BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 9 menit

Cerita tentang tembakau berdaun kuning-oranye yang mengubah masyarakat petani Lombok.

 

LOMBOK terlanjur dikenal sebagai pulau dengan pantai-pantai indah, Gunung Rinjani yang gagah, ayam Taliwang berbumbu pedas, serta kangkung yang renyah. Tetapi sedikit yang tahu kalau Lombok adalah salah satu penghasil tembakau Virginia Flue Cured terbaik di dunia.

Hingga sekarang, belum diketahui kapan pastinya tembakau Virginia masuk ke Lombok. Satu versi menyebutkan, berdasarkan penuturan beberapa cerita, tembakau yang ditanam saat era kolonial Belanda di sana disebut tembakau rajangan Ampenan, merujuk kota pelabuhan besar tempat kapal-kapal niaga bersandar. Meski tiada penanda pasti kapan tanaman ini masuk ke Lombok, namun jejak tembakau dapat dijumpai dalam kegiatan masyarakat Sasak.

Mereka mengenal tradisi roah—syukuran sebelum menggarap lahan. Para petani berkumpul dan ada pemuka agama yang memimpin doa sambil berharap hasil panen bagus dan melimpah. Ada pula besiru, istilah untuk menyebut kegiatan bergotong royong tanpa dibayar, biasanya saat ada pembangunan rumah atau panen, dan para pesertanya “wajib” disuguhi rokok.

“Rasanya nggak sopan kalau nggak ada rokok,” ujar Martadinata, budayawan Sasak.

Budaya kretek di tanah Sasak ini mengingatkan kisah yang ditulis Mark Hanusz dalam Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (Equinox, 2000). Menurut Hanusz, meski kretek lahir di Pulau Jawa, campuran tembakau dan cengkeh (atau ubarampe lain) itu tersebar di banyak daerah. Ia menyebut rokok tradisional yang disebut bungkus, bisa ditemui di gugusan Kepulauan Maluku, menggunakan tembakau lokal yang digulung di dalam daun jagung atau daun pisang. Di Sumatra, roko adalah istilah untuk menyebut rokok lokal. Nyaris sama dengan klobot yang dibungkus pelepah jagung, roko dibungkus oleh daun nipah.

Sebelum mengenal tembakau Virginia, masyarakat Lombok menanam tembakau rakyat. Ada beberapa varietas seperti tembakau Kasturi, tembakau Kuning, dan tembakau Hitam. Para petani menyebut tembakau rakyat sebagai tembakau rajangan—merujuk perlakuan setelah panen ketika daun tembakau dirajang. Salah satu jenis tembakau rakyat yang terkenal adalah tembakau Sénang, harganya bisa mencapai Rp 500 ribu per kilogram, dan cukup susah didapat. Pusatnya di Kampung Sénang, Kecamatan Suela, Lombok Timur, dan kira-kira ada 500 orang yang menanam tembakau ini.

Pada 1960 beberapa perusahaan tembakau mulai masuk ke Lombok.

PT Faroka SA kali pertama masuk dalam industri tembakau di Lombok dan mengenalkan varietas Virginia. Disusul PT British American Tobacco Indonesia, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Praya. Pada 1985, PT Djarum ikut masuk. Saat ini ada sekitar 17 perusahaan rokok yang beroperasi di sana.

Masuknya Djarum dilatarbelakangi satu prediksi bahwa konsumsi rokok akan berubah seturut pola konsumsi manusia: semula didominasi karbohidrat akan bergeser ke protein. “Ini mengubah preferensi orang memilih rokok. Orang yang suka makan daging dan ikan akan cenderung menyukai rokok ringan,” ujar Iskandar, manajer senior Djarum.

Beberapa aktivitas pengelolaan pascapanen tembakau di gudang Djarum.

Sejak 1985, permintaan rokok ringan meningkat drastis. Bahan baku rokok ringan ini adalah tembakau jenis Virginia FC. Ia memiliki karakter daun yang tipis, elastis, punya kadar gula tinggi dan kandungan nikotin rendah.

Pada pertengahan 1980-an, Bojonegoro merupakan daerah penghasil tembakau Virginia FC terbesar di Indonesia. Karena permintaan meningkat, maka perlu dicari lahan penanaman baru. Iskandar ditugaskan untuk menyurvei daerah yang cocok ditanami tembakau Virginia.

Pria asal Sidoarjo ini melakukan survei di Bondowoso, Ponorogo, Jember, hingga Bali dan Lombok. Menurut pengamatan Iskandar, wilayah paling ideal adalah dua daerah terakhir. Tetapi Bali tidak memungkinkan karena lahannya sempit dan sudah didominasi anggur, selain lebih mengutamakan kepentingan pariwisata ketimbang pertanian dan perkebunan.

“Tembakau itu seperti perempuan. Tanaman yang menuntut perhatian lebih,” ujar Iskandar.

Lombok punya tanah subur dan memiliki pengairan yang baik. Tapi ada banyak halangan menghadang Iskandar. “Waktu saya datang, para lelaki di sini pemalas. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu di beruga (bale-bale). Sampai saya bilang, ‘Mending dibakar saja semua beruga biar laki-lakinya mau kerja.’”

Infrastruktur jadi persoalan lain. Ada banyak kawasan yang belum dialiri listrik. Jalanan tak semulus di Jawa. Tenaga kerja juga minim. Pada 1985 saat Iskandar datang ke Lombok, hanya ada seorang pimpinan dari perwakilan perusahaannya. Iskandar memutuskan jalan sendirian. Ia mengajari para petani cara mengoven tembakau dan memberikan penyuluhan tentang pedomana budidaya tanam yang baik.

“Dulu petani di sini nggak pakai takaran pupuk. Ngasih pupuk pakai perasaan,” katanya.

Setelah dua tahun bekerja, pimpinannya ditarik dari Lombok dan dipindahkan ke daerah lain. Pada 1986, karena masalah efisiensi dan dianggap tak bisa menggantikan tembakau Bojonegoro, Djarum berniat menutup perdagangan mereka di Lombok. Iskandar berusaha mencegahnya.

“Mungkin banyak orang yang senang. Siapa sih yang tidak senang balik ke Jawa? Tapi saya susah,” kata Iskandar. Ia sudah telanjur akrab dengan para petani dan bertekad menghasilkan tembakau yang baik.

Nyatanya kerja keras tak pernah mengkhianati. Pada 1990, dari segi kuantitas maupun kualitas produksi, tembakau Virginia FC di Lombok sudah menyalip tembakau Virginia Bojonegoro.

Dengan segala pengalaman itu, Iskandar adalah orang yang tepat untuk berbicara tentang tembakau Virginia FC Lombok, dan karenanya ia kerap dijuluki sebagai “profesor tembakau”. Saya mengenalnya cukup intens saat menuliskan kiprahnya dan mengikuti pola kerjanya selama seminggu, yang kemudian dibukukan dengan judul Dunia Iskandar (Indonesia Berdikari, 2013). Dari pria penyuka kopi hitam ini, saya belajar banyak tentang tembakau.

“Tembakau itu seperti perempuan. Tanaman yang menuntut perhatian lebih,” ujarnya pada satu siang selepas bersantap sekotak nasi dengan lauk ayam goreng dan oseng kacang panjang.

Alumnus Sekolah Menengah Pertanian Atas di Malang ini punya cukup pengalaman dengan tanaman lain. Mulai cengkeh, karet, kopi, dan teh. Tapi, menurutnya, tak ada tanaman semanja tembakau. Ambil contoh soal jenis tanah saja. Beda varietas tembakau, beda pula tanah yang cocok.

Tanah untuk jenis tembakau Virginia adalah tanah regosol, aluvial dan asosiasinya. Sedangkan tembakau jenis Burley (rapat dengan Virginia yang rasanya cenderung tanpa aroma) cocok ditanam di tanah jenis regosol atau andosol. Pendek kata, tembakau tidak bisa ditanam di sembarang tempat seperti, misalnya, di daerah pinggir pantai. Kawasan pesisir mengandung chlor (Cl) tinggi sehingga berpengaruh buruk bagi tembakau yang bikin rendah daya bakarnya. Belum lagi soal pupuk, kemiringan tanah, maupun jumlah air.

Namun, uniknya menurut saya, meski merepotkan, jarang ada petani yang jera menanam tembakau. Kerap pula bila hasil panen buruk, tetap saja para petani menanam tembakau.

“Ya, karena petani mencurahkan semuanya saat menanam tembakau. Ya modal, ya tenaga, ya pikiran. Karena itu mereka punya hubungan erat dengan tembakau,” kata Iskandar.

“PETANI tembakau di Lombok itu kenal tiga M. Kalau panen berhasil: pergi ke Mekah dan Madinah—alias naik haji.”

“Kalau panen gagal?”

“Ya ke Malaysia—alias jadi TKI.”

Percakapan dengan kawan bernama Lalu Rafli itu mengingatkan saya pada cerita para petani tembakau di Dusun Paok Rengge, Lombok Tengah. Salah satunya kisah Sukirman.

Sebelum bertani tembakau, Sukirman berprofesi tukang ojek. Satu hari, ia mengantar penumpang dari Lombok Timur, kawasan yang dikenal sentra tembakau. Di perjalanan, si penumpang berkisah tentang harga tembakau yang sedang bagus. Itu membuat Sukirman tergiur.

Sukirman, salah satu petani tembakau berpengalaman di Dusun Paok Rengge.
Sukirman, salah satu petani tembakau berpengalaman di Dusun Paok Rengge.

Maka ia mulai mengemas barang-barangnya, pergi ke Malaysia untuk jadi TKI. Sesudahnya ia kembali ke Paok Rengge untuk menanam tembakau. Itu terjadi tahun 1988.

Sukirman menyewa tanah seluas satu hektare. Percobaan pertama biasanya rumit. Menakar detail dan presisi termasuk tak boleh kelebihan sekaligus kekurangan air. Bila ia telat petik, hasilnya jelek. Terlalu awal memetik, ya bakal jelek. Manja sekali.

Saat yang ditunggu itu datang: tembakau bertahan hingga panen. Ia girang. Semua daun yang berukuran besar dipetiknya meski banyak yang belum menguning. Itu titik kesalahannya lagi dan menunjukkan, dalam usaha apapun sebetulnya, pengalaman pertama kerap bertaut minimnya pengetahuan.

“Ya jelas nggak diambil sama pabrik,” katanya tergelak.

Sukirman mengisahkan cerita itu pada satu siang bulan September 2015. Bersamanya ada Samsul, petani tembakau berusia muda tapi sudah banyak pengalaman.

“Saya ini sarjana tembakau,” kata Samsul dengan bangga. Maksudnya, ia berhasil jadi sarjana berkat hasil tembakau. Samsul kini meneruskan usaha orangtuanya bertani tembakau.

Samsul mengajak saya dan beberapa kawan berkeliling sekitar rumah. Ia memperlihatkan satu oven setinggi sekitar 8 meter. Sekilas mirip sarang walet dengan versi ukuran lebih ramping. Di bagian bawah, tengah, dan atas, ada ujung glantang atau stik dari kayu atau bambu tempat menaruh tembakau dalam oven.

Di samping oven ada beruga kecil tempat pekerja bergiliran menjaga saat tembakau dioven. Tugas mereka memastikan suhu oven sesuai kebutuhan. Ini karena kebutuhan suhu dan lama waktu pengovenan berbeda-beda.

Untuk proses penguningan, misalnya, dibutuhkan suhu antara 32 -35 derajat Celcius dalam waktu 18-24 jam. Ada pula proses pengikatan warna, membutuhkan suhu 40-50 derajat Celcius berdurasi 25-35 jam. Proses inilah disebut Flue Curing yang melekat pada tembakau Virginia.

Dulu oven ini memakai minyak tanah. Sewaktu bahan bakar itu nyaris nihil, para petani menggunakan kayu asam. Menurut penuturan seorang kawan, pohon asam di Lombok sudah hampir tak ada karena ditebang untuk bahan bakar. Karena tak ramah lingkungan, akhirnya pohon asam ditinggalkan. Kini petani menggunakan pelbagai pilihan. Dari gas hingga paling populer cangkang kemiri.

Di rumahnya yang asri, Samsul menjamu saya dengan hidangan khas Lombok. Ayam Taliwang, plecing kangkung, telur asin Lombok. Sembari makan, Sukirman dan Samsul mengisahkan sejarah tembakau di kampung mereka.

Pernah ada masa ketika banyak penduduk Paok Rengge jadi petani tembakau. Ihwalnya saat harga tembakau melonjak tinggi saat krisis moneter sejak 1997. Harga biasanya Rp 750 ribu per kuintal menjadi Rp 2,5 juta per kuintal.

Para petani tembakau di Lombok mendadak kaya. Hasil bagus itu bikin banyak orang tertarik mencoba bertani tembakau. Puncaknya tahun 2000.

“Dari 128 kepala keluarga, tahun itu hampir 80 persen adalah petani tembakau,” kata Sukirman yang kini kepala dusun.

Namun, pada 2010 dan 2011, situasinya buruk. Hujan besar mengguyur bahkan di musim kemarau. Banyak petani rugi dalam jumlah besar, puluhan sampai ratusan juta.

“Saya rugi Rp 30 juta waktu itu,” kata Samsul.

Kerugian ini diperparah cara petani mengatur keuangan dengan buruk. Lanjutannya, banyak petani Paok Rengge pergi ke Malaysia.

Tapi Sukirman dan Samsul enggan surut layar. Mereka terus menanam tembakau walau mereka harus mengetatkan ikat pinggang.

Selepas 2012 harga jual tembakau mulai normal. Kini harga tembakau Virginia terbilang bagus dengan harga tertinggi mencapai Rp 39 ribu per kilogram. Mereka berdua kini bergabung sebagai petani mitra Djarum.

Tentang kemitraan, Djarum punya tiga sistem. Pertama, kemitraan kredit—bisa dibilang strata tertinggi yang mengikat petani mendapatkan jaminan pasar, pembinaan dan pendampingan, serta dukungan pembiayaan. Kedua, kemitraan teknologi—petani mendapatkan akses budidaya sampai tataniaga itu tapi dengan modal sendiri. Terakhir, kemitraan pasar yang memberikan jaminan pasar dan pembinaan mutu.

“Sebelum masa tanam, selalu ada musyawarah dengan petani. Di sana akan diberikan informasi tentang ramalan cuaca, berapa kebutuhan tembakau Djarum, hingga penentuan kemitraan,” kata Iskandar.

Dengan adanya musyawarah itu, petani bisa tahu berapa kebutuhan tembakau yang diserap oleh Djarum. Ditambah jaminan pasar, petani bisa agak tenang karena tahu tembakaunya akan terbeli.

Namun kemitraan ini tidak selamanya berjalan maksimal.

Bila ada yang harus ditingkatkan, atau mungkin dikeluhkan dalam kemitraan, itu adalah fase grading alias penilaian kualitas tembakau.

Grading, salah satu aktivitas di gudang tembakau Djarum, Lombok.
Grading, salah satu aktivitas di gudang tembakau Djarum, Lombok.

Grading sangat penting dalam dunia industri tembakau. Masalahnya, teknik grading sangat rumit. “Ada sekitar 56 grade tembakau,” ujar Dawam, pengawas pembelian untuk stasiun tembakau Djarum di Lombok lewat kemitraan. “Sekarang sih sudah disederhanakan jadi sekitar 20-an.”

Meski begitu tetap saja teknik grading masih rumit. Karena itu tak banyak yang menguasainya. Selama ini hanya orang pabrikan yang paham soal grading. Para petani biasanya manut atas kualitas berdasarkan ketentuan pabrikan. Mungkin saja ada terjadi perdebatan ketika terjadi perbedaan penilaian antara pabrik dan petani.

Jika anda berkunjung ke gudang Djarum di Lombok Tengah, ada beberapa orang dengan spidol di pintu masuk tembakau. Itulah grader. Saat tembakau masuk, grader sudah bisa mengetahui kualitas tembakau hanya dari bentuk dan warna. Selanjutnya ia akan menuliskan kombinasi huruf dan angka di bungkus tembakau dari anyaman daun siwalan. Kode itu menunjukkan kualitas tembakau petani.

Namun, meski rumit, teknik grading bukan tidak bisa dipelajari. Walau mungkin memerlukan waktu panjang dan ketelatenan.

“Kalau saya sih, ya, ingin belajar tentang grading, biar saya bisa lebih tahu tentang kualitas tembakau yang saya hasilkan,” ujar Samsul. Sukirman di sebelahnya mengangguk sembari menghisap kretek.

“WAKTU jadi tukang ojek, saya tidak pernah terpikir bisa naik haji,” kata Sukirman. Ia menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang tinggi. Salah satu anaknya mengambil studi kesehatan. “Dia selalu bilang ke saya buat ngurangin merokok,” katanya terkekeh.

Cerita senada dialami Sabarudin dari Desa Lekor. Desa ini kerap disosokkan “desa maling” atau “desa rampok”. Jarang orang berani pergi ke sana, apalagi di malam hari.

“Dulu desa ini bukan Lekor, tapi desa tertinggal,” kata Haji Sabarudin setengah bercanda.

Ia salah satu pelopor penanam tembakau pada 1989. Hasil panen miliknya semula dijual di depan rumah untuk langsung dibeli tengkulak. Kemudian, seiring apa yang sudah dirintis oleh Iskandar, pada 1993, PT Djarum menawarkan kemitraan.

Para petani tembakau mulai bisa menabung. Haji Sabarudin pada 1998 bisa naik haji berkat tabungan dari hasil panen tembakau. Ia yang awalnya tak punya tanah kini punya lahan sekira 75 are. Ia menjadi tetua di kelompok tani. Tanah yang mereka kelola mencapai 10 hektare.

Para petani kini sudah banyak yang belajar dari pengalaman. Mereka mulai berinvestasi, dari pendidikan anak, membeli tanah, tabungan haji, hingga menyimpan untuk masa tanam mendatang.

Peredaran uang tembakau di Lombok teramat besar. Ambil contoh di desa Paok Rengge. Menurut Sukirman, ada 40 hektare lahan tembakau di dusunnya. Biaya produksi per hektare berkisar Rp 40 juta – Rp 45 juta, termasuk untuk biaya bibit, pupuk, dan tenaga kerja. Hasil tembakau per hektare biasanya mencapai 2 ton daun kering. Untuk harga berkisar Rp 35 ribu – Rp 39 ribu per kilogram.

Mari berandai-andai musim sedang baik dengan biaya produksi tinggi. Untuk lahan 40 hektare, berarti perlu biaya produksi Rp 1,8 miliar. Pemasukannya Rp 39 ribu dikalikan 80.000 kilogram, maka hasilnya … Rp 3,1 miliar! Ini untuk satu dusun saja dengan jumlah petani tembakau antara 20-25 orang.

“Jangan heran. Kalau sedang musim panen, Djarum bisa mengeluarkan uang pembelian tembakau itu Rp 6 miliar per hari,” kata Iskandar.[]

 

________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: