BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 12 menit

Kisah tentang Azhari Aiyub berkenalan dengan sastra kala musim konflik masih panas di ujung barat kepulauan Indonesia.

 

SATU hari pada awal Oktober 2015, Azhari Aiyub memasuki ruko pangkas rambut di gampong Ulèë Lheuë, Banda Aceh. Ia segera menghampiri pria jangkung yang menutupi mulutnya dengan masker. “Cukur berewok saja, ya, Bang,” ujar Azhari. Sebentar kemudian ia duduk. Si tukang pangkas segera berputar-putar pelan di dekat Azhari dengan tangan memegang ragum listrik.

Kedai pangkas seluas setengah lapangan bulu tangkis itu hanya memiliki dua kursi pangkas dan dua cermin besar yang saling berhadapan. Sebuah televisi seukuran dus mi instan yang semula menyala dengan volume tinggi tiba-tiba mati. Kipas angin di langit-langit kedai itu berputar lambat. Ragum listrik membeku di pipi Azhari. Listrik padam.

Si tukang pangkas membuka laci meja, mengambil sebuah gunting, lantas melucuti berewok Azhari yang masih tersisa. Sekitar lima menit kemudian, listrik kembali menyala saat Azhari sudah beranjak dari kursi.

Di Banda Aceh, kutukan untuk PLN sama pedasnya dengan sumpah serapah kepada komentator sepakbola lokal yang muncul di layar televisi beberapa menit sebelum tayangan pertandingan Liga Inggris—kegemaran nyaris menyerupai kegilaan banyak anak muda Aceh terhadap tontonan sejagat itu yang selalu memenuhi kedai-kedai kopi setiap laga akhir pekan.

Ulèë Lheuë, artinya kepala semenanjung, dulu bekas pelabuhan laut Aceh dan semasa Kesultanan Atjeh merupakan bandar internasional perdagangan rempah. Ini memang kawasan pesisir dan salah satu yang terpapar parah ketika tsunami menerjang kawasan Samudra Indonesia pada pengujung 2004—mengakibatkan 221.000 orang meninggal atau hilang di Aceh.

Kami bergerak ke sini semula hendak ngupi di satu kedai dekat gampong Azhari. Tahu kemudian kedai kopi itu masih tutup akhirnya Azhari mengajak saya ke tukang pangkas lebih dulu. Ia kini tinggal di kawasan Keutapang, Aceh Besar, sekitar 10 menit berkendaraan dari sini. Agaknya Azhari hendak bernostalgia dengan kampung kelahirannya di Ulee Pata yang berjarak sekira 1,5 kilometer dari Ulèë Lheuë.

Sebelumnya kami bertemu di kantor Komunitas Tikar Pandan, sebuah organisasi yang bergiat dalam kebudayaan saat musim konflik tengah memanas antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia di masa Megawati. Komunitas itu didirikan bersama kolega mudanya berusia 20-an, termasuk salah satunya Reza Idria yang kini mendalami studi doktoral antropologi di Universitas Harvard, AS. Tujuh tahun setelah tsunami, komunitas itu bersama sejumlah organisasi sipil lain mendirikan “museum hak asasi manusia”—museum HAM pertama di Indonesia dan Asia Tenggara—yang menempati satu ruangan komunitas itu. Kini Komunitas Tikar Pandan berkantor di kawasan Geuceu Menara, masih di sekitaran Banda Aceh.

Saat datang ke kedai kopi itu lagi, rupa-rupanya kursi-kursi dan meja-meja plastik masih disusun di trotoar jembatan yang menghadap sungai dikelilingi pohon-pohon bakau. Hari mendekati pukul 5 sore tetapi matahari masih menyengat. Kami menuju ke kedai bandrek di dekat Masjid Baiturrahim Ulèë Lheuë, satu bangunan abad ke-17 yang mengalami sejumlah renovasi dan salah satu yang selamat dari hantaman tsunami.

Kami duduk di dekat rak gorengan. Azhari menyapa dengan bahasa lokal Aceh untuk orang yang dituakan kepada seorang pria paruh baya di sebelah kami.

“Lama kamu tidak pulang ke kampung, ya?” ujar pria itu.

Mereka bercakap-cakap sebentar, sekadar bertukar kabar.

Azhari mengarahkan pandangan ke jalan raya dengan dua jalur terbentang. Jalan di sekitar sini sebelum tsunami, tutur Azhari, hanya satu jalur yang dulunya dibangun Belanda, diapit pohon-pohon asam Jawa.

Saat usia sekolah dasar ia kerap menyambangi pelabuhan ikan Ulèë Lheuë, dengan mengayuh sepeda atau menumpang sepeda motor penduduk yang kebetulan menuju pelabuhan itu.

“Setiap sore, saat perahu-perahu mesin nelayan merapat, aku ke sini,” katanya. Kakeknya, Ibrahim—kini almarhum—juga membawanya saban lebaran ke tempat itu dengan sepeda ontel.

Ia berhenti bicara sejenak, mungkin untuk mengumpulkan kenangan.

Para penduduk yang tinggal di sekitar Ulèë Lheuë generasi ayahnya, kisah Azhari, selain berprofesi sebagai nelayan, juga melakoni pekerjaan sebagai penyelundup. Sabang masih berstatus pelabuhan bebas. Mereka menyelundupkan barang-barang dari Sabang ke Banda Aceh: celana jins dan pakaian luar negeri, kain India dan Singapura, hingga gula pasir. Hasil selundupan ini mengalir ke Pasar Jenggo Ekonomi di Kawasan Setui, Banda Aceh. Kini areal pasar itu berganti mall.

“Ketika pelabuhan bebas Sabang ditutup, ekonomi warga anjlok,” tuturnya. Imbasnya, warga yang bermukim di kawasan kaki bukit, yang bekerja sebagai petani cengkeh, menghadapi kesulitan ekonomi serupa dengan yang menetap di pesisir. Sewaktu Tommy putra bungsu Soeharto memonopoli tata niaga cengkeh pada 1990-an, harga cengkeh terjun bebas. Penutupan pelabuhan itu terjadi pada 1985 tetapi dikembalikan oleh pemerintahan Abdurrahman Wahid tahun 2000.

Saya menghidupkan mesin sepeda motor dan berputar arah menuju kedai kopi.

“Di sini,” kata Azhari seraya kami melaju, “pasar tradisional dulu.” Kini tempat itu menjelma pasar batu cincin. Azhari menunjuk kawasan permukiman, “Dulu daerah ini angker. Yang ada hanya tambak ikan dan pohon bakau. Yang berani ke sini, ya, orang yang kerja di tambak saja.”

Sekitar lima menit kemudian kami sampai di kedai itu. Meja dan kursi telah berjajar di jembatan lama. Di sampingnya, dengan posisi agak tinggi, jembatan baru yang dibangun pasca-tsunami tempat kendaraan berdesakkan dan berlalu. Di hadapan kami terhampar sungai yang dipagari rerimbun pohon bakau. Burung-burung walet beterbangan.

SUATU siang ketika kelas tiga sekolah dasar, Azhari melihat satu ruangan yang tak terpakai dipenuhi buku-buku sampai ke ambang pintu. Penasaran, ia menghampiri seorang guru yang sekampung dengannya. “Ayah Angkasa, buku-buku itu boleh saya bawa pulang?”

Ia diizinkan dan bergegas ke rumah, sekira 100 meter dari sekolah, untuk mengambil gerobak sorong di gudang tempat ayahnya menyimpan peralatan kerja. Ayahnya, Muhammad Aiyub Ibrahim, bekerja sebagai tukang kayu. Dua kali ia angkut buku-buku itu.

Melihat anaknya mendorong gerobak penuh buku, Aiyub bertanya, “Gam, dari mana buku-buku itu?”

“Dikasih Ayah Angkasa.”

Agam atau gam dalam bahasa Aceh adalah sapaan bagi (anak) lelaki.

Belakangan Azhari mengetahui buku-buku di sekolahnya itu milik unit pelaksana dinas pendidikan tingkat kecamatan, yang dipindahkan sementara karena kantor itu tengah direnovasi. Sebagian buku itu, seingatnya, terbitan Balai Pustaka dan oleh ayahnya, karena kadang berserak di ruang tamu, ditaruh ke loteng. “Ayah juga simpan mainan-mainanku yang tak kupakai lagi ke loteng,” tutur Azhari.

Setahun berikutnya, merasa suntuk menunggu waktu berbuka—dan Azhari kecil sudah disuruh berpuasa oleh orangtuanya, ia pergi ke loteng untuk mencari mainannya. Tetapi pilihannya justru membuka kardus berisi buku-buku itu. Yang ia ingat hingga kini, misalnya, ia hanyut dalam kisah Perang Balon, sebuah cerita seri anak dunia yang ditulis Sukiat dan diterbitkan Gaya Favorit Press pada 1982. Buku itu, kisah Azhari, bercerita tentang perkampungan di Jawa Barat yang saling berperang dengan balon berisi air. “Saat membaca buku itu, aku seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang tidak kutemukan di sekitarku.”

Ia lantas membaca seluruh buku, dan ada buku tertentu yang dibaca berkali-kali. Sejak itu Azhari yang kadang diajak ibunya pergi belanja ke Pasar Aceh kerap minta dibelikan majalah-majalah bekas.

“Majalah-majalah anak. Banyak cerita di sana,” ujarnya. “Harganya Rp 200.”

Satu hari Azhari dan ibunya, Halimah, berbelanja di sekitar Pasar Ikan Peunayong, satu kawasan pecinan di pusat kota Banda. Ia melihat sepintas sejumlah poster di dinding pasar dengan gambar orang-orang yang diburu. Kelak Azhari menyadari wajah-wajah di poster itu adalah para pentolan Acheh-Sumatra National Liberation Front, atau lebih dikenal Gerakan Aceh Merdeka: Daud Paneuk, Hasan Tiro, Hasbi Geudong, dan Ilyas Leubee.

PENCARIAN membaca Azhari menemukan persinggahan ketika menjalani usia remaja di SMP 15 Banda Aceh. Bukan di sekolah, melainkan di seputar pergaulannya. Koleksi buku di sekolahnya, selain buku pelajaran, kebanyakan buku motivasi dan buku Islami. Pustaka itu bak kuburan umum: sepi dan sunyi.

Cerita berbeda saat Azhari bersama teman-teman satu sekolah mendatangi Pustaka Wilayah di Lamyong. Ia takjub atas keramaiannya: orang lalu-lalang di lorong rak-rak buku yang tinggi dan besar.

Di rumah temannya, Anang Reski, terdapat pustaka pribadi milik si ayah, Samsul Bahri. Azhari kadang membawa pulang beberapa buku dan majalah dari sana.

“Aku belakangan baru tahu kalau Samsul Bahri adalah penulis, yang nama penanya: S.B. Candra,” ujar Azhari.

Satu kesempatan menentukan saat Azhari mengikuti kegiatan sekolah dengan berkunjung ke Museum Aceh. Museum yang berdiri pada awal abad 20 ini memajang khazanah etnografi dari pelbagai suku-bangsa Aceh. Ia dibuat terkesima oleh seorang pria berumur 40-an dengan topi pet, celana jins, dan jaket terpal, tengah membaca sebuah puisi di atas panggung. “Puisinya tentang nasib guru yang saat itu hidup miskin, puisi pamflet.” Pria itu Maskirbi, penyair Aceh.

Dari sana, kesan bahwa puisi adalah mata pelajaran bahasa Indonesia yang menjemukan berubah seketika dari cara Maskirbi membacakan puisi. “Aku akan cari orang ini,” katanya dalam hati. Ia terdorong menulis beberapa puisi di buku tulis yang kadang diberikan untuk perempuan yang ia suka. Ada kepolosan sekaligus keriangan.

Di perkampungan Indonesia, ada masa ketika pesawat televisi menjadi barang mewah dan dimiliki segelintir orang. Azhari punya tetangga bernama Abdullah dan ia sering menonton televisi di sana. Biasanya orang ramai memenuhi ruang tamu saban malam. Ketika program ‘Dunia dalam Berita’ di TVRI muncul di layar televisi tepat pukul 9 malam selama 30 menit ke depan, kebanyakan penonton itu memilih pulang. Namun Azhari lebih sering tinggal dan menemani Abdullah. Pada saat itulah Abdullah sering mengumpat Golongan Karya, mesin politik Orde Baru.

“Bohong semua berita itu,” Azhari menirukan ucapan Abdullah.

Kelak, seiring Azhari mulai membaca koran di kedai kopi—dan koran sudah masuk ke sekolah—ia tahu bahwa Soeharto memimpin negara dengan cara yang salah.

SETAMAT SMP, Azhari berniat melanjutkan ke sekolah teknik menengah negeri. Namun ia gagal lolos seleksi. Akhirnya ia mendaftar ke salah satu STM swasta. Ia kecewa berat setelah beberapa hari belajar di sekolah itu.

“Kupikir, di STM Pembangunan, aku bisa jadi arsitek nanti. Kalau yang diajarkan cuma cara pegang gergaji, buat apa sekolah?! Di rumah juga kan bisa. Nggak perlu buang-buang uang ke sana.” Ia berkata kepada ayahnya.

Azhari memutuskan berhenti sekolah. Ia bekerja setahun di satu kedai kopi di kampungnya. Pada saat rehat bekerja di kedai kopi itu, ia pergi ke Kota Banda Aceh, menyambangi Pustaka Wilayah, forum-forum diskusi mahasiswa di Darussalam, dan Taman Budaya.

“Aku sudah mulai ada sedikit uang saat itu,” katanya. Ia pulang-pergi naik labi-labi, istilah lokal untuk angkutan umum berupa minibus Suzuki Carry.

Di kawasan Darussalam terdapat dua kampus terbesar, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Agama Islam Negeri (kini UIN) Ar-Raniry, yang jadi pusat diskusi kelompok mahasiswa menjelang petang. Azhari mengikutinya sekalipun tak kenal seorang pun. Ini terjadi pada 1997 dan dalam diskusi itu, ujarnya, “wacana untuk menggoyang Soeharto sudah ada.” Setahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Peukan Bada di Aceh Besar.

Ketertarikannya pada politik kian besar. Ia mengikuti demontrasi mahasiswa. Dalam satu aksi, ketika ada kesempatan untuk gantian berorasi, ia mengacungkan tangan.

“Dari kampus mana?” tanya orator sebelumnya.

“Dari SMA Peukan Bada!” Azhari menjawab yakin dan membacakan puisinya.

Keinginannya bertemu Maskirbi terlunaskan saat ia mulai rajin mendatangi Taman Budaya tempat kantor Dewan Kesenian Banda Aceh. Ia kerap memperlihatkan puisi-puisinya kepada sejumlah penyair termasuk kepada Maskirbi.

“Selain tulis puisi, coba kamu tulis cerpen dan esai juga,” Maskirbi berkata kepada Azhari. Dalam pikiran Azhari sekarang, mungkin saran itu adalah cara Maskirbi mengatakan bahwa Azhari tidak terlalu berbakat menulis puisi.

“Ia punya cara yang sangat halus dalam menyampaikan sebuah kritikan. Tidak pernah merendahkan karya orang lain,” timbang Azhari terhadap Maskirbi.

Azhari lantas menulis cerita pendek dan salah satunya, berjudul “Karnaval”, dimuat suratkabar Serambi Indonesia saat ia kelas 1 SMA pada 1998. Cerpen ini berkisah orang meninggal yang tidak memiliki tempat untuk dikuburkan lantaran setiap jengkal tanah telah diisi jasad orang-orang yang mati dibunuh. Ini satu-satunya cerpen, setidaknya sampai sekarang, yang dipublikasikan koran terbesar di Aceh itu hingga bahkan Azhari menjadi redaktur budaya untuk harian tersebut. Cerpen berikutnya akan lebih sering dirilis di suratkabar di Jakarta terutama oleh Koran Tempo.

Itulah nasib cerita pendek berjudul “Kenduri”—yang ditolak Serambi—dimuat Koran Tempo pada 2001 saat ia berusia 20 tahun. “Cerpen itu juga memenangi sayembara cerpen untuk umum yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Aceh,” katanya.

Sejak itu hingga sebelum tsunami, belasan cerpen lain dari tangannya rutin dimuat suratkabar besar di Jakarta dan Surabaya.

Musim Aksi

DI pengujung 1990-an menjelang keruntuhan rezim Orde Baru, apa yang terjadi di Aceh saat operasi militer secara perlahan mulai terkuak. Gerakan-gerakan mahasiwa tumbuh. Zona-zona aksi dibentuk. Gerakan pelajar terbentuk. Arus demontrasi mulai kuat.

“Pertemuan-pertemuan pelajar Banda Aceh dan Aceh Besar yang diinisiasi oleh organisasi siswa intra sekolah dilakukan dari satu sekolah ke sekolah lain,” kata Maimun Saleh, aktivis pelajar kala itu. “Yang kami bahas adalah kondisi Aceh saat itu.”

Maimun kerap berjumpa Azhari dalam pertemuan itu. ”Sebenarnya aku sudah kenal dia sejak di Taman Budaya. Kami kemudian dekat karena sama-sama suka sastra.”

Azhari dan Maimun berhimpun dalam Kesatuan Aksi Pelajar Aceh. “Gerakan mahasiswa saat itu memengaruhi gerakan pelajar,” ujar Maimun, yang sekolah di SMA Adi Dharma, Banda Aceh. “Gagasan pembentukannya adalah merespons isu-isu pelanggaran HAM seperti penembakan dan kekerasan terhadap pelajar. Juga mendorong perdamaian agar pelajar bisa sekolah.”

Maimun keluar dari kongres organisasi pelajar itu karena menganggapnya telah mengarah pada kaderisasi politik, bukan pada gagasan awal. Bersama kolega mudanya, ia menggagas Solidaritas Pelajar Untuk Rakyat.

“Selebaran gelap ditaruh di setiap laci meja belajar. Ada tempat-tempat tertentu kami menaruh selebaran di tiap-tiap sekolah,” kata Maimun, kini bekerja sebagai jurnalis dan pernah jadi ketua Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh periode 2012–2015.

Aksi-aksi pelajar di antaranya adalah mogok belajar.

“Membeli gembok lain, atau menaruh lem pada gembok pagar sekolah. Ketika para siswa tak bisa masuk ke sekolah, dan saat labi-labi telah parkir di depan, siswa-siswa itu kami arahkan naik labi-labi: pulang,” kata Azhari.

Ibu Delia Ramadita, yang pernah jadi wakil kurikulum SMAN 1 Peukan Bada, mengingat sosok Azhari. “Sejak duduk di kelas satu, dia selalu menjadi bahan perbincangan di ruang guru. Dia suka protes. Seorang guru Bahasa Indonesia-nya dulu mengeluh karena dia terlalu pintar.”

Suatu ketika, menurut Bu Delia, Azhari hendak dikeluarkan dari sekolah. Alasan pihak sekolah: ia sangat nakal. “Saya mempertahankan agar dia tidak dikeluarkan,” katanya.

Azhari pernah ikut dalam aksi mogok makan oleh gabungan mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat. Aksi itu, berlangsung 21 hari di gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Unsyiah lama, menuntut pencabutan status daerah operasi militer.

“Aku bawa bekal dari rumah,” kenangnya. “Sore-sore, aku sudah ada di situ.”

Satu malam ketika duduk bersama mahasiswa, Azhari mengutip baris puisi “Anakmu Bukan Milikmu” karya Kahlil Gibran, penyair Lebanon-Amerika.

Azmi Abubakar, saat itu ada di sana, bertanya, “Di mana kamu kuliah?”

“SMA,” jawab Azhari.

“Mengapa di sini?”

“Ya, ikut mogok makan.”

Esok pagi, ketika bangun tidur, Azhari yang tak punya uang kecuali buat ongkos labi-labi, dihampiri Azmi, “Sudah minum kopi?”

“Belum.”

Azmi mengajaknya ke sebuah kedai kopi di depan gerbang Unsyiah.

Azhari bicara panjang lebar. Azmi lebih banyak mendengarkan, dan baru angkat bicara saat membahas sastra, “Aku suka penulis Rusia. Leo Tolstoy, Anton Chekov.”

“Aku tidak terlalu tertarik.”

“Tapi kamu harus baca juga. Ada banyak hal lain lagi yang bisa kamu baca dari sastrawan Rusia.”

Usai dari kedai itu, mereka berpisah.

Sementara, dari hari ke hari, situasi politik di seantero Aceh mulai menemukan pijakan keras. Para mahasiswa bergerak ke kampung-kampung untuk mengonsolidasikan massa.

Ketika Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau digelar, 29 Januari hingga 4 Februari 1999, Azhari yang sebelumnya mendengar desas-desus acara itu pun ikut serta. Kongres itu diikuti organisasi mahasiswa, santri, pemuda, pelajar, dan lembaga solidaritas untuk Aceh. Ia melahirkan satu rekomendasi: referendum adalah solusi final penyelesaian Aceh.

“Aku berdebat dengan mahasiswa agar pelajar harus diberikan hak voting. Di situ aku bertemu kembali Azmi,” katanya. “Azmi hanya ketawa. Saat itu, aku masih belum tahu siapa Azmi.”

Sebulan berikutnya, Azmi dan Azhari bertemu lagi dan Azmi membawa dua kantong plastik kresek berisi buku-buku sastra untuk Azhari.

Azmi mengingat pertemuan kali pertama dengan Azhari, “Mulanya, saya kan dari Jakarta. Saya pulang ke Aceh untuk bersilaturrahmi dengan aktivis-aktivis muda Aceh saat itu. Saya kaget karena di sana ada anak SMA.”

Selama di Jakarta, katanya melalui telepon kepada saya, dia tidak pernah berjumpa dengan pelajar SMA yang ikut serta atau terlibat dalam aksi-aksi demontrasi.

“Saya ini penikmat sastra, sering duduk-duduk di Taman Ismail Marzuki Jakarta dengan sejumlah sastrawan. Mendengar dia bicara tentang sastra, saya merasa ngeri dan senang,” lanjut Azmi, yang berprofesi sebagai penjual buku bekas serta mengelola Pustaka dan Museum Tionghoa Peranakan di Bumi Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

“Saya tidak kaget dengan hasil yang dicapai Azhari sekarang. Justru, saya kagetnya dulu saat pertama kali jumpa dengan dia. Pemikir dan organisatoris adalah kombinasi yang mematikan!”

PEREMPUAN Pala, buku yang memuat 13 cerita pendek Azhari, diterbitkan oleh Akademi Kebudayan Yogyakarta pada 2004, lima bulan sebelum tsunami. Semua cerpen dalam buku itu memiliki satu benang merah, yakni kondisi kampung-kampung di Aceh saat konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dan militer Indonesia. Kampung-kampung hanya ditinggali oleh perempuan, anak-anak, dan kaum lansia. Adapun para pemuda dan pria dewasa telah pergi menyingkir.

“Dan aku baru tahu pola itu belakangan setelah (cerita) itu terkumpul,” ujar Azhari. “Mengapa itu bisa terjadi? Mungkin karena barangkat dari satu kondisi umum di Aceh saat itu.”

Ia berkata dengan nada bicara yang agak tertahan, “Tentara itu kan seperti monster yang kerjanya membunuh dan meneror. Persis seperti teror digambarkan dalam cerita-cerita rakyat.”

Tentang bagaimana menjelaskan monster ini dalam cerita-ceritanya, lanjut Azhari, menjadi satu masalah tersendiri. “Masalah tentang bagaimana aku seharusnya menjelaskan monster. Harusnya aku tidak menjelaskan dengan cara yang kabur seperti itu, dengan metafora seperti itu. Mereka tidak anonim,” ungkapnya.

“Kupikir masalah-masalah tentang orang-orang yang dilanggar hak asasi manusianya bisa diselesaikan lewat politik. Ternyata hingga hari ini, hal itu tidak terjadi.”

Saya bertanya apakah situasi saat itu membuatnya takut menulis secara terang-terangan?

“Aku sama sekali tidak takut. Tapi mungkin ada satu hasrat untuk membuat itu kabur. Dan aku kurang senang dengan itu. Aku ingin langsung menghadapi kenyataan itu.”

Ia melanjutkan, “Aku hanya berusaha mengambil jarak. Dengan aku mengambil jarak, aku tidak diteror dengan apa yang aku alami dan apa yang aku lihat.”

Namun, apa yang membebaninya, setidak-tidaknya, telah ia lampiaskan lewat empat cerita sangat pendek dalam edisi kedua Perempuan Pala.

“Jika aku punya kesempatan dan waktu, aku akan kembali ke ‘medan’ itu.”

Pria berusia 34 tahun ini menyudahi pembicaraan. Medan yang dimaksud adalah lanskap kekerasan yang menurut taksiran Amnesty International telah menewaskan antara 10 ribu hingga 30 ribu orang yang sebagian besar warga sipil di Aceh.

Ia malahan telah memancang jarak yang sangat jauh, kembali menengok negeri kelahirannya pada abad ke-17 untuk proyek novel yang sampai kini—dalam hiatus cukup lama—belum pula selesai.[]

 

Catatan: Abdullah, Anang Reski, Halimah, Maskirbi, Muhammad Aiyub Ibrahim, dan Samsul Bahri meninggal dunia tatkala tsunami menerjang seluruh pesisir Aceh.

Disclosure: Editor naskah ini adalah Fahri Salam, yang juga menyunting edisi terbaru kumpulan cerita pendek Azhari, ‘Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi’ (Buku Mojok, 2015).

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: