BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 20 menit

Buku-buku yang menemani pemiliknya dan dibiarkan terbuka.

KETIKA George Junus Aditjondro sakit parah dalam usia 66 tahun, yang menyebabkan dia koma dan menjalani pemulihan sampai sekarang, kolega terdekatnya saat itu beserta anaknya, Enrico Aditjondro, mulai mempertimbangkan buku-buku koleksi Aditjondro.

Ria Panhar, yang memanggil Aditjondro “Papa”, menghubungi Perpustakaan Gelaran Iboekoe, bertempat di Patehan, dekat Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Panhar memberitahu Muhidin M. Dahlan, salah satu pendiri Iboekoe, yang lantas melimpahkan urusan-urusan teknis kepada Faiz Ahsoul, kawan lama Muhidin serta pegiat Iboekoe.

Faiz, salah satu dari puluhan anak muda yang ikut dalam arus pasang dunia perbukuan di Yogyakarta tahun 2000-an (ia tampil sebagai model sampul buku Muhidin, Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta), segera mengurusi tawaran dari mereka yang disebut Faiz “pihak keluarga Pak George”. Obrolan pertama mereka dimulai di Rumah Sakit Bethesda, tempat Aditjondro terbaring sakit di ruang perawatan intensif. Obrolan serius berlanjut di “rumah buku”—begitu sebagian sejawat menyebut sebuah rumah sewa yang dipakai Aditjondro untuk menyimpan semua koleksi bukunya.

“Rumah buku” ini bertempat di Deresan, sengaja dipilih yang berdekatan dengan rumah pondokan yang ditempati Aditjondro bersama istrinya sekarang Erna Tenge. Aditjondro bermukim di Yogya seiring diminta menjadi dosen tamu di Sanata Dharma pada 2005. Dia mengajar studi marxisme, metode penelitian, dan gerakan sosial baru untuk program magister Ilmu Religi dan Budaya. Hubungan mesra ini—bila bisa disebut demikian—antara Aditjondro dan Yogyakarta maupun kampus akan mengalami situasi tegang pada pengujung 2011. Menyosong tahun 2012 adalah awal periode tersulit, meski bukan satu-satunya, terutama bagi kesehatan Aditjondro.

Woro Wahyuningtyas, yang bergiat dalam pekerjaan-pekerjaan sosial dan sudah menganggap Aditjondro sebagai keluarga, membantu menata semua buku Aditjondro. Tyas, sapaan akrabnya, menyebut “tahun 2005 adalah tahun yang menjadi awal perjalanan buku-buku GJA”—akronim untuk nama panjang Aditjondro yang kerap jadi sapaan lazim untuknya.

Menurut Tyas, kini pindah ke Jakarta dan membagi ceritanya kepada saya lewat surat elektronik, sebagian buku Aditjondro semula ada di Semarang, kota yang juga tempat saudara keluarga Aditjondro tinggal. Tyas membawa buku-buku beserta lemari dan rak dari Semarang ke Yogya. Hunian pertama buku-buku ini, untuk disusun ulang, berlabuh di Mrican, dekat kampus pascasarjana Sanata Dharma, di sebuah “rumah kosong milik kolega GJA”. Bersama Lian Gogali, perempuan asal Poso dan kini terlibat dalam gerakan perdamaian Poso lewat Institut Mosintuwu yang dia dirikan, Tyas diminta oleh Aditjondro “untuk bisa menyusun buku-buku”.

Namun, pendataan dan klasifikasi tematik buku tidak berjalan dengan cepat karena kesibukan mereka berdua. Betapapun semua buku termasuk koleksi kaset dan kliping bisa disimpan dalam lemari kaca.

Koleksi buku Aditjondro ini masih belum bisa diakses leluasa, hanya sesekali mahasiswa Aditjondro datang dan meminjam buku untuk disalin, atas sepengetahuan Aditjondro, demikian Tyas.

Ketika rumah kolega itu hendak dipakai pemiliknya, buku-buku Aditjondro kembali dipindah ke rumah sewa di Deresan itu. Sebutan “rumah buku” adalah usulan Aditjondro sendiri.

“Proses perpindahan ini melibatkan banyak kawan, baik mahasiswa GJA maupun kawan aktivis yang lain. Tahun pertama, saya hanya bisa membantu menyusun, memasukkan ke dalam rak, juga lemari buku,” tulis Tyas.

Sejak ikut dalam proses perpindahan buku-buku ini, Lian Gogali mulai terpikir untuk menerbitkan sejumlah tulisan lepas gurunya, terutama yang berfokus pada isu korupsi. Gogali mengenal Aditjondro saat dia masih menjadi mahasiswi teologi di Universitas Kristen Duta Wacana sewaktu Aditjondro masih sering menginap di kantor CD Bethesda, salah satu unit mandiri dan lembaga nirlaba dari Rumah Sakit Bethesda yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat dalam situasi darurat dan bencana. Kelak, tempat ini akan jadi lokasi perpisahan Aditjondro sebelum meninggalkan Yogyakarta untuk menetap di Palu pada September 2014.

Gogali bertemu Aditjondro kali pertama dalam satu pertemuan pelajar dan mahasiswa Poso sekitar tahun 2000-an, ketika Aditjondro membagi pengetahuan tentang kepentingan ekonomi-politik yang membakar konflik Poso sejak 1998, satu eskalasi kekerasan komunal pasca-Soeharto (menurut Human Right Watch, konflik Poso 1998-2001 menewaskan 500–1.000 jiwa). Gogali menyebut “buku-buku bapak di CD Bethesda banyak yang belum dibuka karena baru dikirim dari Australia”. Sejak pertemuan itu, Gogali mulai menjadi asisten Aditjondro, termasuk untuk mengurus keperluan administrasi, kesehatan, sampai urusan undangan seminar.

Dia kemudian membongkar buku-buku dalam kardus itu dan “menemukan banyak sekali cuplikan tulisan bapak di luar negeri tentang korupsi”. Tak hanya dalam bahasa Inggris, tapi juga bahasa Belanda, Jepang, dan Jerman.

Menurut Aditjondro, usulan Gogali spontan terlontar pada akhir 2003 dengan motivasi agar orang Indonesia bisa mengetahui “luasnya wilayah penyebaran kekayaan keluarga Soeharto di mancanegara yang memiskinkan rakyat Indonesia” dan “supaya rakyat Indonesia tidak lupa”.

Aditjondro menjawab, “Siapa yang mau membantu? Siapa yang mau menyunting?”

Gogali lalu menghubungi penerbit LKiS Yogyakarta, sebuah lembaga yang mengusung pemikiran Islam inklusif dan toleran yang menerbitkan banyak buku kritis, didirikan oleh sekelompok anak muda lulusan pesantren pada 1992. LKiS rupanya setuju dan bersedia membiayai proses penerjemahan artikel-artikel itu. Menghadapi “sifat perfeksionis George”— istilah penerbit itu—dan menyatupadankan nuansa terjemahan dari bahasa asing yang bisa senapas dengan gaya penyampaian Aditjondro dalam bahasa Indonesia, membuat penyuntingan buku itu baru selesai 1,5 tahun kemudian.

Gogali menulis dalam surat elektroniknya kepada saya, “Sulit cari editor yang mau melihat tulisan bapak”. Akhirnya, diimbuhi canda, dia yang menjadi “editor amatiran”.

Pada Mei 2006 buku itu terbit dengan judul Korupsi Kepresidenan—Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa. Tesis buku ini, dengan memakai istilah “reproduksi”, merujuk pada melanggengnya korupsi di lingkaran istana (keluarga presiden dan kroni-kroninya) selepas Soeharto lengser, yang tiada bedanya atau melanjutkan era Soeharto. Korupsi ini ditopang tangsi (militer) dan partai penguasa (dari Golkar sampai partai pengusung presiden selanjutnya). Aditjondro menulis dua bab tambahan: periode korupsi Presiden Megawati dan periode pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Buku ini terbit, dalam istilah Aditjondro, sebagai “pertanggungjawaban” dirinya selama hijrah dari “bumi Pertiwi” sejak Februari 1995–Oktober 2002 ke Australia, dan “merangkum pelbagai tulisan tentang harta jarahan Soeharto bersama kerabat dan kroni-kroninya di belasan negara di dunia”.

Akan selalu melekat sebagai ciri khas penggalian data atau metodologi Aditjondro untuk menggabungkan antara agensi dan struktur dengan pendekatan analisis ekonomi-politik di hampir semua kasus yang dia teliti. Dia menyebut jejaring korupsi ini sebagai “cabal”—istilah dari sosiolog radikal Amerika Serikat, William Chambliss, untuk mengidentifikasi bahwa jejaring ini meliputi birokat, politisi, pengusaha, aparat hukum, serta lembaga yang memberikan legitimasi “ilmiah”. Teorinya ini dia elaborasi dalam sebuah buku saku yang terbit tahun 2002—satu kajian sosiologi korupsi yang dia ajarkan saat menjadi dosen di Universitas Newcastle, New South Wales, Australia.

Gogali ingin membuat “perpustakaan George Aditjondro” dan akhirnya terkabul juga, meski tidak seideal yang dia impikan, ketika proses perpindahan kedua itu ke “rumah buku”.

Seiring meneruskan kuliah pascasarjana di Sanata Dharma dan menjadi murid Aditjondro, Gogali menyebut “sangat sulit” untuk mengategorikan koleksi buku Aditjondro. Selain karena belum ada yang berminat untuk bantu bikin rak buku, juga “buku-buku bapak banyak sekali dan langka-langka”. Dia tahu langka dengan merujuk kategori buku yang dilihatnya dalam daftar di perpustakaan Sanata Dharma. Sembari belajar mengklasifikasikan buku sambil-lalu lewat perpustakaan kampus, dia bantu menyusun buku-buku itu seraya mendiskusikannya dengan Aditjondro.

“Sewaktu rumah kontrakan itu menjadi perpustakaan mini buku-buku Bapak, kami punya ide untuk menjadikan itu tempat berdiskusi mahasiswa-mahasiswa di Yogya tentang isu-isu konflik, sumberdaya alam, korupsi, dan gerakan sosial. Sayangnya, mungkin karena di lorong kecil, dan saya tidak paham soal mengampanyekan perpustakaan mini, jadinya hanya beberapa orang saja yang berkunjung,” kata Gogali.

Lulus dari studinya di Ilmu Religi dan Budaya di Sanata Dharma, Gogali kembali ke Poso. Dia masih terus menjalin kontak dengan Aditjondro untuk mengobrolkan “buku-buku (di) perpustakaan itu” melalui telepon. Mereka makin dekat terlebih sesudah Aditjondro pindah ke Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah tempat Aditjondro bergiat di Yayasan Tanah Merdeka sepulang dari Australia. Di yayasan itu dia bekerja bersama Arianto Sangaji, kolega sehaluan pemikiran dan salah satu sahabat baiknya, dan kedua anak Sangaji memanggilnya “Om Aditjondro”.

Woro Wahyuningtyas, dalam bagian ini, mulai mengambil peran setelah setengah tahun pertama tinggal di rumah buku itu.

“Di sana, interaksi saya dengan beberapa buku GJA lumayan banyak. Beberapa kawan dekat sering hadir untuk bisa membaca, bahkan meminjam untuk di-copy. Pencatatan memang belum seperti perpustakaan, hanya dilakukan saat saya berada di rumah dan juga hanya sangat terbatas untuk kawan dekat, dan tentunya orang-orang yang direkomendasikan oleh GJA,” tulis Tyas.

