BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 3 menit

Si bapak garang berkumis baplang juga produktif menulis buku dongeng.

SEORANG pendongeng membuat orang-orang berkumpul malam itu di galeri seni Ruang Rupa, Tebet, Jakarta Selatan, 28 November 2015. Malam itu ulang tahunnya, usianya 83 tahun sekarang. Namun, sebulan lalu ia telah berpulang. Pak Raden, pendongeng ikonik dengan kumis tebal meliuk, merayakan hari lahirnya secara anumerta lewat potret-potret diri yang terpajang dalam ruangan galeri itu.

Perkumpulan malam tersebut merupakan pembukaan pameran kecil yang diselenggarakan Ruang Rupa bertajuk “Mengenang Gambar”. Tanggal lahir Pak Raden sengaja dipilih sebagai harinya. Berlangsung selama dua hari, dua belas lukisan dan ilustrasi karya Pak Raden, sejumlah potret diri buatan seniman lain, dan satu film pendek berjudul sama dengan pameran ini ditampilkan.

Karya yang cukup menyita perhatian pengunjung adalah lukisan berjudul “Anak-Anak Bermain Egrang”. Lukisan itu karya terakhir Pak Raden, dibuat sembilan hari sebelum ia meninggal dunia. Karya lainnya adalah sketsa buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dibuat pada 1974.

Pak Raden bagi kanak-kanak ’80 dan ’90-an adalah sosok lengkap penghibur. Ia pelukis, ilustrator, animator, dalang, penulis buku anak, seniman boneka, serta pendongeng. Keahlian yang terakhir datang dari hiburan rutin tiap sore kala ia kecil. “Sore setelah minum teh dan mandi, ya dongeng sama Ibu,” kata Kartini, kakak Pak Raden.

Dongeng memang begitu lekat dengan nama Pak Raden. Di hari yang sama dengan pembukaan pameran “Mengenang Gambar”, Forum Dongeng Nasional menggelar deklarasi di Jakarta dan banyak kota lain yang menyatakan 28 November, hari lahirnya, sebagai Hari Dongeng Nasional.

Selain aktif mendongeng, Pak Raden yang bernama asli Soejadi juga menulis buku cerita anak. Menurut Prasodjo Chusnato, manajer dan penulis biografi Pak Raden, sejak 1969 Pak Raden telah menulis buku. Hingga akhir hayatnya, ia telah mengeluarkan tiga puluh dua judul yang cerita dan ilustrasinya digarap sendiri, serta lima belas judul yang dikerjakan bersama orang lain. Ia juga pernah membuat buku kisah pewayangan untuk anak-anak karena khawatir orang tak lagi mengenal pewayangan.

Prasodjo mengakui, banyak judul yang Pak Raden sendiri lupa. “Dan belum saya lacak di sejumlah sumber-sumber pustaka lama. Data tadi disebutkan Pak Raden sedemikian.” Proses pengerjaannya, kata Prasodjo, ada yang mencapai satu bulan, ada yang hingga delapan tahun. Ada pula yang masih berupa draf karena ilustrasinya sudah selesai, tetapi ceritanya belum ada.

Bagi Prasodjo, memopulerkan kembali dongeng seharusnya dimulai dengan memperbanyak buku dongeng alih-alih mendeklarasikan Hari Dongeng Nasional. Ia sendiri tidak terlibat dalam deklarasi 28 November tersebut.

“Pak Raden membuat buku (dongeng) itu sebenarnya dalam rangka mendongeng setiap hari.”

Sejak 2000 Prasodjo sudah mengikuti Pak Raden. Ketika ia menyatakan niat untuk menulis biografi Pak Raden, lelaki tua itu menolak. Ia tak suka “diangkat-angkat”.

“Beliau tidak pernah butuh biografi, tidak pernah mau diwawancarai,” kenang Prasodjo. Baru pada 2009 Pak Raden luluh dan mau diwawancarai untuk biografi.

Selain Prasodjo, ada Agung Dinarwan yang kerap mengikuti Pak Raden untuk mendokumentasikan karya dan aktivitasnya. Ia diajak Prasodjo, mulanya karena kepentingan penelitian kuliah Agung.

Hingga akhir hayatnya, Pak Raden masih hidup dari mendongeng. Sebelum sakit dan harus memakai kursi roda, kisah Prasodjo, setidaknya dua kali dalam sebulan ia pergi mendongeng. Namun, setelah sakit hanya menjadi sekali sebulan saja.

Pak Raden diakui sebagai pendongeng yang melampaui beberapa zaman. “Dia pendongeng Indonesia yang sangat teruji waktu,” kata Ardea Rhema Sikhar, penulis yang turut dalam Deklarasi Hari Dongeng Nasional di Kota Bandung. Ia menganggap Pak Raden inspirasinya.

Sosok Pak Raden sebagai paket lengkap penutur ceritalah yang membuat hari lahirnya dideklarasikan sebagai Hari Dongeng Nasional.

“Saya mengusulkan ke teman-teman bahwa kita kehilangan seorang legenda dongeng (Pak Raden). Seseorang yang bisa mendongengkan, menuliskan dongeng, seseorang yang membuat ilustrasinya, dan menyanyikan dongengnya. Seseorang yang bisa segalanya. Bapak dongeng Indonesia,” kata Mochamad Ariyo Faridh Zidni, akrab disapa Kak Aio, penggagas deklarasi tersebut.

Hari Dongeng Nasional, kata Aio, bisa menjadi pengingat tidak hanya bagi pegiat dongeng, tapi juga ke orang tua dan guru “bahwa dongeng itu penting dan baik bagi anak.” Aio mengenal Pak Raden secara personal sejak 1999.

Aio melihat, budaya mendongeng di Indonesia sudah kuat sejak dahulu. Dengan menggunakan buku, saat ini mendongeng juga digunakan untuk mendidik. Jumlah buku dongeng pun sudah banyak. Yang kurang tinggal panduannya.

“Seperti ini buku dongeng untuk anak usia berapa. Yang juga kurang adalah jumlah eksemplarnya dan penyebarannya. Masih terfokus di kota-kota besar,” katanya.

Busyra, anggota Bloger Buku Indonesia, sepakat bahwa buku dongeng sudah banyak. Sejak tiga tahun lalu ia mengoleksi buku cerita anak-anak, mulai dari buku cerita bergambar, novel, dongeng lokal, dan dongeng luar negeri.

Menurutnya, Deklarasi Hari Dongeng Nasional adalah sesuatu yang baik. Namun, jauh lebih penting dari sekadar pencanangan itu ialah makna Hari Dongeng itu sendiri. “Saya berharap Hari Dongeng Nasional bukan sekadar perayaan tahunan semata, tetapi sebagai simbol dari sesuatu yang lebih besar, yaitu kesadaran akan pentingnya budaya mendongeng bagi masyarakat Indonesia.”

Pak Raden, menurutnya, adalah ikon dongeng yang paling berdedikasi, bahkan hingga menjelang kepergiannya. “Karya-karyanya juga bisa saya katakan salah satu yang terbaik dari sedikit yang bisa bertahan dari generasi ke generasi.”

Busyra mengaku banyak buku dongeng Indonesia setelah dibaca urung ia koleksi. Buku yang sudah dibeli ia sumbangkan atau jual kembali. Alasannya, ia belum menemukan buku seri dongeng yang “rapi” untuk dikoleksi. Juga masih banyak kekurangan dari segi isi maupun penulisan. Ujung-ujungnya, ia memilih buku dongeng berdasarkan penulis yang sudah terkenal, seperti yang baru-baru ini terbit dari Djokolelono berjudul Sepatu Sang Raja dan Dongeng Indah Lainnya.

“Saya belum melihat ada buku dongeng yang melegenda, seperti milik Perrault, Andersen, atau Grimms,” kata Busyra. Padahal, dari segi bahan Indonesia punya banyak sekali dongeng lisan bagus. Buku dongeng juga tidak bergaung karena pembacanya tidak membagi pengalamannya ke pembaca lain. Ia menilai, penerbit, penulis, orang tua, guru, dan pendongeng perlu bekerja sama untuk menemukan komposisi dongeng yang bagus dan disukai.

Ketika malaikat akhirnya menjemput Pak Raden, sesungguhnya ia masih punya dua keinginan, menyaksikan dua bukunya terbit. Buku pertama berjudul Suti, tentang pengenalan wayang orang dan kulit bagi anak-anak. Kedua buku ilustrasi berjudul 210 Tahun H. C. Andersen. Saat ini keduanya sedang ditata letak.

Ars longa, vita brevis.[]

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: