BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 8 menit

Sebuah panduan rekreasi terhadap warisan agung Haji Muhammad Soeharto.

 

“Pada suatu hari saya menebang pohon pisang dengan sebuah sabit.” (SOEHARTO)

Jika Anda bertanya ke mana rekreasi yang paling tepat di bulan September dan Oktober setiap guliran waktu, saya merekomendasikan museum Soeharto. Nama resmi museum yang dibuka untuk publik pada akhir Agustus 2013 ini adalah Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Menggunakan bus, Anda bisa menjangkaunya melalui jalan Wates. Selain seliweran kendaraan, tak ada yang bisa dinikmati dari Pasar Gamping hingga bangjo (Polres) Sedayu (berjarak 6 kilometer). Sampai di perempatan, belok kanan dan melajulah dengan kecepatan sedang sejauh 2 kilometer. Aspal mulus dan dipastikan sampai setelah melewati rel kereta api dan dua dusun: Panggang dan Kemusuk Kidul. Dua kampung itu masuk dalam wilayah administrasi Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tapi jika Anda penyuka hidup lambat dan sehat alias naik sepeda, saya rekomendasikan lewat Gamping. Rutenya: Pertigaan Patukan, Ambarketawang (sebelum rel dan stasiun kecil Patukan), belok kiri, lalu Anda bisa menikmati hamparan sawah dan ladang marhaen-marhaen Godean sepanjang Jalan Bibis (Patukan-Rewulu). Jalan kurang mulus, banyak lubang, dan tentu saja berdebu. Sampai pada pertigaan Balai Benih Ikan, belokkan stang sepeda Anda ke kiri: lewati jalan beraspal Dusun Sembuh Kidul (Rewulu), Puluhan (Argomulyo), hingga Kemusuk Lor (Argomulyo).

Parkir kendaraan Anda di tempat yang disediakan. Empat bus besar bisa tertampung sekaligus. Menegaskan bahwa ini adalah “petilasan” yang sama saktinya dengan semua kuburan Wali dan wisata petirtaan di seantero Jawa yang tak pernah sepi pengunjung yang rindu pada “enaknya zaman lalu”.

Pertama kali sampai di museum ini, Anda bisa abaikan godaan dari jejeran warung sekitar yang menjual souvenir berupa kaos oblong bersablon dengan materi (apalagi kalau bukan) “Penak jamanku, tho”. Anda perlu bergerak menjauh dari gerbang, keluarkan kamera. Klik. Pemandangan yang Anda dapatkan adalah tembok tinggi, satpam yang sibuk mengatur hilir-mudik pengunjung, dan di sisi kirinya beberapa batang pohon pisang tumbuh.

Jangan sarungkan dulu kamera Anda, sebab di halaman rumah joglo, ada patung besar Jenderal Soeharto, ukurannya seperti patung Jenderal Soedirman di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta Pusat. Di Indonesia, memang hanya ada dua patung besar tentara: satunya Panglima Besar Sudirman, satunya lagi Jenderal Besar Soeharto. Bedanya: patung Sudirman ada di ruang publik dan di Jakarta Pusat pula (satunya lagi di Pakis Baru, Nawangan, Pacitan, yang berukuran super jumbo). Sementara patung besar Soeharto masih malu-malu menonjolkan diri. Pada akhirnya kebesarannya untuk sementara dikepit di Kemusuk. Mungkin menunggu situasi sejarah berpihak total (lagi).

Setelah melewati patung besar itulah, rekreasi ingatan Anda dimulai. Karena itu, mari membaca katalog rekreasi yang sudah disiapkan si pemandu.

Katalog rekreasi

Sebagaimana namanya, Memorial, museum ini adalah rekreasi ingatan. Kenangan tentang kebesaran Soeharto dan ingatan tentang mengapa Anak Desa (O.G. Roeder, 1976) ini hampir sepertiga abad menjadi tokoh sentral dan berpengaruh, terutama di kawasan Asia Tenggara, sebagaimana sudah dijelaskan dengan cemerlang oleh buku tebal Suharto (R.E. Elson, 2005).

Alur penyusunan Memorial ini mengikuti dengan setepat-tepatnya buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. dan diterbitkan PT. Citra Lamtoro Gung Persada. Terdiri dari 102 bab, buku ini membentangkan sebuah horizon luas yang memberi gambaran ihwal membaca riwayat “gagasan dan tindakan Soeharto selama menjadi anggota TNI pengawal Republik hingga menjabat sebagai Presiden RI”.

Dibuka dengan pidato pendek saat Indonesia mendapat anugerah dari Food and Agriculture Organization (FAO-PBB) sebagai negara yang berswasembada pangan, buku ini menyusuri detail-detail kehidupan Soeharto. Dari silsilah keluarga yang menjadi kontroversial karena ulah tabloid kuning TOP hingga tindakan-tindakan yang diambilnya pada “Gerakan 30 September” dan penghancuran PKI; dari kelompok ekstrem dan oposan, penanganan preman lewat operasi “petrus”, hingga soal asas tunggal Pancasila; dari soal politik dalam negeri hingga pembangunan ekonomi yang berorientasi kesejahteraan sebagaimana terpacak pada “Trilogi Pembangunan”; dari soal ABRI, Pemilu, Penataran P4, hingga membalas surat anak-anak.

Jika buku adalah sumur ilmu pengetahuan, maka buku ini adalah sumur bagaimana Soeharto mesti dikenang termasuk di Memorial ini. Katalog Rekreasi ini menggunakan kata “Sumur”—tidak hanya “Sumur” terkait frasa adiluhung “menimba ilmu” tapi juga Memorial ini mengantar Anda sekalian berdarmawisata: dimulai dari sumur dan kembali ke sumur.

Alur wisata memori di museum ini dibagi dalam tiga tahap absolut: Gedung Memorial (Sumur-Buruk) – Perpustakaan (Peneguh Sumur-Buruk, Penyuci Sumur-Baik) – Petilasan (Sumur-Baik)

Bermula dari Sumur-Buruk: Lubang Buaya

Sebelum Anda memasuki Gedung Utama, di pendopo utama isi kepala Anda dibekali oleh film dokumenter videotron mengapa Soeharto penting dan bagaimana ia tampil heroik menyelamatkan bangsa ini menuju swasembada. Setelah memiliki sangu yang cukup, Anda dipersilakan memasuki ruang temaram; merasakan gambaran visual dari buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Di depan pintu, Anda disapa mesra oleh testimoni Presiden RI 2004-2014. Masuk ke empat selasar di dalam, semacam lorong sempit sejarah bakal membekukan ingatan Anda sejenak. Di antara selasar paling dramatis, bikin bergidik, dan ini selasar terpanjang karena terdiri dari dua saf, 20 panel, dan dua diorama, adalah Selasar D. Selasar sebelumnya, Selasar B dan C, garing karena hanya berisi foto-foto flat tentang peran besar Soeharto di peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Operasi Trikora 1962.

Di Selasar D berbeda. Dari 20 panel, ada 14 panel diperuntukkan untuk Partai Komunis Indonesia (PKI), SATU-SATUNYA partai yang istimewa di hati Soeharto, melampaui Golkar dengan watak kader-kader terkininya.

Anda jangan mengeluh jika di Selasar D ini menjadi tempat pemberhentian utama para pengunjung yang lain, termasuk puluhan anak kecil dari SD 2 Sedayu, SD Brongkol, dan SD Ngablak Turi serta belasan pengunjung dari Bali yang juga sedang berdarmawisata memburu sensasi seperti saya pada pekan kedua September. Yang membuat selasar panjang ini menarik, selain berfoto, tentu saja merasakan enigma kemarahan begitu busuknya sumur yang digali PKI itu. Lebih sial lagi dan menabrak “pamali” orang Jawa, sumur tua berisi mayat-mayat jenderal berbudi itu ditutupi PKI dengan cara ditanami pohon pisang.

Selasar D ini begitu panjang dan menjadi pokok utama Memorial ini karena memang di sumur inspirasinya (buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya), bab “G.30.S./PKI” menjadi bab terbanyak halamannya, lebih-kurang 15 halaman. Kalau ditambah dengan bab berikutnya yang masih sepembahasan, jadinya 20 halaman. Bab-bab lain dari dari 102 bab buku ini umumnya 5-7 halaman. Yang terbanyak kedua hanya bab “Akar Saya dari Desa” yang menghabiskan 13 halaman.

Memorial ini seperti mendegradasi, selain PKI, pencipta sumur-buruk itu adalah Angkatan Udara yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Dan sumur-buruk itu bernama “Lubang Buaya” yang secara administratif masuk dalam kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur saat itu, sebelum dilimpahkan ke Kecamatan Cipinang seperti saat ini.

Dari namanya saja, “Lubang Buaya”, sudah meruapkan suasana horor. Ketika ditambah drama satu babak di malam jahanam yang direngkuh dengan macam-macam istilah, “Lubang Buaya” pun bertiwikrama menjadi teror.

Maka bukan ujug-ujug jika perihal sumur ini yang menjadi scene awal yang dipilih Arifin C. Noer dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI dengan suara echo yang gaib dari dalam sumur: “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini. Lubang Buaya, 1 Oktober 1965”. Setelah suara itu, score bikinan Embi diperdengarkan. Sumur dan score itu adalah duo penebar teror di film bergenre “hantu” ini.

Sebagai orang Jawa yang lahir pada 8 Juni 1924 di kampung terpencil semacam Kemusuk, Soeharto percaya betul makna sumur. Dalam spiritual Jawa, sumur adalah sumber kehidupan, juga dari mana rezeki didapatkan. Maka dari itulah, sumur tidak boleh ditutup. Bahkan yang sudah ditutup, perlu digali lagi.

Sumur sakti di Lubang Buaya bukan saja menghapus segala dosa penggelapan senjata Soeharto saat bekerja di Pangdam Diponegoro. Tetapi sumur yang sudah “ditutup” cakra dan “ditanami” pohon pisang itu digali kembali karena membawa keberuntungan memberikannya kekuasaan maha absolut. Sumur itu kemudian tak hanya menjadikan partai palu arit sebagai “bahaya laten” hingga setengah abad pada 2015 ini, tapi juga merontokkan “keperkasaan” Angkatan Udara yang dianak-emaskan Sukarno.

Betapa sakti dan urgennya soal sumur ini hingga Letkol Heru Atmodjo bersuara keras untuk meluruskan posisi sumur sakti Lubang Buaya itu. Pernyataan keras Kolonel Heru itu terbaca dalam buku dari transkrip perdebatan dengan penulis Holtzappel, Gerakan 30 September 1965: Kesaksian Letkol (PNB) Heru Atmodjo (2004: 49-50, 210-211). Dalam semua publikasi Orde Baru atau penulis-penulis yang tak memiliki kepekaan soal letak sumur ini termasuk Holtzappel bakal terperangkap.

Dalam bahasa propaganda, posisi sumur ini menjadi penting untuk menahbiskan kelompok mana yang bakal dimangsa momok hiyong. Memasukkan sumur Lubang Buaya dalam palagan wacana persaingan antarangkatan di tubuh militer berarti membenarkan keterlibatan total Angkatan Udara dalam menciptakan, pinjam bahasa Soeharto, “kejadian biadab”. Karena terlibat dengan “kejadian biadab”, maka tak punya tempat di Negara-Pancasila-Yang-Murni.

Namun, sehebat-hebatnya usaha “meluruskan” sumur sakti yang dianggap sudah sangat miring itu bakal mengalami antiklimaks saat berhadapan dengan Memorial H.M. Soeharto. Di sini, tak ada yang miring. Yang ada adalah sumur lurus. Vertikal. Ditembok pula untuk kepentingan “wisata spiritual sejarah”. Bertambah-tambah bobotnya karena dijaga barisan patung Pahlawan Revolusi di bawah naungan Pancasila tiga dimensi bikinan seniman maestro asal Yogyakarta, Edhi Soenarso.

Menimba di sumur: Pus(t)aka Kliping 20 Jilid

“PKI sebagai partai sudah hantjur, jg mungkin tinggal adalah PKI sebagai ide. Saja tahu betul ide tak dapat hantjur ketjuali dengan satu counter ide jang menentang ide PKI tjukup kuat di Indonesia karena memang ide PKI adalah asing bagi Indonesia jang religius dan berpantjasila ini” (SOEHARTO, Angkatan Bersendjata 14 Juni 1966)

Jalur kedua yang menjadi trek wisata sumur di Memorial adalah perpustakaan terbuka di teras rumah Probosutedjo. Sosok yang menjadi inisiator pembuat Memorial ini adalah adik Soeharto dari ibu yang sama, tapi lain bapak. Dalam bab “Akar Saya dari Desa” (buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya), Soeharto menjelaskan mata rantai keluarganya dan kisah masa kecilnya yang tak bahagia.

Di Memorial, selain tersedia papan rantai “pohon keluarga”, Probosutedjo tampaknya berpikir untuk menegakkan apa yang dianggap orang miring atau kusut: ketersediaan literatur adalah jalan terbaik. Lima almari buku di beranda rumah menjadi pus(t)aka agar Anda setelah keluar dari ruang Memorial utama (sumur-buruk), kepercayaan Anda ditebalkan. Maka dari itu, semua buku yang dianggap bersuara “miring” dan menggugurkan ketebalan keyakinan perihal sumur sakti di Lubang Buaya itu pastilah disingkirkan.