Namun ada perasaan tawar. Ruang-ruang tempat buku disimpan itu rupanya terpapar rayap, dan risiko ini mudah terjadi mengingat bahan kayu dari rak buku bukan dari kayu yang bagus—kekhawatiran yang bisa dimaklumi dari Gogali saat dia mengeluhkan tiada yang bikin rak saat penyusunan perdana (suami Ria Panhar, yang menjalankan usaha mebel, berkata kepada saya soal rendahnya kualitas rak buku milik Aditjondro). Tyas menulis, “rayap sudah merajalela memakan beberapa buku penting.”

Aditjondro mengatakan, masih dengan gaya humorisnya kendati dia juga temperamental, bahwa rayap-rayap ini tidak suka pada gerakan Kiri.

Kebanyakan buku yang termakan rayap itu adalah literatur Kiri. Faiz Ahsoul, dalam kesempatan wawancara kepada saya, menambahkan bahwa selain koleksi buku pemikiran marxian, sebagian koleksi militer terpapras juga. Menurut Tyas, “segala upaya dilakukan untuk menyelamatkan buku-buku ini, sampai harus kami bakar dan musnahkan.”

Untuk buku yang masih selamat, akhirnya Tyas dan Aditjondro memutuskan untuk melakukan fumigasi—sebuah metode pengasapan yang biayanya terhitung “sangat mahal bagi kami” (Tyas tak menyebutkan angkanya). Fumigasi juga dilakukan untuk lemari, rak buku serta ruangan tempat buku disimpan. Itu dilakukan selama dua minggu dan tak ada orang yang diizinkan untuk memasuki “rumah buku” mengingat bahan-bahan kimia ini sensitif bagi manusia. Fungsi fumigasi adalah untuk membunuh telur dan larva serangga, biasanya jenis silverfish dan tentu kutubuku, yang menyerang buku karena mengandung selulosa selain pula didukung temperatur udara yang lembab, habitat yang cocok bagi berkembangbiaknya rayap.

Sesudah insiden dirayapi serangga ini, koleksi buku bisa aman. Tetapi Tyas, karena pekerjaannya, harus meninggalkan Yogya menuju Wamena, sebuah kabupaten di pegunungan tengah Papua.

“Ada sedih karena selain jauh dari GJA dan Tante Erna, aku akan banyak kehilangan momen untuk membaca koleksi (buku) GJA. Hampir dua tahun aku tidak bersentuhan dengan buku-buku GJA karena harus merawat bayi perempuanku,” tulis Tyas.

KUS SRI ANTORO, relawan Forum Komunikasi Masyarakat Agraris, termasuk salah satu—mungkin dari ratusan anak muda—dalam lingkaran aktivisme yang bersentuhan dengan George Junus Aditjondro. Dia termasuk yang sering datang ke “rumah buku” dan menerangkan di rumah itu “ada lemari-lemari berisi buku, kasur, dan meja tempat mengetik GJA”.

Kus sering menginap di rumah tersebut. Kadangpula jadi tempat kumpul sejumlah kolega dalam aktivitas gerakan sosial. Kus dan sejumlah anak muda lain yang biasa mampir ke “rumah buku” juga membersihkan rumah itu. Bagi yang meminjam buku koleksi Aditjondro, biasanya akan minta izin, dan mencatat. Tetapi Kus sendiri tidak tahu jumlah buku yang keluar dan belum dikembalikan karena pendataannya belum rapi saat itu. Dia termasuk yang terlibat dalam pendataan buku saat usulan pihak keluarga Aditjondro mulai terang agar koleksinya “dititip-kelola” di perpustakaan Iboekoe.

Ini masa ketika Aditjondro kritis. Orang mungkin tidak mengira bahwa Aditjondro bisa pulih dari masa rentan itu sejak dia masuk rumah sakit pada medio 2012. Dalam kondisi koma, tersadar, dirawat intensif, Aditjondro bisa bertahan. Kendati kemudian, akibat terus berbaring, dia juga mengalami dekubitus atau luka tekan di punggungnya dan memakai kursi roda. Seakan-akan itu menunjukkan pula perlawanannya di luar aktivisme sosial dan politiknya.

Sejak Mei dan Juni tahun itu Aditjondro mengalami stroke akut. Dia segera dibawa ke unit darurat dan, dalam tempo cepat, menjalani operasi bedah guna mengeluarkan darah membeku di otak kecil. Dia sempat keluar dari unit perawatan tapi cuma bertahan sehari. Kondisi tubuhnya sulit untuk stabil. Infeksi paru-paru, diabetes, jantung, memicu apa yang disebut dokter “sulit memprediksi” progresi kesembuhannya. Dia kadang membaik tapi juga, serumit selang ventilator yang ditanam di tubuhnya, bisa cepat memburuk.

Kesehatan Aditjondro tak pernah stabil sejak menderita kencing manis. Dia diharuskan cek rutin, minum banyak obat atas petunjuk medis, dan tubuhnya cepat mengalami komplikasi. Dia juga diharuskan untuk lebih sering istirahat. Tubuhnya begitu sensitif hingga dokter, yang merawatnya pada 2011 di Jakarta, mengatakan Aditjondro mengalami “sindrom metabolisme”.

Aditjondro dibawa oleh pihak keluarga—antar-jemput ini akan melibatkan banyak peran Ria Panhar dan suaminya sewaktu anak mereka berusia sekira 11 bulan—ke Rumah Sakit Sardjito, dan pelan-pelan, setelah sekitar sebulan, bisa dibawa untuk rawat jalan. Rumah sewa Aditjondro dan Erna Tenge sudah pindah ke bilangan Kaliurang Km 5. Ini mungkin periode yang bisa tenang bagi Tante Erna—sapaan saya baginya—untuk kembali menekuri studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada sembari mengurusi masa pemulihan Aditjondro.

Panhar mengenal keluarga Aditjondro sewaktu di Kotaraja, Jayapura, saat dia masih usia sekolah dasar, tetapi saat itu masih lebih dekat dengan “Mama Esti Sumarah” dan Enrico. Dia dekat dengan “Papa Aditjondro” dan “Mama Erna Tenge” saat periode sakit ini meski Panhar sendiri sudah di Yogyakarta untuk studi sarjana sejak 2000.

Panhar tahu “Papa Aditjondro” sakit saat diberitahu Enrico. Dari sana “kita mulai memikirkan soal buku-buku GJA”.

Panhar kenal dengan Iboekoe saat riset tentang pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung tahun 2009, kala dia bekerja di Friedrich Ebert Stiftung, sebuah yayasan dari Jerman yang memiliki kantor di Jakarta. Termasuk salah satu yang dilarang beredar adalah Lekra Tak Membakar Buku karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan.

Dia kemudian ikut bergiat sebagai penyiar Radiobuku, salah satu kegiatan siaran Iboekoe dengan saluran internet, termasuk nantinya mewawancarai Aditjondro sekeluar dari rumah sakit dalam tajuk “Program Buku Pertamaku”. Panhar, lewat suaminya, membantu bikin studio Radiobuku saat di Patehan, Kota Yogyakarta.

Saat memikirkan buku-buku koleksi Aditjondro tersebut, situasi juga tengah mendesak lantaran rumah buku yang disewa sudah habis masa kontrak.

Enrico Aditjondro, Woro Wahyuningtyas, dan Ria Panhar sepakat menyimpan buku-buku di perpustakaan Iboekoe. Obrolan mulai berkembang serius ketika Faiz Ahsoul berdiskusi dengan mereka di “rumah buku”.

Faiz sebelumnya “masih belum tahu” keinginan keluarga Aditjondro soal status buku-buku ini bila dipindahkan ke Perpustakaan Gelaran Iboekoe. Faiz mengajukan tiga usulan: apakah sebatas dititipkan—artinya hanya dipak lalu dipindah sehingga tak bisa diakses oleh siapapun; kedua, apakah dihibahkan—dengan begitu semua koleksi buku ini mengikuti sistem Iboekoe (sistem katalog dan peminjaman berlaku sama termasuk bagi pihak keluarga); atau ketiga, titip-kelola?

Yang disebut terakhir, Faiz menjelaskan, berarti hak buku-buku masih dimiliki Aditjondro dan keluarga meski akan dikelola Iboekoe. Sistem katalog dibuat tersendiri dan akses baca pun di tempat. Tetapi bagi mereka yang tengah meneliti kiprah Aditjondro misalnya, termasuk saya dalam kepentingan penulisan ini, bisa membawa pulang sejumlah buku untuk sementara (saya meminjam sembilan buku dari koleksinya).

Pihak keluarga saat itu memilih opsi terakhir.

Seingatn Faiz pada bulan puasa atau Juli 2012, dia meminta waktu dua pekan untuk mendata semua koleksi buku Aditjondro. Total, menurut Faiz, ada sekitar 2.000-2.500 buku. Menurut Faiz, ada sekitar 8 sejawat yang ikut membantu proses pendataan ini. Setelah lebaran, sekira bulan Agustus, semua buku diangkut lewat mobil bak terbuka, bolak-balik lima kali jalan, yang dibantu sekira empat orang. Seluruh biaya transportasi ditanggung pihak keluarga Aditjondro.

Dari Patehan, tempat Iboekoe berkantor, semua buku dikeluarkan dan disusun lagi ke dalam lemari seperti di “rumah buku”. Kus Sri Antoro masih sering datang untuk membaca koleksi tersebut.

Lian Gogali dari Poso datang ke Yogya untuk “mengurus lagi buku bapak” saat proses pemindahan ini. Gogali menulis, “Bapak penuh semangat cerita kepada saya setiap kali pindahan buku, dan tidak lupa cerita bagaimana kondisi buku-buku saya (bukan hanya buku-buku bapak), termasuk saat kebanjiran.”

Gogali, menemani Aditjondro ke Iboekoe, mengingat bahwa “wajah bapak terlihat sangat lega ketika melihat buku-bukunya”.

Menurut Faiz, Tyas juga sempat membawa koleksi dokumen dan barang-barang lain, serta kertas-kertas, kliping koran dan catatan, ke dalam kardus-kardus ke Iboekoe dengan sebuah mobil bak terbuka.

Koleksi buku Aditjondro ini, kata Faiz, “telah meluluskan seorang mahasiswa dari Papua yang kuliah pascasarjana di Sanata Dharma”—barangkali juga dulunya murid Aditjondro. Sayangnya Faiz lupa nama mahasiswa tersebut dan, sayangnya lagi, dia tidak menyerahkan salinan tesisnya untuk dikoleksi Iboekoe.

PERJALANAN akademis dan intelektual Aditjondro takkan bisa dilepaskan dari perannya dalam kemerdekaan Timor Leste. Dalam solidaritas untuk negara bekas jajahan Portugis itu yang dipaksa integrasi di bawah kolonialisme dunia ketiga (atau “pendudukan seberang kampung”) pada 1974, lingkaran pergaulan Aditjondro bisa diikuti lewat jaringan para aktivis pro-demokrasi di Solidamor dan Fortilos. Yang disebut pertama, akronim untuk Solidaritas untuk Penyelesaian Damai Timor Leste, pernah menerbitkan sebuah buku tentang, lagi-lagi, jejaring agensi dan struktur dalam politik minyak di balik kepentingan pencaplokan Timor Leste.

Salah seorang pegiat di Solidamor, Tri Agus Susanto Siswowihardjo—biasa dipanggil TASS—bergiat di Pijar, dan organisasi yang dibentuk tahun 1989 ini merilis buku Dari Soeharto ke Habibie—barangkali masih salah satu karya terbaik Aditjondro dalam sekali pukauan—pada 1998.

Seingat TASS, yang sejak 2011 mengajar ilmu komunikasi di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa, Yogyakarta, ide menerbitkan buku “Guru-Murid Kencing” itu ketika dalam satu kesempatan Aditjondro berkata, “Saya memiliki banyak bahan tulisan tentang korupsi Soeharto. Tapi saya kira tak ada penerbit yang berani menerbitkannya.”

Bonar Tigor Naipospos dari Solidamor menanggapi bahwa penerbitan itu soal gampang dan Pijar saja yang melakukan.

Buku itu diluncurkan di sebuah kafe di Blok M, Jakarta. TASS mengingat, dalam dua bulan, buku itu terus naik cetak, sampai-sampai kewalahan melayani para pembeli borongan yang mengantre di depan kantor.

TASS bertemu Aditjondro kali pertama di Manila pada 1994 saat mereka bicara “East Timor”. Dia termasuk yang rajin membesuk, sesekali mengantar sejumlah kolega lama Aditjondro saat terbaring sakit maupun sewaktu rawat jalan. Di antara kolega lama ini adalah Max Lane (penerjemah tetralogi Pramoedya Ananta Toer), Harry Poeze (sejarawan Tan Malaka), dan Jose Ramos-Horta, peraih nobel perdamaian tahun 1996 dan mantan perdana menteri dan presiden Timor Leste (Aditjondro menullis, “Barangkali tidak ada aktivis pro-demokrasi Indonesia yang mengenal Ramos-Horta, selama dan semendalam saya, yakni sejak 1974”).

Ketika Aditjondro sakit, bersamaan itu pula keluarga dan kolega terdekatnya mengumpulkan penggalangan dana untuk biaya pengobatan, selain pula ditopang oleh kartu asuransi kesehatan milik Tante Erna.

LINGKARAN-lingkaran sahabat Aditjondro meluas, dari Aceh sampai Papua, dari Australia, Timor Leste, sampai negara-negara Asia Tenggara dan Pasifik, serta Amerika Serikat. Ini adalah tempat dia menjalani studi seriusnya, dari Salatiga di Jawa bagian tengah hingga Universitas Cornell di Ithaca, AS.

Sebelum banyak orang terjun ke Papua, Aditjondro sudah meretasnya. Sebuah lingkaran terpelajar di Papua mengenal sejarah pers bukan dari mengikuti “sejarah pers Indonesia”—apapun definisi dan kategorinya—tetapi lewat Kabar dari Kampung yang dibikin Aditjondro di sebuah yayasan pengembangan masyarakat desa di Abepura selepas dia berhenti sebagai wartawan Tempo pada akhir 1970-an.

Dia terus mengembangkan perhatiannya pada isu lingkungan. Kemudian berjejalin isu-isu baru dalam politik lokal seiring otonomi pasca-Soeharto, yang juga kian membuatnya memperbesar sorotan pada sebaran praktik pemburu rente dan korupsi di daerah-daerah. Dia terus menguji tesisnya sekaligus menawarkan gagasan penguatan arus gerakan sosial akar rumput, sambil tetap kritis untuk isu pelanggaran hak asasi manusia. Sebuah pengantar untuk satu kegiatan lokakarya misalnya, dia menjelaskan apa yang disebut “peta konsep”—bentuk pedagogi yang mengajak para peserta mengenali setiap masalah dengan mengurutkan dari paling kompleks atau abstrak ke konsep yang paling sederhana atau konkret.

“Tidak adakah tempat buat lagu, puisi, melodi, goyang pinggul Inul, lukisan, grafiti atau jokes dalam pengumpulan data atau interaksi kita dengan teman belajar kita?”—demikian Aditjondro saat mengenalkan matakuliah metode penelitian yang dia buat tahun 2006.

Itu yang khas dari artikel Aditjondro. Dia bisa menyampaikan gambaran kompleks dengan cukup satu metafora—tantangan yang selalu peka bagi penulis baik manapun. Menyebut jejaring korupsi kepresidenan misalnya, dia bisa sebatas mengistilahkan “gurita”. Sebagimana kemudian buku yang jadi polemik itu pada 2010, Membongkar Gurita Cikeas—yang bagi saya sendiri tidak sebaik dan sedalam buku korupsi dia sebelumnya; satu hal yang sesungguhnya menyimpang dari sifat perfeksionis dan kecerewetan dia bila menyangkut standar data.

Selama 1998-2010, setidaknya Aditjondro menulis 11 buku dalam bahasa Indonesia: empat tentang korupsi, tiga amatan isu lingkungan yang diterbitkan serentak, dua soal Timor Leste, dan masing-masing satu untuk Papua dan Toraja (buku tipis). Selain itu dia menulis puluhan “kata pengantar” dan artikel lepas untuk sejumlah buku dan terbitan dari wilayah-wilayah yang sering dia datangi sebagai pedagog populer maupun peneliti.

Tri Agus Susanto misalnya mengumpulkan setidaknya 26 kata pengantar, umumnya bernapas panjang dan lebih sering ditempatkan sebagai artikel yang memperdalam substansi buku.

Sewaktu Aditjondro menginjakkan kaki dari pesawat yang mendarat Jakarta pada 2002, kembali ke Indonesia sesudah Soeharto lengser dan Timor Leste resmi sebagai negara berdaulat, sekelompok pemuda dari negara baru itu menyambutnya dengan mengelilingi dan mengangkatnya ke udara.

Itu adalah jalan permulaan lagi baginya mengenali dan menyampaikan kabar perlawanan dari-dalam-Indonesia. Dari Poso, Aceh, Sumatra, Kalimantan, lalu mendatangi lagi Papua. Ini masa pasang demokrasi, dan tuntutan rakyat masih diperam oleh momentum, kendati terjadi kesulitan-kesulitan sebuah negara yang dianggap oleh sebagian pengamat bakal seperti Balkan. Sampai kemudian momentum itu hilang.

Soeharto, setidak-tidaknya dari riset Aditjondro yang menunjukkan sifat kleptokrasi rezim itu, bernasib sangat berbeda dari para tiran di negara-negara lain yang dijalankan persis sama seperti pemerintahan represif Orde Baru. Soeharto tetap menikmati masa tua di rumahnya di Cendana sampai meninggal, dia tidak dihukum, basis kekuasaannya tidak dipreteli atau rontok, dan kekayaan keluarga besar dan kroni-kroninya tidak mengalami pengurangan.

Apakah Aditjondro kecewa?

MASA ketika dia kembali ke Indonesia, agaknya juga, menggambarkan satu kehidupan pelik, pada tahun-tahun berikutnya, sebagaimana nantinya dia tulis lewat satu monograf dalam sebuah bunga rampai terbitan 2011: “Aku tidak bisa mengklaim menjadi orangtua yang baik, tapi aku bisa ceritakan pengaruh Papa dan Ibu terhadap perkembangan diriku.”

Aditjondro pulang setelah meninggalkan Indonesia selama delapan tahun sejak komentarnya tentang pembantaian Dili pada Maret 1994 di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, menarik perhatian wartawan lantas dikutip dalam satu artikel. Itu bikin dia menerima serangan dan pemberitaan negatif serta posisinya sebagai dosen di Satya Wacana digoyang. Dia juga menyampaikan lelucon dalam satu pidato di kampus di Yogyakarta bahwa stuktur kekuasaan di Indonesia ditopang oleh “Ha Ha Ha Ha” —maksudnya SuHarto, Habibie, Harmoko dan Bob Hasan—yang seketika jadi slogan populer di kalangan mahasiswa dan sekaligus mengundang aparat negara menguntitnya untuk memanjarakan dia.

“Aktivis subaltern terkemuka”—sebutan dari mantan koleganya di kampus itu—pada satu kesempatan bertandang ke kamar pondokan Saleh Abdullah di Tebet, Jakarta. Saleh saat itu bekerja di organisasi nonpemerintah lingkungan dan hak asasi manusia, belum begitu dekat persahabatan mereka, dan Aditjondro datang “mau minta pendapat teman-teman” soal apa yang sebaiknya dia putuskan.

“Aku mesti bertahan di tanah air ini, atau sebaiknya aku lari ke luar negeri? Kalau aku di penjara, sebagai intelektual, kau tahu sendiri, matilah aku.”

Menurut ingatan Saleh, Aditjondro berkata “ngeri” membayangkan situasi dia tak bisa membaca dan menulis dengan bebas saat di penjara, “Beberapa teman menganjurkan aku tetap tinggal dan terus melawan Soeharto. Dan tidak menjadi pengecut.”

“Menurutku,” tulis Saleh dalam satu komentarnya di Facebook, “Pertama dan utama, takut itu manusiawi. Kita tidak boleh sok revolusioner dengan mengabaikan hati kecil kita sendiri. Memangnya orang-orang yang meledek kamu itu punya kemampuan dan keberanian apa? Apa yang sudah mereka lakukan? Risiko apa yang sudah mereka tanggung? Kamu sudah melakukan dobrakan lewat tulisan-tulisanmu ketika para intelek dan aktivis tiarap atau setengah tiarap. Tentukan sendiri pilihanmu dan jujurlah pada nurani. Mungkin di luar negeri kau akan lebih banyak bisa membaca dan menulis terus.”

Kepada saya, Saleh berkata bahwa saat itu “banyak dari teman-teman nyaranin dia sekalian nyebur, jangan tanggung-tanggung”.

“Tetapi dia sangsi dan, menurutku, teman-teman juga tidak fair,” ujar Saleh, kini bergiat di Insist tempat Aditjondro, pada masa aktifnya, kerap diminta sebagai redaktur tamu untuk jurnal Wacana, terbitan berkala untuk kajian perubahan sosial.

Melihat bahwa Aditjondro mengirim semua buku dari Australia, yang akan bertemu dengan Lian Gogali, Woro Wahyuningtyas, dan sejumlah sejawat muda lain dalam perjalanan aktivisme, saya bisa mengatakan bahwa seseorang dengan kekayaan pemikirannya—betapapun dia pribadi yang tidak mudah—akan terus menarik kaum muda, dan bahkan rela membantunya.

Itu juga perjalanan lain, yakni perjalanan buku-buku si pemilik, yang sudah jadi seakan bayangan yang menemani dia bila kau bekerja sebagai dirinya.

Lian Gogali masih berharap bahwa buku-buku itu, yang kini ada di Iboekoe, bisa dibawa ke Poso “supaya orang habis perang bisa baca buku dan berhenti perang”. Usulan ini pernah muncul sewaktu proses perpindahan pertama dan bagi mereka itu masuk akal, tapi dengan cepat mereka menyerah lantaran biaya pengiriman yang mahal.

Aditjondro berkata, “Bikin baik dulu perpustakaanmu di sana (Poso), kuatkan anak-anak dan ibu-ibu, cari peneliti dan penulis muda di Poso, lalu datang negosiasi ulang dengan Iboekoe.”

Menurut Gogali itu adalah “tugas amat berat!”

Gogali tentu tetap senang karena “sudah ada yang mengurus buku-buku bapak”. Dia “merasa yakin bapak lebih tenang sekarang karena ada yang mewarisi buku-bukunya”.

Buku-buku koleksi Aditjondro ikut dipindahkan ke lokasi tetap Iboekoe di Sewon, Bantul, belakang kampus Institut Seni Indonesia, pada Februari 2014. Boyongan ini karena pemilik rumah di Patehan sungkan memperpanjang kontrak. Lokasi sekarang adalah sebuah bangunan persegi lantai dua yang kosong, bekas studio lukisan milik seniman sekaligus pendiri Gelaran Iboekoe. Ini langkah taktis sekaligus strategis bagi pegiat Iboekoe. Pekerjaan memindah barang selalu berat, dan jika sebagian besar barang adalah buku, maka pekerjaan tersebut nyaris mustahil. Koleksi buku dalam perpustakaan Iboekoe tak hanya buku, tapi juga jilid-jilid majalah, tumpukan koran, yang memakan hampir 80% seluruh ruangan.

Rak yang menjadi buku Aditjondro terpacak melintang, membagi partisi antara ruangan tengah dan ruang belakang. Ruang tengah yang lapang, terhubung pada pintu depan, diisi meja yang disusun memanjang, dan kursi-kursi mengitarinya. Di belakang rak itu juga meja memanjang, tempat biasanya pegiat Iboekoe mengetik. Di ruang belakang itu ada sebuah dapur.

Rak buku Aditjondro tingginya hampir menyentuh plafon, tebal dan berkisi lebar. Sebagian buku yang dipajang itu mewakili titik perhatian Aditjondro, selain buku-buku teori. Masih ada, setidaknya saat saya berkunjung ke sana pada pekan ketiga Agustus, sekira 31 kardus besar berisi buku-buku Aditjondro, selain 9 kontainer yang memuat rupa-rupa jejak tertulis Aditjondro dalam penelitian dan perjalanan akademis. Lemari kaca yang semula jadi tempat menyimpan bukunya sewaktu di “rumah buku” dan Patehan disebar ke para pegiat Iboekoe, karena menurut Faiz Ahsoul, rumah Iboekoe sekarang tidak cukup ruang untuk membawa lemari-lemari tersebut.

Faiz Ahsoul “masih kesulitan secara teknis” untuk mengeluarkan semua koleksi buku Aditjondro di dalam kardus mengingat ruang-ruang di Iboekoe perlu ditata ulang. Rak-rak besi yang berkumpul di satu ruangan berisi kliping koran yang terhubung ruang tengah misalnya, mungkin bisa dipakai nanti—tetapi itu butuh waktu juga tenaga.

Sampai saya mendatanginya, meski tak seintensif sewaktu masih di Patehan karena jarak rumah saya terlalu jauh, belum ada yang meriset atau mencoba untuk menggali kerja-kerja tertulis Aditjondro.

Enrico Aditjondro mengatakan bahwa kerja “teman-teman Iboekoe jauh lebih inspirasional” dalam mengurus koleksi buku papanya.

Tante Erna lulus studi doktoralnya. Rasa haru bahagia tetap muncul kendati sebelumnya mereka dalam situasi sulit. Aditjondro berkaca-kaca ketika hadir dalam upaya pengukuhan istrinya.

Menurut Ria Panhar, Papa gampang sensitif sekeluar dari rumah sakit dan sesudahnya. Dalam masa pemulihan itu, Ria menyebut Papa bertingkah “seperti anak kecil banget—minta jalan-jalan dan kesukaan dia makan ayam goreng kampung”.

Di masa pemulihan itu juga kadang Aditjondro melantur dan, seingat Panhar, setelah dibawa kembali ke rumah dari rumah sakit Sardjito, ingin segera membaca buku karena mendesak “mau buat outline untuk bahan kuliah”.

Sewaktu-waktu Tante Erna mengontak Faiz Ahsoul untuk minta tolong mengambil buku, sesuai pesanan Aditjondro. Aditjondro kerap melontarkan keinginan “pengin ngajar” dan karena itu dia butuh buku-buku yang dimaksudnya, dengan gerak bibir yang kesulitan membentuk kalimat, dan mungkin apa yang sesungguhnya dia inginkan masih dalam kabut pikiran.

Pada Jumat sore, 5 September 2014, sejumlah kolega dekat termasuk Ria Panhar, Woro Wahyuningtyas, Faiz Ahsoul, dan Tri Agus Susanto bikin satu acara apa yang mereka namakan “Ngeteh Bersama George Aditjondro”. Mereka mengundang sejumlah teman lama Aditjondro termasuk dari Salatiga selain sejumlah wartawan. Acara itu bertempat di CD Bethesda. Pegiat Radiobuku datang dan merekam testimoni dari sejumlah kolega lama, saudara, dan sahabat dekatnya. Aditjondro diminta untuk bicara tapi lebih sering terharu.

Aditjondro lahir dari keluarga campuran: garis ningrat Jawa-Solo menurun dari papanya dan keturunan Belanda dari garis mamanya. Papanya lulusan sarjana hukum di Belanda dan berkarier dengan kehidupan sederhana dan menolak suap sebagai ketua pengadilan negeri termasuk di Pekalongan (tempat Aditjondro lahir) sampai pensiun di Makassar.

Dalam satu profil yang ditulis majalah Time Asia, edisi “Soeharto Inc.” (24 Mei 1999)—yang digugat keluarga Soeharto secara hukum—Aditjondro mengatakan, “Anak-anak Belanda memanggil saya negro, sementara anak-anak Indonesia menyebut saya bule. Jika kamu jadi orang marjinal, ketimbang identitasmu hancur karena terus berusaha dipaksa asimilasi, kamu memakai posisimu sebagai orang marjinal untuk mengungkap semua sisi: mereka yang ditindas, para penindas, dan sistem yang melanggengkan penindasan.”

Mas Junus—saya menyapanya demikian—dan Tante Erna pulang ke Palu pada 6 September 2014. Itu mungkin jadi perjalanan yang lebih tenang bagi keduanya setelah Aditjondro menghadapi dua pengaduan pidana dan terus menyimpan daya hidup yang tiada disangka untuk melewati krisis terberat dalam sakitnya.

Buku-bukunya berada di belakang punggung dia dan sekali, sampai saya menuliskan ini, Faiz pernah mengirim sejumlah buku ke Palu: buku-buku Karl Marx dan Antonio Gramsci. Pria ini, dalam satu wawancara terakhir di Radiobuku, masih kukuh pada cita-cita “masyarakat Indonesia punya kebebasan memilih untuk negara yang dia suka—misalnya negara federal, yang diperjuangkan secara damai melalui pemerintahan sipil”. Dia berkata kepada Lian Gogali, bertahun-tahun lalu, “Kalau saya mati, setidaknya ada warisan saya untuk orang lain atau siapapun untuk meneruskan apa yang saya tulis atau minati.”

Tyas berharap, buku-buku Aditjondro bisa menebar terang ketika “GJA harus menikmati masa pemulihan dan masa tuanya di Palu bersama istri tercinta”.

Kepada saya, Gogali menulis di komentar Facebook, bila naskah ini sudah terbit, dia akan “beritahu bapak” dan “bantu bacakan ke bapak dengan semangat”.

Saya khawatir naskah ini terlalu rumit dan tidak ramah bagi seseorang yang sudah berumur 69 tahun, terserang stroke dan beberapa kali serangan jantung. Saya ingin menulis humor-humor yang dia sukai. Sayangnya, kekurangan saya sebagai penulis, saya tidak pandai membuat humor.[]

 

*Koreksi (28 Agustus 2015):

Pada bagian kalimat: “Panhar kenal dengan Iboekoe saat riset tentang pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung tahun 2009, kala dia bekerja di Friedrich Ebert Stiftung (FES), sebuah yayasan dari Jerman yang memiliki kantor di Jakarta.”–ada koreksi dari Ria Panhar yang menghubungi Fahri Salam sebagai penulis reportase. Yang benar: Ria Panhar tidak bekerja di FES, saat itu dia sebagai fasilitator riset yang dilakukan Pemantau Regulasi dan Regulator Media, lembaga pengawas media berbasis di Yogyakarta, yang  hasil riset tersebut dibukukan dengan judul Pelarangan Buku di Indonesia (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010). Penerbitan buku ini bekerjasama dengan FES.

_____________

Sumber rujukan

  • “Investigator: A man on a mission to track the loot”—laporan majalah Time Asia edisi sampul “Soeharto Inc.” (24 Mei 1999).
  • “Eskalasi di Poso” dalam Gerry van Klinken, Perang Kota Kecil (Jakarta: YOI, 2007, hal. 120‒147).
  • “Arus Balik dari Oslo: Mengetuk Hati Nurani Gereja Katolik Indonesia”, dalam buku 100 hari meninggalnya Romo Mangun, Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan (Sindhunata—ed. Yogyakarta: Kanisius, 1999, hal. 201‒213).
  • “Anti Sogok dan Cinta Budaya”, dalam Berkah Kehidupan (Baskara Wardana—ed, Jakarta: GPU, 2011, hal. 232‒243).
  • “Renungan Buat Papa Nanda, Anak Domba Paskah dari Tentena”, pengantar dalam Rinaldy Damanik, Tragedi Kemanusiaan Poso (PBHI, Yakoma PGI, CD Bethesda, 2003, hal. xviii‒l).
  • Dari Wina ke Yogyakarta: Kisah Hidup Herb Feith, Jemma Purdey (Jakarta: KPG, 2014, hal. 465).
  • Rekaman wawancara Radiobuku antara Ria Panhar dan GJ Aditjondro (16:51 menit, akhir tahun 2012).

 

 

Di antara buku George Junus Aditjondro (mayoritas bunga rampai):

Korupsi

  • Dari Soeharto ke Habibie —Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari: Kedua Puncak Korupsi, Kolusi, dan Nepotimes Rezim Orde Baru (Jakarta: Pijar & MIK, 1998).
  • Membedah Kembar Siam Penguasa Politik & Ekonomi Indonesia: Metodologi Investigasi Korupsi Sistemik bagi Aktivis & Wartawan (Jakarta: LSPP, 2004).
  • Korupsi Kepresidenan —Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (Yogyakarta: LKiS, 2006).
  • Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century (Yogyakarta: Galangpress, 2010).

Lingkungan

  • Trilogi: Kebohongan-Kebohongan Negara; Korban-korban Pembangunan; Pola-pola Gerakan Lingkungan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).

Timor Leste

  • Menyongsong Matahari Terbit di Puncak Ramelau: Dampak Pendudukan Timor Lorosa’e dan Munculnya Gerakan Pro-Timor Lorosa’e di Indonesia (Jakarta: Yayasan HAK & Fortilos, 2000).
  • Tangan-tangan Berlumuran Minyak: Politik Minyak di Balik Tragedi Timor Lorosae (Jakarta: Solidamor, 2010).

Papua

  • Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia (Jakarta: Elsam, 2000).

 

 

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

  • Wahyuningtyas Woro

    Ah! Saya akan baca singkat saja untuknya, sambil bilang humor rayap yang tidak suka buku Kiri dipelajari manusia…danke banya om Fahri…

  • Agus Surani

    Jejak tulisan ilmiah Pak George di Jurnal WACANA INSISTPress No.17/2004 | Negeri Tentara: Membongkar Politik Ekonomi Tentara, saya kira layak ditambakan dalam artikel ini. Selain beliau adalah redaktur yang menjadi gawang intelektual di edisi tersebut, juga ada tiga tulisan penting Pak George tentang politik militer di Indonesia.