BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 5 menit

“Ngapain kita serius melawan Soeharto, wong Soeharto mimpin negara juga nggak serius.”

DALAM “Aku dan Buku”, buku kumpulan hasil wawancara di Radio Buku Yogyakarta (2015), saya menjawab Mati Ketawa Cara Rusia saat ditanya buku apa yang paling berpengaruh. Sungguh saya tidak bercanda. Buku terjemahan yang disunting Z. Dolgopolova ini diterbitkan Grafiti Press pada 1986. Kata pengantarnya ditulis Abdurrahman Wahid, yang tak kalah lucu dibanding isi buku. Buku lelucon yang mentertawakan komunisme di Rusia dan Eropa Timur ini kemudian mengilhami pembaca di Indonesia. Ternyata lelucon tentang komunisme bisa diadopsi untuk menertawakan rezim Orde Baru yang anti-komunis!

Ada sebuah adagium, bila suatu masyarakat mengalami tekanan dan tak mampu atau kalah terus dalam usaha melawan, maka salah satu bentuk perlawanan itu muncul dalam humor. Ketertutupan Uni Soviet pada zaman perang dingin dan kediktatoran rezim Orde Baru jelas telah melahirkan lelucon-lelucon cerdas. Humor itu boleh jadi hanyalah pelampiasan ketidakmampuan mengalahkan sang penguasa, sehingga banyak kita temukan tokoh-tokoh yang dihumorkan adalah yang berkuasa pada saat itu.

Enam tahun setelah buku laris itu terbit, saya bersama Yayasan Pijar (Pusat Informasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi) menggandeng Lembaga Humor Indonesia (LHI) dan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, menggelar Pekan Humor Indonesia pada 31 Agustus‒5 September 1992.

Acara itu digelar saat Jakarta sedang “Siaga Satu”. Alarm dari negara itu dibuat(-buat) untuk menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Nonblok, 1‒7 September, yang diadakan di Jakarta Convention Center Hall, terletak di kompleks olahraga Bung Karno (saat Orde Baru namanya Senayan). Puluhan kepala negara seluruh dunia hadir di acara resmi negara itu (bukan di acara kami, tentu saja). Kami mengadakan aneka lomba humor, selain diskusi dengan tema “Humor dalam Budaya Indonesia” dengan subtema “Suksesi dan Humor”. Pembicara yang tampil antara lain Abdurrahman Wahid dan Emha Ainun Nadjib, dengan moderator Rocky Gerung.

Menurut Gus Dur, dalam sejarah tak ada sebuah rezim jatuh karena humor. Tak ada gerakan politik tumbuh besar berlandaskan pada humor, misalnya semacam “manifesto politik”. Tetapi humor sebagai wahana ekspresi politis sebenarnya memiliki kegunaannya sendiri. Minimal, ia akan menyatukan bahasa rakyat banyak dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan dan diresahkan.

Masih menurut Kiai Presiden Gus Dur, lelucon memiliki kemampuan untuk menggalang kesatuan dan persatuan (seperti slogan TVRI, stasiun pembina masyarakatnya-Orde Baru), minimal dengan jalan mengidentifikasi “musuh bersama”.

Lelucon juga dapat berfungsi sebagai kritik terhadap keadaan tidak menyenangkan atau kebosanan di tempat atau negara sendiri. Fungsi perlawanan kulturalnya menunjuk pada kesadaran untuk menyatakan apa yang benar sebagai kewajiban tak terelakkan. Yang dicari hanyalah medium paling aman untuk menyatakan kebenaran itu.

Diskusi tentang humor itu makin memperkuat keyakinan saya bahwa humor harus menjadi bagian dari “perjuangan” melawan rezim Orde Baru. Dua sahabat saya, almarhum Nuku Soleiman dan Amir Husin Daulay, pernah meledek saya, “Melawan Soeharto kok nggak serius, gimana mau menang?!”

Dengan enteng saya menjawab, “Ngapain kita serius melawan Soeharto, wong Soeharto mimpin negara juga nggak serius….”