Banyak buku yang dijejer dalam almari kaca itu. Terdapat satu paket buku kronik Jejak Langkah Pak Harto (Jilid I-Jilid VI) yang disusun G. Dwipayana dan Nazaruddin Sjamsuddin (ed) (PT Citra Kharisma Bunda, Jakarta, 1991). Di antara deret Presiden RI, hanya Soeharto yang memiliki kronik kerja selengkap ini.

Namun, buku yang menyita hampir 70 persen almari itu adalah buku kliping yang disusun Kantor Berita Nasional (KBN) Antara berjudul Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam Berita. KBN Antara menguras tenaga betul menyusun buku 20 jilid dengan ketebalan masing-masing jilid antara 900-1.000 halaman. Katakanlah setiap jilid buku sampul-keras itu 5 cm, maka tebal seluruhnya buku ini adalah 2 meter. Dan di pus(t)aka terbuka itu, buku yang disusun dari 13 ribuan kliping ini masing-masing jilid tersedia 4 eksemplar.

Ini kliping terbesar yang dikerjakan lembaga berita negara untuk seorang presiden, tepat setelah satu dekade kehilangan kekuasaan. Bahkan seorang Sukarno pun tidak memiliki privelese seistimewa ini; terbayang pun barangkali tidak. Hanya Jenderal Besar yang punya “Buku Besar”. Panglima Besar cukup jadi patung saja, tak peduli tinggi patungnya menjolok langit Pacitan. Adapun Panglima Tinggi (Sukarno) cukup jadi nama bandara dan perpustakaan di Blitar. Itu pun harus berbagi dengan sekondannya dari Bukittinggi.

Di buku setebal dua meter inilah seluruh pahala-baik Sang Jenderal Besar tercatat detail. Dimulai bangkit dari “rahmat” sumur tua Lubang Buaya 1965 hingga kejatuhan 1998. Di Jilid I buku-kliping inilah kita bisa membaca secara saksama bagaimana Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata bahu-membahu merekonstruksi narasi bernama sumur Lubang Buaya bersama penggali dan alasan-alasan yang membenarkan mengapa penggali itu harus dipenggal.

Pada Akhirnya: Sumur-Baik

“Dilarang memasukkan apa pun ke dalam sumur” – Papan Peringatan di Sumur Soeharto.

Jika berkunjung ke Museum Diponegoro di Magelang, Anda akan berjumpa dengan sebuah ruangan kecil yang dipercayai sebagai kamar negosiasi terakhir sebelum patriotik penggerak Perang Jawa itu ditangkap. Di ruang itu terdapat kursi rotan, undakan kayu untuk salat, kitab suci, dan tentu saja jubah Sang Pangeran. Begitulah para pengelola Museum Diponegoro menampilkan artefak apa yang mesti dilestarikan dari sesuatu yang lampau untuk kebutuhan kekinian.

Demikian pula Memorial. Probosutedjo dan keluarga menampilkan satu-satunya artefak yang datang dari masa tempat Soeharto lahir: sumur. Sumur adalah satu-satunya, tunggal, yang ditampilkan sebagai artefak terbaik dari Soeharto.

Letaknya di sisi kanan paling belakang Memorial. Di dekat nama petilasan terdapat sebuah joglo kecil dengan delapan instalasi menyerupai obor, yang dipasang miring untuk mengantar Anda menuju sumur. Air di sumur itu jernih. Berbeda dari wisata petirtaan yang airnya bisa Anda bawa pulang untuk berkah, di Memorial tak ada fasilitas itu. Dan barangkali keberadaan sumur-baik ini memang bukan diperuntukan untuk itu.

Terdapat satu videotron berukuran sedang dipasang. Guna memanggil anak-anak datang tetirah santai di samping sumur, sengaja diputarkan video-video lucu di videotron itu. Setelah semuanya terkumpul dengan wajah bahagia karena pengaruh tawa lepas, petugas secara tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa remote. Dan cerita dokumenter Soeharto di antara sumur-buruk dan sumur-baik itu melintas di paras murid-murid SD yang berjumlah 40-an itu. Wajah-wajah sumringah itu tiba-tiba saja berubah flat. Joglo menjadi begitu sepi.

Saya pun pulang dengan perasaan yang tak lebih sama dengan murid-murid SD yang kebahagiaannya menonton materi Youtube yang lucu-lucu terenggut di sumur.

Tugas saya memandu Anda rekreasi sumur di bulan September saya hentikan sampai di sini. Jangan lupa jajan kaos di kios rakyat: “Pripun… penak jamanku, tho?”[]

 

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: