BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 10 menit

Street art dalam tindakan personal sekaligus politis.

ADA tiga hal yang sangat ingin dikuasai Andrew Lumban Gaol: main gitar, naik sepeda motor, dan berenang. Saat usianya mendekati kepala tiga, dia baru bisa menuntaskan salah satu dari keinginan itu: naik motor. Itu juga baru belakangan dan kerap kali dia masih dibonceng.

Di kota kelahirannya, Pematangsiantar, kota kedua terbesar di Sumatra Utara setelah Medan, mayoritas aktivitas harian warga sangat terbantu oleh angkot yang berseliweran menghubungkan beragam titik dan perlintasan. Ketika Andrew mengenal sesuatu yang keren dalam ukuran remaja tanggung, itu bukan dengan mengendarai sepeda motor pribadi, melainkan mengenal subkultur punk dari teman karibnya di sekolah. Keinginannya bisa bermain gitar mentah seketika mengingat musik punk secara sederhana bisa disebut hanya mengandalkan tiga kord dalam tempo cepat, tidak terlalu mementingkan teknik bermusik yang rumit.

Satu keinginan lagi, bisa berenang, lama-lama mengendur ketika dia meneruskan studi ke Yogyakarta pada 2005 dan lebih sering menjalani aktivitas yang stabil: mengayuh sepeda, mendatangi pameran ke pameran, dan berkenalan dengan orang-orang baru yang membentuk lingkaran pertemanan. Sebagian besar perjalanannya berpusar di tempat yang itu-itu saja. Tidak ada petualangan dramatis: menjelajah gunung atau berlayar, misalnya.

Keinginannya untuk menyeriusi hobinya menggambar semula ditentang oleh orangtua, pasangan guru SMP. Tetapi peran pamannya, yang bekerja di harian Kompas, berhasil meyakinkan bahwa pilihan Andrew tidaklah buruk-buruk amat lewat contoh kolega kerjanya sebagai ilustrator di harian terbesar di Indonesia itu. Gagal tes masuk sarjana di Medan (atas desakan orangtua), dia juga gagal mengikuti tes jurusan desain di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pilihan akhirnya adalah studi desain komunikasi visual di Modern School of Design, jenjang diploma 3, di bilangan Taman Siswa.

Gema dari persentuhan manasuka dengan punk di masa lewat, meski tidak menjadi determinan, telah membawa satu semangat personal yang nantinya diterjemahkan lewat seorang Andrew-yang-lain, yang kita kenal sebagai Anti-Tank pada 2008. Karya poster pertamanya menjadi pelajaran terpenting justru karena menuai beragam kecaman.

Bersama seorang teman, dia merespons satu acara pagelaran tanaman bonsai di sebuah mal. Dengan semangat propaganda, mereka mengkritik pilihan orang yang kian menggemari tanaman kerdil di dalam pot dangkal itu, sembari menekankan bahwa perusakan hutan dan penebangan pohon begitu sering. Ada timbal-balik komentar saat poster itu diunggah ke blog yang dia bikin (Anti-Tank Project), umumnya bernada sangat sinis.

“Aku belajar banget dari poster itu,” kata Andrew. Kertas poster itu bukan dari HVS 70 gram sebagaimana yang dia pakai sampai sekarang. Melainkan dari jenis samson yang terpengaruh dari poster-poster bikinan Taring Padi, sebuah komunitas pekerja seni di Yogya yang bergerak dalam ranah politik kultural pasca-Orde Baru.

Dia juga menyadari bahwa teknik visualnya masih mentah dan tertimbun oleh pesan yang rumit, selain karena memakai bahasa Inggris. Pada akhirnya, poster-poster “bonsai” itu tidak bertahan lama, kira-kira hanya tiga hari. Satu pelajaran lagi: ada posternya tertempel di grafiti. Hal yang nantinya dia dihindari untuk tidak merusak karya siapa pun, termasuk tidak menempel di rumah ibadah, rambu lalu-lintas, dan sekolah.

Seiring tumbuh kesadaran dan sensitivitas pada ruang, dalam berbagai poster berikutnya (dia menyebut lebih dari 50 tapi yang terus diproduksi ada 30-an), dia mulai memandu dirinya untuk menemukan formula baku dalam mengeksekusi sebuah karya.

Prosesnya tidak seketika. Tahun itu juga dia mulai menggarap poster Munir.

SEBAGAIMANA sering ditanyakan oleh sejumlah orang, hingga jadi pertanyaan standar, Andrew dan poster Munir sering jadi poin perbincangan. Melihat seorang berbicara di televisi dalam peringatan empat tahun kematian Munir, Andrew terprovokasi dalam konteks bahwa seorang pembela hak asasi manusia terkemuka dibunuh di masa Indonesia telah melewati era represif Orde Baru. Teks untuk menggenapi wajah Munir, dalam gradasi gelap dan terang, adalah “orang besar akan dibunuh”. Sewaktu menempel di dekat Balai Kota, dia bersama temannya dicurigai sebagai aktivis LSM, terlebih poster itu bergambar Munir. Lama berpikir selang beberapa hari, dia ingin memperbarui poster tersebut. Mereduksi penilaian dan menimbang ulang, membaca karya-karya orang lain yang bisa sangat tipikal, dan meluaskan interpretasi sekaligus mengangkat kesan netral dan tidak menggurui, akhirnya Andrew merevisi teks di poster itu menjadi hanya “menolak lupa”. Poster versi ini lantas dikenal hingga kini.

Frasa “menolak lupa” seterusnya menjadi panduan dalam karya-karya lain, sebagai proses untuk lebih simpel, komunikatif, dan berusaha ramah bagi audiens.

“Teks itu bisa dipakai di mana-mana sekalipun terpisah dari gambar,” kata Andrew. Rumusannya, yang terus dia genapi dalam ritus mengeksekusi sebuah poster, adalah bagaimana menyisipkan ruang diskusi dari bahasa visual yang menawarkan multipersepsi.

Itu secara perlahan membentuk standar selanjutnya. Bahasa Inggris seketika ditinggalkan. Isunya pun makin dekat dengan masalah lokal, dalam arti respons personalnya atas masalah sekitar yang terhubung lewat problem struktural. Bahasa visual harus ikonik, tegas, dan provokatif. Dia juga meminamalisir aksesoris untuk sedapat mungkin memberi peluang orang menangkap pesan dan mudah mengimajinasikannya. Atau, menerjemahkan perkara yang lebih aplikatif: ketika poster itu disablon bisa dipakai seketika, bila seukuran stiker maka objek dan teks visual tetap terlihat; sebaliknya, gambar tetap utuh bila dalam ukuran besar.

Pengaruh karya orang lain selalu terbuka. Salah satunya, sebut Andrew, adalah Emory Douglas, desainer dan ilustrator untuk The Black Panther Party, sebuah organisasi sosialis-nasionalis warga Amerika kulit hitam tahun 1960-an. Karya-karya desain Douglas menjadi ikonik; dia sangat memahami kekuatan visual dalam mengomunikasikan gagasan. Bagi Andrew, objek-objek hidup yang mendominasi karya Douglas adalah ranah penting untuk dipelajari dalam hal “mengeksekusi gradasi gelap dan terang untuk menyalurkan pesan visual yang efektif.”

Pelajaran di kampus tetap memberinya asupan secara teknis, untuk menebas jarak antara poster dan audiens. Betapapun, sejak dia bersulih giat dalam proyek Anti-Tank, dia secara perlahan melupakan tugas studi, dan merasa dengan sendirinya sudah drop out. Sampai beberapa bulan lalu, ketika mencetak poster di tempat langganan di seberang kampus, dia bertemu dengan seorang dosen, minta dia segera menuntaskan tugas akhir. Kampus agaknya merasa sayang membiarkan Andrew tanpa gelar, dan bahkan memberi waktu yang luwes baginya.

Dia tetap ingin lulus, bagaimanapun itu keinginan orangtuanya, kendati kira-kira sejak tiga tahun terakhir dia sudah bisa hidup mandiri, sebagian dari bekerja desainer lepas. Pamannya, sekali lagi, jadi penengah dengan menjelaskan kepada orangtua Andrew bahwa “anak seni memang seperti itu.” Tetapi, sampai saya bertemu dengannya pada akhir November lalu, tugas akhir tetap mangkrak.

Video profil Anti-Tank dan dunia street art

Lebih dari segalanya, proyek Anti-Tank terus bergerak, dari satu komunitas ke komunitas, seiring isu yang direspons. Tali-temali ini terus menubuhkan Andrew di jalur street art: menyusuri malam ketika tembok menagih utang dan tidur siang adalah pelepasan yang tuntas.

KETIKA Yogyakarta dikejutkan oleh peristiwa penembakan oleh serdadu Kopassus di penjara sipil Cebongan, akhir Maret 2013, seketika muncul dukungan atas eksekusi itu lewat bermacam spanduk di berbagai titik strategis. Yayaka Marjan, wartawan Media Indonesia yang juga pegiat Aliansi Jurnalis Independen, melihat sebuah poster yang berbeda, di titik Stasiun Tugu, dengan gambar lelaki berposisi samping memakai sebo mengacungkan senapan AK-47, dan teks di bagian punggung bertuliskan “awas preman teriak preman”. Dia penasaran siapa yang membuatnya dan ingin menjalin kontak untuk bertemu.

Kepentingan Yayaka semula ingin tahu cerita dari poster itu. Tapi, situasi memang tidak mendukung. Andrew belakangan diberitahu oleh teman-teman grafiti bahwa keadaan sedang sensitif, dan semua teman street art berusaha untuk “tiarap”; tapi malahan dia muncul dengan poster yang provokatif itu. Satu pertimbangan lagi, poster itu, tanpa ada cerita pun, sudah cukup menjelaskan, dan dia tidak perlu bicara.

Karena keadaan macam itu, Yayaka punya kesan, Andrew orang yang hati-hati, ogah diwawancarai, sulit ditemui. Sesudah bertemu di satu acara di Malioboro, obrolan intens akhirnya mengalir di tempat tinggal Yayaka, saat itu masih di Lempuyangan. Mereka membicarakan, di antaranya, tentang situasi Yogya.

Ada kesan yang cocok, bahkan ketika Yayaka menimbang untuk melibatkan Andrew dalam kampanye yang digarap oleh AJI Yogyakarta, yakni seruan menuntaskan kasus pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin. Udin ditemukan dalam keadaan bersimbah darah di depan rumahnya di Bantul dan meninggal tiga hari kemudian di rumahsakit pada 16 Agustus 1996.

Yayaka memberi data, artikel, foto, dan film tentang kasus Udin kepada Andrew. Tujuannya adalah meluaskan isu kasus ini mudah dikenali publik. Andrew menggarapnya, dengan pijakan dari (seingatnya) dua foto yang kualitasnya tersepuh usia, dan dia memilih objek muka Udin yang menoleh tipis ke kiri. Sorot mata Udin menangkap langsung mata audiens. Teksnya diambil dari kampanye AJI yang sudah ada sejak kasus itu mentok di kepolisian: “Wartawan Udin dibunuh karena berita”. Andrew membuat poster hitam putih dan hitam putih merah.

Mengapa memilih untuk melibatkan komunitas street art? “Bahasa poster beda dengan bahasa berita,” kata Yayaka, “dan karena itu lebih persuasif.”

Keterlibatan komunitas pegiat seni dalam kampanye organisasi profesi ini terus terjalin termasuk ketika memperingati 19 tahun pembunuhan Udin. Mereka bikin mural di kedua sayap dinding Jembatan Kewek, dekat Malioboro, masing-masing memuat konsep koran bernama “Suluh Udin” dan pesan tegas mendesak langkah hukum di Indonesia menuntaskan kasusnya.

Bagi Andrew, pilihan mengambil teks dari AJI dalam poster Udin karena ini adalah “ide bersama”; suatu kerja kolaborasi. Dan kasus kematian wartawan, baginya, bukanlah semata persoalan institusi profesi, melainkan menjadi “persoalan kita bersama”. Ketika mulai menyentuh visualnya, lewat aplikasi CorelDraw, dia membayangkan audiens poster ini adalah orang-orang yang pernah hidup di masa Udin dibunuh, sekaligus pengingat bagi generasi belakangan. Karena itu, konteks pemberian tahun “1996” menjadi relevan dalam poster itu.

“Teks ‘dibunuh karena berita’ harus diingatkan lagi, buat memberi kesan dramatis,” katanya.

Kesan Yayaka semula terhadap Andrew, yang seakan sulit ditemui tapi seketika terhubung lewat obrolan dan kerja-kerja kampanye dalam mengadvokasi kasus Udin itu, sesungguhnya, menjelaskan semangat komunitas street art dalam banyak kesempatan: cepat membangun respons atas tawaran isu dan persoalan sekitar. Mereka telah terbiasa dalam relasi yang sangat cair, sebagian bahkan risih bila disebut “seniman”, dan menghindari sematan bagi karya di ruang publik itu sebagai “karya seni”. Dihubungkan jalanan, komunitas street art membentuk prinsip yang bisa sangat egaliter.

BARU-BARU ini Anti-Tank terlibat sebagai partisipan, di antara puluhan seniman lain, dalam Biennale Jogja ke-13 yang mengusung tema “Hacking Conflict”. Gagasan yang dibawa Andrew untuk merespons tema itu bertolak dari persoalan berdimensi besar, tapi mungkin paling sensitif, yang dihadapi masyarakat di Yogya: gelombang modal dan kuasa.

Sulit menerka perubahan politik seperti apa di Yogya ketika Sultan HB X tak punya anak laki-laki. Namun, perubahan ruang hidup telah hadir di depan mata: protes warga di kantung-kantung permukiman yang diserobot bangunan gigantis yang berdampak secara sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Kata kunci utama dalam proyeknya adalah “Sabda Warga”. Ini sebetulnya muncul dari satu obrolan di sebuah angkringan di seberang BCA di Jalan Margo Utomo, dulu Mangkubumi, tempat mangkal biasanya komunitas pesepeda Jogja Last Friday Ride dan gerakan Warga Berdaya. Frasa “Sabda Warga” adalah antitesis terhadap “Sabda Raja” yang pernah dinyatakan sultan, yang juga Gubernur Yogya, pada Mei 2015.

Hasil “Sabda Warga” adalah tujuh ragam poster, dengan teks berbeda, yang dikerjakan bersama warga di empat lokasi: Pantai Kapen, Pantai Watu Kodok di Gunungkidul (lokasi pengembangan resort), Gadingan di Jakal Km 13 (pembangunan apartemen), Gondolayu dan Miliran di Kota Yogya (pembangunan hotel). Teks dikurasi sesuai apa yang mewakili keprihatinan warga di tempatnya. Mereka difoto bagi yang bersedia dan sengaja tak dicantumkan nama, lantas diolah kembali dalam garis yang lebih tegas. Mereka mengerjakannya selama dua pekan sebelum pembukaan Biennale 2015 di Jogja National Museum.

Terkadang proses berkaya bersama itu menumbuhkan pemahaman baru. Di Pantai Kapen, misalnya, Andrew melihat peran Karang Taruna, yang tidak dia alami di tempat kelahirannya, sangat menentukan dalam mengadakan pertemuan antarwarga. Di Gadingan, warga memprotes pembangunan apartemen dengan prinsip dan logika mandiri.

“Kadang kita merasa gagah… merasa ingin membereskan masalah. Padahal, orang-orang kampung itu yang menghadapinya setiap hari, bukan kita sebagai orang luar.”

Berbeda dari proyek karya lain, poster-poster ini, karena dia menolak kesan sebagai “karya seni”, tidak dia imbuhi logo Biennale dan, konsekuensi yang dia ambil sendiri, dia juga tak menyematkan logo Anti-Tank.

ANDREW Lumban Gaol, belum lama ini, pindah ke sebuah rumah yang ditempati lebih dulu oleh Agung Geger. Pada satu malam, bersama kawan lain, mereka menikmati makan papeda, kuah sayur kuning, dan dendeng rusa, yang dibawakan mahasiswa asal Merauke yang tinggal di Bausasran. Mereka memasak bersama di dapur belakang rumah. Geger, dalam rentang tertentu, pernah intens mengarsipkan dokumentasi visual dan pemetaan lokasi karya street art lewat Urban Cult. Kondisinya kini hiatus sementara, lebih karena jenuh, selain fokus Geger terdistraksi ke Lifepatch, komunitas sangat luwes dengan konsep belajar yang unik dalam semangat berbagi lintas disiplin.

Kesenangan Andrew bersepeda, kadang mengayuh tengah malam bersama Geger dan kawan lain, sering kali mengantarkannya pada titik-titik strategis untuk ditempeli poster pada hari-hari berikutnya. Ini kebiasaan yang agak condong pada militansi, sebagaimana seorang penulis mesti dekat pada aktivitas membaca; ia bukanlah sesuatu yang tampak agung. Karena itu, ketika saya bertanya tentang buku terakhir yang dia baca, Andrew menjawabnya itu dua bulan lalu, dan buku itu adalah The Alchemist, novel Paulo Coelho yang edisi Indonesianya terbit tahun 2005. Novel itu, sejauh apa yang ingin diserapnya, berkisah tentang “hal-hal sederhana yang sering luput dipahami dari kerumitan dunia sekitar.”

Ia membaca buku Bayang Tak Berwajah karya Subcomandante Marcos, salah satu buku yang diingatnya, karena baginya memuat “pemberontakan imajinasi”. Dia menilai bahwa buku Do Good Design memberinya daya persuasif dalam menjelaskan seberapa penting, dan sejauh apa, peran seorang desainer yang dalam segi industri telah berkontribusi “membentuk masyarakat makin konsumtif.”

Bacaan seperti itu, bagi Andrew, membentuk “… gimana caraku bersikap dan berpengaruh ke karya.”

PADA pukul tiga pagi Andrew bersiap untuk menempel lima poster “Sabda Warga”. Dibantu oleh temannya, mereka melipat satu demi satu poster seukuran 2 x A0, setara dua meter persegi. Alat perang sudah siap sejak kemarin setelah mereka gagal karena tertidur: lem Fox dalam wadah cat plastik, kuas besar, dan roll. Geger dan temannya memutuskan untuk ikut. Melintasi jalan perkampungan selebar dua meter dan bertemu Jalan Taman Siswa, lalu berhenti untuk mengisi bensin, tujuan mereka adalah kawasan tengah dan utara Yogya.

Gerimisi turun di tengah jalan, tapi masih dalam curah moderat, dan mereka berhenti di satu perempatan dekat Balai Kota. Segera kemudian mereka menempel satu poster di pagar seng yang membentengi sebuah pekerjaan bangunan. Di seberang mereka ada hotel baru yang hampir jadi. Seorang pekerja kebersihan trotoar menyaksikan di bawah atap toko, menghindari gerimis, dan menyangka mereka sedang memasang poster acara musik ataupun iklan.

“Poster anti hotel, Pak,” timpal Geger di dekatnya.

Pekerja itu seketika menyambut dengan menyebut sejumlah izin pembangunan hotel yang sudah keluar, tapi tempatnya sendiri malah belum ada. “Opo ora gendeng, Mas, pemerintah iki (Apa tidak gila, Mas, pemerintah ini)?”

Kami berlalu. Tapi, kemudian saya tertinggal cukup jauh dari mereka ketika melintasi Jalan Solo. Menyadari tak mungkin mengejar dan mengenali mereka, kendati jalan lengang, saya memutuskan untuk pulang. Belakangan Andrew mengirim pesan selewat siang, mungkin setelah dia bangun. “Maaf (tadi pagi) kita buru-buru, harus ngebut karena sudah jam setengah empat. Sudah mau terang, padahal banyak tempat yang harus dikejar.”

Begitulah. Selama bayangan membuat poster belum lingsir, selagi proyek baru terus menggenangi keresahannya, kita akan melihat dia berlalu usai memasang poster. Dia bersiap pulang dan menuju kamarnya. Pikirannya damai. Gambaran yang menyala di benaknya kembali menyelisip usai menuntaskan satu ziarah malam, “Wah, hidup ini nggak sia-sia.” Sesudahnya Andrew akan beranjak tidur sewaktu kehidupan di luar bergegas dan jalanan di Yogya bertambah sesak kendaraan bermotor.[]

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: