BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 5 menit

Media and Terrorism: Global Perspective
Des Freedman & Daya Kishan Thussu (editor)
SAGE Publications (London, 2012), 336 hal.

 

ADA banyak pertanyaan yang mengganjal ketika menyaksikan dan membaca berita-berita mengenai aksi terorisme di kawasan Thamrin, 14 Januari lalu. Misalnya, mengapa TV One buru-buru memberitakan ada ledakan di beberapa tempat? Meski kemudian diralat, tidakkah berita semacam itu sudah lebih dari cukup untuk memicu kepanikan massal? Kenapa Tribun Medan membuat berita yang mempertanyakan jenazah pelaku teror dalam keadaan tersenyum?

Apakah sampul muka majalah Tempo yang menampilkan pelaku teror menembak polisi tidak membuat polisi tersebut mengalami trauma jika melihatnya? Apakah pilihan CNN Indonesia menghadirkan Muhammad Jibriel adalah bentuk media menjalankan prinsip cover both sides, atau justru memberikan ruang bagi para pelaku teror jika melihat rekam jejak narasumber itu?

Liputan media tentang isu terorisme kerap memancing perdebatan dan diskusi yang substansial, dari perkara etis sampai ekonomi politik media, dari perang wacana sampai stereotip yang diskriminatif.  Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dalam Panduan Jurnalis Meliput Terorisme (2011) pernah menyebut wartawan (dan tentu saja media) memiliki setidaknya sembilan problem dalam peliputan terorisme—di antaranya kerap lalai melakukan verifikasi, melepaskan peristiwa dari konteks besar, dan sering mendramatisasi keadaan.

Kalau dirangkum, ada dua isu besar ketika mendiskusikan hal ini. Pertama, pelbagai problem media dalam memberitakan terorisme yang terburu-buru menyimpulkan seseorang terlibat dalam aksi teror. Kedua, aksi teror sendiri kerap memanfaatkan media untuk meraih perhatian publik. Perkembangan teknologi komunikasi dan media, bagaimanapun, telah membuat aksi-aksi teror (bisa) tersebar lebih luas sehingga pesan dari aksi itu dapat menjangkau lebih banyak orang.

Problem macam itu bukanlah dominan di Indonesia. Ia adalah gejala global terutama setelah aksi teror di Amerika Serikat tahun 2001—yang dikenal peristiwa 9/11. Merujuk makin kompleksnya terorisme global, perubahan aktor dan geopolitik, serta krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsian parah yang mengikutinya, buku bunga rampai 18 tulisan dari 26 penulis ini dapat menjadi pengantar relatif lengkap untuk memahami hubungan antara media dan terorisme yang terus berubah.

Lanskap global tidak bisa kita hindarkan dari apa yang disebut proyek “perang melawan teror” lewat pemerintahan Bush pada 2001. Kritik atas media saat itu, selain memberitakan aksi-aksi terorisme dengan cara mengikuti tentara AS (dikenal embedded journalism), media berperan penting dalam membentuk wacana yang menopang agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat baik di Afghanistan maupun Irak, dan belakangan di Libya dan Suriah.

Media berperan mereduksi aksi-aksi terorisme hanya sebagai aksi kelompok fundamentalis agama dan aksi brutal yang dilakukan secara acak oleh kelompok-kelompok klandestin. Sementara konteks besar untuk melihat mengapa aksi itu terjadi kerap diabaikan. Pada gilirannya ia membuat “aksi melawan terorisme” adalah persoalan pihak yang berkuasa dalam menentukan lawan atau kawan. Des Freedman dan Kishan Thussu dalam pengantar buku ini mengutip pemikir Noam Chomsky yang pernah menyatakan istilah terorisme dalam media mengalami pembusukan—bahwa aksi itu hanya berarti apa yang dilakukan terhadap “kita” (Amerika Serikat dan negara-negara koalisinya), tapi tidak berlaku untuk aksi teror yang “kita” lakukan kepada “mereka”.

Lena Jayyusi dalam “Terror, War, and Disjunctures in the Global Order”, menunjukkan  media jadi bagian dari infrastruktur kekuasaan negara-negara Barat menanamkan rasa takut terhadap Islam alias “Islamphobia”. Ia melihat beberapa kasus di Eropa seperti pelarangan jilbab dan pendirian masjid. Media juga tidak proporsional dalam melihat aksi-aksi teror sepanjang dekade 2000-an di daratan Eropa yang pernah menghadapi 300 serangan dan kurang dari separuhnya dilakukan oleh “kelompok Islam”. Tetapi serangan dari pelaku di luar “kelompok Islam” tidak disebut oleh media sebagai “teror”. Jayyusi menilai banyak media Barat turut serta dalam menciptakan amnesia massal dengan mengabaikan konsekuensi serangan dan invasi oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah.

Bias macam itu kemudian dilegitimasi dalam pembingkaian melalui berita-berita media, film, dan game online, yang membentuk narasi dan teks budaya populer. Di Amerika Serikat misalnya, setelah peristiwa 11 September 2001, pelbagai film dan serial TV mengangkat isu terorisme dengan bingkai penuh prasangka terutama mengaitkan antara teroris dan komunitas muslim. Seperti disebutkan Freedman dan Kishan Thussu, pelbagai narasi teks ini “membakukan” pemahaman bahwa terorisme sinonim dengan Islam, dan karena itu pelbagai tindakan anti-Islam menjadi sah untuk dilakukan.

Lewat narasi besar dari kekuatan publisitas dunia, “perang melawan teror” telah memengaruhi cara pandang media-media lokal memberitakan aksi-aksi teror di pelbagai tempat seperti Asia, Rusia, Prancis, dan Arab. Para penulis seperti Elena Vartanova, Rune Ottosen, dan Tristan Mattelart mengulas bagaimana (pembingkaian) media lokal melaporkan “aksi teror” yang dilakukan oleh kelompok-kelompok oposisi pemerintah maupun sikap diskriminatif negara terhadap kelompok minoritas.

Selain analisis dari akademisi dan peneliti, buku ini memuat perspektif wartawan melihat peran media dalam terorisme. Ia mengulas sejumlah problem wartawan saat meliput terorisme dan pelbagai faktor yang memengaruhi laporannya. Misalnya tekanan dari institusi media untuk membuat berita-berita sensasional, termasuk mengeksploitasi kekerasan, dan mengabaikan sensitivitas pembaca.

Dalam situasi ketika (pemberitaan) terorisme telah jadi komoditas, media tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi. Tetapi ia melakukan dramatisasi agar model berita macam itu bisa menangguk perhatian audiens. Dramatisasi, pada gilirannya, mengabaikan fakta dan justru melakukan disinformasi. Praktik macam ini, di antaranya diulas dalam tulisan Dahr Jamail dan Danny Schecter, datang dari situasi ketika banyak wartawan memakan bulat-bulat informasi dan distorsi dari narasumber resmi seperti militer—seringnya oleh para wartawan yang melakukan praktik embedded journalism.

Salah satu kisah wartawan dari buku ini memuat pengalaman jurnalis dari Amerika Serikat yang mewawancarai pimpinan kelompok Taliban. Ia diminta menunggu beberapa hari. Belakangan ia tahu, saat proses menunggu itu, kelompok Taliban lebih dulu mencari latar belakangnya secara detail lewat internet. Barulah kemudian ia diizinkan wawancara.

Apa yang menarik dari buku ini, menurut saya, adalah luasnya jenis media yang dianalisis. Tidak hanya media dalam pengertian konvensional (seperti koran atau televisi), tapi juga film, internet, permainan elektronik, dan sebagainya. Tidak hanya memakai pendekatan analisis teks, sejumlah tulisan dari buku ini menawarkan analisis lebih mendalam tentang pelbagai faktor yang membentuk lahirnya teks-teks media dalam isu terorisme.

Pelbagai analisis dan perspektif ini tetap relevan karena menawarkan ragam cara pandang dalam melihat media dan terorisme. Ia membantu kita untuk tidak mudah menghakimi sebuah media mendukung terorisme hanya karena memberikan ruang bagi aktor-aktor yang terlibat dalam aksi teror. Sebaliknya, tidak buru-buru pula mengambil kesimpulan sebuah media terlibat dalam konspirasi tertentu ketika memberitakan kelompok yang terlibat aksi teror. Ada jalinan ekonomi politik yang kompleks di belakangnya.

Sebagai contoh, kita bisa menengok bagaimana relasi antara media dan perkara (peliputan) terorisme di Indonesia. Dalam “ANTV, Karni, dan Eksklusivitas” (2006), wartawan Farid Gaban menulis tentang kerjasama antara stasiun televisi ANTV—saat itu dimiliki oleh Bakrie—dan aparat kepolisian yang menawarkan drama dalam aksi penggerebekan terduga teroris di Wonosobo pada 2006. Dengan apa yang disebut “liputan eksklusif” lewat beragama sudut kamera yang sempurna, ANTV mendapat akses luas dan strategis.

Stasiun televisi ini bahkan sudah mengirimkan mobil studio-mini di malam penggerebekan ketika wartawan dan media lain belum tahu informasi tersebut (bahkan jika tahu pun, hampir pasti takkan bisa mendapatkan sudut pandang ideal karena jalan telah diblokir terlebih dulu oleh polisi). Seperti disebut Farid, cara kerja media macam itu bukan tanpa konsekuensi. Keistimewaan yang diberikan polisi telah membuat ANTV kehilangan daya kritis. Sudut pandang pemberitaan melulu dari pihak kepolisian dan menegaskan opini tunggal dari pihak kepolisian dalam kasus terorisme yang penuh kejanggalan itu.

Belajar dari pengalaman tersebut, perlu sikap kritis dalam membaca berita-berita tentang aksi teror seperti yang terjadi di kawasan Sarinah lalu. Jika kita memperhatikan berita-berita di media cetak satu-dua hari kemudian, nada beritanya serupa: negara dan masyarakat tidak boleh kalah dan takut dari aksi teror. Sedikit berbeda memang jika melihat berita-berita di media daring seperti beberapa pertanyaan yang saya ajukan di awal. Nadanya lebih beragam, sebagian berusaha “meluruskan” informasi kronologi kejadian dengan sejumlah versi yang masih simpang-siur.

Sementara ada juga berita-berita yang membangun mitos seperti dicontohkan Tribun Medan dengan memberitakan jenazah pelaku teror yang disebut tersenyum. Jika tujuannya mendulang klik, saya kira ia telah berhasil. Yang berbahaya justru saat berita-berita macam itu dilandasi semangat ideologis yang sama dengan pelaku teror. Sadar atau tidak sadar, ia justru membangun mitos-mitos baru mengenai pelaku teror yang dapat memacu orang melakukan tindakan serupa.

Pada titik itulah media sosial punya kemampuan menyebarluaskan berita-berita bermasalah. Ironisnya pula tanpa disertasi sikap kritis audiens. Hal semacam itu kian mengaburkan kita memahami apa yang sebetulnya terjadi dalam aksi terorisme. Ia justru melakukan praktik disinformasi. Bila begini, pada tahap selanjutnya, ia membuat efek terorisme berlipat: kita menjadi korban dari aksi teror sekaligus korban dari berita-berita (menyesatkan) tentang aksi teror.*

 

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: