BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 9 menit

Menyambangi kisah traumatis peninggalan Tommy Soeharto hingga tip berdagang cengkeh di “Freeport”-nya Menoreh.

 

DARI Kota Yogyakarta menuju Desa Prangkokan di Kabupaten Kulonprogo bisa ditempuh melewati Jalan Godean. Perjalanannya serupa pelesir. Beberapa kilometer setelah Pasar Godean, kita akan menemukan jalan raya diapit suatu lanskap yang mengingatkan saya pada lukisan mooi indie: semarak hijau persawahan berlatar bebukitan.

“Apik banget,” kata Eko Susanto yang sudah tahu lokasi itu dari kegemarannya berburu foto. Kang Eko—sapaan saya kepadanya—punya tugas tambahan selain menuntun saya ke lokasi perjalanan: melihat-lihat pohon cengkeh yang belum pernah saya jumpai secara langsung.

Tumbuh besar di Jawa, dan karena itu lebih cepat mengenali secara terbatas pada pohon jambu, mangga, dan sebagainya, saya penasaran ternyata Yogyakarta termasuk salah satu wilayah penghasil cengkeh. Tentu saja namanya jauh kalah kondang dibanding Maluku, rumah muasal Syzygium aromaticum. Kecamatan yang paling banyak menghasilkan cengkeh bernama Samigaluh. Tetapi di Kulonprogo sendiri nama cengkeh masih kalah dibanding durian yang bahkan difestivalkan kala panen raya.

Keluar dari sepenggal jalan mendatar, kami bertemu jalan aspal mendaki saat memasuki Kelurahan Purwosari. Motor kami ngos-ngosan, terutama motor yang dipakai Kang Eko. Ruas jalan dijejeri pepohonan besar bak kanopi dan memagari tebing. Di bawah tebing, hamparan pohon berserakan. Kami telah memasuki kawasan Perbukitan Menoreh.

Saat kami rehat sejenak, Kang Eko dengan matanya yang jeli menunjuk segerumbul pohon. “Itu pohon cengkeh.”

“Yang mana, Kang?”

“Itu loh, yang pucuknya merah,” nada Kang Eko tak sabaran. Saya mengangguk-angguk, lalu memandang ke sekitar. Merah, cengkeh, batin saya sambil mencari-cari warna itu di antara rerimbunan daun. Saya melihat diri saya menyedihkan.

Seiring melintasi perbukitan, pohon-pohon cengkeh memayungi kami dan membuat tengah hari serasa petang. Gerimis turun. Dan gerimis pula menandakan saya datang di waktu yang salah.

“Tahun ini panen raya 2015 saat Agustus, habis lebaran,” kata Djaparijanto, pemilik cengkeh yang kami temui kemudian.

Tiap tahun cengkeh bisa dipetik, tetapi panen besar-besaran tiap tiga sampai lima tahun sekali. Di Kulonprogo, panen besar terakhir sebelum 2015 terjadi pada 2013. Panen dilakukan pada musim kemarau.

Djaparijanto menunjuk bunga cengkeh. (Dok. Eko Susanto)
Djaparijanto menunjuk bunga cengkeh. (Dok. Eko Susanto)

Cengkeh adalah tanaman yang lumayan cerewet. Tak boleh kebanyakan air  tapi juga tidak bagus bila sering tersengat matahari. Panen terbaik akan terjadi ketika musim sebelumnya curah hujan tinggi, disusul musim kering yang panjang, seperti tahun 2015. Meski musim kering bagus untuk cengkeh, warga juga repot karena dataran tinggi agak susah mendapatkan air.

Rerata penduduk di Kecamatan Girimulyo dan Kecamatan Samigaluh menanam cengkeh. Menurut kisah Djapar, pensiunan guru SMP, cengkeh mulai ditanam pada 1960-an. Pamannya yang bersekolah di Yogya memperkenalkan tanaman endemik dari Maluku itu. Usai sekolah, sang paman datang dan mulai menanam cengkeh. Ketika melihat tanaman itu menguntungkan, para tetangga mulai mengekor dan jadilah Prangkokan di Kecamatan Girimulyo kini dijejeri batang-batang berbuah harum itu.

Warmo adalah generasi pertama penanam cengkeh di Prangkokan. Kediamannya dekat dari rumah Djapar. Ia sedang mengangkuti pupuk kandang dengan gerobak ketika kami menemuinya. Di dekat rumahnya, pohon-pohon cengkeh menjulang. Itulah satu-satunya kebun cengkeh yang ia miliki. Menurutnya, saat ini sulit menanam cengkeh sebab musim hujan dan kemarau susah diprediksi. Kini di kebunnya hanya tersisa lima puluh batang cengkeh.

Cengkeh-cengkeh itu ia tanam pada 1970-an. Bibitnya didapat dari Salatiga untuk jenis zanzibar dan Purwokerto untuk jenis ambon. Pohon-pohon itu sudah ia panen pada Juli lalu, dan sedikit hasilnya. Namun, ia masih punya cadangan lain: pohon sengon dan kelapa yang ia tanam secara tumpang sari dengan cengkeh.

TUMPANG SARI bermula gara-gara Tommy Soeharto. Ini adalah kisah yang diketahui semua orang yang berkutat dengan pertanian cengkeh.

Pada 1992, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1992 tentang Tata Niaga Cengkeh Hasil Produksi Dalam Negeri, dilanjutkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1996 tentang Pelaksanaan Tata Niaga Cengkeh.

Dua regulasi ini mengandung dua implikasi. Pertama, lembaga negara bernama Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) didirikan dengan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto sebagai ketua umumnya. Kedua, penjualan cengkeh dalam negeri dari petani disentralisasi kepada BPPC. Petani cengkeh hanya boleh menjual cengkeh kepada koperasi unit desa (KUD) di lokasinya masing-masing dengan harga yang sudah ditentukan oleh BPPC. Dari KUD, cengkeh kemudian disalurkan ke BPPC baru kemudian dijual kepada konsumen. Dengan kata lain, BPPC memegang monopoli tunggal atas perdagangan cengkeh dalam negeri.

Standar harga yang ditetapkan BPPC menjatuhkan komoditas cengkeh. Bila sebelumnya cengkeh dihargai sekira Rp9.000-10.000 per kilogram, BPPC justru hanya menghargainya Rp2.000-2.500 per kilogram. Padahal, sebagai modal pembeli cengkeh rakyat, BPPC menerima Kredit Likuiditas Bank Indonesia (LKBI) sebesar Rp175 miliar.

Kebijakan itu menyulitkan para petani. Di berbagai sentra produksi cengkeh, sejumlah petani alih profesi dan merantau sebagai buruh. Sementara petani lain menebangi cengkehnya dan mengganti dengan tanaman komoditas lain.

Pada 2000, Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan korupsi Tommy Soeharto di BPPC kepada Kejaksaan Agung (Kejagung), tetapi tidak ada tindakan. Kasus itu baru dibuka lagi oleh Kejagung pada 2007 ketika pengadilan Inggris memproses gugatan dari Garnet Investment Limited milik Tommy kepada Banque Nationale de Paris Paribas cabang Pulau Guernsey, Britania Raya. Ada kecurigaan bahwa uang Tommy di BNP Paribas yang tengah diperkarakan adalah hasil korupsi dana LKBI untuk BPPC.

Menurut laporan ICW, dari Rp175 miliar dana LKBI, diduga hanya 30%-nya yang disalurkan kepada petani, sementara sisanya dikantongi Tommy. Hingga BPPC dibubarkan pada 1998, ICW menaksir kerugian negara sekira Rp1,9 triliun ditilep BPPC yang seharusnya jadi hak para petani cengkeh.

Muhtamrin, pemilik kebun cengkeh yang juga berdagang cengkeh di Desa Banjaransari, Kecamatan Samigaluh, mengatakan bahwa kasus BPPC membuat petani trauma dan sejak itu memutuskan bertani secara campursari atau kombinasi. Cengkeh ditanam dengan tanaman lain, seperti singkong, sengon, atau kelapa.

Infografis Lahan dan Produksi Perkebunan Cengkeh di Indonesia

CENGKEH membuat Samigaluh menjadi “Freeport-nya Menoreh,” ucap Muhtamrin. Metafora itu ia gunakan untuk menggambarkan komoditas pertanian yang dihargai paling tinggi di wilayah itu.

Karena harganya tinggi, bagi petani kecil menanam cengkeh adalah tindakan menabung. Ketika panen, sebagian cengkeh  disimpan.

“Kalau pas rendeng (musim hujan), enggak bisa tani, enggak bisa tanam kelapa, cengkeh keluar. Kalau dua tiga hari hujan, enggak bisa kerja, cengkehnya dikeluarin.”

Menabung cengkeh dipakai juga untuk keperluan pesta keluarga, semisal hajatan yang jadi tradisi kebanyakan masyarakat Jawa. Atau, untuk biaya anak sekolah.

Pedagang seperti Muhtamrin dapat menggambarkannya. Selain membeli laos dan kelapa dari warga sekitar yang datang ke warung kelontongnya, ia menerima cengkeh sewaktu-waktu dari para petani. Sehari-hari ada saja warga yang menjual cengkeh dalam partai kecil, setakaran satu hingga dua kilogram.

Cengkeh juga cocok jadi tabungan karena semakin lama disimpan, kualitasnya semakin baik. “Minyaknya makin banyak,” ujar Gunarti, istri Muhtamrin, yang mengurusi warung. Muhtamrin sendiri punya pekerjaan tetap sebagai penyuluh di Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam  pada Kantor Kementerian Agama Kulonprogo.

Cengkeh disimpan karena ketika sudah matang di pohon, harus segera dipanen jika tidak ingin buahnya menjadi polong. Polong adalah kondisi cengkeh yang sudah hilang “mahkota”-nya; kondisi yang tidak bagus.

Kala panen, harga cengkeh kering berkisar Rp80.000–90.000 per kilogram. Pada Desember 2015, harganya Rp115.000–120.000. Daun dan dahan cengkeh juga diperjual-belikan. Daun dihargai Rp2.500 per kilogram, sedangkan dahan Rp7.500. Daun dan ranting cengkeh mengandung zat eugenol, bahan untuk minyak atsiri yang berguna sebagai bahan obat dan produk kecantikan yang khasiatnya berguna untuk rambut sampai jantung.

Menurut Muhtamrin, hasil menjual cengkeh kering sama besarnya dengan menjual daun cengkeh. Yang disebut terakhir juga lebih praktis, misalnya kita tidak perlu mengeringkan lebih dulu.

Saya melihat-lihat sebatang pohon besar cengkeh zanzibar di halaman rumah Djaparijanto. Menurutnya, pada panen 2015, satu pohon itu telah menghasilkan 100 kilogram cengkeh basah. Usia pohon itu sudah lebih dari empat puluh tahun, tetapi buahnya terhitung rimbun. Namun, tidak semua pohon menghasilkan sebanyak itu. Pohon milik Warmo rata-rata hanya bisa dipanen 30–45 kilogram cengkeh basah.

Memanen cengkeh adalah kegiatan massal. Ia harus dikerjakan dengan cepat sehingga tidak mungkin mengandalkan pemilik pohon semata. Di Prangkokan, musim panen akan mengundang para pengunduh (juru petik) dari Wonosobo. Untuk satu pohon di halaman rumah yang menghasilkan 100 kg cengkeh basah, Djapar butuh empat pengunduh yang bekerja selama seminggu. Sehari upah per orang berkisar Rp60.000, plus ditanggung makan dan inap. Sementara di Samigaluh, pengunduh adalah tetangga sekitar.

Cengkeh dipanen dengan alat bernama gantol, tongkat besi kecil dengan kait di kedua ujungnya. Pengunduh akan memanjat pohon dan mengait dahan yang ingin dipetik dengan satu ujung gantol, lalu menyangkutkan ujung lain agar tangan pengunduh bisa bebas untuk memetik buah.

Usai diunduh, cengkeh dikeringkan dengan cara dijemur. Jika hari kering, cukup dua-tiga hari, dan seminggu saat mendung. Rumus menghitung persentase cengkeh kering adalah sepertiga atau seperempat cengkeh basah, tergantung kualitasnya. Dengan demikian, 100 kilogram cengkeh basah akan menghasilkan 25–33 kilogram cengkeh kering.

Ada dua jenis cengkeh yang ditanam di Kulonprogo: cengkeh zanzibar dan cengkeh ambon atau cengkeh jawa. Cengkeh zanzibar berpucuk merah. Ini cengkeh kelas satu; bunganya rimbun dan kualitasnya bagus. Sedangkan cengkeh ambon berpucuk hijau dan tak sebaik zanzibar.

Muhtamrin memberi tahu saya resep mengetahui cengkeh kering yang bagus: “Enggak hitam, bersih, dan kering. Kalau dipatahin, bunyi ceklik.”

Keberadaan cengkeh di Kulonprogo yang terhitung sekira sejak lima puluh tahun membuatnya belum meninggalkan jejak pada budaya warga setempat. Saya menanyakan makanan khas yang berbumbu cengkeh kepada istri Djapar dan Muhtamrin, keduanya menggelengkan kepala. Pun tidak ada kosakata lokal untuk cengkeh. Situasi ini berlainan dengan tanah kelahiran cengkeh di Maluku.

TIDAK lengkap membicarakan cengkeh tanpa menyinggung Maluku dan sejarah kolonialisme. Cengkeh bersama pala dalam keluarga rempah-rempah adalah “berkah terkutuk” yang mengundang bangsa kulit putih datang ke Nusantara. Sebagai ramuan penghangat tubuh, cengkeh bermanfaat pula sebagai pengawet, wewangian, rempah makanan, dan obat.

“Jika saja tak pernah ada cengkeh dan pala di Maluku, mungkin sejarah kepulauan Nusantara ini akan berbeda sama sekali,” tulis Roem Topatimasang dalam pengantar buku Ekspedisi Cengkeh (Ininnawa & Layar Nusa, 2013).

Tanaman endemik ini tumbuh dengan ketinggian 10 sampai 20 meter. Daunnya lonjong mengilat, bisa dipanen saat 5 hingga 6 tahun usia tanam. Bunga-bunga cengkeh dijemur hingga kering dan mengeras—warnanya berubah dari hijau, merah, lantas coklat tua—menjadi bentuk kuku (nama cloves atau cengkeh berasal dari bahasa Latin clavus atau kuku). Pada era perdagangan rempah dari abad ke-15, harga 1 pon cengkeh sempat setara 7 ons emas di Eropa. Pohon cengkeh tertua, dijuluki Cengkeh Apo, terdapat di Pulau Ternate.

Di Maluku, cengkeh telah meninggalkan jejak dalam kebudayaan setempat.

Di Pulau Saparua, Maluku Tengah, daun cengkeh diseduh sebagai minuman layaknya teh. Sedangkan bagi perempuan yang baru melahirkan dan penderita malaria, mandi uap air panas bercampur cengkeh bermanfaat untuk mengembalikan kesehatan.

Di Pulau Haruku, Maluku Tengah, orang-orang mengunyah cengkeh sebelum ke gereja agar bau mulut hilang. Minyak atsiri dalam cengkeh juga berguna untuk mematikan bakteri perusak gigi. Cengkeh juga ditambahkan pada kue dan masakan ikan. Bersama rempah lain, cengkeh diramu dan dicampur pasir panas untuk dibebatkan pada pinggang ibu bersalin. Bagi anak-anak, cengkeh dipakai untuk menghalau cacingan. Tangkai kering cengkeh dipakai untuk mengusir nyamuk.

Cengkeh sebagai tabungan berlaku pula di Pulau Karakelang, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Sementara di Pulau Nusalaut, Maluku Tengah, adalah tindakan lazim bila seorang kakek memberi angpau berupa cengkeh kepada cucu-cucunya.

Dalam sejarahnya, dua kali pasaran cengkeh di Nusantara dimatikan. Pertama, oleh pelayaran Hongi pada abad ke-17 yang membakar pohon-pohon cengkeh di Maluku. Kedua, karena BPPC Tommy Soeharto sepanjang 1992–1998. Keduanya, meski beda zaman dan dipisahkan tiga abad, berpangkal pada satu tujuan: hasrat menguasai perdagangan lewat monopoli.

Tetapi, di antara fase itu, pamor cengkeh yang berkhasiat mengawetkan makanan sempat memudar, dan tertidur lama. Revolusi Industri di Eropa, penemuan mesin pendingin, dan keberhasilan budidaya cengkeh zanzibar oleh Prancis sejak abad ke-18 sempat meredupkan komoditas ini. Nasibnya terselamatkan berkat penemuan manfaat baru cengkeh sebagai campuran kretek (clove cigarette) oleh Haji Djamhari sekitar paruh terakhir abad ke-19. Itu mampu melambungkan lagi daya serap produksi cengkeh, sekaligus menggerakkan aktivitas para petani, lebih-lebih ketika industri kretek modern berkembang sejak tahun 1950-an.

Kini hampir semua wilayah di Indonesia, budidaya cengkeh tersebar, dengan sentra utamanya di Maluku dan Sulawesi. Sekitar 96% (2013) produksi cengkeh nasional dari sentra cengkeh di seluruh Indonesia dimanfaatkan bahan baku kretek, sementara sisanya untuk bumbu masakan dan keperluan kesehatan.

Tetapi, mengutip Topatimasang, betapapun cengkeh adalah warisan alam Nusantara, masih sangat jarang para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan. Minat dan perhatian pada tanaman ini hanyalah pada besarnya rente ekonomi.

“Luas lahan tanaman cengkeh [juga] semakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan besar kelapa sawit,” tulisnya, menyimpulkan gambaran ironis dari temuan para peneliti ‘Ekspedisi Cengkeh’.

KENDATI ada monopoli lewat lembaga bodong BPPC-nya Tommy Soeharto, para petani di Samigaluh kala itu tetap bergantung pada cengkeh. Sebelum mengenal cengkeh, warga menanam vanili. Mereka juga menjual  dan menjadi pengepul bunga, daun, atau batang cengkeh.

Alur perdagangan cengkeh di sini biasanya lewat pengepul kecil, kendati kadang diambil langsung pengepul besar. Dari sana, cengkeh para petani Kulonprogo dibawa ke pengepul terakhir, yang  menjadi pemasok pabrik kretek. Memasuki pengolahan kretek, cengkeh sudah disuling alias diambil minyak atsirinya. Bila tidak, kretek akan terasa sangat pedas.

Cengkeh Kulonprogo biasanya berakhir di juragan di Purworejo. Selain di sana, ada juragan-juragan lain di Magelang, Purwokerto, Boyolali, dan Semarang. Ketika sampai di pabrik, cengkeh sebenarnya sudah berbentuk cengkeh giling.

Di antara semua mata rantai, menurut Muhtamrin, pengepul besarlah yang mengantongi untung paling banyak. “Di negara kapitalis kayak gini, yang untung yang punya modal,” ujarnya. Pedagang besar itulah yang mempermainkan harga.

Pohon cengkeh (dilihat dari bawah) di kawasan perbukitan Menoreh, Samigaluh, Kulon Progo. (Dok. Eko Susanto)
Pohon cengkeh (dilihat dari bawah) di kawasan perbukitan Menoreh, Samigaluh, Kulon Progo. (Dok. Eko Susanto)

Harga cengkeh memang naik turun. Ambil contoh dari kisah Muhtamrin. Sebagai pengepul kecil, ia berurusan dengan spekulasi. Cengkeh yang ia beli saat ini akan dijual pada waktu yang pas. Jika spekulasinya tepat, ia bisa untung banyak, seperti tahun 2014. Cengkeh-cengkeh yang ia beli seharga Rp70 ribu per kilogram dijual lagi dengan harga Rp137 ribu per kilogram. Hasilnya, ia bisa membeli dua sepeda motor baru.

Untuk menentukan harga beli dan jual cengkeh, Muhtamrin punya beberapa rumus pegangan. Pertama, ia rajin googling harga diimbangi survei harga di Pasar Kenteng dan Pasar Samigaluh. Kedua, setiap Desember pabrik kretek akan tutup buku sehingga harga cengkeh turun. Di bulan itu ia akan mengumpulkan cengkeh, yang kemudian dilepas pada Februari—saat harga naik lagi.

Ketiga, jika harga tembakau naik, harga cengkeh turun; pun sebaliknya. Keempat, naiknya dolar berarti turunnya cengkeh. Kelima, harga tertinggi cengkeh adalah sepertiga harga emas. Jika sudah mencapai titik itu, ia akan melepas semua cengkeh miliknya, sebab harganya tak akan lebih tinggi lagi.

“Orang rugi kalau melupakan cengkeh,” cetus Muhtamrin.

Di ruang tamu rumahnya yang beraroma cengkeh, Gunarti menawari saya membawa pulang segenggam cengkeh. Mendengar itu, saya segera terbayang makanan-makanan enak beraroma cengkeh: sop, kari, rendang, setup, nastar, bistik…. Dipikir-pikir, untunglah ada cengkeh di bumi ini. Kambing yang bau perengus bisa jadi hidangan lezat, dan kita bisa menikmati kretek.*

 

_________

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: