BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 6 menit

Kisah pemilik buku bersua lingkaran pembaca.

MINGGU sore tujuh tahun lalu, seorang lelaki sedang asyik menyisir buku. Tangannya menjelajahi satu sampul ke sampul lain. Di sudut lain, istri dan anak-anaknya melihat-lihat buku sambil minum kopi dan makan kudapan. Persis seperti banyak akhir pekan lain, dia bersama keluarganya bersantai di tokobuku sekaligus kafe di daerah Babakan Siliwangi, Bandung itu.

Dia sadar beberapa depa dari tempatnya berdiri, diam-diam ada lelaki lain mengamati dan, tak berapa lama, menghampiri lantas menyapanya.

“Ini Pak Yasraf Amir Piliang, ya? Saya Aldo Zirsov.”

Yasraf segera menghentikan penjelajahannya. Nama itu sangat akrab. Reading Lights, tokobuku bekas itu, menjual bermacam buku termasuk yang bercapkan nama “Aldo Zirsov.”

Banyak buku yang dibubuhi nama itu dibeli Yasraf termasuk The Consumer Society karya Jean Baudrillard seharga Rp 50 ribu, semacam harta karun yang murah oleh seorang pengkaji semiotika yang tekun. Ada juga karya klasik seperti Metaphysics Aristoteles serta buku sejarah macam The Fall of Rome, selain buku-buku kajian psikoanalisis yang ditulis Freud dan Jung. Yasraf memiliki lebih dari limapuluh buku dengan cap sama termasuk karya-karya penulis lebih populer seperti John Naisbitt dan Alvin Toffler.

“O ya, waktu itu saya lihat ada juga Of Grammatology Derrida, tapi tidak dibeli karena sudah punya,” ujar Yasraf, profesor di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. “Nah, kalau soal buku yang dipakai (sebagai sumber tulisan), selain Baudrillard, ada buku Arendt yang itu … Eichmann in Jerussalem.”

Buku Hannah Arendt itu juga saya temukan di Reading Lights. Menuturkan proses pengadilan perwira tinggi SS Nazi, buku itu—bersama Dr. Zhivago Boris Pasternak dan karya klasik Thomas More Utopia—yang membuat saya bertanya-tanya siapa sebenarnya pemilik buku-buku tersebut. Rentang tema yang luas dari khazanah literaturnya mengingatkan saya pada bidang kajian para filsuf sebelum ilmu pengetahuan terspesialisasi seperti sekarang. Namanya yang aneh membuat saya mengira dia orang Rusia.

Ternyata Aldo Zirsov adalah orang Minang. Pendidikannya juga bukan sastra, sejarah, atau filsafat. Jauh dari itu semua, dia menekuni studi akuntansi dan berprofesi sebagai auditor. Di Denver, ibukota negara bagian Colorado, Amerika Serikta, Aldo belajar teknologi informasi. Saya mengetahuinya pada 2012 saat dia menjadi pembicara satu seminar di Jakarta saat saya menjadi pesertanya. Tapi cerita lebih lengkap ihwal bukunya baru didapat tiga tahun kemudian.

SEWAKTU Aldo Zirsov mengambil program magister di University of Denver, setiap akhir pekan dia menghabiskan waktu dari satu tokobuku ke tokobuku bekas lain. Harga satu buku bersampul tebal sekira 4 dolar, dan 2 dolar untuk bersampul tipis. Jika musim diskon, harganya dipangkas hingga 50 persen. “Jadi kamu bisa bayangkan, buku hardcover jadinya hanya sekitar Rp 20 ribuan, dan paperback Rp 10 ribuan. Murah sekali, kan?”

Untuk buku bahan perkuliahan, Aldo sengaja tak membeli di lingkungan kampus. Buku-buku itu tersedia di toko online macam Amazon dengan banyak pilihan harga yang lebih murah. Penghematannya cukup untuk membeli buku bekas dan cakram padat musik sebanyak yang dia mau. Namun, tak sampai setengah tahun masa perkuliahan, asramanya penuh.

Solusi yang terpikirkan adalah mengirim buku-bukunya ke Indonesia. Tapi biayanya mahal. Di saat yang sama, angin politik Amerika sedang bertiup jauh ke kanan. George W. Bush ingin imigran ilegal angkat kaki. Barang-barang milik ini harus pulang tapi umumnya si pemilik merasa sayang. Di sinilah jiwa pedagang yang secara stereotipikal menempel pada orang Minang akhirnya muncul juga pada Aldo. Dia dan teman-temannya membuat bisnis jasa pengiriman barang lewat kontainer.

Mereka melayani para imigran, kebanyakan dari Amerika Latin, yang minta televisi, komputer meja, dan alat-alat elektronik lain dikirim ke kampung halaman. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang mengirim barang ke tanah air. Tiap dua sampai tiga bulan, Aldo membuka jadwal pengiriman, sekaligus melayarkan juga buku-bukunya. Secara rutin, sejumlah 150-250-an buku sampai di rumah saudara dan kerabatnya.

Sejak 2004 sampai 2007, jumlah buku yang dikirim mencapai kurang lebih 3.500 buah. Itu belum termasuk cakram-cakram musik dan film, kegemaran lain dia. Tak jarang juga dia memenuhi permintaan teman dan saudara untuk mengirim cakram musik kesukaan mereka.

Lalu bagaimana buku-buku itu bisa mampir di Bandung?

Buku-buku itu ternyata menguap sejak sampai di Tanjung Priok. Beberapa kali barang kiriman dibuka petugas bea cukai dan entah mengapa tidak terkirim ke alamat tujuan. Buku-buku yang hilang itu lantas sampai di beberapa lapak tokobuku bekas di Depok dan Ciputat. Tapi, yang terbanyak memang di Reading Lights, Bandung.

Riswan Andika, pegawai yang menangani pembelian buku di Reading Lights, melempar ingatannya ke masa saat jadi manajer divisi bukutoko itu. Kurun 2007-2008, ada yang menjual buku-buku bercap “Aldo Zirsov”. Si penjual datang membawa sekitar 100 buku, dan kembali bulan depan lagi, terus-menerus, sampai-sampai total buku bercap “Aldo Zirsov” mencapai hampir seribu.

Riswan mengakui bahwa banyak pelanggan terkesan dengan buku-buku bercap Aldo ini, “Jika buku Aldo datang lagi, tolong kabari saya.”

Reading Lights benar-benar menjadi cahaya membaca, tak sekadar toko yang menjual buku berbahasa Inggris dengan koleksi standar macam novel-novel populer. Riswan memutuskan untuk menyapa Aldo di alamat email yang tertera dalam cap buku. Dengan asumsi Aldo bukanlah orang Indonesia, email ditulis dalam bahasa Inggris. Riswan mengabarkan bahwa di Reading Lights ada banyak buku Aldo dan beberapa pelanggan dibuat terkesan.

SUATU hari, seorang laki-laki datang bersama pasangannya ke hadapan Riswan Andika. Dia memperkenalkan diri dan menunjukkan alat cap. Riswan membaca tulisan yang tertera di dalamnya: “Aldo Zirsov, University of Denver, Colorado,” lengkap dengan alamat email.

Riswan terkejut. Selama ini dia menyangka Aldo Zirsov orang Rusia. Dia tambah tercengang kala mendengar buku yang dibeli oleh Reading Lights sebenarnya buku-buku yang hilang. Meski pihaknya membeli dengan perjanjian yang menyatakan penjual harus bertanggungjawab jika ada masalah di kemudian hari, Riswan tetap merasa kecut.

“Bagaimanapun, saya juga pecinta buku, saya jadi tak enak sama Mas Aldo.”

Riswan bersama atasannya memutuskan semua buku yang belum terjual bisa dibeli kembali oleh Aldo dengan harga yang sudah dikeluarkan Reading Lights saat membeli buku-buku itu. Dari total seribu, sekitar sepertiganya kembali ke tangan Aldo. Tapi Riswan masih merasa bersalah karena lebih banyak buku yang kadung terjual. Dia lantas mengontak beberapa pelanggan yang mengantongi banyak buku Aldo. Kepelikannya, kebanyakan pembeli ini enggan menjual kembali buku-buku yang dulu mereka temukan dan beli. Akhirnya Riswan memberitahu beberapa nama supaya Aldo sendiri bisa menemui mereka.

Nama pertama adalah Yasraf Amir Piliang yang kebetulan bersua Aldo di Reading Lights pada 2008. Aldo bertanya apakah Yasraf mau menjual kembali buku-bukunya. Yasraf membenarkan. Dia bersedia jika judul-judul tertentu yang ada di tangannya mau dibeli kembali oleh Aldo. “Apalagi jika mau dikopikan juga seperti yang Aldo bilang,” katanya. Dia tak keberatan dengan pilihan yang ditawarkan Aldo, sebab buku yang dibacanya toh juga sering penuh coretan.

Selain Yasraf, Aldo juga menemui Fabianus Heatubun, dosen filsafat di Universitas Parahyangan, Bandung. Fabie menyimpan lebih dari seratus buku Aldo yang hilang. Saat didatangi di kantornya, dia menunjukkan beberapa judul yang tersimpan di situ. Selebihnya diparkir di rumah Seminari Tinggi Projo, Bogor. Ada Principia Ethica Spinoza, The Protestan Ethics and the Spirit of Capitalism karya Max Weber, juga biografi Martin Luther.

“Dulu saya kan cuma punya kopiannya. Eh, karena beli di Reading Lights, jadi punya buku aslinya.” Fabie memamerkan magnum opus Heidegger: Being and Time.

Tetapi Fabie tegas menolak menjual kembali buku-buku itu. Dengan romantik, dia berkata, “Buku-buku itu sudah menjadi bagian nyawa saya.”

Fabie pecinta buku. Tak hanya dibaca, buku-buku itu dirawatnya. Buku yang baru dibeli selalu disampuli, dibubuhi nama dan tandatangan, berderet rapi dalam lemari. Saat sedang meneliti sesuatu, buku yang dipakainya penuh oleh sticky notes, bukan lipatan atau coretan.

Aldo sendiri tak kecewa. Bagaimanapun, para pembeli di Reading Lights memang berhak atas buku-buku yang mereka beli. Dia hanya berharap buku-buku yang dulu dimilikinya benar-benar dibaca dan bermanfaat. Kepada saya, dia juga merelakan saya tetap menyimpan Eichmann, Zhivago, dan Utopia.

Begitupula kepada Lita Suryadinata, kawannya sesama pengurus Goodreads Indonesia, media sosial untuk insan buku. Lita menemukan buku karangan Hella Haasse di tokobuku yang sama, dan Aldo mengizinkannya tetap menyimpan buku itu. Riswan Andika bahkan memohon-mohon supaya dia dibolehkan tetap menyimpan buku tentang sejarah bilangan.

“Masalahnya dulu gue benar-benar nggak kebayang mau beli buku itu di mana,” Riswan mengiba.

Namun, Arifin Surya agak berbeda. Lulusan Biologi Universitas Padjadjajaran ini berencana mengembalikan buku Variety of Life karya Colin Tudge, sebuah khasanah bercorak ensiklopedis setebal 700 halaman yang merayakan seluruh ciptaan yang pernah hidup di planet bumi. Arifin merasa kasihan kepada Aldo yang kehilangan buku padahal dibeli di tempat yang jauh dan sengaja dikapalkan ke Indonesia.

“Alasan lainnya … gue tahu perasaan kolektor buku saat koleksinya hilang,” ujar Arifin. Dia mengkoleksi banyak buku botani dari era Hindia Belanda.

Tetapi, benarkah Aldo seorang kolektor? Kerapkali Aldo menolak disebut demikian. “Saya membeli buku memang buat dibaca dan untuk riset, meski tentu tak semuanya langsung dibaca.”

Pemilik sekitar 20 ribuan buku ini lebih suka menyebut dirinya book aficionado ketimbang kolektor. Melihat telatennya dia menjaga buku, aktif di Goodreads, dan kerap jadi pelabuhan bertanya mahasiswa tingkat akhir yang kebingungan akan sumber pustaka, rasanya dia tak berlebihan.

Aldo Zirsov, pemilik buku-buku yang hilang itu, bolehlah kita alihbahasakan—dengan separuh manasuka—sebagai “pawang buku.” Dia berada di satu tempat dalam kerendahan hati seorang pembaca, dan dalam keadaan dunia yang tidak selalu ramah pada pustaka, sempat ribuan bukunya menyeberangi lautan dan samudera, tersesat. Buku-buku itu muncul kembali lewat tangan-tangan pembaca tekun yang kerap gemetar dengan perasaan berdesir saat membuka pagina demi pagina. Mereka bercakap. Pada satu situasi, Aldo ada di dalamnya.

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

  • kasamago

    menggugah n ikut terharu rasanya ketika sang pemiliki kmbli menemukan serpihan jiwanya yg tlh pergi..

  • Pingback: Lubang Cerita | Blog Pindai()

  • Nikolai Grogol

    Sedih.. Ingat 500 buku yang dilelang lantaran kurang modal menikah