BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 5 menit

Model pembacaan teks keagamaan dalam kultur pesantren memungkinkan pemaknaan (atas teks) lebih cair dan bertaut dalam konteks masyarakat tempatnya berpijak.

 

DALAM kultur pesantren, buku dan kitab memiliki makna berbeda meski secara harafiah dua kata itu sinonim. Buku adalah teks-teks dengan bahasa Indonesia, sementara kitab adalah teks-teks keagamaan dalam bahasa Arab.

Kitab-kitab di pesantren kerap disebut ‘kitab kuning’—kebanyakan dicetak dengan kertas berwarna kuning, yang relatif lebih murah ketimbang kertas jenis lain, biasanya seukuran B5 (176 x 250 mm). Ada pula yang menamainya ‘kitab gundul’, artinya nyaris tak memiliki tanda bacaan (harakat). Itulah mengapa ilmu gramatika bahasa Arab, yakni Nahwu dan Sharaf, menempati posisi kunci di pesantren.

Dua bidang ilmu itu yang, setidaknya bagi saya, jadi teror mental saat saya dulu belajar di satu madrasah tsanawiyah (jenjang sekolah menengah pertama). Tiap santri berkewajiban untuk menghafalkan sebuah kitab bernama Alfiyah Ibnu Malik, berisi seribu bait syair (nadhom) berbahasa Arab tentang tatabahasa. Metodenya dengan menghafal dan, biasanya, setoran hafalan itu dibagi-bagi berdasarkan kelas dan semester (minimal harus hafal 150 bait nadhom Alfiyah tiap semester). Kebanyakan santri masih hafal dengan bunyi syair Alfiyah ini.

Selain Alfiyah Ibnu Malik, ada dua kitab lagi yang sangat terkenal di kalangan santri: Tafsir Al Jalalain dan Taqrib. Tafsir Al Jalalain, karya Jalaluddin AsSuyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, adalah kitab yang diajarkan dan kami baca sepanjang enam tahun (dari tsanawiyah hingga aliyah). Tafsir ini kemungkinan dipilih karena kesederhanaan bahasa serta pembahasannya. Ia mencukupkan diri sebatas memberi penjelasan arti kata tanpa terlibat dalam persoalan perdebatan tafsir dan dalil-dalil teologis.

Ayat-ayat berupa huruf (seperti alif laam miim, yaasiin, nuun, dst.) dikomentari oleh sang mufassir dengan ringkas: Allahu a’lam bimurodihi (Hanya Allah yang tahu maksud ayat ini). Pada kitab tafsir lain, kita akan menjumpai diskusi dan perdebatan panjang tentang ayat-ayat macam itu (boleh tidaknya mengartikan ayat sampai beragam pemaknaan atas ayat tersebut, dan sebagainya).

Salah satu kitab paling populer di pesantren adalah kitab kuning tipis bertajuk At Taqrib Fil Fiqh karya Abu Syuja’ Al Isfahani. Taqrib adalah kitab fiqih dasar, dengan gaya bahasa serta pembahasan yang sederhana. Kalau Alfiyah adalah kitab tatabahasa, Taqrib adalah kitab yang melatih kemampuan tatabahasa. Dus, mengaji Taqrib berarti mempelajari dua ilmu: fiqih dan tatabahasa Arab, selain tentu belajar ngesahi.

Ngesahi adalah menuliskan arti kata dalam kitab kuning—biasanya dengan menggunakan huruf ‘Arab Pegon’. Di beberapa pondok pesantren ia disebut maknani atau njenggoti. Para filolog menyebutnya model “terjemahan antarbaris,” yakni teks terjemahan diletakkan di antara spasi antar baris.

Dalam Naskah Terjemahan Antarbaris: Kontribusi Kreatif Dunia Islam Melayu Indonesia (2009), Azyumardi Azra menyatakan model terjemahan antarbaris ini jadi pilihan strategis karena dua alasan. Pertama, ia memungkinkan terjaganya orisinalitas teks. Pembaca dapat membandingkan antara teks asli berbahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa lokal. Kedua, terjemahan model ini berfungsi sebagai metode pembelajaran bahasa Arab.

Dari terjemahan antarbaris inilah terkadang timbul—apa yang saya sebut—“kreativitas pemaknaan atas teks.” Lebih penting lagi, kitab-kitab berbahasa Arab tak dipahami semata ia mengandung bahasa Arab tapi sebagai kitab Arab-Jawa/Melayu/Sunda. Maknani kitab kuning, dengan kata lain, menjadi semacam ikhtiar untuk menyandingkan dua bahasa. Metode inilah yang kemudian, kalau boleh berspekulasi agak jauh, yang membuat pemaknaan atas teks-teks Arab (tentunya kebanyakan berkaitan dengan agama Islam) menjadi lebih cair.

Persandingan dua bahasa dalam satu halaman, bagi saya, seolah membaurkan batas antarbahasa. Bahasa Arab dan bahasa Jawa menjadi satu. Pemahaman dan pemaknaan atas teks kitab kuning menjadi semacam pertemuan antar dua lautan bahasa. Kalau boleh dikata: dua bahasa membaur, dua kultur sejenak menyatu dalam pembacaan.

Wulang Sunu, "Seri Catatan di Pintu".
Wulang Sunu, “Seri Catatan di Pintu”.

 

Empat Cara Membaca Teks

Teks-teks keagamaan berbahasa Arab, karenanya, akan selalu mengandung unsur budaya Arab. Ulama-ulama Islam Nusantara sadar akan adanya jarak antarbahasa yang perlu “dijembatani” dengan bentuk terjemahan antarbaris itu. Namun metode ini saja belum cukup. Teks-teks keagamaan ini diikhtiarkan untuk dibaca dengan pelbagai cara.

Dalam tradisi pesantren, pembacaan teks kitab dapat dilakukan setidaknya dengan empat cara: bandongan, sorogan, musyawarah, dan muthola’ah. Saat teks dibacakan oleh kiai/guru/ajengan dan santri hanya menyimak dan ngesahi—inilah yang bernama ngaji bandongan. Sebaliknya, jika santri yang membaca dan kiai yang mendengarkan sembari mengoreksi bacaaan dan terjemahan, itu dinamakan metode sorogan.

Metode bandongan memungkinkan para murid mendapatkan penjelasan dari kiai. Biasanya, kiai menambahkan konteks dan cerita-cerita relevan atas kitab kuning yang sedang dibaca. Ia memberi kesempatan para santri untuk mengalami “triangulasi interteks.” Sebuah teks dimaknai dua orang sekaligus, maka pemaknaannya pun sangat mungkin berganda. Tetapi si santri tidak berlaku pasif; ia seolah membenturkan bacaannya sendiri dari bacaaan si kiai. Metode sorogan membalik proses itu. Dan, sebagaimana bandongan, keduanya jadi rekan diskusi dalam pengalaman tekstual itu.

Sementara metode musyawarah adalah ajang bagi para santri untuk menguji seberapa dalam pengalaman dan pemahaman mereka terhadap teks kitab kuning antarsesama santri. Terakhir, mengaji teks kitab sendiri dengan muthola’ah—semacam penggalian sendiri yang nantinya juga ia bawa dalam forum/ majelis pembacaan lain.

Empat metode pembacaan kitab kuning ini, bagi saya, menawarkan nuansa berlapis. Sebuah teks dibaca dan didedah dengan empat kemungkinan cara. Thus, kemungkinan tafsir yang hadir jadi lebih luas. Pengetahuan dan keyakinan seorang santri diuji dan ditapis empat kali. Faktor inilah, salah satunya, yang membuat tafsir atas teks-teks keagamaan yang dilakukan oleh para santri cenderung lebih longgar.

 

Mengaji dan Menggali Khazanah

Dalam Kitab Kuning: Books in Arabic Script in Pesantren Milieu (1990), Martin van Bruinessen mencatat jumlah kitab kuning yang beredar di Asia Tenggara. Bruinessen mengumpulkan dan mengklasifikasikan 900-an kitab kuning: lebih dari 500 ditulis oleh ulama dari Asia Tenggara, sementara 100 di antaranya karya ulama Nusantara.

Memang ada beberapa ulama Nusantara yang sangat produktif menulis sejumlah kitab. Pada awal abad 19, ada nama-nama besar seperti Kiai Muhammad Ahmad Rifa’i (Kali Salak Pekalongan), Syeikh Nawawi (Banten), Syeikh Mahfud (Termas), dan Kiai Saleh Darat (Semarang). Sampai sekarang kitab-kitab mereka masih jadi bahan pengajian dan terus dikaji di pesantren. Pada abad 20, beberapa nama seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Sahal Mahfudh (Pati), dan KH. Bisri Musthofa (Rembang) adalah para penulis kitab yang produktif.

Kiai Sahal Mahfud misalnya dinilai ulama brilian dalam bidang Ushul Fiqh yang kepakarannya diakui dalam panggung dunia. Sejumlah kitabnya antara lain Allahu yarham, Thoriqotul Husul ‘ala Ghoyatul Wushul, Alluma’ min afaadhilil Malma’, Intifakhul Wadajain, dan Al-Fawaaidun Najibah.

Selain hitungan kitab dari catatan Bruinessen, sangat mungkin pula banyak karya dari sejumlah ulama Nusantara yang terlewat terdokumentasi. Tak sedikit para kiai pesantren menulis, mencetak, dan mendistribusikan kitabnya sendiri. Saya menyadari ini dari Kiai Hambali, pengasuh pondok Mamba’ul Hikam di Pati. Kitab-kitab yang ia ajarkan saat ngaji posonan biasanya berbeda dari kitab umum yang dikaji di pesantren lain. Ia membawa kitab karya ulama-ulama Kediri yang diterbitkan secara mandiri.

 

“Islam Nusantara”

Tentu, tak diragukan lagi, sumbangan Bruinessen sangat berharga dalam khazanah “Islam Nusantara”—istilah yang tengah ramai dipercakapkan itu, untuk menyebut pemaknaan Islam oleh ulama dan masyarakat Nusantara sendiri. Beragam karya yang tercatat di atas, setidaknya menunjukkan respons intelektual untuk memaknai Islam dari kacamata masyarakat Indonesia. Praktik-praktik Islam di Nusantara pun hadir dengan corak budayanya, yang berbeda dengan Islam Jazirah Arab, Eropa, Amerika, atau di wilayah-wilayah lain. “Islam Nusantara” adalah akumulasi dari khazanah, pemaknaan, dan kontekstualisasi agama oleh masyarakat Indonesia.

Pengalaman saya pun sangat terbatas ketimbang para santri lain yang bermukim dari pesantren ke pesantren. Berbeda dari saya sebagai ‘santri kalong’ (tidak bermukim di pesantren dan hanya nunut ngaji), mereka—para santri yang tekun itu—ngaji bandongan di pelbagai pondok lain, terlebih-lebih pada bulan Ramadhan ini, bulan penjelajahan keilmuan yang memungkinkan mereka menelusuri pelbagai khazanah di sejumlah pesantren. Pengalaman pembacaan mereka terhadap kitab kuning ditakik kembali.

Sejumlah pesantren besar di Jawa misalnya, memiliki konsentrasi kajian unggulan. Pondok Al Anwar (Sarang, Rembang) dikenal dalam bidang hadits dan gramatika bahasa Arab. Pondok Tambakberas (Jombang) adalah pionir bidang Ushul Fiqih. Pondok Tebuireng (Jombang) terkenal dengan ilmu haditsnya. Pondok Arwaniyah (Kudus) dan Al Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) adalah pusat ilmu-ilmu al-Qur’an. Di pondok pesantren terakhir itu kini saya ngalong selama posonan. Saya, dan banyak santri lain, mengikuti jadwal mengaji kitab yang nyaris sehari penuh, dari lepas subuh hingga lewat tengah malam, dan bermacam kitab dikhatamkan dalam satu bulan penuh.

Saya kira sumbangan penting dari model pembacaan kitab dari kultur pesantren ini menjadikan teks keagamaan bertaut dalam alam pikir dan konteks sosial masyarakat Indonesia. Ia adalah pengetahuan dan pengalaman yang telah diretas oleh ulama Indonesia terdahulu dan kini. Dalam kontestasi wacana global yang memang tak terhindarkan, praktik mengaji khazanah ini selalu berada dalam tegangan antara keragaman dan keseragaman pemaknaan atas Islam.[]

 

*Ilustrasi untuk tulisan ini diambil dari karya Wulang Sunu, “Seri Catatan di Pintu” (tinta di atas kertas, 2015), dalam pameran ‘Jinayah Siyasah’, Yogyakarta.

 

____

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

  • abdurrohim said

    Terimakasih atas artikel dan infromasinya … salam kenal.. semoga bermanfaat ustadz…. kunjungan balik di Galeri Kitab Kuning.. semoga bisa membantu pula