BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 10 menit

Tulisan perjalanan yang baik, seperti halnya tulisan di genre lain, akan dihasilkan oleh mereka yang memang terus mengasah kemampuan menulisnya.

 

ANNE Siddons, perempuan yang tumbuh besar di kota kecil Fairburn di selatan Amerika Serikat, berkata kepada penulis V.S. Naipaul betapa orang-orang kulit putih di daerahnya selalu punya krisis percaya diri.

“Sejak kecil aku melihat bagaimana kami merasa terancam oleh masyarakat kulit hitam. Kami keturunan masyarakat jajahan yang kalah Perang Saudara. Kami masyarakat pertanian yang miskin. Rasa malu karena kalah perang masih saja menghantui. Sisa rasa percaya diri kami hanya ada dari rasa superior terhadap orang kulit hitam.”

Saat itu pertengahan 1980-an, Naipaul bertemu Siddons dalam perjalanannya di sepanjang wilayah selatan. Naipaul menyusuri kota-kota kecil dan daerah perkebunan di Tuskegee, Atlanta, hingga Mississippi—biasa disebut The Old South. Dalam perjalanan itu Naipaul berbicara dengan banyak orang dari kalangan liberal, konservatif, petani, pendeta, penyanyi lagu rakyat, hingga pekerja kerah biru yang mengendarai truk rombeng dengan enam kaleng bir yang selalu tersedia di jok samping kemudi. Ia menggali banyak kisah dan mencatat dengan tekun dalam buku berjudul A Turn in the South yang terbit tahun 1989.

A Turn in the South menjadi karya yang dipuji, salah satunya, karena pendekatan atas kisah perjalanan. Ia tidak berbicara tentang ketakjuban akan tempat baru atau petualangan yang memacu adrenalin. Ia juga tidak membuat narasi filsafati tentang pencarian jati diri si penulis. Ia berbicara tentang jejak-jejak perbudakan, Perang Saudara, segregasi ras dalam alam bawah sadar, dan pilihan-pilihan tindakan orang-orang yang ditemuinya.

“Penulis perjalanan tidak hanya melihat dan mendeskripsikan tempat,” ujar Naipaul kepada New York Times. “Ia mendalami manusia-manusianya.“

Kami membaca A Turn in The South di sebuah ruang tunggu di bandara Soekarno-Hatta. Di sebelah kami seorang pemuda dengan tas punggung besar sedang mengutak-atik kamera lensa panjang. Di ujung lain, sekelompok remaja bersiap untuk memulai liburan. Pulau Komodo, kalau kami tak salah dengar, menjadi tujuan mereka. Suasana itu membawa kami pada perbincangan betapa perjalanan menjadi tren pada dekade terakhir ini.

Sejak muncul perusahaan-perusahaan penerbangan yang menjual tiket murah pada awal 2000-an, semakin banyak orang mulai rajin bepergian. Ke negeri-negeri jauh, tempat wisata populer, atau sudut-sudut yang belum terjamah. Lumrah saja, mereka yang bepergian kemudian berkeinginan untuk membagi pengalamannya. Penulis perjalanan pun bermunculan, semakin lama semakin banyak, hingga pada satu titik, kerap dianggap terlalu gaduh.

Arman Dhani, penulis muda yang produktif menyoroti pelbagai isu sosial, menulis pada 2013 betapa fenomena penulis perjalanan di Indonesia adalah perihal yang kepalang “overrated dan memuakkan”. Baginya ini adalah genre tulisan yang terjebak pada skema deskripsi keindahan dan promosi pariwisata belaka. Dua tahun kemudian Zen Rachmat  Sugito, dalam esai “Keluyuran di Tengah Kota”, menulis betapa para pejalan “memancarkan cara pandang kolonial” yang menempatkan keindahan dan eksotisme tempat sebagai objek semata.

Terlepas dari pengecualian-pengecualian yang tentu ada, ini adalah kritik yang patut dicermati. Apakah genre tulisan perjalanan di Indonesia masih bisa berkembang dalam hal kualitas dan keberagaman? Atau ia akan semakin gaduh dengan promosi pariwisata atau deskripsi tempat yang melulu indah?

FARID Gaban sedang menjalani akhir masa kuliahnya saat ia bergabung dengan majalah Tempo. Saat itu medio 1980-an Farid bertugas melakukan kerja-kerja liputan di wilayah Jawa Barat. Ia berkeliling dengan sepeda motor ke Cirebon, Sukabumi, dan sekitarnya; kebanyakan meliput tema-tema pertanian dan menulis fitur-fitur bernapas humaniora. Saat kami bertanya periode awalnya menulis catatan perjalanan, Farid mengatakan itu tak bisa dilepaskan dari kerja-kerja jurnalistiknya. Mulai dari masa berkeliling Jawa Barat dengan sepeda motor hingga berlanjut tahun 1988 ketika ia mendapat fellowship ke Amerika Serikat dari The Asia Foundation. Di sana ia bertugas meliput tema-tema politik, tapi juga membuat tulisan-tulisan bernada perjalanan. Ia pernah menulis artikel soal skena jazz di New Orleans hingga arsitektur dan sejarah kota Boston.

“Tulisan perjalanan bukan hal baru, tetapi belakangan memang sedang mengalami pasang naik,” ujarnya saat kami berbincang di kantor media Geo Times tempatnya bekerja sekarang.

Hingga kini, tulisan-tulisan perjalanan Farid kerap seirama dengan kerja-kerja jurnalistiknya. Pada 2009 hingga 2010, ia bersama Ahmad Yunus, rekan sesama wartawan, melakukan ekspedisi ke sisi-sisi terluar Indonesia dengan sepeda motor. Ia membuat dokumentasi gambar, sementara Yunus bertugas menulis jurnal perjalanan. Tulisan Yunus kemudian terbit dalam bentuk buku berjudul Meraba Indonesia pada 2011. Mereka berjalan, mencoba mengenal Indonesia secara lebih dekat dan mendalam, serta berusaha merekam suara mereka di wilayah periferal yang acap diabaikan: para petani, nelayan, atau pedagang pasar.

Mengenai kualitas tulisan perjalanan yang sedang ramai belakangan, Farid bekomentar bahwa sebagian besar memang masih ditulis dengan kacamata pelancong, melihat sekadar permukaan dan tidak menggali lebih dalam. Namun Farid memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.

“Saya rasa kita tak perlu terjebak dalam kasta-kasta. Mana tulisan yang serius, mana yang kacangan. Semua disambut saja.”

Menurutnya wajar saja jika ada penulis baru yang pertama kali sampai puncak gunung, lalu menulis berbunga-bunga soal keindahan gunung.

“Nanti bersama bertambahnya pengalaman bepergian, tambah bacaan dan pengetahuan, seharusnya tulisannya berkembang.”

Farid sendiri terkadang ikut berkontribusi untuk buku-buku perjalanan populer yang digarap secara serius. Salah satunya seri antologi The Journeys yang diterbitkan GagasMedia mulai tahun 2011. Tulisan Farid, salah satunya, soal perjalanannya menelusuri jejak sejarah di Boven Digoel, Papua bagian selatan, tempat para aktivis politik diasingkan oleh pemerintahan Hindia Belanda akibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1926. Ia menulis tentang para tawanan yang harus melawan musuh tak terlihat—kesepian dan ketidakwarasan. Untuk Farid, ini adalah perjalanan refleksi sejarah terutama terhadap dua tokoh Kiri yang lantang melawan Belanda: Mas Marco Kartodikromo, jurnalis Indonesia, dan Thomas Najoan, tokoh serikat buruh percetakan di Surabaya.

“Kejahatan Belanda adalah menjebloskan mereka ke sana, di sisi lain adalah kejahatan kita juga untuk tidak mengingatnya. Karena itu saya tertarik untuk menuliskannya,” kata Farid.

The Journeys digagas Windy Ariestanty, pegiat narasi perjalanan. Antologi ini mengajak sejumlah penulis untuk mengisahkan perjalanan dalam narasi panjang. Saat itu, ketika penerbit-penerbit arus utama merilis lebih banyak buku perjalanan bertipe panduan dengan kemasan populer, The Journeys bisa dibilang sebuah hal baru.

“Dibandingkan tulisan jurnalistik lain saya, di The Journeys saya menulis lebih personal, lebih ada perenungannya. Saat Windy mengajak berkontribusi, saya mau saja. Saya suka tulisan perjalanan yang mengajak pembacanya ikut merenung. Mungkin karena saya mulai tua.” Farid terkekeh.

KAMI bertemu Windy Ariestanty untuk kali pertama setahun lalu. Saat itu ia mengisi kelas penulisan narasi perjalanan di toko buku kecil kami di Pasar Santa. Kami ingat ia muncul dengan rambut yang baru saja dicat biru. “Ini bagus untuk memulai percakapan, terutama dalam perjalanan,” katanya sambil tertawa.

Jika Farid Gaban bisa dibilang angkatan senior, Windy Ariestanty adalah generasi lebih baru dan lebih memfokuskan kerja kepenulisannya pada narasi perjalanan. Ia menulis buku perjalanan pertamanya, Life Traveler (2011), dan menjadi nominasi dalam Anugerah Pembaca Indonesia 2012 kategori nonfiksi. Ia menghabiskan sepuluh tahun kariernya sebagai editor di GagasMedia dan ikut menggagas ‘Writing Table’, sebuah kelas penulisan yang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.

Kami bertemu kembali dengan Windy di sebuah kedai kopi yang ramai di Jakarta. Sambil tertawa, ia menyebut kata “riuh” untuk menggambarkan situasi skena penulisan perjalanan saat ini.

Jumlah buku perjalanan yang terbit dan blog yang aktif semakin banyak. Di toko buku pun, buku perjalanan dengan gaya narasi mulai lebih banyak ditemukan ketimbang jenis panduan. Namun, sebaliknya, belum banyak kemajuan dalam hal pendekatan tema dan kualitas penulisan. Kami berpikir, dalam dekade terakhir ini, penulis buku perjalanan dengan kedalaman dan kualitas tulisan yang diakui baik masih belum bergeser dari karya-karya Agustinus Wibowo.

Ketiga karya Agustinus—Selimut Debu (2010), Garis Batas (2011), dan Titik Nol (2013), tidak hanya membuat pembaca mengenal lebih dekat dimensi-dimensi kehidupan di Afghanistan, Kazakhstan, atau India, tapi juga mendorong pembaca melihat lebih dalam pencarian Agustinus akan identitas diri dan makna rumah untuknya.

Menurut Windy, tujuan penulisan perjalanan bukan semata untuk membuat pembaca ingin pergi ke tempat yang ditulis. Tulisan perjalanan meminjamkan mata kepada pembaca, sehingga pembaca dapat turut serta merasakan apa yang dirasakan penulis, meresapi cara pandang yang ditawarkan, dan mendapatkan ‘rasa’ dari tempat yang diceritakan. Sebuah tempat memiliki banyak dimensi yang bisa digali dan ditampilkan. Untuk itu penulis harus merupakan pengamat yang baik, memiliki kepekaan yang tinggi, dan punya sudut pandang yang kuat.

buku-teddy-maesy

Beberapa waktu lalu, kami membaca novel perjalanan karya Teju Cole, Everyday Is for the Thief, yang mampu membawa pembaca merasakan kekerasan keseharian di Lagos. Berjalan di jalanannya yang ramai tanpa berani membuat kontak mata, berada di warung internet dengan pemuda-pemuda yang mengirimkan surat elektronik ke seluruh dunia dengan kedok menawarkan pembagian warisan, atau berada di ruangan yang sesak di pusat kota Lagos saat listrik padam di tengah malam, sementara di sudut lain seorang bayi menangis meraung-raung.

“Hal ini tidak mudah,” ujar Windy. “Si penulis harus terus berlatih dan rajin mengamati.”

Kami teringat sebuah tulisan Windy dari kunjungannya ke Bromo. Ia tidak bercerita tentang keindahan sama sekali; ia menulis interaksinya dengan Marsiti, seorang ibu lanjut usia warga desa di kaki gunung. Interaksi yang ditampilkan sederhana soal bagaimana Marsiti mengajari Windy membuat sambal mlandingan. Sebagai gantinya Marsiti meminta diajari Bahasa Inggris. Windy berkata ia sedang berlatih menulis narasi perjalanan dengan menempatkan dirinya di belakang dan lebih mengedepankan orang-orang yang ditemuinya; seperti Naipaul. Kami pikir ia cukup berhasil. Tulisannya memberikan panggung utama pada Marsiti. Windy meminjamkan matanya sehingga pembaca dapat lebih mengenal sosok Ibu yang gemar film India itu. Ia tidak mengajak pembaca untuk pergi ke Bromo. Ia mengajak pembaca menikmati interaksi-interaksi kecil sesama manusia.

Pekerjaan rumah dalam hal kualitas penulisan perjalanan memang masih banyak. Selain terjebak pada pola “lihat betapa indah tempat ini maka kau harus segera ke sini”, kreativitas dalam memilih struktur maupun sudut pandang pun masih monoton. Struktur kronologis “setelah ini lalu begitu” sudah terlalu jamak dan membosankan. Ada pula yang menunjukkan interaksi dengan penduduk lokal tetapi lebih menempatkan sebagai objek, sehingga tulisan lebih terlihat seperti usaha untuk menampilkan citra diri yang bersahaja. Kecintaan yang berlebih pada diri sendiri begini terkadang menyebalkan.

“Tapi tak apa. Menulis buruk jauh lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Bersama waktu, hanya yang mau berproses dan belajar yang akan bertahan, lihat saja,“ ujar Windy. Ia seorang kawan yang optimis.

PERKARA proses memiliki kerumitan sendiri. Ada perbedaan antara ‘penulis yang berjalan’ dan ‘pejalan yang juga menulis’. Mereka berangkat dari kepentingan berbeda. Penulis yang melakukan perjalanan menjadikan lawatannya bagian dari usaha melatih kepenulisan. Sementara pejalan yang menulis lebih menitikberatkan pada perjalanan itu sendiri. Di sini, banyak pejalan menempatkan tulisan sebagai sarana untuk menunjang industri perjalanan. Ia tidak terlalu menuntut tulisan yang mengupas masyarakat dan seluk-beluk sebuah tempat secara mendalam, cukup promosi keindahan atau hal-hal asyik untuk menarik orang berkunjung.

Belakangan ini Kementerian Pariwisata dan bermacam perusahaan memang gemar mengajak penulis perjalanan untuk melakukan kunjungan wisata, yang kemudian mempromosikan tujuan wisata atau produk tertentu. Biasanya perjalanan dilakukan bersama penulis dengan situs berpengunjung banyak atau akun media sosial dengan jumlah pengikut besar. Jadwal kunjungan di satu tempat biasanya cukup padat, singkat, dan beramai-ramai. Bulan November 2015, misalnya, Kementrian Pariwisata mengajak 50 orang penulis perjalanan dan pegiat media sosial untuk melakukan perjalanan ke enam destinasi—Lampung, Semarang, Surabaya, Lombok, Labuan Bajo, dan Bali—dalam waktu 16 hari. Tentu ini sah-sah saja. Tetapi ini bukan situasi kondusif untuk lahirnya tulisan perjalanan yang berwarna atau memiliki kualitas dan kedalaman yang baik.

Para penulis perjalanan juga tentu tak salah untuk mendambakan kesempatan bepergian cuma-cuma. Tetapi situasi ini membuat usaha melahirkan tulisan yang berbobot menjadi lebih rumit. Kami meyakini tulisan perjalanan yang berkualitas akan memiliki ide, alur, dialog, penokohan, deskripsi, hingga kedalaman yang baik. Tentu ada kualitas yang terkorbankan ketika penulis mengutamakan pemilihan judul atau uraian berdasar kemungkinan munculnya tulisan itu di baris atas mesin pencari.

Pengaruh industi terhadap penulisan perjalanan ini tak hanya terjadi di Indonesia; ini juga merupakan fenomena global. Elizabeth Becker dalam bukunya Overbooked: The Exploding Busines of Travel and Tourism mengatakan bahwa penulisan perjalanan telah menjadi sayap yang penting bagi industri pariwisata. Tujuannya satu dan hanya satu: membuat pelancong membelanjakan uangnya untuk melakukan perjalanan impian.

Frank Bures dalam narasi berjudul Branding Guyana menulis kritik terhadap tulisan perjalanan yang banyak beredar. Terhadap pertanyaan mengapa tulisan perjalanan kerap membosankan, Bures menjawab tajam: Karena itu bukan tulisan perjalanan; itu tulisan turisme belaka, dan turisme itu membosankan. Kritik Bures menjadi salah satu nominasi dalam tulisan perjalanan terbaik di Amerika Serikat tahun 2015.

“Saat industri mulai masuk, hal-hal memang cenderung menjadi lebih rumit,” ujar Windy.

Beberapa waktu lalu Windy mengajak kami menulis kisah perjalanan untuk promosi kartu kredit sebuah bank asing. Saat itu Windy bernegosiasi dengan pemberi kerja bahwa tulisannya akan berbentuk narasi dan kalimat-kalimat promosi takkan dibuat secara gamblang. Tulisan yang masuk pun ia sunting dengan ketat. Windy berkelindan dengan tuntutan pasar tanpa mau mengompromikan idealismenya terhadap jenis tulisan yang ia minati. “Menari di medan perang”—begitu istilah Windy untuk ketekunannya mengembangkan genre narasi perjalanan dan sikapnya terhadap pengaruh industri.

Saat kami bertanya apa dalam keriuhan ini ia hendak menulis buku lagi? Windy menggeleng.

“Aku masih mencoba mengasah terus kemampuan menulisku, juga mengajak orang-orang yang mau untuk berproses bersama-sama.”

Windy menyebut beberapa nama dengan tulisan perjalanan yang memberinya inspirasi: Susan Orlean, V.S. Naipaul, dan John McPhee. Menurutnya, kejelian penulis-penulis ini dalam menemukan cerita di balik hal-hal yang tampak dalam perjalanan memacunya untuk terus belajar menulis dan mengasah cara pandang.

Orang-orang yang disebut Windy membuat kami kembali berpikir. Pada dasarnya mereka bukanlah orang yang terlahir sebagai penulis perjalanan. Mereka adalah orang yang jatuh cinta pada dunia menulis, lantas menuliskan pengalaman berjalannya. Orlean adalah jurnalis New Yorker yang karya eksploratifnya tentang para pencuri anggrek langka mendapatkan banyak pujian. Naipaul dikenal penulis fiksi yang kemudian mendapatkan Nobel Sastra. McPhee diakui luas sebagai pionir penulis nonfiksi yang kreatif dan cakap memainkan struktur.

Senada dengan Windy, saat kami bertanya kepada Farid Gaban tentang tulisan perjalanan yang disukainya, ia menyebut buku Like The Flowing River karya Paulo Coelho. Buku ini berisi kumpulan tulisan perenungan Coelho tentang pelbagai ihwal—perjalanan, musik, hingga kebaikan dan keburukan. Tulisan-tulisan pendek sederhana, misalnya tentang pelajaran mendaki gunung yang dihubungkan Coelho dengan perkara kesulitan hidup.

“Terkadang tulisan perjalanan tidak harus yang megah-megah sekali, yang sederhana seperti ini pun jadi, asal bisa mengajak pembacanya ikut berpikir,” kata Farid.

Di antara riuh rendah ini, optimisme masih selalu muncul saat buku perjalanan yang menawarkan nuansa lain tetap bermunculan. Menjelang akhir 2015 terbit buku Melawat ke Timur karya jurnalis Kardono Setyorakhmadi. Kardono menuliskan catatan perjalanannya ke Maluku dan Papua untuk melihat praktik-praktik toleransi beragama. Ia menulis bagaimana Islam mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan setempat sehingga memunculkan keunikan dan benih toleransi. Bagaimana di Siri-Sori, Pulau Saparua, misalnya, sejumlah jejak adat masih terasa seperti tahlilan atau ritual ibadah lain yang menggunakan dupa.

buku-teddy-maesy-2

 

Kami pun bergembira mengetahui Agustinus Wibowo sedang memulai perjalanan panjangnya menuliskan buku baru. Agustinus akan mengunjungi perbatasan Indonesia, juga negara-negara tetangga dan daerah-daerah diaspora Indonesia seperti Suriname dan Afrika Selatan, untuk memahami makna Nusantara dalam arti luas. Ia ingin mendalami apa yang merekatkan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Seperti buku-buku Agustinus sebelumnya, identitas masih merupakan benang merah dari karyanya. Hanya saja, jika dalam karya sebelumnya ia lebih mencurahkan pencarian ke dalam dirinya, kini ia mencoba untuk sedikit ke luar, melihat identitas Indonesia-nya.

Tulisan perjalanan yang baik, seperti halnya tulisan di genre lain, akan dihasilkan oleh mereka yang memang terus mengasah kemampuan menulisnya. Mereka yang melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang diciptakan industri, dan hanya bekerja untuk kepenulisannya itu. Dalam kancah sastra dunia, banyak sastrawan besar yang juga menulis perjalanan. John Steinbeck, misalnya, di usia senjanya menuliskan perjalanan saat ia keliling Amerika bersama anjingnya yang bernama Charley. Di Indonesia pun geliat ini sudah ada. Seno Gumira Ajidarma, pada Juni 2015 menerbitkan Jejak Mata Pyongyang—catatan perjalanannya di Korea Utara pada 2002 saat ia menjadi juri pengganti untuk Festival Film Internasional Pyongyang. Di sana Ajidarma menulis pengamatannya terhadap macam-macam manusia yang ditemui serta gugatannya atas penindasan rakyat yang dilakukan oleh negara.

Tulisan-tulisan bernada promosi pariwisata tentu tidak salah. Namun genre penulisan perjalanan akan lebih semarak jika makin banyak penulis menantang dirinya menghasilkan karya yang memberi nuansa lebih bervariasi. Saat informasi tentang satu tempat belakangan makin mudah didapatkan—di media sosial, televisi, dan lain-lain, tulisan perjalanan dapat menyentuh pembaca dalam level yang lebih personal, dari hubungan yang tercipta antara pembaca dan pengalaman serta pergulatan pemikiran si penulis.

Kami teringat tokoh Charlie Skinner, wartawan idealis dalam serial The Newsroom. Skinner berkata bahwa ia menghasilkan kerja pemberitaan yang baik hanya karena alasan sederhana: Ia memutuskan untuk melakukannya. Menulis kami kira juga begitu. Tulisan yang baik, apa pun itu, dimulai dari si penulis memutuskan untuk menulisnya dengan baik. Seperti kata Windy di tengah perbincangan kami,

“Pada dasarnya penulis yang baik tidak akan membiarkan dirinya menghasilkan karya yang buruk.”*

 

______