Namun, saya selalu ingat kata Ketua LHI Arwah Setiawan (menjadi arwah betulan April 1995), “Humor itu serius!” Jadi untuk melawan rezim dengan humor tetap harus dilakukan dengan serius.

Pada 9 Februari 1995, saya ditahan dan diadili dengan tuduhan menghina presiden (Pasal 134 dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana) melalui penerbitan Kabar dari Pijar. Saya menyadari, sebagai persidangan politik yang tak mungkin dimenangkan (pada saat itu), maka “panggung” ini harus dipakai semaksimal mungkin untuk kampanye demokrasi. Karena itu, lagi-lagi, saya memanfaatkan humor sebagai alat perjuangan. Sengaja saya buat pembacaan eksepsi (tanggapan terdakwa atas dakwaan jaksa) dan pledoi (pembelaan atas tuntutan jaksa) dengan balutan atau perspektif humor. Eksepsi dan pledoi ini kemudian dibukukan dengan judul, Melawan Orde Baru dengan Cengengesan (Pijar Indonesia, 1997).

Selama dalam tahanan (1995‒1997), keasyikan mengumpulkan dan membuat humor makin menjadi-jadi. Bersama kawan dari Aliansi Jurnalis Independen (Ahmad Taufik, Eko Maryadi, dan Danang Kukuh Wardoyo), kami menjaga kewarasan di dalam penjara dengan guyonan. Meski sebagian anggota ada yang ditahan, kawan-kawan Pijar dan AJI tetap bersemangat dengan melakukan aktivitas menerbitkan pers alternatif Suara Independen dan Kabar dari Pijar.

Tak hanya itu, kumpulan humor yang dipungut dari pelbagai sumber juga diterbitkan. Ini terjadi pada awal 1998. Pada tahun itu penerbitan buku Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto masih dianggap berbahaya karena Soeharto masih berkuasa. Karena itu nama editor, penulis, penerbit, dan percetakan adalah nama fiktif. Pada saat itu tak ada yang berani mengakui buku itu karyanya.

Setidaknya ada tiga jenis buku humor yang terbit saat itu. Pertama buku kumpulan lelucon seperti Mati Ketawa Cara Rusia dan Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto. Buku jenis ini ada puluhan termasuk yang dikompilasi Prof. Dr. James Dananjaya dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Kedua, buku serius tentang kajian humor seperti yang ditulis Arwah Setiawan, Humor Indonesia Tahun 2000 Plus (Grasindo, 1996) dan Humor Zaman Edan (Grasindo, 1997). Dua penulis buku lain adalah Darminto M. Sudarmo (mantan Pemimpin Redaksi majalah Humor) dan Bambang Haryanto (penulis asal Wonogiri).

Ketiga adalah buku kumpulan kolom, ditulis oleh kolumnis yang terkenal dengan gaya humornya. Untuk kategori terakhir ini saya memberi tiga contoh buku: Asal Asul karya Mahbub Djunaidi (Penerbit Buku Kompas, 1996), Saya Berambisi Menjadi Presiden karya Bur Rasuanto (Penerbit Kompas, 2014), dan Melawan Melalui Humor, tulisan Abdurrahman Wahid (PDT Tempo, 2000). Meski dua buku terakhir terbit pada era setelah Orde Baru, namun tulisan-tulisan dua kolumnis itu terbit pada era Orde Baru.

Salah satu keunggulan Mahbub Djunaidi adalah tiga ciri menonjol: politikus, wartawan, dan humoris—yang bersumber pada satu hal, yaitu keprihatinannya pada kelemahan hidup budaya bangsa. Irasionalitas. Feodalisme. Ketidakadilan.

Bur Rasuanto mengejek rezim dari segi politik dan sosial yang terjadi pada masa itu. Dengan keberanian dan penuh tanggung jawab serta tidak luput dari humor, Rasuanto tampil sebagai kolumnis yang kritis terhadap Orde Baru.

Terakhir Gus Dur. Kolom-kolomnya, ditulis di majalah Tempo, merupakan perlawanannya terhadap rezim Orde Baru melalui humor. Menurut Gus Dur, lelucon yang kreatif tetapi kritis adalah “bagian yang tidak boleh tidak harus diberi tempat dalam tradisi perlawanan kultural suatu bangsa”. Melucon macam itu menjaga “kehidupan waras … dalam menghadapi kenyataan pahit” dan “… tidak mustahil akan ditundukkan oleh kesegaran humor”.

Gus Dur, selain menulis kata pengantar buku humor, juga mengilhami beberapa penulis buku humor untuk mengompilasi lelucon tentang Gus Dur dalam sejumlah buku. Setidaknya saya pernah menyumbang dua lelucon kepada Gus Dur.

Pertama, pada 1999 atau 2000-an: apa perbedaan Timor Timur dan Jawa Timur? Di Timor Timur, banyak orang UN (PBB), di Jawa Timur banyak orang NU.

Kedua, persamaan dan perbedaan Guus Hiddink (pelatih sepak bola asal Belanda), Gus Dur, dan Gusmao (pemimpin gerilyawan kemerdekaan Timor Timur). Ketiganya suka sepak bola. Bedanya, negara Guus Hiddink pernah menjajah negara Gus Dur dan negara Gus Dur pernah menjajah negara Gusmao.

 

KINI masihkah kita butuh buku humor? Sejak era Reformasi hingga kini, tak ada atau sedikit sekali terbit buku humor politik yang cerdas. Barangkali memang zaman sudah berubah.

Di satu sisi, para pencipta lelucon telah kehilangan gairah. Tak ada lagi musuh bersama yang pantas dihumorkan. Di sisi lain, kini publik dimanjakan dengan perangkat teknologi canggih, dengan adanya media sosial dan munculnya meme. Dengan lebih banyak gambar, tentu lebih menarik, tapi menurut saya, kedalaman lelucon masa kini—bukan untuk membanggakan generasi zaman edan, eh, zaman saya—masih di bawah lelucon era ‘80-an dan ‘90-an.

Sebenarnya tak ada alasan para penulis buku humor kehilangan musuh bersama. Musuh bersama bisa kita ciptakan. Terbukti dengan karut-marutnya republik ini melahirkan banyak musuh bersama. Mereka datang seiring dengan isu yang sedang hangat. Misalnya, Capres Pelanggar HAM, Presiden Pendukung Pilkada Tak Langsung, Musuh KPK dan lain-lain.

Apakah saya masih menyimpan semua koleksi buku humor selama Orde Baru? Tentu saja, dan masih lengkap. Dan saya selalu ingat pesan Gus Dur, “Meminjamkan buku kepada orang lain adalah perbuatan bodoh. Namun, mengembalikan buku yang kita pinjam adalah perbuatan orang gila!”*

 

————

*Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

BAGIKAN
Artikel sebelumyaDari Hugo hingga Pram
Artikel berikutnyaJangan Biarkan Petani Lemah dan Bertarung Sendiri
Tri Agus S. Siswowiharjo
Beberapa buku homor yang ditulis: Melawan Orde Baru dengan Cengengesan (1997), Mati Ketawa Cara Timor Leste (2001), GAM: Geerr Aceh Merdeka (2003), Humor Pemilu 2004 (2004), Senyum Dikulum Tsunami (2006), Ensiklomedi Politik Indonesia (2010), dan Merapi tak pernah ingkari Monarki (2011). Dosen Ilmu Komunikasi di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD), Yogyakarta—bukan “Sekolah Tinggi Pesawat Melintas Diatas” karena menjadi jalur pulang-pergi pesawat dari/ke Bandara Adisutjipto.
  • Ardyan M. Erlangga

    Om Tri Agus S. Siswowiharjo, saya berharap panjenengan bersedia jadi orang bodoh, lalu meminjamkan koleksi buku-buku humornya, huehuehue

    • Dan kalau om Tri Agus benar-benar jadi bodoh dan meminjamkan bukunya kepada mas Yandri, saya berharap mas Yandri bakal jadi orang bodoh berikutnya dan mau meminjamkan buku pinjaman itu sama saya.

      • T Agus Khaidir

        Lalu Gus Mul menuliskan ulang humor-humor itu dan menerbitkannya dalam bentuk buku, dan saya menjadi orang paling bodoh karena membelinya. Hahahahaha…