BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 9 menit

Genre jurnalisme naratif lebih luwes diterapkan berkat perubahan yang dibawa oleh internet, dan bahkan bentuk penyampaiannya bisa lebih berwarna dengan mengintegrasikan perkakas interaktif dan multimedia.

 

BERBEDA dari perkembangan (penulisan) fiksi di Indonesia, yang bernasib (lumayan) dinamis dalam dunia penerbitan, prosa-prosa nonfiksi di kalangan wartawan di sini masih berjalan stagnan. Para wartawan dari media-media berbasis di Jakarta sejak mula terserap dalam sistem ruang redaksi yang mengharuskan mereka menyetor tiga sampai lima, bahkan belasan, artikel dalam sehari. Mereka berurusan dengan tenggat harian atau mingguan sehingga waktu khusus untuk mengalokasikan reportase mendalam—dan paling banter menghasilkan penyajian liputan feature—sangatlah  sempit. Kalaupun melakukan hal terakhir itu, oleh manajemen redaksi dalam sistem industri media di sini, ia terhitung bonus selagi butuh penilaian untuk penaikan jabatan si wartawan.

Mudah mengenali sebuah berita dengan model struktur lempang ataupun feature—keduanya berumur setua usia jurnalisme itu sendiri dan sangat terbatas mengartikulasikan cerita. Belakangan, seiring internet mengubah iklim media dan cara khalayak mendapatkan informasi, berita-berita cepat dan pendek dengan satu-dua narasumber mendominasi layar muka media sosial kita, disertai setumpukan tautan dari reportase yang dikerjakan secara bertahap dan mencicil.

Tentu juga beda—dan sering saya mendengarnya—ketika kita bekerja sendiri dan bekerja dalam sistem yang terintegrasi dengan banyak orang, yang hasilnya adalah terbitan harian atau mingguan. Tetapi sejak kemunculan media yang bertahan hingga kini, dan terutama yang lahir dan besar di era pemerintahan Orde Baru, langkah-langkah untuk melakukan eksperimentasi dalam prosa nonfiksi—dalam bentuk maupun gaya—kurang diberi tempat oleh medianya sendiri.

Kecuali untuk urusan studi, jarang pula media di sini memberi wartawannya waktu sabbatical atau cuti panjang untuk mengerjakan proyek peliputan yang hasilnya adalah sebuah buku utuh tentang tema tertentu sesuai kompetensinya. Dalam sejumlah buku yang hadir dari lingkaran proses kerja jurnalisme, sangat jarang kita menemukan terbitan bernapas panjang dan utuh. Paling mungkin yang diingat (setidaknya oleh saya) adalah buku Bondan Winarno, Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, yang terbit menjelang kejatuhan Soeharto. Buku lain, senapasan genre peliputan investigatif, adalah Saksi Kunci (2013) karya Metta Dharmasaputra yang dikembangkan dari laporan Tempo edisi Januari 2007. Buku reportase lain misalnya catatan perjalanan Ahmad Yunus berjudul Meraba Indonesia (2011).

Selebihnya adalah kumpulan reportase. Misalnya yang rutin dibukukan adalah karya-karya Linda Christanty, penulis cum sastrawan yang piawai membangun detail dan adegan dalam narasinya. Ada juga antologi reportase panjang yang pernah terbit di Majalah Pantau (1999-2003) berjudul Jurnalisme Sastrawi (edisi revisinya terbit 2008) dan liputan mereka tentang ruang redaksi media (2013). Atau sejumlah laporan kolaborasi yang dikerjakan para wartawan Kompas lewat serial ekspedisi maupun (saya perlu menyebutnya di sini) perhatian penuh gairah dari Ahmad Arif terhadap topik bencana alam dan lingkungan di Indonesia. Belakangan Tempo juga membukukan serial tokoh sejarah politik modern Indonesia dari liputan mingguannya.

Apa yang masih menjadi poin kritis dari iklim dan rutinitas pekerjaan yang diciptakan media-media besar di sini adalah minimnya tenggat yang longgar dan kurangnya investasi reportase yang memadai bagi wartawan.

Ketika ingatan kita mengacu pada kekerasan komunal saat terjadi perubahan politik menjelang dan sesudah kejatuhan Soeharto, rujukannya boleh jadi, di antara yang lain, adalah buku reportase yang ditulis oleh Richard Llyod Parry, koresponden Asia untuk harian The Times (London), berjudul Zaman Edan (2008). Kita sangat mungkin ingat pada bom atom yang menghancurkan kota Hiroshima dan mendorong berhentinya peperangan dunia. Tetapi, misalnya, untuk bencana dahsyat (di Aceh dan Nias pada akhir tahun 2004) yang membuat masyarakat Indonesia mengenali kata tsunami, saya sulit merujuk laporan panjang dan utuh berbasis reportase dari peristiwa itu; justru kita mendapatkannya dari laporan Barry Bearak, reporter New York Times Magazine peraih penghargaan Pulitzer, lewat tuturan 18.000 kata yang strukturnya mencangkok “Hiroshima”-nya John Hersey berjudul “The Day the Sea Came” (terbit 27 November 2005).

Perbandingan macam itu sangat boleh tidak adil. Namun, di tengah arus deras informasi sekarang, dan akses pada bacaan pun berlimpah, sukar rasanya mengabaikan laporan-laporan menarik nan mendalam sekaligus relevan yang ditulis oleh para koresponden dari sejumlah media internasional bila disandingkan laporan sebatas kutipan sependek lima paragraf dari media di Indonesia. Ketika saya menyebar satu reportase bercerita mengenai perdagangan perempuan dan bisnis prostitusi dari daerah saya Indramayu, Jawa Barat, seorang kolega merespons lewat kolom komentar di Facebook: mengapa harus wartawan dari Australia yang menulisnya, ke mana saja wartawan Indonesia?

Uniknya, ada buku naratif yang ditulis wartawan Indonesia dan kerap diabaikan oleh kalangannya sendiri tapi ditemukan berkat kerja riset sejarawan. Judulnya, Indonesia dalem Api dan Bara. Pengarangnya, bernama pena Tjamboek Berdoeri, adalah Kwee Thiam Tjing. Buku itu terbit pada 1947 dan lantas diangkat lagi lewat usaha mendiang Benedict Anderson dan murid-muridnya pada 2004. Buku itu melukiskan tiga zaman: bulan-bulan terakhir era Belanda, pendudukan Jepang, dan Revolusi Kemerdekaan. Anderson menulis, “tiada buku lain jang mampu menggambarkan—setjara luas dan mendalam—peristiwa2, suasana2, kondisi2, dan mentaliteit2 manusia jang hidup di Indonesia pada masa2 jang dahsjat itu.” Anderson memuji Opa Kwee “seorang djagoan bahasa Melaju dengan gaja jang orisinil dan memukau.”

KINI perkembangan internet mengubah secara drastis lanskap media di Indonesia, kendati di belahan lain ia sudah merontokkan banyak suratkabar dalam skala mondial. Ketika media-media yang secara tradisional diakui mutunya mengembangkan (dan memantapkan) kualitas jurnalisme di ranah daring, ironisnya sebagian besar media di sini masih berkutat merengkuh khalayak lewat judul bombastis dan model artikel cepat saji. Ketika tren digital diimbangi dengan mengintegrasikan penyampaian bentuk jurnalisme secara interaktif dan multimedia, para media lama di Jakarta—yang infrastukturnya sudah tersedia dan kuat—masih gamang mengambil navigasi untuk berlayar di lanskap digital.

Saat sejumlah inisiatif terus mengembangkan penulisan panjang di pelbagai publikasi ruang maya, yang ditandai dengan tagar #longform atau #longreads, kita masih berdebat dan mencemaskan tentang era yang meringkus kejayaan media cetak. Ketika peran jurnalisme video sudah dianggap vital oleh media besar dunia untuk lebih merebut perhatian khalayak, berdurasi pendek serupa berita lempang dan disebar lewat media sosial terutama Facebook, kita masih berdebat betapa pentingnya kemampuan mengurai, mengurasi, dan memindai apa yang disebut ‘big data’ di rimba raya internet.

Pelajaran pentingnya: medium telah berubah tapi (semestinya) ia tidak mematikan jurnalisme berkualitas.

Reportase yang mengusung eksplorasi bertutur tidak pula mati dalam medium baru ini. Ada kecenderungan pula bahwa khalayak rela berlangganan situsweb berita yang secara tradisional, dalam bisnis yang mengandalkan kepercayaan ini, informasinya memang bermutu dan para wartawannya menjadi panutan. Situs lain yang menekankan pelaporan panjang (berani) membatasi akses gratis pada artikel-artikelnya dan selebihnya berbayar.

Model lain, sebagai respons atas pengetatan besar-besaran dana reportase dan penutupan kantor-kantor biro, sejumlah situs media yang mengedepankan peliputan mendalam dijalankan dengan menggamit dukungan publik lewat skema crowdfunding. Ada juga model  yang menjalin kerjasama dengan pelbagai institusi—dari kampus maupun pihak swasta lewat cara hibah atau langkah filantropis—demi keberlanjutan substansi jurnalisme atas kecenderungan apapun yang kini disebut ‘content’ sebagai model bisnis media baru.

Sebagaimana terjadi di era media konvensional, selalu ada terbitan ala jurnalisme tabloid atau koran kuning. Tetapi ia juga melahirkan media-media dengan standar tinggi jurnalisme. Hal sama pula terjadi di lanskap digital. Tak terhindarkan di tengah “tsunami informasi” selalu ada media yang menyebarkan kabar bohong, gosip, tipu-tipu, disinformasi dan menyesatkan, atau dikemas sebatas hiburan. Tetapi ia tidak seketika menguburkan jurnalisme. Ia justru memberi tantangan bagi dunia jurnalisme untuk semakin ketat dan telaten menghadirkan informasi bermutu seiring perubahan itu.

Pada akhirnya, dalam iklim baru media yang mengubah cara penyampaian dan format pemberitaan, selalu terbuka kemungkinan untuk meningkatkan mutu jurnalisme.

JUDUL buku ini diambil dari artikulasi manasuka tentang jurnalisme naratif dari setidaknya ada tiga sebutan lain atas genre sama, yang berkembang sejak awal 1970-an lewat gagasan “New Journalism”. Pendekatannya adalah mengambil perkakas fiksi dalam novel, dan secara minimal bisa dikenali lewat pengembangan struktur cerita dan karakter serta reportasenya dikerjakan secara mendalam. Lebih panjang dari penulisan feature, genre ini perpanjangan dari salah satu elemen dasar jurnalisme: menarik sekaligus relevan. Ia mengangkat cara bertutur khas si pencerita sekaligus merangkai konteks terhadap subjek yang ditulisnya. Pendeknya, upaya jurnalisme mengembangkan apa yang dianggap relevan ke dalam bentuk cerita yang menarik. Ada dialog, adegan, perjalanan waktu, konflik dan emosi, penerapan struktur cerita yang terjaga, karakter dalam sebuah peristiwa, dan kadang pula ia bisa mengungkap motif.

Kami menerbitkan kumpulan reportase panjang ini atas dasar masih minimnya prosa nonfiksi lewat kerja-kerja jurnalisme dalam dunia penerbitan di Indonesia. Juga, setelah kemunculan kapitalisme cetak yang mendorong menjamurnya pers pergerakan di Hindia Belanda pada awal abad ke-20, upaya penulisan panjang di halaman media arus utama berjalan mandek sampai sekarang, yang kemudian terlipat dalam gelombang baru bernama internet.

Era internet adalah era yang dinamis justru karena makin tak relevannya otoritas ruang redaksi sebagai penjaga gawang informasi. Di sisi lain, di era banjir informasi ini pula, genre penulisan naratif bisa leluasa dikerjakan karena, secara gampangnya, tidak lagi memerlukan jumlah halaman—sesuatu yang sebaliknya sangat diperhitungkan dalam logika bisnis surat kabar. Tantangannya adalah menghadapi tolok ukur mayoritas portal berita dan kecenderungan membaca yang lebih singkat. Namun, sejak awal, sebuah situsweb yang menyajikan narasi panjang sudah memahami ukuran umum tersebut. Dan, karena itu, ia (semestinya) secara sadar tetap dijalankan dengan acuannya sendiri. Yang lebih penting dari itu adalah konsistensi. Baik rutin menerbitkan naskah maupun menjaga kualitas naskah.

Sedikit mengecilkan tanpa mengesampingkan ukuran lalu-lintas dan durasi kunjungan, salah satu kunci untuk mengembangkan genre narasi ialah tetap kembali pada seni bercerita yang matang. Boleh jadi masih sedikit wartawan (bahkan penulis fiksi) di sini yang mampu menulis lebih dari 5.000 hingga 30.000 kata. Tetapi, seiring ada media yang menyediakan ruang untuk itu, saya kira akan muncul generasi penulis yang mengisi genre ini, atau dari para wartawan yang menilai bentuk feature tidak lagi cukup menampung kompleksitas sebuah isu yang digarapnya.

Betapapun kami menamakan judul buku dengan #narasi—yang mengasosiasikan tulisan-tulisannya pernah terbit di ruang maya, sebagian dari laporan ini terbit perdana dalam publikasi cetak.

Chik Rini dari Aceh menulis tentang sekelumit kisah penculikan dan pembunuhan di masa konflik, diterbitkan oleh majalah Pantau. Begitupula liputan media oleh Coen Husain Pontoh, pemimpin redaksi jurnal Indoprogress, yang meneliti koran kuning ala Rakyat Merdeka di mana kini peran bahasa bombastisnya sudah tergantikan oleh media sosial. Ada pula narasi perjalanan Yusi Avianto Pareanom ke komunitas suku Indian-Amerika di Michigan, yang laporannya terbit di majalah Tempo. Nama lain adalah Puthut EA dan Zen RS, masing-masing tentang budi daya serta tradisi terkait tembakau dan pangan lokal, yang terbit di majalah National Geographic Indonesia.

Ada juga Bayu Maitra, editor Bacaan Malam—blog agregator naskah-naskah bertutur—mengisahkan seorang skizofrenia yang terbit di Reader’s Digest, majalah waralaba yang edisi Indonesia-nya berhenti terbit pada akhir tahun 2015. Anugerah Perkasa, wartawan Bisnis Indonesia, menulis tentang hubungan bisnis dan korupsi seorang pengusaha media yang aliran dananya merembes ke lembaga agama. Nugie, sapaan akrabnya, adalah sedikit wartawan di Jakarta yang rajin menyisipkan waktu dan menikmati upaya penulisan naratif di tengah tenggat harian medianya.

Sebagian lagi adalah narasi yang terbit di media daring dan blog pribadi.

Imam Shofwan, bekerja di Yayasan Pantau, meliput tentang kekerasan seksual dari dokumen kejahatan perang pendudukan Indonesia di Timor Leste—atas dukungan dana tahunan Southeast Asia Press Alliance (SEAPA) pada 2007, yang kemudian laporannya ini mendapatkan penghargaan dari sebuah lembaga di Paris. Budi Setiyono, redaktur Historia—situsweb sejarah yang dikemas secara populer, menulis ulasan buku diiringi wawancara dengan penulis plus pencarian data lain untuk melengkapi tema perbudakan seksual di masa Jepang.

Novelis Mahfud Ikhwan membuat catatan menyenangkan tentang klub bola lokal di daerahnya Lamongan, Jawa Timur, untuk Belakang Gawang, sebuah blog khusus sepakbola yang telah memiliki pengagum setia. Wartawan Rusdi Mathari mendatangi Sampang, Madura, pada awal tahun 2012 untuk menelusuri kekerasan terhadap komunitas Syiah di sana, kaya dengan latar belakang sosial dan etnografi, dimuat di blognya. Peneliti hak asasi manusia Andreas Harsono menulis profil seorang Tionghoa dalam lintasan sejarah politik Indonesia, semula ditulis untuk buku pernikahannya lantas dimuat ulang di blog pribadinya.

Penulis Andina Dwifatma, yang mengelola situs jurnalisme naratif PanaJournal, mengisahkan Maria Sumarsih, ibunda Wawan, yang tiada henti setiap Kamis sore di depan Istana menggugat negara untuk bertanggung jawab atas kejahatan orang hilang dan pelanggaran kemanusiaan lain. Saya sendiri menulis profil orang Papua di Merauke yang disiksa berkali-kali oleh tentara Indonesia dan lantas meninggal—terbit di Indoprogress.

Naskah lain datang dari Pindai: Jogi Sirait, Prima Sulistya Wardhani, dan Nody Arizona—masing-masing menulis penyingkiran komunitas Suku Anak Dalam di Jambi di tengah ekspansi ladang perkebunan sawit; konflik agraria antara petani dan militer di Kebumen, Jawa Tengah; dan elaborasi kritis atas kebijakan cukai hasil tembakau. Penulis Raka Ibrahim, dalam satu kesempatan saat Pindai membuka program hibah buku nonfiksi tahun lalu, mengirimkan draft bukunya—tetapi, karena sempitnya waktu, kami mengusulkan agar dia menulis lebih singkat. Hasilnya, narasi tentang riwayat skena musik independen di Jakarta tahun 90-an yang bertaut dengan konteks sejarah politik dan industri musik di Indonesia, sejak zaman Sukarno hingga era media sosial.

Semuanya ada 18 narasi, atau sekitar 80.000 kata. Untuk sekiranya bisa dipakai sebagai rekan belajar, masing-masing narasi diberi pengantar singkat dari penulisnya mengenai prosesnya meliput dan menulis naskah tersebut.

Judul #narasi yang kami pakai, dalam angan-angan kami yang lain, kelak dapat mendorong terbitan serupa yang mengusung genre ini, baik dalam buku utuh maupun prosa jurnalisme di ranah daring. Sejumlah contoh, gagasan, dan inisiatif untuk mengembangkan genre ini sudah dimudahkan oleh peran internet. Saya kira secara teknis ia menjadi lebih mudah pula.

Para wartawan maupun penulis nonfiksi, di tengah rutinitas harian dan mingguan mereka, bisa sewaktu-waktu terpanggil untuk mendalami perkakas dari genre jurnalisme naratif ini. Dan bila ia ditempatkan sebagaimana proses kreatif, bagaimanapun, itu tetaplah suatu panggilan menyenangkan.*

 

 

Catatan:

Naskah ini adalah ‘pengantar’ dalam buku #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme (Februari 2016).  Buku akan diluncurkan bersamaan satu perbincangan tentang jurnalisme naratif di era media sosial pada hari Sabtu, 13 Februari, di Auditorum IFI-Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta, Jl. Sagan No. 3, pkl. 13:00-16:00 (Peta lokasi acara: https://goo.gl/rbmGwc).

Tebal buku: i – xviii + 466 hlm (13 x 20 cm). Bisa dipesan lewat Eka (+6285225064802) atau buku@pindai.org.