BAGIKAN

21 naskah pilihan favorit kami tahun ini.

Pindai merilis 43 artikel sepanjang 2015. Panjangnya, bila dihitung, 94.735 kata dari 36 penulis yang mengisi tiga rubrik, yakni Reportase, Sudut Pandang, dan Analisis. Sebagian penulis ini tumbuh bersama publikasi cetak, sebagian lagi menemukan saluran penyampaian gagasan dan eksplorasi narasi lewat ruang daring—yang kami buka secara leluasa, tapi tetap berusaha disunting secara ketat.

Selain mempertimbangkan artikel yang paling banyak dibaca sepanjang tahun, kedua puluh satu naskah ini kami pilah berdasarkan keragaman topik, kedalaman substansi, perspektif kritis dan unik, serta cara menyajikan narasi. Kami mengurutkannya berdasarkan tanggal terbit secara kronologis.

Fajar RiadiTahun Suram Petani Tebu

Menyusuri lahan-lahan petani tebu di seputar Jawa Timur, reportase ini mengurai perkara harga lelang gula yang sangat anjlok di tahun 2014, tahun politik dan pergantian pemerintahan, di tengah cerita laten saban tahun tentang gencarnya impor gula rafinasi yang membanjiri pasar eceran.

Arif Akbar JP –  100 Hari Jokowi di Mata Media

Empat media daring memberitakan kebijakan awal pemerintahan baru Jokowi dengan merujuk kata kunci yang jadi tangkapan opini ramai di media sosial, seperti pelantikan Jaksa Agung dan Kapolri, slogan “revolusi mental”, isu maritim, mekanisme “kartu sakti”, pengurangan subsidi, dan langkah getol investasi.

Fatimah ZahrahBerkisahlah!

Keluarga minoritas Ahmadiyah yang selamat dari serangan mematikan di ujung barat Pulau Jawa pada 2011, lantas mengungsi ke pinggiran Jakarta, saling menguatkan dan menjalani kehidupan baru, seraya tak putus berharap negara mampu menjamin dan melindungi kebebasan beragama di Indonesia.

Nody ArizonaMengejar Kere Minggat

Pelbagai beleid yang mengatur “industri hasil tembakau” yang membunuh pabrik kretek skala kecil di Kudus membayangi nada cemas para petani tembakau di Jember dan Temanggung yang khawatir hasil pertaniannya tidak bisa lagi dinikmati anak cucunya ketika, di sisi lain, pemerintah terus menaikkan cukai setiap tahun.

Nurhady SirimorokMenjauhkan Orang Muda dari Desa

Rendahnya keuntungan dari usaha tani, kurangnya lahan, dan tingginya harga tanah pertanian menjadi halangan utama generasi muda desa membayangkan masa depan mereka bersama cangkul dan tanah di tengah ingar-bingar “bonus demografi”.

Rusdi MathariKereta Sudah Bukan untuk Kami

Manajemen kereta rel listrik di Jakarta “dimodernisasi” sembari menyingkirkan pedagang kaki lima, pedagang buah, dan penjual kursi bambu. Menjelaskan satu lanskap kekerasan simbolik ketika rezim politik dan estetik saling bertangkup.

Prima Sulistya WardhaniBersiap untuk Sebuah Akhir

Menemui beberapa agen dan pengecer surat kabar di sejumlah titik di Yogyakarta untuk melihat perubahan paling terasa dari menurunnya jumlah pelanggan dan pembeli terbitan cetak.

Wisnu Prasetya UtomoMemberedel Pers dari Masa ke Masa

Sejarah perkembangan pers di Indonesia tak terlepas dari hubungan antara pers dan sistem politik yang saling berinteraksi dan memengaruhi. Menjadi konteks latar dalam mengkaji perkembangan media di Indonesia.

Fitriyan ZamzamiQuran, Rima, Rap

Penjelajahan indah sekaligus misterius terhadap Alquran lewat pendekatan musik rap atau hip-hop untuk menyelami permainan kata, rima, makna, dan ritme, yang menegaskan kitab suci ini adalah puisi berkualitas.

Muhammad Nafi’Membaca Kitab Kuning

Kenangan santri kalong mengaji kitab kuning, dinamai pula “kitab gundul”, suatu tradisi pesantren yang memberi pemahaman bahwa teks keagamaan selalu punya konteks dalam alam pikir dan sosial masyarakat Indonesia.

Taufik Al MubarakHasan Tiro, Perawat Literasi Atjeh

Sosok yang kadung dikenal semata sebagai pendiri Gerakan Acheh Merdeka, tapi kerap luput sebagai pengarang dan kolektor buku yang tekun. Sangat terobsesi membuka kesadaran orang Aceh melalui pendidikan, tak hanya lewat tulisan, tapi juga kaset-kaset ceramah.

Fahri SalamPerjalanan Mencari Rumah

Jejak koleksi buku penulis dan peneliti korupsi George Junus Aditjondro di Yogyakarta ketika masa tuanya mengalami problem kesehatan yang serius. Menitipkan lebih dari dua ribu koleksi bukunya untuk dikelola komunitas Iboekoe.

Tri Agus S. SiswowiharjoMelawan Melalui Humor

Esai personal aktivis 1980-an yang melawan kekuasaan sengit Orde Baru—sering dipelesetkan menjadi Orde Bau—lewat jalan humor. Menelusuri buku-buku humor yang ditulis para jagoan satiris yang pernah dipunyai Indonesia, seperti Abdurrahman Wahid, Arwah Setiawan, Bambang Haryanto, Bur Rasuanto, Darminto M. Sudarmo, dan Mahbub Djunaidi.

Dewi Kharisma MichelliaSetia Bekerja di Pasar yang Sepi

Membicarakan dua penerbit yang terbitan-terbitannya mengoreksi wacana rezim pemerintahan Soeharto yang anti-Komunisme, mampu menarik pembaca loyal lewat komitmen serta gairah kerja mereka.

Anna MarianaGestok dan Kehancuran Gerakan Perempuan

Gerakan Wanita Indonesia mengajak perempuan melek politik dan aktif dalam pendidikan, dihancurkan lewat kampanye fitnah dari militer yang menuduhnya terlibat dalam penculikan para jenderal ketika huru-hara ’65‒’66, terkubur bersama dengan satu generasi perempuan intelektual di bawah represi pemerintahan patriark Orde Baru.

Dea AnugrahEfek Proust

Profil Nurul Hanafi, pengarang dan penerjemah, yang terpengaruh oleh karya-karya Kawabata dan novel terbesar abad ke-20.

Aan MansyurMario

Profil Mario F. Lawi, penyair muda dari Kupang yang sajak-sajaknya tumbuh dari pengalamannya sewaktu menjalani kehidupan seminaris, dalam momen silentium dan kental dengan khazanah biblis.

Ardyan M. ErlanggaSenjakala Media Cetak

Kesalahan manajemen, seretnya iklan, situasi ekonomi yang melambat, dan tren percepatan media digital telah bikin sulit surat kabar di Indonesia untuk bernapas, sebuah undangan untuk para wartawan untuk lebih serius menggarap infrastruktur jurnalisme di ranah internet.

Viriya ParamitaDi Balik Buku ‘Menjejal Jakarta’

Catatan pengalaman wartawan muda di awal-awal bekerja, dalam gairah yang meluap sekaligus lugu, mendorongnya untuk terus belajar. Kumpulan reportasenya terpilih sebagai penerima Hibah Buku Nonfiksi Pindai, terbit Desember 2015.

Anang ZakariaSengketa Tanah di Bumi Mataram

Politik lokal di Yogyakarta yang masih menerapkan aturan kolonial dan aturan diskriminatif terhadap warga Tionghoa ketika wilayah pinggiran dan kota Yogya makin dikepung oleh mal, apartemen, dan hotel, serta mengusir akses ekonomi pedagang kaki lima.

Teddy W.K. & Maesy Ang.‘Menari di Medan yang Riuh’

Pasangan Twosocks dan Gypsytoes merayakan buku-buku perjalanan seraya mencari kemungkinan tren penulisan perjalanan di Indonesia diiringi juga dalam segi kualitas dan tema variatif—tidak sekadar promosi turisme atau deskripsi tempat yang melulu indah.[]