BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 6 menit

Pemasungan terhadap kebebasan berekspresi di Turki.

 

KAMIS, 21 Januari 2016, kelar sejenak dari urusan tesis tentang nobelis sastra Orhan Pamuk, saya pergi dari Istanbul menuju Bursa, sebuah kota penting dalam peta sejarah politik Turki pra-Konstantinopel. Saya datang ke sana atas undangan ringan Serhan Sopyan, kawan keturunan Albania yang menyebut dirinya seorang Atatürkçü atau Kemalis. Asosiasi tempatnya bergiat, bernama Atatürkçü Düşünce Derneği atau Organisasi Pemikiran Atatürk (disingkat ADD), akan mengadakan satu acara peringatan pada 24 Januari untuk Uğur Mumcu (1942-1993), jurnalis dan pemikir yang terbunuh karena keberaniannya menentang kekerasan negara.

Pemikiran Mumcu tertuang dalam puluhan buku. Meski warisan sekulerisme Atatürk pelan-pelan memudar dan dihapus oleh penguasa berhaluan Islamis AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), proses peremajaan ideologi sekuler dan Kemalisme tetap berjalan, salah satunya melalui ADD yang hadir nyaris di semua kabupaten di Turki; selain ada pula kelompok komunis dan nasionalis.

Saya berangkat menuju Bursa, tepatnya nanti ke Kabupaten Mustafakemalpaşa, dengan melayari Laut Marmara, terusan selat Bosphorus, di atas kapal feri selama setengah jam. Esoknya, saya sudah berada dalam lingkaran kecil komunitas dan anak-anak muda sekuler, generasi pelanjut perjuangan Atatürk. Saya berjumpa mereka di sebuah gedung di tepi anak sungai Kirmasti, terletak di tengah kota.

Kota ini bisa dibilang jantung spirit sekulerisme Kemalis, selain Izmir. Di sini kita cukup mudah menjumpai meyhane (bar), pavyon (klub malam), dan beragam tongkrongan yang menguarkan wangi alkohol. Budaya minum bir ini berjalan seirama proyek modernisme apa yang disebut “Atatürk yolu” (jalan atau cara Atatürk): kebebasan rakyat, ilmu pengetahuan, bangsa Turk (yang unggul dan tercerahkan), kemenangan, pemikiran, demokrasi, serta modernisme dan negara hukum. Nama kabupatennya sendiri sudah terang sebagai nisbat terhadap Atatürk alias “Bapak Republik Turki” yang menggenangi pikiran penduduk kota tersebut.

Di seberang Kirmasti ada monumen patung Mustafa Kemal Atatürk—satu situs wajib di setiap daerah di Turki. Di lokasi itulah acara mengenang Uğur Mumcu dihelat.

Pada satu siang musim dingin berkumpullah anak-anak muda yang membawa foto Mumcu berhias bunga dan memampang figura para tokoh sekuler. Mereka lantas membacakan satu puisi pamflet karangan Mumcu berjudul ‘Vurulduk Ey Halkım Unutma Bizi’ (Wahai Rakyatku, Ingat Kami yang Telah Dibunuh). Puisi ini identik dengan para Kemalis untuk mengenang tokoh-tokoh penting mereka yang hilang atau dibunuh—barangkali, jika di Indonesia, dalam gradasi tertentu seumpama puisi ‘Peringatan’-nya Wiji Thukul.

Kutipan salah satu bait puisi tersebut:

Petani miskin di Giresun, kami mati demi kalian.
Pekerja tembakau di Aegean, kami mati demi kalian.
Orang-orang kampung tak bertanah di daerah Timur, kami mati demi kalian.
Para pekerja di Istanbul, di Ankara, kami mati demi kalian.
Di Adana, para pengumpul kapas dengan tangannya yang terberai lebur, kami mati demi kalian.
Kami ditembak, digantung, wahai rakyatku, ingat kami yang telah dibunuh…

“Kami semua adalah bagian dari Mumcu yang dihabisi dan dicerai-beraikan. Kami akan melanjutkan perjuangannya kepada jalan cahaya yang telah ditunjukkan oleh Mustafa Kemal,” ujar Zeynep Nida Ortalık, ketua sayap pemuda ADD cabang Mustafakemalpaşa.

Pembacaan puisi Uğur Mumcu dalam peringatan kematiannya di Monumen Ataturk (©Bernando J.S.)
Pembacaan puisi Uğur Mumcu dalam peringatan kematiannya di Monumen Ataturk (©Bernando J.S.)

Sebelum dikenal kolumnis yang kritis, Mumcu bekerja sebagai asisten dosen dan advokat. Daya kritisnya tumbuh semasa kuliah hukum di Universitas Ankara. Dia adalah kolumnis tetap di harian terkemuka Cumhuriyet, selain menulis pula di sejumlah surat kabar seperti Akşam, Milliyet, dan Yeni Ortam. Karena tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam melawan negara, Mumcu dipenjara setelah kudeta militer tahun 1971. Sekeluar dari bilik jeruji, ia makin berani dan menentang kedekatan Turki dengan negara imperialis seperti Amerika Serikat dan Israel.

Pandangannya juga adalah suara dukungan terhadap gerakan kelompok sosialis dan revolusioner. Ia berdiri dalam posisi berlawanan terhadap agen ‘Counter-Guerilla’, satu organisasi rahasia bekingan AS yang dibentuk khusus untuk Turki dan beroperasi sengit selama Perang Dingin dengan tujuan melemahkan penyebaran komunisme.

“Ya, negeri kita berada di bawah pendudukan. Ya, negeri kita yang indah ini telah dijajah. Ya, para mafia keparat telah mencabik tanah ini,” tulis Mumcu di harian Cumhuriyet, 11 Desember 1979.

Tahun 1960-an hingga 1990-an, saat banyak rekannya yang jurnalis dan pejuang kemandirian Turki tewas dibunuh, Mumcu adalah salah satu suara yang lantang. Saat rekannya Abdi İpekçi, redaktur utama Milliyet, dibunuh pada 1 Februari 1979, Mumcu menulis di harian Cumhuriyet pada 1 Februari 1980 bahwa “kekuatan negara tidak cukup mengungkap” pembunuhan itu. İpekçi dikenal berkat kolom-kolomnya yang menyuarakan kebebasan berekspresi, Kemalisme, dan Turki yang independen. Pembunuhan terhadap İpekçi kelak dialami Mumcu sendiri.

Mumcu tewas di halaman rumahnya pada 24 Januari 1993 ketika ia menghidupkan mesin mobil. Sebuah bom plastik yang dilekatkan di mobilnya meledak. Banyak yang menduga kematiannya terkait investigasi independen dia menyelidiki hubungan antara Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan Organisasi Intelijen Nasional Turki. Proses keadilan atas kematiannya masih buram sampai kini, meski banyak yang meyakini melibatkan peran Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel), CIA (dinas intelijen AS), dinas rahasia Turki, kekuatan negara dan bersenjata Turki, serta PKK sendiri.

Sebagai upaya mengenang perjuangannya, keluarga dan rekan-rekan Mumcu mendirikan Uğur Mumcu Araştırmacı Gazetecilik Vakfı (Yayasan Jurnalisme Investigatif Uğur Mumcu) pada Oktober 1994.

 

Kekerasan terhadap Wartawan

Kasus pembunuhan terhadap Mumcu, dan para jurnalis-cum-penulis di Turki, melekat dalam sejarah politik negara ini. Jauh sebelum Mumcu, ada puluhan jurnalis yang tewas dibunuh.

Menurut data Committee to Protect Journalists, Turki kerap menduduki tiga teratas sebagai negara yang paling banyak memenjarakan wartawan, selain Tiongkok dan Iran. Pada 2013 misalnya, ada 40 wartawan yang dibui otoritas Turki (posisi teratas tahun itu). Yang terbaru adalah penangkapan wartawan kawakan Can Dündar, pemimpin redaksi Cumhuriyet, pada November 2015. Dalam lima tahun terakhir, menurut sebuah laporan, kebebasan pers di Turki mengalami kemunduran seiring aturan ketat terbaru yang mendukung penyensoran negara terhadap situs web dan media sosial.

“Di sini nyawa siapa pun murah! Kamu harus sangat hati-hati masuk ke isu-isu sensitif,” pesan Serhan Sopyan satu kali ketika saya mengutarakan rencana dan ketertarikan riset ihwal gerakan suku Kurdi di bagian timur dan tenggara Turki.

Menurut rilis Asosiasi Wartawan Progresif, salah satu persatuan jurnalis berpengaruh selain Perkumpulan Wartawan Turki, jurnalis yang terbunuh di Turki berjumlah 77 orang; 19 di antaranya dilenyapkan pada masa akhir keruntuhan Kesultanan Ottoman.

Dalam sejarah kelam penghilangan nyawa jurnalis, Tevfik Nevzat tercatat sebagai nama perdana yang dibunuh ketika dikirim ke penjara. Nevzat pernah mendirikan majalah sastra bernama Nevruz bersama Halit Ziya Uşaklıgil (1866-1945), sastrawan terkenal masa awal republik. Keduanya juga menerbitkan harian Hizmet, media yang kemudian dianggap berseberangan dengan pemerintahan kesultanan terakhir Ottoman Abdülhamit II. Nevzat dikirim ke satu penjara di Provinsi Adana dan dibunuh pada 19 Maret 1905.

Setelah Turki menjadi republik, pemenjaraan dan pembunuhan terhadap jurnalis terus berlangsung sengit, termasuk terhadap Hrant Dink (tewas 19 Januari 2007), Ahmet Taner Kışlalı (21 Oktober 1999), Sayfettin Tepe (29 Agustus 1995), dan Onat Kutlar (11 Januari 1995). Ada pula kasus penculikan dan penghilangan paksa, misalnya menimpa Nazım Babaoğlu (hilang 12 Maret 1994) dan İhsan Uygur (6 Juli 1993).

Ada beragam cara dan pelaku eksekusi terhadap para wartawan dan pemikir Turki ini. Pelaku terbanyak adalah agen negara atau intelijen dengan memasang bom atau membunuhnya di tahanan. Tetapi ada juga pelakunya dari warga sipil sebagaimana terjadi pada Hrant Dink dan Kamil Başaran. Pelaku penembakan terhadap Dink adalah bocah berusia 17 tahun bernama Ogün Samast. Sementara Başaran ditembak oleh pemilik restoran hanya karena tidak suka dengan caranya menulis dan menurunkan liputan.

Di Turki, yang masyarakatnya sangat dinamis dalam haluan politiknya, kita sangat mudah mengenali individu atau kelompok sebagai kawan dan lawan. Selama studi dan tinggal di Turki dalam tiga tahun terakhir, saya menjumpai kecenderungan bahwa seseorang yang berseberangan secara ideologis akan sulit untuk menjadi kawan (dalam arti kompromis) bila sudah bertemu di arena politik. Perjuangan kelompok-kelompok politik ini acapkali bermuncratan darah, pelenyapan nyawa, dan tindakan teror lain.

Kaum sekuler (Kemalis) akan sangat sulit mencapai titik temu dengan kelompok Islamis dalam konteks perjuangan ideologi mereka. Sama halnya gejolak massa nasionalis dan ultra-nasionalis melawan kelompok lain yang membawa bendera etnis selain Turk, misalnya HDP (Partai Rakyat Demokratik) yang berafiliasi dengan suku Kurdi. Belum lagi massa komunis yang diwakili oleh Partai Komunis Turki (TKP) dan kelompok-kelompok devrimci (revolusioner) lain yang berafiliasi dengan Marxist-Leninist seperti Front-Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner (DHKP-C). Salah satu ketegangan kutub ideologis itu terlihat dari pemilu tahun lalu. Karena macet mencapai solusi di parlemen untuk membentuk pemerintahan dari pemilu 7 Juni 2015, digelarlah pemilu ulang pada 1 November.

Di bawah AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), dengan membawa ideologi Islamis dan memakai jalan demokrasi, kutub ketegangan ideologi Turki bisa sedikit reda. Kelompok-kelompok yang sebelumnya berseberangan seperti kaum nasionalis (yang mendefinisikan diri Turk-Islam) dan komunitas suku Kurdi religius akhirnya mulai bisa dirangkul oleh penguasa dengan mempertemukan spirit dan simbol Islam. Namun ideologi kelompok sekuler-Kemalis berhaluan Atatürk yolu, seperti juga ditunjukkan oleh Uğur Mumcu, jelas tidak akan bisa bertemu dengan ideologi AKP.

Spirit Atatürk dan Mumcu yang ingin Turki menjadi independen dalam konteks ekonomi-politik belum bisa ditunaikan oleh AKP, karena praktik ekonomi dan politik pemerintah Turki cenderung liberal. Titik kontras itu tetap memupuk konfrontasi ideologis antara AKP dan CHP (Partai Rakyat Republik), corong kaum sekuler. Apalagi warisan-warisan sekularisme ala Atatürk pelan tapi pasti mulai ditinggalkan.

“Mumcu adalah seorang Kemalis sejati, dikenal sosok yang gigih mengaplikasikan nilai-nilai Kemalisme. Tetapi dia harus meregang nyawa lebih awal,” ujar Zeynep Nida Ortalık.

“Tanpa memperhatikan ideologi, Mumcu berjuang melawan segala bentuk imperialisme demi menjaga hak-hak rakyat dan sekaligus menunjukkan kecintaannya kepada mereka. Hari ini orang yang tidak mengerti Uğur Mumcu, saya pikir mereka tidak paham politik. Kami harus meniru pendirian dan keberaniannya. Kegiatan anma (peringatan) seperti ini dihelat di seluruh Turki oleh ribuan orang.”

Saya mengikuti seluruh peringatan itu. Sesudah orasi dan pembacaan puisi, sekelompok orang lantas melakukan pawai (yürüyüş). Mereka membentangkan bendera Turki dan simbol Mustafa Kemal Atatürk, lantas ditaruh di dekat patung Atatürk dengan spanduk bertuliskan:TERÖRÜ LANETLİYORUZ (Kami Mengutuk Teror).

Pawai para pemuda Kemalis dari Organis asi Pemikiran Ataturk (©Bernando J.S.)
Pawai para pemuda Kemalis dari Organis asi Pemikiran Ataturk (©Bernando J.S.)

Malam harinya, bersama Serhan Sopyan dan kolega pemuda Kemalis, saya mengumpulkan sejumlah perkakas peraga aksi peringatan yang seharian dipasang di monumen Atatürk di tengah kota Mustafakemalpaşa. Alat-alat aksi itu kami simpan kembali di kantor Organisasi Pemikiran Atatürk. Sesudahnya, berselimut musim dingin yang pucat saat rintik salju menerpa halus, kami meluncur ke sebuah meyhane. Di sana musik arabesk mengiringi kami memuncaki malam.*

 

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: