BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 14 menit

Bagaimana orang-orang desa harus berurusan dengan korporasi besar dan negara.

“INI HARUS ADA yang berani mati ini, biar pemerintah terbuka matanya. Harus ada yang jadi martir dulu biar pabrik semen angkat kaki dari desa kita.” Dalam bahasa Jawa Joko Prianto berkata kepada teman-temannya yang sedang cangkrukan, nongkrong, di warung kopi Yu Sumi. Ia satu dari beberapa motor utama gerakan menolak pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Bukit Watu Putih, Pegunungan Kendeng bagian utara, Rembang, Jawa Tengah.

Suwater, duduk di seberang  Prianto, tersenyum menanggapi ucapan itu. Kundono yang duduk di sebelah saya mulutnya ternganga. Di meja lain, pemilik warung beserta suaminya mengikuti percakapan.

“Kalau kamu saja bagaimana, Kam?” tanya  Prianto kepada Kamidan, suami Yu Sumi. Yang ditanya reaksinya sama seperti Suwater, memamerkan barisan giginya.

“Kamu saja, Peng!” kata Yu Sumi yang sedang hamil besar. Prianto sejak kecil biasa dipanggil Prin, tapi kawan-kawan akrabnya lebih sering memangil Peng, kependekan dari kerempeng karena perawakannya yang kurus.

“Kalau saya mati, nanti yang memberi makan anak saya siapa?”

“Lho, ya, kalau suami saya yang mati, nanti yang memberi makan bayi yang saya kandung ini siapa?”

“Kamu bagaimana, Ter?” Prianto kembali pada karib di hadapannya. Lagi-lagi Suwater tidak menjawab, hanya mengisap rokok dalam-dalam lalu kembali senyum.

“Ini sungguhan, rek! Sudah dua tahun perjuangan kita dan hasilnya belum kelihatan. Kayaknya kita harus bikin aksi di depan gubernuran, bawa tiang gantung. Empat atau lima orang gantung diri. Setelah kayak gitu, baru mungkin pemerintah mau sadar. Kalau tidak, ya, berat ini, rek!”

Hening. Tawa yang beberapa saat lalu masih memenuhi ruangan itu kini hilang tak bersisa. Suwater bahkan tak lagi tersenyum, matanya kosong mengarah pada bara api ujung rokoknya. Kundono memainkan telepon genggam seolah itu bisa mengurangi kekikukan.

“Memangnya kalau mengikuti proses hukum bakal masih lama ya, Mas?” saya mencoba memecah kebisuan.

Prianto mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Enggak tahu, Mas. Lama banget, bisa jadi. Kambing tinggal dua, ayam sudah mau habis. Duh!”

WARUNG KOPI YU Sumi terletak di tengah-tengah Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang. Letaknya di sebelah selatan jalan utama desa, yang menghubungkan Tegaldowo dengan Desa Timbrangan di baratnya.

Pada Sabtu menjelang malam di pengujung Januari 2015 itu Tegaldowo sedang mati lampu. Meski semuanya jomblo, anak-anak muda yang berkumpul bersama saya malam itu tidak ada yang memikirkan soal malam minggu tanpa pacar.

Jauh dari bayangan anak-anak kota generasi Twitter yang doyan galau, mereka bahkan tidak memusingkan listrik yang mati bermalam-malam. Listrik yang kadang menyala di siang hari mereka manfaatkan untuk mengisi daya telepon genggam yang diperlukan agar komunikasi bisa terus jalan.

Warung kopi itu warung rumahan khas desa. Pelanggan duduk di ruang utama dalam rumah. Teras rumah yang berbatasan langsung dengan jalan hanya selebar satu meter, dipakai untuk parkir sepeda motor—itu pun harus dengan posisi miring, terutama untuk motor besar. Di ruang utama, sebuah meja panjang membujur dengan satu bangku panjang di sisi kirinya yang muat untuk empat hingga lima orang dewasa. Ada televisi 14 inci yang kerap dipakai memutar video dangdut koplo bila listrik sedang menyala.

Lampu teplok dan beberapa batang lilin dinyalakan ketika gelap telah sempurna. Obrolan seputar perjuangan warga terus berlanjut. Sesekali mereka memeriksa ponsel masing-masing, terutama Prianto yang hampir setiap lima menit menerima pesan masuk. Bunyi dering ponselnya mencolok, berupa dentang lonceng pertandingan tinju yang disetel dengan kenyaringan maksimal.

Prianto dan Suwater membicarakan atap tenda ibu-ibu di tapal pabrik yang belum diganti sejak pertama berdiri tujuh bulan lalu. Ibu-ibu sudah mengeluhkan beberapa bagiannya yang bocor. Mereka berencana membeli terpal pengganti besok sekaligus menimbang-nimbang ide untuk pergi ke Kepolisian Resor Rembang untuk menindaklanjuti kasus kekerasan polisi terhadap beberapa warga. Mereka juga berencana datang ke Lembaga Bantuan Hukum Semarang, lembaga yang mendampingi warga melakukan tuntutan kepada Semen Indonesia.

Selepas membicarakan urusan ini-itu mereka kembali menyesap kopi dan mengisap rokok dengan nikmatnya, lalu ngobrol-ngobrol ringan tentang hal-hal lucu yang mereka lewati. Sejenak mereka terlihat lepas dari beban.

Beberapa jam lalu Prianto dan Kundono baru saja tiba dari Blora. Keduanya pulang membawa stiker-stiker perjuangan yang bertuliskan “LAWAN PABRIK SEMEN! #saverembang” dan “WASPADA! Gunung ditambang, bencana datang. #SaveRembang”.

Saya tiba di Tegaldowo empat hari lalu berkat jasa Kundono. Tidak ada angkutan umum menuju Tegaldowo, 35 kilometer dari Kota Rembang, apalagi di malam hari. Warga kebanyakan menggunakan sepeda motor pribadi sebagai moda transportasi sehari-hari. Biasanya ibu-ibu berangkat ke Pasar Gunem dengan menumpang pikap milik salah seorang warga. Dengan bus jurusan Semarang-Surabaya, saya tiba di Lasem pada dini hari. Kundono lalu menjemput dengan sepeda motor pinjaman. Kami menempuh 28 Kilometer yang berkelok-kelok dengan kanan-kiri yang gelap.

“Ini hutan jati, ya, Mas?” tanya saya dalam perjalanan setelah bisa mengenali pohon-pohon yang menjulang di kanan-kiri kami.

“Iya.”

“Punya warga?”

“Dikit yang punya warga. Sebagian besar punya Perhutani.”

Kami sampai setelah perjalanan sekira setengah jam melalui jalan penuh lubang; jalan yang sehari-hari dilalui konvoi truk pengangkut alat-alat berat calon pabrik semen.

PRIANTO SEDANG BERADA di luar kota pada hari ketika aparat negara untuk kali pertama memukuli ibu-ibu dari Tegaldowo dan Timbrangan di tapak pabrik PT Semen Indonesia. Di hari nahas itu pula para ibu tersebut memutuskan untuk bertahan di lokasi sampai PT Semen Indonesia menarik diri dari Pegunungan Kendeng; sesuatu yang bila terjadi pun kapan terjadinya tidak bisa diperkirakan.

Warga baru tahu pada malam 16 Juni 2014 bahwa Semen Indonesia mau meletakkan batu pertama keesokan harinya. Sebenarnya warga telah tahu akan ada acara yang diadakan Semen Indonesia hari itu, 17 Juni, tetapi bukan tentang peletakan batu pertama yang menandai dimulainya pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang. Dalam publikasi resminya jauh-jauh hari, spanduk yang disebar Semen Indonesia hanya menyebut acara itu “Gelar Doa bersama untuk Rembang”.

Akan tetapi, sepandai-pandainya pabrik semen menyimpan bangkai, toh tercium juga.

Begitu mendengar rencana peletakan batu pertama, beberapa orang mendatangi rumah-rumah warga untuk menggelar rapat dadakan. Warga dua desa, Tegaldowo dan Timbrangan, langsung berkumpul. Pertemuan itu melahirkan kesepakatan untuk melakukan aksi pemblokiran keesokan harinya.

“Itu rangkaian panjang setelah kami melakukan aksi protes, audiensi, dan diskusi dengan pihak-pihak terkait, yang ternyata tidak ada respons,” kata  Prianto yang baru pulang ke desanya pada tanggal 17. Dia tidak ikut aksi pemblokiran, kejadian yang disebutnya “puncak kekesalan warga”.

“Saya juga enggak tahu siapa yang mengunggah video bentrok di YouTube. (Sejak itu) pemberitaan mulai ramai,” ujarnya.

Kabar rencana pembangunan pabrik semen sudah tersiar sejak pertengahan 2012. Prianto bersama lima kawannya sudah bolak-balik bertanya ke pemerintah desa mengenai kejelasan isu itu, juga terang-terangan menyatakan penolakan. Sambil protes, mereka mulai mengorganisir pemuda kampung untuk menolak.

Akan tetapi, usaha itu tak membuahkan hasil. Mentok di desa, pada 17 April 2013 mereka mulai berdemonstrasi di kantor Bupati Rembang, juga mengirim surat ke Presiden Yudhoyono. Selain itu warga mulai rutin melakukan perlawanan lewat istigasah atau pengajian yang digelar di desa-desa.

Lantaran kegiatannya, Prianto dan kawan-kawan kerap diintimidasi. Dari peringatan halus perangkat desa hingga ancaman kasar preman dan polisi. Mereka dituduh komunis. Dari mulut ke mulut disiarkan kabar, “Hanya orang-orang komunis yang melawan pemerintah.”

“Kira-kira September 2013, setiap minggu kami sering aksi di Rembang. Beberapa kali di Semarang. Terus begitu sampai tahun depannya. Tapi, sampai sekarang pun pemerintah belum menyikapi secara serius,” kata  Prianto.

PADA HARI PELETAKAN batu, Suwater menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kebrutalan polisi menghajar ibu-ibu dari desanya. Kalau bukan karena ingat pesan para tetua agar jangan macam-macam dan tidak melakukan apa pun kecuali mengambil gambar, ia tentu sudah melesakkan tendangannya yang paling bertenaga ke muka para polisi itu. Ia sebenarnya tidak tahan mendengar jeritan para ibu yang dianiaya polisi. Namun, ia menahan diri, berusaha fokus pada tugas dokumentasi.

Memotret pun tak berjalan lancar. Baru dapat belasan foto, tiba-tiba seorang polisi menghardik di depan hidungnya.

“Heh, kamu! Media dari mana?”

“Saya media dari warga.”

“Kalau media dari warga, mana kartu persnya?”

“Saya enggak ada punya kartu pers, Pak. Saya hanya mendokumentasikan aksi ibu-ibu.”

Lalu Water diringkus, digiring ke mobil patroli. Ketika disuruh naik mobil, ia menolak dan berkeras berdiri di bawah.

“Tahu-tahu ada yang buka tas saya. Di situ saya agak emosi, saya marah, berontak. Buka-buka tanpa izin! Polisinya balik marah dan mengancam, awas kalau ada senjata tajam. Saya tantang balik, buka saja.”

“Setelah dibuka, isinya cuma sarung sama Aqua.”

Suwater tersenyum puas penuh kemenangan. Meski akhirnya ia terpaksa menyerah, ditahan di dalam mobil patroli selama empat jam. Pukul dua siang Water dibebaskan.

Lain Water, lain pula Deban. Bujangan tinggi besar usia 32 tahun itu meronta-ronta ketika lima polisi menangkapnya. Tak tanggung-tanggung, perintah penangkapannya langsung keluar dari mulut Kepala Satuan Intelijen Kepolisian Resor Rembang. Deban dituduh provokator, dan ia melawan.

Pagi itu Deban memang orang yang paling bikin pusing polisi. Ia mengatur titik kumpul massa aksi, memberi komando agar ibu-ibu hilir mudik sebelum pemblokiran.

“Kalau polisi sudah duduk-duduk, saya komandoi ibu-ibu untuk pindah. Mereka pada bangun lagi. Saya bikin mondar-mandir, biar polisinya bekerja,” kenang Deban terkekeh-kekeh.

Karena aksinya yang menarik perhatian, beberapa polisi mendekat dan bertanya, “Kamu siapa?”

“Ya saya kenalin, saya Ngatiban,” katanya.

Tak cukup sekali mengakali para polisi, setelah ditangkap, Deban kembali beraksi.

“Pak, saya mau izin ambil motor saya di bawah,” katanya setelah beberapa saat duduk santai di mobil tahanan.

Ndak boleh,” jawab polisi yang jaga.

“Kalau ndak boleh, kalau motor saya hilang, Bapak yang tanggung jawab ya….”

Entah karena ancaman Deban membuat ciut atau memang si polisi berbudi baik sesuai nilai-nilai Pancasila, Deban diizinkan dan diantar ambil motor, kemudian dibiarkan mengendarainya sendiri kembali ke mobil patroli. Tiba di sana ia melihat peluang kabur karena si polisi alih-alih langsung menyuruhnya naik mobil, justru berbalik melihat ke lapangan tempat aksi pemblokiran sedang berlangsung. Deban tidak membuang waktu untuk melarikan diri.

“Ya, saya kabur. Lolos,” kata Deban penuh tawa kemenangan.

Ketika senja datang, acara peletakan batu pertama telah usai. Ibu-ibu berikrar tidak akan pulang sebelum Semen Indonesia menarik alat-alat beratnya. Polisi mulai kalap dan main ancam. “Kalau ada bapak-bapak yang ketahuan ngumpet di semak-semak, akan langsung kami tembak.”

Barisan polisi pun mengadang di jalan masuk menuju tapak pabrik. Mereka yang datang membawa makanan, minuman, dan obat-obatan langsung diusir dengan bentakan dan hunusan senapan.

Situasi mencekam. Hingga menjelang Isya, tidak ada kontak sama sekali antara ibu-ibu di tenda dan para suami mereka di desa.

Akan tetapi, Deban lagi-lagi memecah kebuntuan dan menjadi mimpi buruk bagi gerombolan polisi. Ia berhasil menyusup dari semak ke semak menuju tenda. Berkat Deban, kontak antara tenda dan desa bisa terjalin.

PAGI-PAGI SEKALI ibu-ibu sudah berkumpul di Posko Tolak Semen. Posko itu berdiri dua minggu sebelumnya, 1 Juni 2014, di tanah milik Sukinah, dekat warung kopi Yu Sumi. Warga bergotong-royong mendirikannya. Belakangan, setelah solidaritas tolak semen makin meluas, banyak seniman yang turut ambil bagian dalam memperindah posko. Dinding-dindingnya ditempeli aneka ragam poster peduli lingkungan dan tolak semen yang dipadukan dengan kata-kata perlawanan nan apik.

Pukul setengah tujuh, delapan puluhan orang yang semuanya ibu-ibu telah bersiap melakukan aksi kembali di tapak pabrik. Dua truk ukuran mengantar mereka bergerak ke sana.

“Kami melakukan aksi penolakan pabrik dan tambang semen. Enggak ada bapak-bapak, untuk mengantisipasi gesekan dengan aparat. Selain itu, lahan kan diumpamakan seperti perempuan. Jadi, kami yang maju mempertahankan tanah kami,” kata Sukinah.

Setelah mondar-mandir selama tiga jam di bawah komando Deban, pada pukul sepuluh mereka mulai memblokir. Truk tangki air pabrik yang mau lewat mereka adang dengan duduk di atas lesung yang diletakkan di tengah jalan. Untuk menyingkirkan adangan, tanpa banyak basa-basi polisi langsung mengangkati ibu-ibu yang duduk di tengah jalan itu, kemudian melempar mereka ke semak-semak. Para ibu itu menjerit histeris.

Dua ibu pingsan karena dilempar. Namun, ada saja oknum polisi yang bilang itu pura-pura. Sambil menolong yang pingsan, ibu-ibu berkeras bertahan di tengah jalan meski beberapa kali dilempar dan disingkirkan. Keadaan semakin kacau.

Aksi pembubaran oleh polisi semakin mengganas. Semakin tinggi matahari, semakin mereka kasar dan semakin kehilangan akal, sampai-sampai salah tangkap.

“Korlapnya mana? Korlapnya mana?” teriak Kasad Intel Polres Rembang mencari koordinator lapangan aksi setelah satu jam lebih tak berhasil memukul mundur ibu-ibu.

“Tapi, waktu itu saya belum tahu korlap itu apa. Jadi saya diam saja,” kenang Sukinah, “yang mau ditangkap itu sebenanya saya, tapi malah Bu Yani yang ditangkap.”

Yani adalah salah seorang dari puluhan ibu-ibu yang merasakan keberingasan polisi. Ia berada di barisan terdepan saat mereka mengangkat lalu menduduki lesung besar yang melintang di jalan. Yani termasuk yang pertama diangkat dan dibuang ke siring bersemak.

“Ada yang diangkat oleh dua orang, ada yang tiga, ada yang empat, tergantung berat ibu yang diangkat. Saya digotong dua orang, terus dilempar di pinggir jalan,” katanya.

Meski kelihatannya mustahil untuk kembali ke barisan, Yani tetap bertekad kuat kembali menguatkan blokade. Polisi yang diturunkan hari itu jauh lebih banyak dari jumlah ibu-ibu, gabungan dari Polres Rembang, Polsek Gunem, dan Polsek Sale. Mereka ada sekitar dua kompi.

Ketika berusaha menerobos barikade polisi, ia melihat celah kecil yang masih mungkin dilaluinya: dua kaki polisi yang jaraknya agak renggang.

Sementara polisi semakin mudah naik darah. Beberapa ibu dipukuli. Berang karena belum juga menemukan korlap yang bertanggung jawab atas aksi blokir, mereka pun asal tangkap. Malang bagi Yani yang aksi penerobosannya mengundang banyak perhatian, ia dituduh provokator, dianggap korlap.

“Ini provokator ini, harus ditangkap ini!” kata seorang polisi sambil menunjuk Yani.

Habis dibilang provokator, ia diangkat dua polisi lalu diseret beberapa meter sampai sandalnya copot.

“Ada polisi yang teriak, ‘ngikut aja, Mbak, ngikut.’ Tapi, saya tetap berontak. Itu posisi udah enggak pakai alas kaki, pas diseret-seret itu enggak pakai alas kaki. Luka sih enggak, cuma sakit.”

Yani meronta-ronta dan berteriak kesakitan. Ia digotong lagi. Sempat ada polisi yang mencekik lehernya. Sampai di mobil patroli, ia mendapati sejumlah temannya sudah ditahan lebih dahulu: Suwater, Deban, Supiyon, Susilo, dan Nurwanto

Masuk waktu salat Zuhur, Yani minta izin salat, tapi tidak diperbolehkan. “Izin sama Kasad Reskrim, Mbak,” kata polisi yang jaga.

“Orangnya yang mana? Salat saja kok mendadak harus izin tho, Pak?”

“Saya ini tugas, Mbak. Nanti diamuk atasan saya.”

RUMAH SUKINAH KUSAM dan tua. Dindingnya yang terbuat dari papan tampak menghitam, berdiri di atas fondasi setinggi lima puluh sentimeter dengan dua anak tangga di muka teras. Setengah ruang depan dilantai semen adukan, tampak pecah-pecah di beberapa titik. Setengah lainnya, tempat satu meja panjang membujur bersama dua bangku, berlantai tanah.

Ketika saya datang pada Jumat malam, lantai semen itu digelari tikar plastik bergambar Manchester United. Sebagian besar sablonannya telah terkelupas. Saya duduk di kursi panjang yang bersandar di dinding kanan rumah. Di seberang saya terdapat dua kamar, salah satunya gordennya terbuka sehingga terlihat ranjang berkelambu. Kamar sebelahnya, kamar paling depan, dimanfaatkan sebagai warung.

Di dinding rumah dipajang beberapa foto dan gambar: foto Sukinah seluruh badan dan gambar seorang tua berjanggut yang saya duga Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang ulama legendaris dalam dunia tarekat Islam. Ada juga foto Sukinah bersama Presiden Jokowi dan beberapa orang lainnya.

“Itu foto waktu saya ketemu Jokowi di kantor Gubernur DKI, sebelum dia dilantik jadi presiden,” terangnya.

“Ngomongin apa saja sama Jokowi?”

“Ya, ngomongin semen ini.”

“Jawaban Jokowi?”

“Katanya sejak dari Solo dia sudah mengikuti isu semen di Jawa Tengah. Waktu itu dia bilang lagi akan mempelajari lengkap. Nanti kalau sudah dilantik dia tindak lanjuti. Semoga ucapannya dia buktikan ya, Mas.”

Sukinah menyambut saya dengan hangat. Beberapa bapak datang bertamu ke rumahnya, duduk di atas tikar plastik, menghadap televisi yang sedang menyiarkan film Jackie Chan, Around the World in 80 Days. Sukinah bangkit ke dapur untuk membuatkan kopi bagi tamu-tamunya. Dalam hati saya mengutuk Jackie Chan yang menghina mahakarya Jules Verne. Kisah dalam buku legendaris Verne itu diubah Chan menjadi jejalan adegan slapstick dan perkelahian. Namun, bapak-bapak itu terlihat senang dan bersemangat. Pelan-pelan saya berusaha memaafkan aktor Tiongkok itu.

Film disela pariwara. Bapak-bapak terlibat obrolan seputar penggalangan dana yang seminggu sebelumnya dilakukan di Yogyakarta. Sesekali terdengar suara Sukinah menimpali dari dapur. Tidak tampak beban mereka yang sedang melawan raksasa sebesar Semen Indonesia. Mereka memang berjuang, sebisa mungkin melindungi lahan pertanian mereka agar jangan sampai dirusak orang luar, tapi selebihnya mereka tetap menjalani hidup tanpa kehilangan selera guyon.

Sukinah datang dengan enam gelas kopi, termasuk untuk saya. Jackie Chan kembali beraksi. Betapa sederhananya orang-orang Tegaldowo menikmati hidup: minum kopi, mengisap kretek, menonton televisi….

SEBELUM PERISTIWA 16 Juni 2013 Sukinah tidak penah membayangkan akan bertahan di tapak pabrik sebagaimana ia tak menduga aksinya bakal kena gebuk polisi. Keputusan untuk bertahan di tapak pabrik diambil secara spontan karena tak menyangka aparat begitu represif. Pada sore hari ketika mereka menduduki tapak pabrik untuk kali pertama, spontan saja Sukinah berikrar tidak akan mundur sampai pabrik semen hengkang dari tanah kelahirannnya. Ibu-ibu lain mengikuti sumpah Sukinah.

“Tenda-tenda juga dibikin seadanya. Kalau di truk kan banyak terpal, buat tikar, buat duduk, nah itu yang dipakai. Bambu-bambu diambil dari hutan,” kata Sukinah.

Hal lain yang tidak Sukinah sangka, apa yang dilakukannya bersama ibu-ibu Tegaldowo dan Timbrangan mendapat simpati yang luar biasa dari banyak pihak. Sukinah bersyukur, solidaritas untuk warga Kendeng mengalir dari berbagai penjuru; dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan lain-lain.

Beberapa hari setelah tenda berdiri, Camat Gunem datang ke lokasi. “Aku lupa tanggalnya. Pak Camat datang katanya mau nengok ibu-ibu. Sehat-sehat apa gimana? Terus Pak Camat ditanyain (mengenai semen), gagap gitu. Pak Camat itu enggak bisa jawab,” kata Sukinah.

Dua hari kemudian, Pelaksana Tugas Bupati Rembang Abdul Hafidz datang. Ialah orang yang meresmikan kegiatan pabrik semen beberapa hari sebelumnya. Ia bertanya kepada para ibu, apa saja tuntutannya? Mereka memintanya menarik alat berat. Ia berkilah tidak punya wewenang, tapi ia catat itu dengan saksama. Katanya akan disampaikan ke atasannya.

“Atasan yang mana saya enggak tahu. Mungkin nyangkut di pohon ya, Mas,” ejek Sukinah.

Para ibu lalu merubungi dan memegangi Abdul sampai lepas Magrib. Ia sempat pula diajak bersama-sama ke tapak pabrik. “Dia mau naik mobil, kami pegangi lagi. Pokoknya harus jalan. Biar merasakan sakitnya pejuangan ibu-ibu. Sakitnya bumi itu gimana.”

Sepanjang perjalanan itu Abdul cuma mengulang-ulang apa yang telah ia katakan sebelumnya. “Katanya dia enggak wewenang, gitu. Yang wewenang itu Pak Gubernur, gitu. ‘Ini bukan wewenang saya, bukan wewenang saya,’ gitu….”

Pada 27 Juni 2013, giliran Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang datang. Sambil berkacak pinggang, begitu sampai ia langsung membentak, “Mulehlah, oralah (pulanglah, jangan beginilah)!”

Ganjar kemudian bertanya, “Apa ibu-ibu sudah baca Amdal?”

Sukinah memang diam ketika Ganjar menanyakan itu, tetapi di hadapan saya, mengingat perilaku gubenurnya, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahan.

“Ganjar tanya ibu-ibu yang mukanya kayak gini, kok tanya Amdal? Yang bodoh itu Ganjar atau ibu-ibu petani? Kalau ibu-ibu ditanya apa sudah mencangkul, apa sudah ambil rumput, mungkin ibu-ibu bisa jawab. Tapi tanyanya Amdal!? Yang bodoh itu Ganjar-nya atau ibu-ibunya?

“Seharusnya Ganjar itu ya mikir, Amdal itu yang bikin ya siapa? Kalau yang bikin petani, ditanyain gitu ya mungkin pantes. Lumrah. Dari kapan ada Amdal itu, kami ndak tahu. Ndak pernah dikasih tahu. Lha aku sendiri ya bingung, Amdal itu seperti apa? Makanan apa? Kalau aku sendiri, Amdal itu ya lahan kami sendiri. Lahan yang harus kami pertahankan.

Padahal waktu kampanye itu Ganjar bilang, Jawa Tengah mau dibikin ijo royo-royo, Jawa Tengah Berdikari. Kok Jawa Tengah mau ditanami tambang?

Katanya ndak korupsi, ndak ngapusi (tidak bohong). Ternyata ngapusi. Kalau korupsinya ndak tahu ya, Mas. Ngapusine sing mestising wis ketok, wis keruan (Bohongnya yang sudah pasti, yang sudah tampak, sudah jelas).”

Sukinah berhenti sejenak, menarik napas dan melepaskannya tergesa-gesa, lalu meminum air putih.

“Pemilihan gubernur kemarin warga sini kebanyakan pilih Ganjar, Bu? “ tanya saya.

“Iya, semua pilih Ganjar. Harapannya, mungkin ndak seperti Bibit (gubernur Jawa Tengah sebelumnya). Katanya ndak korupsi, ndak ngapusi. Tapi, ternyata ngapusi.”

Dari Juni hingga akhir September 2014, Sukinah tidak pernah pulang ke rumah. Pergi dari tenda hanya sekali saat pemilihan presiden, sesudahnya langsung kembali ke tenda. Ia sama sekali tak pernah menengok keadaan rumahnya.

“Baru pas ada jadwal piket di tenda saya bisa pulang ke rumah.”

MINGGU SORE DI pengujung Januari hujan turun rintik-rintik di tapak pabrik. Tidak terlihat aktivitas berarti dari tenda ibu-ibu Tegaldowo dan Timbrangan. Beberapa ibu terlihat keluar dari tenda utama menuju tenda kecil di sebelah utara. Tenda kecil itu sepertinya difungsikan sebagai toilet.

Di selatan tenda, beberapa satpam pabrik terlihat hanya duduk-duduk malas di poskonya. Begitu pula polisi di sebelah timur tenda. Saya berteduh di sebuah gubuk milik warga, tempat dua orang polisi tengah tiduran di dalamnya. Mungkin mereka lelah. Di hadapan saya, membentang hijaunya padi yang mulai mengeluarkan bulirnya.

Tanpa peduli hujan, sepasang petani tua masih sibuk menyiangi rumput. Capung-capung beterbangan. Sepasang capung terlihat bercinta sambil terbang. Hebat juga. Kalau pabrik semen jadi beroperasi, saya tidak tahu apakah sepasang capung itu masih bisa bercinta di sana. Saya kembali mengalihkan pandang ke tenda ibu-ibu yang sudah bertahan di sana selama tujuh bulan.

Saya teringat film Where Do We Go Now, bercerita tentang ibu-ibu di sebuah desa di Lebanon yang berjuang mati-matian agar suami dan anak-anak mereka tidak saling hantam hanya karena perbedaan agama, Islam dan Kristen. Mereka mengenyahkan televisi yang banyak mengabarkan perang, mengubur senjata, hingga mengundang pekerja seks komersial dari kota untuk menyemarakkan suasana desa dan mengalihkan perhatian.

Saya kembali ke pemandangan hijau sawah, mencari-cari sepasang capung yang tadi bercinta. Ratusan capung masih bermain-main di sana. Saya tidak tahu apakah mereka masih akan tetap di sana bila bebatuan Pegunungan Kendeng diledakkan pekerja pabrik. Saya kehilangan jejak, tidak lagi menemukan sepasang capung yang bercinta. Semuanya sudah terbang sendiri-sendiri. Saya teringat masa kecil di desa yang kini diserbu perkebunan sawit.

1 September 2014, warga penolak semen ini menggugat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai pemberi izin kepada Semen Indonesia di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang. Pada 16 April 2015, lima hari sebelum Hari Kartini, hasilnya keluar: warga kalah. Saya teringat Where Do We Go Now lagi, mengenang ketegaran ibu-ibu Tegaldowo dan Timbrangan yang masih akan terus berjuang. Mau ke mana kita sekarang?[]

 

Catatan: naskah ini juga termuat dalam buku Arlian Buana, Merry Christmas, Felix Siauw!, terbit Desember 2015. Versi yang ada baca ini sudah melalui penyuntingan ulang.

 

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF:

  • Seng Seng Khoe

    Inilah yang umum terjadi di negeri ini, rakyat yang memprjuangkan dan mempertahankan haknya kalah oleh kerjasama penguasa dan pengusaha.

  • Bastian Hidayat

    Lha sampeyan ini orang mana? Orang Rembang bukan? Orang Jawa Tengah bukan? Jangan kewanen lhoh. *macak Ganjar*

  • Sprei Batik Pakaian

    Kisah nyata tsb(Orang-orang Tegaldowo) terhenti di 16 April 2015,dan saat ini adalah 15 Oktober 2016.
    Tentunya cerita dan kisah yg mereka alami bertambah dari peristiwa demi peristiwa.
    Hingga kemenangan mereka semua pd 05 Oktober 2016 yang lalu.

    Tidak seru dan tidak utuh jika sejarah tsb tidak di tuliskan,dikisahkan,diuraikan secara lengkap di sini.
    saya katakan sejarah….karena perjuangan mereka tidak kalah dari perjuangan para pendahulu merebut Indonesia dari penjajah.
    harta,keringat,airmata,darah, bahkan nyawa pun di pertaruhkan.

    Ulasan yg amat sangat menarik,di susun bak novel romantis….
    membuat saya penasaran akan episode berikut nya.
    saya yakin… sejarah warga Rembang dlm memperjuangkan hutan gunung dan wilayah mereka dari penjajahan kapitalisme akan menjadi kenangan yg abadi bg anak cucu mereka,kita kelak.

    peristiwa yg akan menjadikan generasi penerus betapa pentingnya kebersamaan akan gotong royong, rasa kemanusiaan thd sesama,alam lingkungan sekitar.
    bukan semata-mata hanya untuk urusan perut sendiri.

    saya yakin pula ….peristiwa yg amat bersejarah ini suatu ssat pasti akan di dokumentasikan dlm sebuah layar lebar dgn fakta yg sebenarnya.

    saya tunggu ulasan selanjutnya Pindai.org

    Salam berkarya …demi kelangsungan hidup dan kelestarian alam..untuk kita dan anak cucu kelak. Merdeka!!!