BAGIKAN

Oplah terbitan cetak terjun bebas satu dekade terakhir. Agen dan pengecer paling terkena imbas.

SELEPAS ditata-letak, satu koran dikirim ke percetakan. Dari sana ada tahapan. Harian lokal Tribun Jogja misalnya, yang liputannya mencakup kawasan Jawa Tengah, masuk ke mesin cetak mulai jam 8 malam dan tuntas pada pukul 5 pagi. Namun, pukul 02.00 sudah ada sejumlah eksemplar yang langsung dipak, dimasukkan mobil, kemudian dikirim ke daerah terjauh, yakni Gombong, Kebumen. Begitu proses cetak usai, mobil terakhir untuk wilayah Yogyakarta siap berangkat.

Duabelas mobil pengiriman milik Tribun kemudian menyambangi agen-agen. Di kawasan Yogyakarta, koran sampai ke agen pukul 05.00 sampai 06.00. Terdapat tiga agen besar koran dan majalah di wilayah ini, dua telah berusia lama: Cakrawala Agency dan Hidup Agency. Satu lagi, Sindu Agency di Pasar Terban, tergolong baru dan khusus menyuplai terbitan-terbitan Kompas Gramedia.

Di agen-agen, keramaian berlangsung antara pukul 4 dan 6 pagi oleh para sub-agen dan loper yang mengambil jatah mereka. Ada pula jatah koran untuk para sub-agen yang diantarkan langsung oleh agen. Dari sub-agen, koran tiba ke tangan pengecer dan kemudian pembaca.

Ada beberapa pengecer yang mangkal di sejumlah persimpangan lampu merah dikirimi langsung oleh armada koran. Di perempatan Kentungan, misalnya, saban pagi koran-koran itu ditaruh begitu saja di pembatas jalan hingga pengecernya datang, memilah-milah, dan siap menjajakannya sementara jalan makin sibuk.

Di era-era awal berdirinya Tempo, agen jadi penentu atas oplah yang tinggi. Caranya, agen diberi marjin lumayan besar yang bikin mereka dengan sendirinya giat mepromosikan mingguan tersebut. Ada masa-masa jaya bagi para agen ketika produk cetak jadi primadona sumber informasi masyarakat. Ketika pasar cetak terpukul perkembangan internet, sementara perusahaan mulai menyiapkan skenario migrasi online dan konvergensi media, agen koran adalah salah satu pihak yang paling terkena imbasnya.

Sebagai gambaran. Tahun 2009 untuk iklim media di Amerika Serikat dan Inggris, dua negara yang memiliki sejarah panjang jurnalisme, Google memecundangi semua media cetak dijadikan satu di kedua negara dalam hal pendapatan iklan. Google meraup pendapatan iklan senilai 46 miliar dolar AS, sementara semua media cetak di Amerika Serikat membukukan 19 miliar dolar AS.

Data-data lain berbicara senada. Menurunnya oplah bersamaan dengan tersungkurnya koran-koran di tingkat global, tak mengenal terbitan yang dinilai prestisius macam Washington Post hingga Newsweek, termasuk pula memangkas jumlah wartawan. Itu terjadi di Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang, dan merembet sampai ke Indonesia.

Survei Nielsen Media Indonesia pada 2009 mengumumkan bahwa media cetak makin ditinggalkan pembacanya sejak 2005. Koran, misalnya, dari penjajakan 14.000 responden, 28% pembacanya pada tiga bulan pertama menyusut jadi 19% pada tiga bulan berikutnya tahun 2009. Nasib serupa dialami tabloid dan majalah yang turun 8-9% selama kurun itu. Sebaliknya, konsumen internet naik 9% pada tempo yang sama.

Menurut survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia di 42 daerah di seluruh Indonesia, jumlah pengguna internet mencapai 88 juta hingga akhir 2014. Jumlah terbanyak di Pulau Jawa, sekitar 39,2 juta, pulau yang dipadati sekira 145 juta penduduk dari 252 juta populasi Indonesia.

 

“SAYA enggak mau sombong, ya. Tapi, dulu saya sekali sebulan membayar ke Gramedia, ke Kompas itu, sampai Rp 50 juta,” kata Agus Haryanto, telah enambelas tahun sebagai agen koran dan majalah serta lebih dari tiga dekade berkutat di bisnis itu.

Sebuah stiker ukuran 15×10 sentimeter melambai tertiup angin di atas kepala kami yang duduk dalam kiosnya: potret Soeharto yang dibubuhi tulisan, “Suatu hari nanti kalian akan rindu masa-masa indah kita dulu….”

Kios milik Agus bernama Immanuel Agency, berdiri sejak 1999, di bilangan Condongcatur. Sebelum jadi agen, Agus bekerja sebagai tukang-antar harian Kompas sejak 1980-an atau istilahnya ‘kanvas’. “Kanvas itu yang ngirim-ngirim Kompas ke toko-toko. Itu sebelum Kompas laku seperti sekarang.”

Agus Haryanto di kios Immanuel Agency miliknya.
Agus Haryanto di kios Immanuel Agency miliknya.

Memiliki cukup banyak langganan dan merasa bisnis ini berprospek cerah, Agus berhenti jadi kanvas dan membuka Immanuel Agency.

Hari Minggu, pukul 11.00. Dua jam terakhir, baru 30 eksemplar koran berpindah tangan ke pembeli. Dulu, pada masa yang lebih indah, saat jam siang serupa sudah 150 eksemplar Kedaulatan Rakyat ludes. Sementara sejak tadi lebih banyak orang datang membeli kelapa muda yang disanding di depan Immanuel Agency—dagangan yang dijual Agus sejak lima bulan lalu.

Karena kios Immanuel adalah tumpuan hidup keluarga Agus, ia dan istrinya putar otak. Mereka mulai berjualan kelapa muda, gas, dan suplai air minum isi ulang, serta kebutuhan sedikit sembako. Yang disebut terakhir memang sudah dijual sejak Immanuel dimulai. Sekarang omzet kotor Immanuel cuma Rp 1 juta per hari dengan marjin keuntungan 20%.

Sejak enam atau tujuh tahun lalu, oplah terbitan cetak terus turun.

Presiden Soeharto jadi penanda waktu bagi Nyonya Ahmad Badri, 61 tahun. Ibu ini pemilik Cakrawala Agency, letaknya di dalam benteng, cuma lima menit jalan kaki dari alun-alun selatan Yogyakarta. Cakrawala telah memulai usaha sejak 1981. “Pokoknya pas zamannya Pak Harto, jaya-jayanya. Setelah Pak Harto lengser, mulai menurun,” kenang ibu itu.

“Itu zaman Monitor, Forum Keadilan, Kartini. Dulu pernah dapat hadiah televisi dari Forum Keadilan karena penjualan (di Cakrawala) bagus. Majalah Primarasa, dulu sampai bagoran (berkarung-karung). Sekarang tinggal 20 eksemplar.”

Pada masa itu, Cakrawala meraup penghasilan kotor Rp 25–30 juta dalam sehari. Untuk agen, untungnya 5% dari harga penjualan. Bermula dari usaha mungil di beranda rumah kecil dalam gang, keluarganya sampai bisa membeli beberapa rumah; juga tiga mobil: dua Kijang dan satu Timor. Mobil-mobil ini dipakai untuk menjemput terbitan koran seperti Kompas yang cuma sampai bandara.

Kendati Nyonya Badri sungkan memberi tahu jumlah omzet persisnya, kira-kira keuntungan kotor Cakrawala berkisar Rp 10 juta per hari. Ini jumlah kecil untuk agen besar.

Situasi dan siasat macam agen Immanuel diterapkan Arkan Media, kios pengecer koran di muka restoran masakan Minang “Sederhana”. Letaknya di Jalan Kaliurang Km 5. Beroperasi sejak 2002, kios itu dimiliki mahasiswa Universitas Gadjah Mada angkatan akhir 1990-an bernama Muhammad Hamidi.

Minu, yang menjaga kios ini sedari mula, menjual rokok sebagai dampingan dagangan koran dan majalah. Jualan rokok dimulai pada 2009, setahun setelah oplah media cetak yang dianggap Minu mulai terjun bebas.

“Sebelum 2008, sehari bisa dapat Rp1–1,5 juta. Bisa lebih banyak kalau tanggal muda karena majalah-majalah bulanan terbit awal bulan. Sekarang cuma Rp 500–600 ribu,” kata Minu.

Kios itu dijaga bergiliran oleh dua orang, masing-masing digaji Rp 700 ribu setiap bulan.

Apa masih untung?

“Saya tanya sama Mbak Rini (istri Hamidi), katanya ada, tapi dikiiit…”

“’Kalau enggak ada rokok, saya enggak bisa nggaji, Mbak,’ kata Mbak Rini,” kisah Minu.

Dalam sehari, rokok bisa terjual Rp 500–600 ribu, sama besar dengan omzet koran dan majalahnya. Untungnya sekitar Rp 40 ribu.

Pemilik kios seperti Hamidi atau agen seperti Agus memang masih bisa putar otak. Tapi bisnis ini menuju penurunan, dan imbasnya tentu pada pekerjanya seperti Minu.

Menurut Minu, pemiliknya telah merencanakan usaha pengganti. “Yang punya (kios), habis lebaran, mau buka bengkel dan usaha cuci mobil di Jalan Solo,” ujarnya.

Minu masih bisa tertawa. Tahun ini putri sulungnya lulus SMA dan tidak lanjut kuliah karena tiada biaya. Ia bilang putrinya mau disuruh kerja saja. Cerita klise sehari-hari.

Minu, penjaga kios Arkan Media, bilangan Kaliurang, yang bekerja sejak kios itu dijalankan pada 2002.
Minu, penjaga kios Arkan Media, bilangan Kaliurang, yang bekerja sejak kios itu dijalankan pada 2002.

Sulis juga bernasib sama. Ia loper koran untuk langganan rumah ke rumah sejak 2000 . Langganannya pernah 300 rumah, sekarang cuma 50. Untung dari biaya langganan tiap koran berkisar Rp 10 ribu per bulan. Sementara pengeluaran bensin setiap hari butuh dua liter untuk sepedamotornya.

Kadang, untuk mengambil koran dari sub-agen atau agen yang menerapkan pembayaran di muka, Sulis perlu berutang. Ini karena situasi tak semua pelanggannya tertib membayar. Tak punya modal dan aset, Sulis lari ke bank plecit alias rentenir. Bunganya, masya Allah, 30–50%. Situasi macam ini untuk orang seperti Sulis bak roda putar dalam kepala yang mendadak macet bila pelanggannya menyusut hingga berbilang jari.

IMG-20150603-WA0002
Sulis, loper koran untuk pelanggan rumah, di kios Immanuel.

Kalau usaha loper koran sudah tidak bisa lagi ia jalankan, Sulis masih belum tahu harus beralih kerja apa. Usianya sudah 45 tahun.

 

MASA-MASA indah industri koran telah berganti.

“Orang sekarang kalau baca tinggal….” ujar Agus Haryanto kemudian menirukan gerak mengusap layar ponsel. “Sekarang mana coba mahasiswa yang pegang koran?” Itu kenangan enam sampai sepuluh tahun lalu.

Ada sekira 14 harian yang beredar di Yogyakarta saat ini, termasuk Kedaulatan Rakyat, koran tertua di sini, dan koran yang muncul belakangan, Harian Jogja milik jaringan Bisnis Indonesia serta Tribun Jogja milik kelompok Kompas Gramedia. Ketiganya, bersama media-media koran lain, memiliki portal berita.

Dari iklim media di Yogyakarta, menurut saya, kasus paling menarik adalah Tribun Jogja.

Koran ini terbit perdana pada 11 April 2011 dengan harga Rp 1.000, harga termurah dari para kompetitornya. Setelah tiga tahun masa promosi, pada 1 Mei 2014 harganya naik Rp 2.000. Dalam periode itu, ia berhasil jadi salah satu koran terbesar di Yogyakarta. Di agen dan pengecer, Tribun Jogja terlaris kedua setelah Kedaulatan Rakyat, pemain lama dengan basis pembaca loyal.

Kendati menguntungkan dari langkah bisnis, dengan jumlah oplah yang masih terhitung aman, toh bagi agen dan pengecer dengan situasi tiras saat ini, berjualan Tribun tak terlalu mendatangkan laba. Marjinnya cuma Rp 200–300 per eksemplar. Dan tetap, secara kesuluruhan, bagi Agus atau Minu, berjualan koran dan majalah tidak lagi menjanjikan.

Menurut Minu, kontrak kios Arkan Media masih tiga tahun lagi dan pemiliknya tak berencana memperpanjang. Ia siap-siap diberhentikan.

“Tiga tahun besok nabung, siap-siap. Habis ini saya mau jualan saja.”[]

 

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

 

  • Bosman Batubara

    Pada dua bagian berikut:

    1]Sebuah stiker ukuran 15×10 sentimeter melambai tertiup angin di atas kepala kami yang duduk dalam kiosnya: potret Soeharto yang dibubuhi tulisan, “Suatu hari nanti kalian akan rindu masa-masa indah kita dulu….”

    2]Presiden Soeharto jadi penanda waktu bagi Nyonya Ahmad Badri, 61 tahun. Ibu ini pemilik Cakrawala Agency, letaknya di dalam benteng, cuma lima menit jalan kaki dari alun-alun selatan Yogyakarta. Cakrawala telah memulai usaha sejak 1981. “Pokoknya pas zamannya Pak Harto, jaya-jayanya. Setelah Pak Harto lengser, mulai menurun,” kenang ibu itu.

    ***
    okelah, itu barangkali data yang ditemukan dari wawancara, namun:

    1]mengapa “nada” yang mirip itu harus sampai dua kali muncul dalam tulisan ini?

    2]bukankah proses penelitian adalah proses dua arah? Dalam artian, peneliti dan subyek yang diteliti sama-sama bisa mempengaruhi/dipengaruhi masing2 pihak? Maksud saya, mengapa “data” yang ditemukan dlm poster dengan tulisan “Suatu hari nanti kalian akan rindu masa-masa indah kita dulu….” dan ucapan “Pokoknya pas zamannya Pak Harto, jaya-jayanya. Setelah Pak Harto lengser, mulai menurun,” tidak dikonfrontasi lebih jauh kepada para pemilik kios? Misalnya untuk mengulik cara berfikir mereka apakah mereka bisa menjelaskan hubungan masa pemerintahan Pak Harto dengan zaman yang lebih baik. Karena, begitu membaca tulisan ini, dua petikan data tentang zaman pak Harto di atas menjadi kayak urat yang “terkilir” karena justru penjelasan tentang “Sebuah Akhir” yang akan datang itu muncul dari faktor internet. Saya katakan terkilir, karena dalam tulisan ini rasanya tidak ada hubungan koheren antara zaman Pak Harto, internet, dan Sebuah Akhir yang akan datang itu. Ini menjadi penting karena rasanya kenyataan itu koheren (logis dan konsisten), meski kadang2 berasa acak namun nyaris selalu ada pola. bahkan situasi yang membingungkan seperti chaotic-pun melahirkan chaos theory. Siapa tau kalau dikejar dengan pertanyaan hubungan antara zaman yang lebih baik (koran lebih laku), masa kepemimpinan Pak Harto, dan perubahan yang muncul lewat internet sekarang ini, mereka bisa menjelaskan sesuatu yang belum terpikirkan sama sekali?

    Kemudian, kita pindah ke topik “subjectivity,” mengapa dari sekian banyak benda dalam kios salah satu yang direkam tulisan ini adalah poster Pak Harto?

    salam,

    • Lutfi Maulana Marga Yuwana

      “Piye kabare le… Penak jamanku tho…” kekeh poto Presiden ke-2