BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 8 menit

Pengalaman membaca buku di masa Orde Baru.

SEBUAH peti besar dari kayu berada di salah satu sudut garasi mobil kami. Tidak jelas sejak kapan dan bagaimana peti itu berada di sana. Ia dikelilingi tumpukan kaleng oli dan kotak-kotak peralatan. Suatu hari sepulang dari sekolah, saya sengaja membuka tutupnya untuk mengetahui apa saja yang tersimpan di dalamnya.

Kecoak anak-beranak pun berhamburan keluar dari dalam peti. Saya sempat berlari menjauhi mereka, lalu mendekati peti lagi untuk memeriksa isinya. Banyak sekali majalah! Sampai sekarang saya masih ingat nama-nama majalah itu. Mayapada, Sketmasa, Keluarga, Detektif & Romantika… Tidak ada satu pun yang masih terbit hari ini. Mengapa semuanya tidak ditaruh di perpustakaan atau rak buku dalam rumah kami waktu itu? Mungkin karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Majalah-majalah lama.

Saya memeriksa majalah-majalah yang disingkirkan itu sebelum deru mobil Ayah dan Ibu terdengar datang dari kantor. Salah satu majalah memuat artikel tentang makhluk luar angkasa alias UFO yang terdampar di sebuah ladang gandum di Amerika Serikat. Foto makhluk itu juga ada. Bermata satu!

Artikel lain mengungkap gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), pemberontakan Kartosoewirjo dan Kahar Muzakkar. Kelak saya mengetahui bahwa APRA dipimpin Raymond Westerling, yang menggerakkan pasukannya membunuh tentara Indonesia di masa transisi pascaproklamasi, dengan tujuan menggagalkan peleburan Republik Indonesia Serikat buatan Belanda ke dalam Republik Indonesia yang diproklamirkan Sukarno.

Kartosoewirjo adalah pejuang anti-kolonial yang kelak mencetuskan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, dengan sebagian Jawa Barat menjadi wilayahnya, akibat rasa kecewanya yang dipicu strategi militer pemerintah Indonesia pascaproklamasi. Kahar Muzzakar memimpin pemberontakan bersenjata di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan mendukung gerakan yang dipimpin Kartosoewirjo.

Tapi cerita yang menarik bagi saya sekaligus menyeramkan adalah profil penjahat Spanyol bernama Albert Mora Zaragoza di majalah Detektif & Romantika. Ia pembunuh berdarah dingin. Dalam cerita lain, seorang pembunuh malah menikahi mayat korbannya.

Aktivitas klandestin saya ini terbongkar ketika suatu hari saya bertanya kepada Ibu apa arti kata “S-E-X”? Ibu terkejut, lalu menanyakan dari mana saya mengetahui kata tersebut. Peti pun kemudian digembok. Majalah-majalah itu tidak dibuang. Kata “sex”, saya temukan dalam kisah kegiatan tukar-menukar antarpasangan suami-istri.

“Kamu belum cukup umur untuk membacanya,” kata Ibu. Saya masih di sekolah dasar.

 

DI RUMAH kami banyak buku, berjenis-jenis. Buku agama, politik, dan sejarah milik Kakek. Novel sastra dan buku psikologi anak milik Ibu. Buku ekonomi, sains dan teknologi milik Ayah.

Dari salah satu buku Ayah, saya mengetahui fungsi atom untuk tujuan damai. Saya mengenal istilah “akselerator lurus” atau kemudian disebut “akselerator linier”, alat untuk mengakselerasi partikel radioaktif, ditemukan ilmuwan Henry Kaplan pada 1956. Alat ini bermanfaat untuk keperluan medis seperti mengobati kanker. Ketika saya belajar di sekolah menengah pertama, saya tidak asing lagi menemukan kata ini dalam buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sampai sekarang, saya tetap menaruh minat yang tinggi terhadap perkembangan sains dan teknologi.

Orang pertama yang memberi saya buku atau bahan bacaan adalah Kakek. Kata Ibu, usia saya waktu itu empat tahun. Kakek membelikan saya buku tentang binatang melata dan unggas. Halaman-halamannya licin dan berwarna. Saya juga sering membaca buku di meja tulis Kakek. Salah satu buku yang saya baca berjudul Ancaman dari Utara, membahas kemungkinan Tiongkok menguasai dunia. Kakek setuju dengan pendapat penulis buku itu karena merefleksikan pendapatnya sendiri. “Lima puluh tahun dari sekarang, Tiongkok akan menjadi negara adikuasa baru,” kata Kakek kepada saya.

Ayah membeli buku tersebut di Jakarta pada akhir 1980-an sesudah Kakek menemukan judulnya dalam suratkabar Kompas yang selalu terlambat sehari tiba di Pulau Bangka, tempat keluarga kami tinggal. Sejak beberapa tahun lalu, saya teringat ucapan Kakek karena mendengar bahwa Amerika Serikat akan memusatkan mayoritas pasukannya di Asia Timur untuk memperkuat Jepang dan Korea sebagai strategi membendung Tiongkok. Intinya, tidak boleh ada super power baru. Amerika Serikat juga akan menutup 15 pangkalan militernya di Eropa untuk berkonsentrasi pada pertahanan militernya di Asia.

Saya memperoleh buku Sarinah yang ditulis Sukarno dan surat-surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, dari Ayah—juga waktu saya masih di sekolah dasar. Ayah menganggap, selain membaca yang memberi pengetahuan, menulis sangat penting. Menulis menjadi sebuah cara untuk mengubah dunia.

Ayah dan Ibu jarang membicarakan politik, apalagi mengkritik pemerintah secara terbuka. Kakek kebalikan dari mereka. Ia membicarakan politik setiap hari dengan suara lantang. Kata Ibu, Kakek dulu pengurus serikat buruh Partai Nasional Indonesia di kotanya.

Saya dibesarkan dalam kepedulian Kakek terhadap situasi di Indonesia serta dunia. Guru sejarah di sekolah menyebut kaum komunis memberontak terhadap pemerintah Sukarno. Tapi menurut Kakek, “Pak Karno” sebenarnya ditahan “Pak Harto”, sang jenderal. Orang-orang komunis dibunuh. Sebagian yang hidup dibuang ke Pulau Buru.

Murid-murid sekolah diwajibkan menonton film Penghianatan G 30 S PKI (1984). Guru membawa kami pergi ke bioskop untuk menyaksikan penayangan film itu. Adegan-adegan menakutkan silih-berganti. Sekelompok tentara yang mendukung komunis memberontak lalu membunuh para jenderal. Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah seorang jenderal ditembak, lalu mayatnya diseret-seret. Darah dari tubuhnya mencipta alur di lantai. Saya tidak ingat keseluruhan cerita, tapi menganggap orang-orang komunis sungguh kejam. Kelak saya menyadari bahwa film tersebut sengaja dibuat sebagai media propaganda anti-komunis di masa pemerintahan presiden Soeharto.

Penculikan perdana menteri Italia Aldo Moro, mogok makan pejuang kemerdekaan Irlandia Utara Bobby Sands, penjajahan Palestina, dan perang di Indochina menjadi subjek pembicaraan Kakek sehari-hari di masa tersebut. Ketika teman-temannya datang, ia berbicara dengan mereka. Ketika teman-temannya pulang, ia berbicara kepada seisi rumah. Lebih sering mirip orasi. Kadang-kadang Ibu khawatir Kakek ditangkap akibat kata-katanya. Kakek malah berkata, “Silakan saja tangkap. Saya tidak takut.”

Kadang-kadang Ibu mengingatkan Kakek bahwa saya masih terlalu kecil untuk diajak membicarakan politik. Sesungguhnya Kakek tidak pernah mengajak saya bicara secara khusus. Ia melontarkan pemikiran-pemikirannya begitu saja, sehingga siapa pun yang kebetulan berada di dekatnya dapat mendengarkan.

Tidak hanya itu, Kakek juga memprotes penyiar televisi. Tiap kali siaran berita ditutup dengan seruan “Merdeka” oleh sang penyiar, Kakek pasti membalas, “Merdeka, apa merdeka? Belum semua orang merdeka di negeri ini. Banyak yang masih kelaparan.”

Menurut saya, Kakek seorang yang kesepian dalam rumah kami. Beruntung ia suka memasak, sehingga ia mencurahkan pikirannya dalam meracik bumbu dan bahan makanan di saat-saat lelah mengemukakan kritiknya. Dalam rumah kami, makanan tidak pernah kurang. Kakek punya kebiasaan membagi makanan kepada para tetangga, tidak peduli mereka miskin atau berada. Kebiasaan ini membuat ada tetangga yang menyangka di rumah kami hampir tiap hari ada pesta!

Di rak buku Kakek ada buku tebal berjudul Dibawah Bendera Revolusi, karya Sukarno. Saya pernah membaca beberapa halaman buku itu, lalu bertanya kepadanya, “Mengapa Jenghis Khan lebih jenius dibanding Hitler?”

Ibu ternyata mendengar, sehingga berkata, “Baca di buku apa?” Saya menyebutkan judul buku itu. Ibu langsung bersabda, “Itu buku politik. Belum saatnya untuk dibaca.”

Saya tidak mau kalah, “Kapan saya boleh membaca buku politik?” Ibu menjawab, “Nanti waktu kamu sudah SMP.” Jawaban Ibu membuat saya senang.

Saya membaca novel-novel klasik Indonesia koleksi Ibu, antara lain Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis dan Siti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli, waktu SD. Ibu tentunya tidak mengizinkan dengan alasan “belum cukup umur” tadi, tapi lalu membiarkan. Akibatnya, kelak sewaktu kuliah di fakultas sastra, saya tidak merasa asing ketika dua novel dari era Balai Pustaka ini dibahas oleh dosen, seakan-akan sebuah perjalanan kembali untuk menggali memori.

Satu novel terjemahan berjudul Juru Mudi Jan van Leuwen, karya Anthony van Kampen, ada di antara koleksi Ibu dan saya membacanya juga. Karena Ibu berlangganan Majalah Femina, saya pun membaca novel Raumanen karya Marianne Katoppo, yang diterbitkan kali pertama sebagai cerita bersambung di majalah itu. Ada bagian yang mengungkapkan monolog Raumanen ketika ia sudah jadi arwah, tapi tidak membuat kisah ini terjebak sebagai cerita horor.

Majalah Femina pernah memuat skandal percintaan yang mengguncang Dinasti Habsburg di Austria, antara Pangeran Rudolf yang sudah beristri dan kekasihnya Baroness Marie Vetsera. Mereka mati bersama di pondok berburu di Mayerling. Meski menitikberatkan pada kisah cinta, artikel itu membuat saya tertarik mempelajari sejarah Austria-Hongaria dan itu artinya, saya kembali lagi pada buku-buku sejarah Kakek.

Ayah membelikan novel Don Quixote karya Cervantes versi untuk anak dan karya-karya klasik Eropa untuk dibaca, termasuk karya Jules Verne, Perjalanan ke Pusat Bumi. Buku-buku itu terbitan Gramedia yang tersedia di toko buku kota kami.

Beranjak remaja, saya berlangganan majalah HAI dan menyukai artikel-artikel tentang para penyanyi serta grup musik di situ. Tapi artikel yang paling saya sukai tentang lembaga-lembaga intelijen dunia. Salah satunya, KGB, milik Soviet. Kaku, dingin, misterius. Terasa hebat. Melalui majalah remaja yang populer ini, disengaja atau tidak oleh para redakturnya, wacana politik dari masa Perang Dingin dipropagandakan, yaitu anti-Soviet.

Tapi dampak propaganda tidak selalu sesuai rencana. Saya dan dua teman di SMP antusias membentuk sebuah lembaga intelijen, karena terinspirasi KGB, bukan CIA bentukan Amerika Serikat. Sejak itu kami memiliki nama-nama alias untuk perempuan Rusia. Sasaran operasi kami adalah guru yang bertindak sewenang-wenang.

Di masa ini, saya juga membaca karya-karya sastra, antara lain Si Bongkok dari Notre Dame dan Les Miserables karya Victor Hugo, meminjam dari perpustakaan sekolah. Hugo mahir menggambarkan konflik sosial dan watak manusia. Bagi Prancis, ia tidak sekadar sastrawan, melainkan menandai sebuah zaman. Sebelum meninggal dunia ia berpesan agar hartanya dihibahkan kepada orang-orang miskin dan jenazahnya dibawa dengan kereta mereka ke pemakaman. Novel lain dari pengarang Prancis adalah Thérèse Raquin karya Émile Zola dan Jalinan Ular Berbisa karya François Charles Mauriac. Karya Mauriac membuat saya terpacu menulis satu cerita pendek tentang situasi batin seseorang yang agak rumit akibat cinta.

Selain mereka, saya membaca karya-karya sastrawan Jepang seperti Junichiro Tanizaki, Kobo Abe, Natsume Soseki, Yasunari Kawabata (peraih nobel sastra tahun 1968), dan Yukio Mishima. Kawabata dan Mishima mengungkapkan gejolak kejiwaan para tokoh dengan begitu intens dalam bahasa yang tenang; sebuah kontradiksi menarik.

Karya sastra Indonesia yang pernah saya baca termasuk novel karya Sutan Takdir Alisyahbana, Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), satu kisah cinta yang terhalang. Saya menulis kisah cinta yang tak sampai untuk majalah dinding karena terinspirasi novel ini. Burung-Burung Manyar (1981) karya Romo Mangunwijaya tamat saya baca waktu SMP. Latar ceritanya dimulai dari masa sebelum dan hingga Indonesia merdeka; jalinan kisah cinta yang dibingkai oleh peristiwa sejarah. Memang kisah cinta selalu menarik!

Saya belajar di SMP Katolik. Perpustakaannya sangat lengkap. Setiap bulan selalu ada buku baru yang datang untuk melengkapi koleksi perpustakaan. Guru bahasa di SMP selalu memberitahu saya agar dapat meminjamnya lebih dulu dibanding murid-murid lain.

Tidak hanya sastra, saya pun membaca novel-novel petualangan Old Shatterhand, Sapta Siaga, Lima Sekawan, dan Nancy Drew yang dibeli Ayah di toko buku.

Kebiasaan orangtua yang suka membaca buku itu ditularkan kepada anak-anaknya.

Kakek meninggal dunia sewaktu saya di sekolah menengah pertama. Saya kehilangan seseorang yang ikut membentuk cara berpikir saya pada hari ini. Ia memupuk ketertarikan saya terhadap sejarah dan politik sampai sekarang.

 

 

AKHIRNYA saya terbang ke Pulau Jawa untuk belajar di sekolah menengah atas di Bandung. Setiap anak dalam keluarga kami harus belajar hidup di luar rumah. Masa-masa yang tidak menyenangkan datang, tapi saya mulai mengenal bacaan yang tidak banyak dibaca oleh remaja lain dari generasi saya. Sepanjang buku-buku ada, saya selalu bisa bertahan.

Ketika SMA, saya membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer untuk pertama kalinya. Secara diam-diam. Novel-novel itu berstatus terlarang, karena penulisnya seorang komunis dan pernah mendekam di Pulau Buru. Menyebarkan dan membaca karya Pram dianggap tindakan subversif. Seorang senior meminjamkannya kepada saya. Sejak itu saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Pram. Tidak banyak yang bisa didapatkan. Karya-karyanya tidak dibahas sama sekali di fakultas sastra, tempat saya kuliah di Universitas Indonesia.

Di masa Soeharto, karya-karya Pram dan para penulis yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat ditaruh dalam rak khusus yang tidak boleh diakses para pengunjung Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta. Setelah kekuasaan Soeharto berakhir, buku-buku dalam rak itu boleh dibaca pengunjung. Namun, status karya-karya Pram secara resmi masih “terlarang”. Negara Indonesia tidak pernah mencabut pelarangan atas buku-bukunya, meski kini buku-buku Pram sudah bebas dijual di toko-toko buku.

Tidak ada doktrin tentang bagaimana menjadi komunis dalam buku-buku Pram, melainkan kisah perjuangan dan jatuh-bangun kehidupan berbagai sosok yang melawan kekuasaan kolonial atau penjajah. Para pejuang itu terdiri dari orang-orang biasa, laki-laki dan perempuan.

Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia (1980), belajar tentang organisasi dari Ang San Mei, pejuang bawah tanah dan pelarian dari Tiongkok. Organisasi menjadi wadah perlawanan yang efektif. Mungkin ini pula yang sedikit banyak memberi ide bagi saya dan teman-teman untuk bersemangat mendirikan organisasi perlawanan di masa Soeharto.

Dalam satu kesempatan bertemu dengan Pram pada 1994, ia bercerita kepada saya bahwa kawan baiknya gugur dalam sebuah serangan di Lemah Abang, Bekasi. Ia membagi kesedihan tentang kehilangan kawan. Antara 1947 hingga 1949, Pram dipenjarakan Belanda. Di masa pemerintahan presiden Sukarno, ia berseberangan dengan Angkatan Darat yang terlibat kerusuhan rasial di Jawa Tengah dan ia terpaksa mendekam di tahanan selama sembilan bulan akibat menulis buku Hoakiau di Indonesia (1960).

Pram tidak sekadar penulis, tapi terlibat dalam perjuangan bersenjata untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Ia menyatukan kata-kata dan revolusi. Pram adalah sosok yang paling memberi inspirasi kepada anak-anak muda di masa Orde Baru, satu-satunya penulis yang menjadi musuh utama negara Orde Baru sampai kekuasaan Soeharto berakhir. Pelarangan terhadap buku-buku Pram di masa Soeharto membuktikan watak rezim yang otoriter. Membaca buku-bukunya dapat dianggap sebagai tindakan perlawanan terhadap kediktatoran.*

__

Revisi: naskah ini ditambahkan lagi dengan cerita sejumlah bacaan dan buku oleh penulisnya dari versi yang tayang perdana hari Rabu, 2 September. Linda Christanty mengingat masih banyak buku yang ia baca sewaktu usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, dan versi revisi ini merangkum sejumlah bacaan tersebut.

 

*Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: