BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 8 menit

Percakapan dengan seorang pengarang yang larut dalam bayang-bayang novel terbesar abad ke-20.

 

“SEBAGAI pembaca, aku punya ketertarikan terhadap karya-karya yang nggak dramatis.”

Tiga jam sebelum mengucapkan kalimat itu, Hartoyo mengendarai sepeda motor Honda GL 1600 miliknya di Jalan Imogiri Timur Kilometer 10, persis di muka Pasar Imogiri Baru tempat saya menunggu. Ia melaju dari utara ke selatan, lalu dari selatan ke utara, seolah-olah sedang melakukan semacam ritual dan bukannya mencari orang. Tubuhnya sedikit membungkuk, laju kendaraannya sedang, pandangannya ditetapkan ke arah pasar, sementara seulas senyum terpacak di wajahnya. Sebelum ia melintas untuk kali ketiga, saya mengirim pesan singkat via ponsel, “Mas, aku di dalam pasar. Tadi sempat manggil-manggil jenengan, tapi kayaknya nggak kedengaran. Aku nyusul atau tunggu di sini?”

Empat hari plus sekian jam sebelum membaca pesan tersebut, Hartoyo mengunjungi rumah Tia Setiadi di Jalan Kusumanegara, sekitar 23 kilometer dari tempat tinggalnya. Ia menyerahkan tiga eksemplar novel setebal 190 halaman berjudul Piknik, karya terbarunya, kepada tuan rumah. Novel tersebut diterbitkan pada Juni 2015 oleh penerbit Interlude, Yogyakarta.

Hartoyo dan Tia pernah bersama-sama menjadi bagian dari komunitas penulis muda Yogya bernama Parikesit Institute. Pengalaman seperti itu lazimnya membuat orang-orang yang terlibat saling memedulikan perkembangan karya satu sama lain, bahkan tak jarang untuk waktu yang jauh lebih panjang ketimbang usia komunitas itu sendiri. Tia dikenal sebagai penulis esai-esai panjang yang serius dan memikat tentang karya-karya sastra, dan itu berarti, hingga taraf tertentu, pendapatnya punya nilai khusus bagi seorang pengarang. Pendeknya, ada banyak alasan bagus bagi Hartoyo untuk memberikan bukunya kepada Tia. Tetapi yang tidak saya pahami: mengapa satu dari tiga buku itu dititipkan buat saya?

Lima tahun sebelum membaca Piknik, saya menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh Parikesit Institute di kampus Sanata Dharma. Isinya diskusi buku dan peresmian komunitas. Saya sudah lupa buku apa yang didiskusikan waktu itu dan isi pidato kebudayaan yang disampaikan oleh ketua komunitas tersebut. Tetapi saya ingat orang-orang yang saya jumpai. Salah satunya adalah Nurul Hanafi, pria kurus yang lebih banyak mendengarkan dan tersenyum ketimbang bicara. Oleh teman-temannya, ia dipanggil Hartoyo, atau lengkapnya Hartoyo Andangjaya Junior.

Waktu itu saya tidak tahu apakah julukan itu dimaksudkan sebagai olok-olok belaka. Karena, misalnya, ada kemiripan fisik antara Nurul Hanafi dan almarhum Hartojo Andangdjaja semasa hidupnya, atau justru sebentuk pengakuan atas mutu tulisan dan karya-karya terjemahan yang ia hasilkan. Setelah membaca Piknik dan memutuskan untuk mengunjungi Hartoyo ke Imogiri, nyaris 30 kilometer dari tempat tinggal saya di Jalan Kaliurang, saya yakin alasannya adalah yang kedua; setidak-tidaknya bagi saya sendiri. Dengan kata lain, jika saya memanggil atau menyebutnya dengan julukan itu alih-alih nama aslinya, dasarnya adalah rasa hormat.

BARU-BARU ini saya membaca Bonsai, novel tipis karya pengarang Chile kontemporer Alejandro Zambra. Dua tokoh utama dalam novel itu, Julio dan Emilia, adalah pasangan ganjil yang diikat (dan kemudian dipisahkan) oleh karya-karya sastra yang mereka baca. Pada satu titik, mereka bahkan menjadikan bacaan sebagai bahan untuk merangsang satu sama lain secara seksual, membaca keras-keras bagian tertentu dari sebuah buku dan memanfaatkan ketaksaan teks untuk menciptakan tafsir-tafsir yang bersifat erotis.

Daftar korban mereka panjang dan isinya beragam: puisi-puisi Rubén Darío, Ted Hughes, Tomas Tranströmer, dan Armando Uribe; cerita-cerita pendek Raymond Carver, Anton Chekov, Juan Carlos Onetti; novel Yukio Mishima dan lain-lain. Terlepas dari penyimpangannya, Julio dan Emilia adalah pembaca-pembaca yang serius. Namun, rupanya, keseriusan saja belum tentu cukup untuk menaklukkan karya Marcel Proust, In Search of Lost Time, yang secara luas dianggap sebagai tantangan paling angker bagi para pembaca karya sastra di seluruh dunia.

Zambra menulis begini: “… Itu tentu saja sebuah dusta. Musim panas itu Julio memang berlibur di Quintero, dan ia memang banyak membaca di sana. Tapi yang dibacanya adalah Jack Kerouac, Heinrich Böll, Vladimir Nabokov, Truman Capote, dan Enrique Lihn. Bukan Marcel Proust.

Pada malam yang sama, Emilia pun membohongi Julio untuk pertama kalinya, juga dengan mengaku sudah membaca Marcel Proust…”

Saat saya berbincang dengan Hartoyo di rumahnya, dan berkali-kali siku kiri saya terantuk pada setumpuk buku, perhatian saya tertumbuk pada dua jilid buku tebal hasil fotokopi di dasar tumpukan itu: In Search of Lost Time.

Novel Proust itu mula-mula terbit di Prancis dalam tujuh jilid selama rentang 1913-1927, disusul edisi berbahasa Inggrisnya pada 1922-1931. Sebuah novel bertempo lambat setebal tiga ribuan halaman, dunia rekaan yang menampung lebih dari empat ratus tokoh, dan satu setengah juta kata-kata yang dirangkai dalam kalimat-kalimat panjang—tentu menuntut usaha ekstra untuk dibaca.

“Harus benar-benar konsentrasi,” ujar Hartoyo.

Kami duduk berhadap-hadapan di atas lantai beralas matras tipis berwarna hijau, dalam sebuah ruangan berukuran 3×2 meter di belakang tempat penggilingan padi. Di sisi kanan saya, menempel pada sisi tembok yang memanjang, ada sebuah lincak yang sebagian permukaannya tertutup kain.

Hartoyo menjelaskan bahwa tidak semua kalimat dalam novel In Search of Lost Time bisa ia mengerti. “Cukup banyak, sih, sebenarnya,” katanya, “tapi aku jalan terus saja.” Menurutnya, itu bukan persoalan besar karena ia memosisikan diri sebagai pendengar yang simpatik bagi si narator, dan seorang pendengar yang simpatik mestinya memang tak perlu ngotot hendak memahami segala yang disampaikan padanya.

Menurutnya, In Search of Lost Time bukanlah novel yang bisa dibaca dengan perhatian terbagi. Bahkan menoleransi bunyi-bunyian di sekitar saja sulit. Tak heran dalam Marcel Proust’s Search for Lost Time (2009), Patrick Alexander menulis, “… di luar mereka yang cukup beruntung untuk terbaring bertahun-tahun di ranjang rumah sakit, membusuk di penjara federal, atau terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, sedikit sekali pembaca modern yang sempat menangani buku tersebut.”

Hartoyo pun merasa perlu memencilkan diri. Ia membawa In Search of Lost Time ke sebuah hutan dan membacanya di sana, sejak pagi hingga menjelang malam. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Repetisi, pola, kebiasaan. Pelan-pelan, Hartoyo menjadikan buku itu bagian penting dalam hidupnya.

Masalah datang di kemudian hari. Pada dasarnya, Hartoyo adalah seorang pembaca yang rakus. Di meja makannya yang besar, terhampar mulai dari drama-drama Yunani klasik hingga karya-karya Harold Pinter, terbentang karya-karya penulis Elizabethan dan Era Restorasi hingga pengarang-pengarang Jepang, terutama Kawabata, Mishima, dan Tanizaki. Seiring berjalannya waktu, meja itu jadi semakin besar dan hidangan di atasnya semakin beragam.

Tetapi itu semua sebelum Proust. Setelah menemukan Marcel Proust, Hartoyo menjadi pembaca yang mudah kehilangan selera terhadap bacaan baru. Ia sempat mencicipi karya sejumlah penulis yang dibicarakan teman-temannya, antara lain Orhan Pamuk dan Haruki Murakami. Hambar belaka. Bagaimanapun, ia tak bisa menahan diri untuk tidak membanding-bandingkan bacaan barunya dengan In Search of Lost Time.

SEBAGAIMANA lazimnya para penulis yang baik, Hartoyo belajar lewat menerjemahkan karya-karya sastra dunia. Meskipun bahasa asing yang dikuasainya hanya bahasa Inggris, ia menjatuhkan pilihan pada dua penulis Jepang: Yasunari Kawabata dan Junichiro Tanizaki.

Menurut Hartoyo, karya-karya Kawabata tidak seperti kembang api, tidak mempertontonkan ledakan dan percik api yang memukau. Sebaliknya, dalam novel-novel penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1968 itu, baik lewat tuturan narator maupun dialog-dialog, selalu terkesan ada yang ditahan supaya tidak mencuat ke permukaan.

Perasaan dan pikiran tokoh-tokoh Kawabata menyerupai gunung es. Bagi para pembaca yang memandang sekilas dari atas permukaan air, ia tampak kecil, sederhana, dan kadang-kadang membosankan. Namun jika mereka mau lebih sabar dan menjadi—seperti kata Hartoyo—“pendengar yang simpatik,” akan ketahuanlah bahwa di balik penampakan itu ada sesuatu yang luar biasa besar.

“Sebagai pembaca, aku punya ketertarikan khusus terhadap karya-karya yang nggak dramatis,” kata Hartoyo. Itu menjelaskan minatnya terhadap Proust sekaligus keputusannya menerjemahkan The Old Capital karya Kawabata. Tahun ini, terjemahan itu diterbitkan oleh Indie Book Corner, Yogyakarta, dengan judul Ibu Kota Lama.

Ia menanyakan siapa penulis favorit saya. Saya bilang Ernest Hemingway. Setelah diam sejenak, Hartoyo bicara lagi, kali ini tanpa melihat ke mata saya, “Aku nggak begitu suka Hemingway. Dia juga punya kecenderungan memendam emosi, tapi yang dipendamnya itu kemarahan.”

“Kalau Tanizaki, Mas, kenapa menerjemahkan karyanya?”

“Karena gampang. Tanizaki itu salah satu yang paling gampang,” ujarnya. Ia tertawa, lalu kembali bicara, “Celakanya, setelah terjemahanku rampung, nggak ada yang mau menerbitkan. The Makioka Sisters itu tebalnya tujuh ratusan halaman.”

Saya belum membaca Makioka Sisters, sebuah novel yang juga bernapas panjang, terbit dalam rentang 1943-1948—kurun paling dramatis dalam sejarah dunia modern, masa yang mengubah habis-habisan kehidupan bangsa Jepang. Karya Tanizaki yang pernah saya baca sebelumnya hanya Naomi, kisah seorang insinyur yang tergila-gila kepada Barat, terutama perempuan-perempuannya—kalau tak salah, ia menyebut mereka ‘perempuan modern’. Sehabis membaca novel itu, saya ingin meninju pengarangnya. Tetapi penjelasan Hartoyo tentang Makioka Sisters membuat saya lumayan tertarik untuk kembali membaca Tanizaki.

KESUKAAN terhadap karya-karya Kawabata dan—lebih-lebih—Proust, justru mendorong Hartoyo untuk mencoba hal-hal yang menurutnya belum dilakukan kedua pengarang itu. Dalam The Anxiety of Influence (1973), Harold Bloom menerangkan jenis-jenis reaksi seorang penyair terhadap karya para pendahulunya sebagai usaha untuk menemukan otentisitas (walau sadar dirinya senantiasa terkepung oleh pengaruh sang pendahulu). Meski dalam buku tersebut Bloom secara khusus membahas puisi dan kerja kepenyairan, upaya Hartoyo mengingatkan saya, hingga taraf tertentu, kepada hal tersebut.

“Aku ingin ada ledakan, aku ingin membuat keadaan dramatis,” katanya.

“Dengan teknik penceritaan yang tetap seperti mereka?” tanya saya.

“Ya.”

Piknik dibuka dengan sebuah monolog interior. Saya kutipkan sebagian dari paragraf ketiga di sini:

Aku ingat dulu setiap pagi hari cahaya jendela ruang ini dibuka, membiarkan udara jernih dan cahaya bening masuk. Kadang melayang pula ke dalamnya segumpal kapuk. Ia melewati jeruji kayu jendela itu dengan lelanya, melayang sendiri tanpa tiupan atau embusan yang menghendakinya terbang. Mengapung di udara, dan ia tak memiliki kekuatan untuk turun. Seluruh tubuhnya yang luar biasa ringan mekar oleh cahaya. Begitu lembamnya ia menikmati mekar tubuhnya dalam cahaya pagi, merentangkan sulur-sulur seratnya yang transparan sedemikian rupa, seperti jonjot-jonjot syaraf meraba-raba udara, terpanggil untuk bangkit dari permukaan gumpalan karena sentuhan sinar…

Penggambaran tentang kapuk itu berlanjut sampai dua halaman.

Ketika membicarakan In Search of Lost Time, biasanya ada tiga hal yang dikatakan orang: ketebalan halamannya, kelambatan gerak ceritanya, dan pokok utama yang dibicarakannya, yaitu memori involunter. Yang terakhir merujuk jenis ingatan yang muncul ketika hal-hal tertentu dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas atau benda-benda, misalnya, membangkitkan bayang-bayang dari masa lalu tanpa melibatkan kesadaran.

Dua yang terakhir diinkorporasi oleh Hartoyo sebagai teknik penceritaan dalam Piknik. Sepanjang cerita, di antara arus pikiran sadar sang narator dan percakapannya dengan tokoh Ibu, sesekali terlintas ingatan-ingatan fragmentaris yang tidak berhubungan dengan hal-hal lain yang sedang dibahas. Awalnya sebuah adegan tak lengkap tentang narator yang menaburkan beras untuk seekor ayam betina, lalu di bagian lain muncul penggambaran tentang gerak-gerik ayam tersebut. Pelan-pelan, sekeping demi sekeping—terpicu oleh ingatan-ingatan sadar sang narator, perkataan ibunya, benda-benda, serta aktivitas keduanya—ingatan itu mulai memperoleh bentuk dan tensi. Saya kira, tensi yang merangkak naik (dan pada akhirnya mencapai puncak) itulah yang disebut Hartoyo sebagai “menciptakan keadaan dramatis.”

Saya ingat kini, selain Piknik, ada satu lagi karya Hartoyo yang pernah saya temui: sebuah cerpen panjang yang diterbitkan Jurnal Cerpen Indonesia beberapa tahun lalu. Samar-samar saya ingat bahwa cerpen itu pun ditulis dengan gaya yang dipakai Hartoyo dalam Piknik, meski tentu saja belum sematang itu.

Saya melihat lagi ke tumpukan buku di sebelah kiri saya. Yang terletak paling atas adalah lakon komedi karya William Shakespeare, A Midsummer Night’s Dream. Lebih jauh, saya menyadari bahwa selain In Search of Lost Time, hampir semua buku dalam tumpukan itu adalah naskah drama. Sebagai orang yang tak begitu berminat pada genre tersebut, saya ingin tahu apa yang dicari Hartoyo darinya.

In Search of Lost Time membuatku sulit menikmati prosa. Nggak cuma novel, cerpen juga,” kata Hartoyo.

Saya mengerti keadaan yang dialami Hartoyo. Adakalanya, kesenangan yang didapat dari membaca karya-karya bagus dengan cepat berbalik menjadi frustrasi. Makian yang dilontarkan seorang pengarang karena terkagum-kagum pada bacaannya boleh jadi terulang dua hari kemudian, dengan nada yang berbeda, karena alasan yang berbeda: tak sanggup menulis sebaik itu. Ada standar baru yang terbentuk di dalam kepalanya. Dan standar itu, tentu saja, akan membuatnya menuntut lebih tinggi, baik dari dirinya sendiri maupun sekelilingnya. Pertanyaan saya: seperti apa tuntutan seorang pengarang yang larut dalam bayang-bayang novel terbesar abad ke-20?

“Aku merasa kebanyakan cerpen Indonesia, terutama yang dimuat koran-koran Minggu, lebih mirip ringkasan ketimbang cerita. Ada banyak adegan atau peristiwa yang menarik seandainya diuraikan lebih jauh. Secara analitis, begitu. Proust itu analitis sekali, mungkin tidak ada satu penulis pun di dunia ini yang mengalahkan dia dalam hal itu.”

Hartoyo melamun setelah berkata demikian.Wajahnya dihadapkan, mungkin tanpa sadar, ke arah pintu yang terbuka. Saya menyalakan rokok dan tidak ikut-ikutan melihat ke arah tersebut. Di luar cuma ada gelap.[]

 

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: