagaimana mula-mula Nayati berjualan sayuran, Ela terkekeh sendiri. Ibu-ibu anggota cabang menyumbang sayur-mayur dan bahan makanan untuk Nayati. Karena banyak yang menyumbang, di hari pertama, bahan dagangan Nayati menumpuk. Ela mengundang ibu-ibu berkumpul di masjid untuk membeli sisa dagangan Nayati.

“Itu mah, ibu-ibu sendiri yang ngasih sayurannya, ibu-ibu juga yang beli sayurannya,” ujar Ela.

“Pertamanya (yang beli) suka pada ngeluh karena Bu Nayati jual sayurannya agak sedikit mahal. Tapi, ya gimana ya, namanya masih baru jualan, untung masih sedikit. Kalau sekarang mah, udah enggak kali… udah normal (harga jualnya).”

Dari awal Nayati berjualan sayuran, sampai saat ini dagangnya tak putus. Dari cerita yang Ela dengar, terutama Nayati dan Maryamah, sudah terbiasa melakoni bisnis di Cikeusik.

“Kalau Nur mungkin karena waktu itu lama kerja di luar kali ya, jadi belum biasa dagang,” kata Ela. Hal tersebut diakui Nur saat saya mengobrol dengannya.

 

DI daerah Nayati tinggal, saat acara kawinan atau sunatan, ada kebiasaan empu hajat menghelat pesta kembang api. Nayati dan dua saudara perempuannya cemas campur-aduk bila mendengar hingar pesta itu. Keriuhannya mengingatkan mereka pada suasana penyerangan empat tahun lalu.

Kadang tiga saudara ini berkumpul di salah satu rumah untuk menenangkan. Seperti sore saat saya mengobrol di bangku depan warung Maryamah, mereka bertiga berkumpul. Trauma psikologis tak kalah berat dari kehilangan materi.

Mei 2014 masjid Al-Misbah milik muslim Ahmdiyah di Bekasi digembok paksa oleh aparat pemerintah. Kabar itu terdengar Nayati. Ia teringat anaknya, Rahman yang kuliah di Bekasi. Nayati menangis. Ia kalut. “Anakku, anakku, anakku mati.. Anakku mati…”

Nayati minum air putih. Ia meredakan diri. Ia sadar ini adalah trauma. Rahman baik-baik saja.

Setiap ada isu demonstrasi, penyegelan masjid, atau penyerangan terhadap komunitas muslim Ahmadiyah di pelbagai tempat, Nayati seketika ingat pada anak lelakinya. Saat serangan Cikeusik empat tahun lalu, Arif—anak Nayati—sempat dikabarkan sebagai satu dari tiga korban meninggal.

Sekarang banyak memori Nayati yang hilang. Tanggal dan tahun lahir anak-anaknya yang dulu ia hafal, bila tak melihat rapor anaknya, Nayati lupa, termasuk umur suaminya.

Maryamah berkisah, dari mereka bertiga, Nayati “yang secara psikis paling parah.”

Pemerintah Indonesia masih menerapkan infrastruktur kekuasan yang melandasi diskriminasi terhadap kaum minoritas agama seperti SKB 2006 tentang rumah ibadah, SKB 2008 anti-Ahmadiyah, mempertahankan sebuah badan pengawas aliran kepercayaan di bawah wewenang kejaksaan, dan PNPS 1965 yang hanya mengakui “enam agama resmi” yang jadi celah penafsiran bagi keyakinan di luar itu mudah dianggap sebagai “penodaan agama.”

Nayati menyaksikan langsung penyerangan. Ia masih di lokasi penyerangan saat Maryamah dan Nur lebih dulu diungsikan. Ia ikut menghalau kedatangan sekitar 1.500 penyerang menjelang siang pada Minggu, 6 Februari 2011—yang tentu saja tak bisa—dan menyergah kelompok-kelompok orang itu memukuli para pemuda Ahmadiyah yang menjaga masjid dan rumah mubaligh, menyebabkan tiga Ahmadi tewas seketika dan lima Ahmadi lain luka parah.

Maryamah sendiri saat awal-awal berjualan mengajak Nina, anaknya, sering lupa jalan pulang. Ia dan Nina kerap menangis saat kehilangan jalan pulang. Tersasar entah di mana. Linglung.

“Kayak kiamat aja tau. Harta benda ilang, suami ilang, semua-semuanya ilang.” Maryamah mengenang.

“Tapi, mungkin, emang udah kayak gini jalannya, ya…” Maryamah terlihat lebih tenang dibanding empat tahun lalu saat kami bertemu.

Di antara ketiganya, hanya Nur yang tampaknya masih berharap bisa kembali menetap di kampung halaman. Bisa dimaklumi. Hingga saat kami bertemu, ia merasa masih berkutat pada ketidakpastian-ketidakpastian yang ia hadapi sendiri tanpa suami.

Sementara Nayati dan Maryamah, dengan segala perjuangan dan konsekuensi, merasa lebih nyaman tinggal di tempat baru.

“Di sini lebih tentram. Di sini kami dirangkul, merasa aman. Kalau di sana mah taruhannya nyawa,” ujar Maryamah.

 

Cerita yang Belum Sudah

Pada September 2014, Nayati dan pengurus Ahmadiyah di tempatnya kini menetap meminta bantuan ke Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Jalur yang bisa ditempuh untuk memudahkan ia mendapatkan kartu identitas baru harus melalui saluran hukum. Caranya, pihak LBH ke Cikeusik, meminta berkas untuk mengurus KTP.

Namun, risiko yang diambil untuk itu terlalu besar, menurut pihak LBH. Mereka khawatir situasi Cikeusik yang masih belum kondusif dapat memanas lagi. Imbasnya, itu akan membikin situasi lebih sulit lagi sewaktu-waktu terhadap Nayati dan keluarga besar Matori.

Keinginan Nayati memiliki kartu identitas untuk mengurus persalinan, pada akhirnya, tidak bisa ia genggam. Namun ia masih mecoba kemungkinan-kemungkinan lain.

Desember 2014, Nayati melahirkan anak kelima, diberi nama Rahmatunnisa, artinya kasih sayang perempuan. Bayinya lahir dengan sehat dan selamat di tangan bidan. Selama beberapa minggu, Nayati libur berjualan. Tapi ia berharap secepatnya bisa kembali beraktivitas.

Tepat sebelum pergantian tahun, Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika menjenguk Nayati dan si kecil. Ia membawa bungkus besar berisi popok dan keperluan lain untuk bayi. Nia mendengar kabar Nayati melahirkan. Ia juga ingin membantu Nayati mengurus kartu identitas melalui jaringannya.*

 

———–

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: