BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 11 menit

Menjadi pemasok tuna untuk pasar yang lapar telah mengubah Dusun Parigi.

 

PERAHU berguncang liar dan membuat saya berkali-kali nyaris meluahkan isi perut. Tapi Umayang tetap dengan tenang mengerat tangkapannya—lurus dan rapi. Seakan berada di dunia lain, sang nelayan itu membelah perut tuna sebesar kambing dewasa.

Waktu belum berjalan lima menit. Daging tuna tangkapan Umayang sudah terlepas dari tulang dan terbelah jadi empat bagian. Tanpa sempat saya sadari, dia sudah memasukkan potongan daging tuna ke plastik dan meletakkannya dalam boks es. Dia harus memastikan daging tuna tetap segar atau semua pekerjaannya sia-sia. Sebagaimana orang-orang sungkan dihidangkan daging tuna yang pucat di kedai sushi, para pengepul juga menolak harga patut untuk daging tuna yang warnanya sudah memutih.

Hari itu, selain saya mendapatkan pengalaman mabuk yang membuat saya bahkan kesulitan menegakkan badan, Umayang mendapatkan dua ekor tuna. Nilainya tak kurang dari Rp1,2 juta.

“Segini belum seberapa, Mas,” tegas Umayang. “Kalau lay (lagi) rezekinya, bakal jauh lebih banyak.”

Kata-kata Umayang saya peroleh sendiri kesahihannya. Sepanjang beberapa bulan, saya mendapati seorang nelayan bernama Ongin memperoleh sekitar Rp30 juta setelah mengail berjibun tuna setiap hari selama dua minggu. Bukan hanya itu, Ongin mengerek reputasi pribadi di antara nelayan lain di sebuah dusun yang hidup dari mengail ikan.

Pada hari-hari itu, setiap nelayan yang saban petang menimbang ikan di pengepul selalu datang dengan satu pertanyaan: “Hari ini Ongin menangkap berapa?” Ketika jam makan siang dan para nelayan mendekatkan perahu satu sama lain di tengah laut, pertanyaan serupa terus diulang. Ongin menjadi patokan. Dia menjadi standar baru seberapa cakap si nelayan menangkap ikan pada hari itu.

Umayang, penangkap tuna terbanyak pada 2014, meski tampak kurang menerima dirinya tersaingi Ongin, tetap melapangkan hati membanggakan rivalnya kepada warga desa lain yang bertandang ke rumahnya.

Membanggakan Ongin adalah membanggakan Parigi.

Peta kawasan Seram Utara

PARIGI, dusun kecil di pesisir Kecamatan Seram Utara yang ditinggali Umayang dan Ongin, adalah salah satu pemasok ikan tuna terbesar dan paling konsisten di klostornya. Klostor, pusat pembelian dan penyuplaian ikan, tak terdapat di Seram. Para pengepul harus menempuh satu malam melewati jalanan gunung rawan celaka untuk mengantarnya ke Ambon, ibukota Provinsi Maluku.

Di antara Januari sampai Mei sewaktu tuna berbondong migrasi melewati Laut Parigi, satu pengepul dapat mengirimkan satu ton daging tuna setiap hari. Sekitar dua puluh perahu fiber dengan motor tempel akan pergi melaut dan membawa ke darat, lazimnya, kurang-lebih 70 tuna tangkapan.

Pada hari-hari semacam itu, nelayan lebih memilih tidak akan mengambil hari libur dalam seminggu kecuali satu hari—biasanya hari Jumat. Mereka berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat petang. Pengepul, dari siang sampai tengah malam, sudah bekerja menyiapkan es, membersihkan tuna, menyimpannya dalam boks yang aman, kemudian mengangkutnya ke truk pada malam hari, dan mencatatnya.

“Daripada di rumah saja. Bosan,” ujar Umayang.

Wajah Dusun Parigi berubah setelah tahun 2003. Kapal-kapal timbang mendatangi dusun yang belum terhubung jalan raya itu untuk membeli tuna sirip kuning yang sekali waktu ditangkap para nelayannya. Para penduduk Parigi sebelumnya menangkap tongkol untuk dijual ke desa-desa tetangga atau diasinkan agar dapat dibawa ke Ambon. Lebih jauh sebelumnya lagi, mereka memperoleh penghasilan utama yang kecil dari kopra dan menyambung hidup dengan bertanam singkong serta menangkap ikan.

Kini tuna sirip kuning jadi penyangga perekonomian Parigi, dan dikenal tempatnya para nelayan andal di seantero Seram Utara. Satu hal yang cukup mencengangkan bagi banyak orang adalah keberanian nelayan-nelayannya mengejar ikan hingga puluhan kilo ke tengah lautan; sendirian atau, paling banyak, berdua.

“Mas ikut mancing orang-orang Parigi?” Abah But, nelayan dari kecamatan, suatu sore bertanya heran kepada saya.

Dia tiba-tiba tertawa.

“Mas sama saja naik ke meja bedah. Mas ngasih nyawa Mas ke tangan yang bawa perahu.”

Insiden memang beberapa kali terjadi. Dua nelayan hanyut tahun 2013. Satu orang tahun 2014. Beberapa kejadian yang lebih sering adalah motor tempel mogok di tengah laut atau perahu terbalik. Namun mereka masih bisa berenang kembali atau diselamatkan nelayan lain. Ada pula kejadian komikal. Satu waktu, seorang nelayan tertidur di perahunya, terjatuh ke laut, dan perahunya melaju tanpa dirinya. Adiknya, yang menemukan perahu sang kakak, mencari-cari dan tak menemukan. Saat disangka tak mungkin terselamatkan dan adiknya bersedih, rupanya sang kakak sudah di rumah dan sedang tidur.

Namun saya juga melazimkan mengapa kebanyakan nelayan Parigi menganggap laut sebagai karib.

Dini hari, para nelayan Parigi memacu motor tempelnya sampai daratan lenyap dari batas pandangan mata. Hal paling pertama yang mereka lakukan kemudian menerawang ke lautan lepas, mencari kawanan lumba-lumba. Lumba-lumba, untuk alasan yang belum diketahui mengapa, biasa berenang di dekat tuna.

Setelah menemukan lumba-lumba—proses ini bisa memakan waktu sangat cepat maupun sangat lama—sang nelayan lantas menerbangkan layang-layang sambil tetap menjaga laju dan kemudi perahu. Dari layang-layang itu menjuntai umpan buatan berbentuk ikan terbang (“Ikan Indosiar,” sebutan mereka). Ketika layang-layang dimainkan, umpan ini melompat-lompat di atas air—bertingkah selayaknya ikan hidup dan menggoda tuna mencaploknya.

Umayang menunjukkan umpan “ikan Indosiar” yang akan diterbangkan melalui layang-layang untuk mengail tuna di laut lepas. © Geger Riyanto
Umayang menunjukkan umpan “ikan Indosiar” yang akan diterbangkan melalui layang-layang untuk mengail tuna di laut lepas. © Geger Riyanto

Pertarungan tarik-menarik dimulai saat tuna memakan umpan. Sang nelayan menarik senar sekuat tenaga dengan kedua tangan ditopang bahu. Jika dia berhasil menarik ikan mendekati perahunya, dia memukul tuna sampai tak berdaya dengan balok kayu. Lantas dia mengangkat dan menghantamnya lagi sampai ikan dipastikan mati.

Selanjutnya adalah proses pemotongan dan penyimpanan.

Kehanyutan para nelayan manakala memancing tuna tergambar paling baik dengan pernyataan Umayang: “Kalau dapat ikan terus, lupa rokok. Lupa makan. Rokok sama bekal bisa pulang utuh.”

Pada detik-detik mendebarkan itu, sekujur kesadaran nelayan terisap ke aktivitasnya. Mata mereka melekati tangkapannya dan tak pernah kendur. Sekujur gerak tubuh ditujukan hanya untuk memastikan piala mereka—tuna sirip kuning.

Catatan tangkapan ikan dari pengepul tempat nama si nelayan tampak lebih mentereng atau lebih ciut dibandingkan sejawatnya. © Geger Riyanto
Catatan tangkapan ikan dari pengepul tempat nama si nelayan tampak lebih mentereng atau lebih ciut dibandingkan sejawatnya. © Geger Riyanto

Dengan harga daging tuna yang tinggi, kita mungkin berpikir keterpakuan semacam ini wajar belaka. Namun, tuna sirip kuning menjadi piala bukan sekadar karena mahal. Ia adalah reputasi para nelayan. Ia terpampang dalam buku catatan pengepul tempat nama si nelayan tampak lebih mentereng atau lebih ciut dibandingkan sejawatnya. Ia jadi rumah baru si nelayan mematut bangga kepada para tetangga. Sebaliknya, ia juga objek penyesalan sepanjang hari apabila akhirnya ikan itu meloloskan diri dari kail si nelayan.

PARIGI berada di sudut nyaman dari apa yang galib disebut rantai pasokan global. Sistem ini bergulir dengan premis: Apabila komoditas tertentu lebih irit dipasok dari tempat lain, untuk apa memproduksinya sendiri?

Karena mantra lebih ekonomis sama dengan lebih baik inilah, ia lazim disertai pelbagai skandal. Ia memantapkan cara-cara berproduksi yang kerap melibatkan perbudakan, pekerja anak, perusakan ekosistem di belahan dunia tak terpantau sepanjang apa yang dihasilkannya murah.

Namun, rantai pasokan global mempunyai pelbagai wajah. Apabila sebuah dusun dapat memasok ikan yang dicari-cari ini dengan harga yang diterima, keseharian para nelayannya yang larut dalam kekhusyukan mencari tuna pun akan langgeng.

Sejarah Dusun Parigi terpaut erat dengan sistem ini. Dusun Parigi didirikan oleh para perantau Buton setelah Perang Dunia Kedua. Satu perintisnya, demikian klaim sebagian tetua, merupakan pelarian dari Ambon karena dianggap mata-mata Republik Maluku Selatan—gerakan yang diburu pemerintah RI pada 1950-an karena dianggap memberontak. Pendiri-pendiri lain merupakan bekas budak serta pekerja di perkebunan kopra kolonial yang dikontrakkan kepada pengusaha Tionghoa.

La Tamba, seorang warga pertama, menceritakan kepada cucunya, dia datang ke pesisir terpencil yang dirubungi hutan, binatang buas dan melata, serta orang-orang yang masih mempraktikkan perburuan kepala.

“Kerja buat orang Belanda, katong tara bisa tanam tanaman umur panjang (kopra, cengkeh, pala). Hanya bisa tanaman umur pendek (tanaman pangan),” ujar La Tamba.

Para pendiri dusun ini mengambil kesempatan pertama yang diperolehnya ketika Raja Wahai, Kecamatan Seram Utara, menawarkan lahan di wilayahnya. Pemberian lahan ini, katanya, memang tak cuma-cuma. Ada motif terselubung, yakni menjadikan para pendatang Buton sebagai bantalan dari serangan suku-suku musuh. Kendati sulit dikonfirmasi kebenarannya, kecurigaan ini bisa jadi masuk akal. Peperangan antara dusun pada paruh pertama abad ke-20 masih sangat lumrah pecah sewaktu-waktu.

Di lahan itu, para perantau Buton membuka perkebunan kopra. Usaha mereka berjalan. Mereka pun mengontrak lahan dari keluarga raja untuk memperluas wilayahnya, mengundang sanak saudara membantu mengolah, sebelum akhirnya membeli lahan itu dan menjadikannya dusun mereka.

Tetapi, di masa lalu, para penduduk dusun masih minim menikmati uang hasil penjualan kopra untuk diri sendiri. Mereka perlu berpergian ke Gresik sekitar dua kali dalam setahun untuk menjual kopra, menumpang kapal angin muatan yang melintas. Sewaktu bepergian ke Pulau Jawa inilah mereka baru bisa mempergunakan uangnya. Dan, biasanya, mereka menghabiskan uang itu dalam sehari-dua hari.

“Jadi orang kaya sehari,” kenang La Ibu, warga tertua dusun, sembari terkekeh.

Untuk memenuhi kebutuhan menyambung hidup, mereka dapat mengusahakannya sendiri.

KETERLIBATAN Dusun Parigi dalam perekonomian tuna sirip kuning tak lepas dari peran para perantara. Mereka lebih dikenal pembeli ikan atau, sebutan yang bahkan lebih populer lagi, “bos.” Mereka membeli tuna dan menjualnya ke pihak selanjutnya, yang menawarkan selisih untung bagus—bisa jadi klostor, bisa jadi pembeli lain lagi.

Awalnya, para pembeli ikan adalah kapal-kapal timbang. Namun yang bertahan saat ini adalah para pembeli individual. Salah satu pembeli terlama dan berpengaruh adalah pengusaha Tionghoa kelahiran Makassar bernama Win Yananda.

Kekuatan pembeli terletak pada modal dan kecakapan menggunakannya. Win, bekas kontraktor proyek-proyek jembatan di Seram, memiliki keduanya. Dia, misalnya, bermitra dengan orang-orang dusun yang jadi pengepul. Dia memodali mereka dengan perkakas menimbang, menaksir, mencatat, menyimpan tuna, serta mengirimkannya ke kota. La Yamin, seorang pengepulnya, adalah mantan pengecer ikan. La Ida, pengepul lain, sebelumnya bekerja sebagai juru potong ikan di pasar Pelabuhan Tulehu, Ambon.

La Yamin, pengepul dari Dusun Parigi, tengah memotong tuna usai ditangkap nelayan. © Geger Riyanto
La Yamin, pengepul dari Dusun Parigi, tengah memotong tuna usai ditangkap nelayan. © Geger Riyanto

Win memiliki uang gede untuk ukuran pengusaha di Pulau Seram. Gambarannya: dia masih bisa terus membeli ikan dari para nelayan sekalipun pernah ada klostor yang nunggak Rp1,5 miliar selama tiga bulan.

Para pengusaha Tionghoa di Wahai selalu takjub dengan jumlah uang yang digelontorkan Win. Mereka menaksir Win dapat mengucurkan sampai Rp100 juta setiap hari. Setahu mereka, tak ada usaha lain di ibukota yang membutuhkan uang sebesar itu. Sampai hari ini, mertua Win, pemilik toko dan penginapan di Wahai, tak pernah bisa menakar jumlah uang Win yang sebenarnya.

“Saya sisihkan delapan miliar buat beli ikan.” Demikian ucapan Win yang terus-menerus diingat sejumlah nelayan.

Meski demikian, usaha tuna sirip kuning bukanlah bisnis yang minim risiko. Jika tuna yang dibeli dari para nelayan ditolak, entah lantaran kesilapan dari pihak nelayan, pengepul, atau bahkan sekadar diburuksangkai oleh klostor sebagai penyuplai awam, pembeli harus menanggung kerugian besar. Ditambah banyak pembeli yang tak terlibat kerja lapangan, penipuan pun rawan dilakukan pengepul. Win sendiri, sebelum akhirnya menjadi pembeli tuna yang mapan, menghamburkan banyak uang dan waktu.

Win Yananda, pembeli terkaya, memamerkan hasil tangkapannya berupa ikan bass hitam Papua. © Geger Riyanto
Win Yananda, pembeli terkaya, memamerkan hasil tangkapannya berupa ikan bass hitam Papua. © Geger Riyanto

Status mapan Win dalam bisnis ini ditopang dari caranya memanfaatkan uang untuk menjaga loyalitas para pengepul dan nelayan. Dia meminjamkan uang kepada nelayan untuk dipakai membeli perahu fiber atau motor tempel mutakhir. Entah nelayan bersangkutan akan melunasinya atau tidak, hal ini menguntungkannya karena dia bisa menambah jumlah ikan yang ditangkap para nelayan dan mengikatnya.

Bila ada nelayan enggan menjual ikan kepada Win, misalnya, atau tidak berusaha melunasi utangnya, maka anggapan “nakal” bakal melekat dari para pengepul dan nelayan sendiri.

Satu sore, sepupu dari La Yamin tak kunjung pulang melaut. Orang-orang menghampiri pantai dan melepas pandangan ke cakrawala. Seorang paranormal, ujar La Yamin, menerawang bahwa mesin perahu sepupunya rusak. Dia terapung-apung di tengah lautan. Namun, setelah beberapa saat turut berkerumun di antara orang-orang yang panik, La Yamin kembali ke rumahnya. Dia melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.

Saya, yang terperanjat mendapatinya menonton televisi seperti tak terjadi apa-apa, mencoba bertanya.

“Nanti juga orang lain mencarinya,” jawabnya. “Dia bukan nelayan saya.”

Kata-kata “bukan nelayan saya” biasa diperuntukkan kepada mereka yang tak menjual ikan kepada Win Yananda.

Memang, La Yamin dikenal pemalas, dan sikapnya terhadap sepupunya boleh jadi kepanjangan dari kebiasaan itu. Tetapi, pada malam hari, istri La Yamin mengancam agar dia tak usah bantu mencari sepupunya di tengah laut. Kata istrinya, si sepupu tidak menjual ikan kepada La Yamin padahal sudah berutang kepada Win untuk membeli perahu.

La Yamin, di sisi lain, bukan pula pengepul yang jujur-jujur amat. Godaan untuk bermain di belakang Win Yananda berkali-kali mendatanginya. Suatu hari, seorang pengepul datang ke rumahnya. Sang pengepul, yang sudah beberapa hari terlihat berputar-putar di dusun, berusaha membujuk La Yamin untuk melepas tuna yang sudah dikumpulkan dan, ke depannya, dia dijanjikan bekerja ke pembelinya. La Yamin bisa saja melepasnya dan memberi tahu kepada Win bahwa tak ada tuna yang didapatkan para nelayan hari itu. Alasan ini masuk akal. Pada minggu itu, tangkapan ikan memang sedikit. Tapi, La Yamin memilih untuk tak melangkahi Win.

Menurut La Yamin, Win bisa diandalkan saat dia kesulitan. Selain dalam pengalamannya, belum ada pembeli yang bisa memberi kepastian sebagaimana Win. Beberapa tahun silam La Yamin pernah juga mencoba melepas ikan kepada pembeli dari desa tetangga. Tapi, di hari semestinya transaksi dilakukan, si pembeli tak terlihat.

Cerita-cerita perihal pembeli yang sekonyong-konyong muncul dan menghilang secepat dia datang di Parigi rupanya wajar didapati di desa-desa penangkap tuna.

BUAT beberapa nelayan, menjadi penggerak perekonomian tuna sirip kuning di rantai pemasok paling dasar cukup bikin mereka leluasa. Dari harga beli Rp52.000 per kilogram dari klostor di Ambon, para nelayan memperoleh Rp40.000 per kilogram. Selisih uang itu dibagi untuk biaya penyimpanan, transportasi, serta keuntungan pembeli dan pengepul. Nelayan lumrah mendapatkan paling sedikit 20 kg sehari di luar musim tangkap. Selepas dikurangi biaya bahan bakar, penghasilan mereka masih jauh lebih besar dari pendapatan di nyaris semua pekerjaan lain.

Umayang, misalnya. Dia sebelumnya awak kapal penangkap ikan yang berbasis di Bitung, Manado. Kapal itu merapat di Parigi dan dia ikut. Seiring menjelajahi pelbagai penjuru lautan Nusantara, di saat-saat itu pula, Umayang dibekali kursus menjadi nakhoda. Umayang kembali ke dusun dan, selepas menikah, dia dilarang istrinya berpergian jauh lagi.

Umayang tampak puas dengan pekerjaannya sekarang. Dia jauh lebih menikmati bekerja sendiri karena, menurutnya, tak ada yang menyuruh-nyuruh. Pendapatan Umayang sekarang jauh lebih besar—sekitar Rp20 juta per bulan sebelum dipotong ongkos bensin dan cicilan perahu. Saat bekerja di kapal penangkap, dia hanya memperoleh Rp3 juta dalam sebulan dan bonus antara Rp1 juta – Rp2 juta setiap pulang dengan tangkapan fantastis.

Dusun Parigi kini dimukimi sedikitnya 1.276 penduduk. Akhir tahun 1990-an, dusun ini masih dihuni sekitar 300 warga. Anak-anak muda kembali pulang dan, seperti Umayang, mereka menjalani pekerjaan baru dengan bebas. Itu lantas mengundang kerabat jauh untuk mencoba peruntungan, menikahi gadis setempat, dan memilih tinggal di Parigi.

Parigi menjadi dusun berwajah muda, dan gampang dikenali dari gambaran profesi penduduknya. Para orang tua bekerja menanam cengkeh, pala, dan cokelat. Sementara anak-anak mudanya, yang masih cukup gesit, adalah para penangkap tuna.

Para nelayan tengah memisahkan biji cengkeh dari tangkainya. Pekerjaan berkebun cengkeh, kopra, atau cokelat biasa dilakukan orang tua. Para nelayan tuna umumnya anak muda yang masih gesit. © Geger Riyanto
Para nelayan tengah memisahkan biji cengkeh dari tangkainya. Pekerjaan berkebun cengkeh, kopra, atau cokelat biasa dilakukan orang tua. Para nelayan tuna umumnya anak muda yang masih gesit. © Geger Riyanto

Tapi tak ada yang benar-benar bisa menerka sampai kapan keberlimpahan ikan tuna akan bertahan. Perekonomian tuna sirip kuning Parigi sebenarnya ringkih. Seiring bertambahnya pencari tuna, ia rentan pula mengurangi penghasilan nelayannya.

Metode penangkapan dengan layang-layang juga menyimpan risiko. Ia membutuhkan ruang gerak leluasa. Para nelayan acapkali mengerumuni kawanan lumba-lumba yang sama, sehingga antarbenang rawan tersangkut. Sebuah desa Buton di Pulau Obi, Halmahera, misalnya, sudah melarang penggunaan layang-layang lantaran persoalan ini, padahal dapat mempercepat proses penangkapan tuna.

“Kita sudah kaya kalau dari dulu tahu metode layang-layang, Mas,” ujar La Jadin.

Sebelum menerbangkan layang-layang, nelayan perlu mencari kawanan lumba-lumba yang biasa berenang di sekitar tuna. © Geger Riyanto
Sebelum menerbangkan layang-layang, nelayan perlu mencari kawanan lumba-lumba yang biasa berenang di sekitar tuna. © Geger Riyanto

Alur pergerakan tuna sirip kuning, selain itu, dipengaruhi perubahan suhu laut dan pelbagai variabel lain. Iklim yang kian rongseng menyulitkan prediksi secara tradisional kapan rombongan tuna melintasi Parigi bahkan dalam sebulan ke depan. Bisa jadi, jumlah tuna menipis jauh dan tak pernah kembali seperti semula—kendati hal sebaliknya dapat pula terjadi.

Tapi, para nelayan sendiri dipastikan sudah berkelit ke sumber penghidupan lain jika menghadapi kemungkinan terburuk di laut. Dirubungi sumber daya alam di wilayah yang masih sedikit penduduk, mereka masih mempunyai beberapa pilihan penghidupan. Hanya saja pilihan-pilihan ini agak sulit membuat para nelayan bermimpi lebih ambisius dari memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Mereka dapat menjadi petani perkebunan yang jarang ditemukan di tempat lain seperti cengkeh. Mereka dapat menjadi nelayan ikan sumber makanan sehari-hari. Mereka dapat menjadi pekerja perusahaan tambak yang beroperasi di tempat ini.

Parigi dapat bertahan apa pun yang terjadi dengan tuna sirip kuning. Namun, mungkin, dusun ini tak akan menemukan lagi tempat yang sama nyamannya dalam mata rantai pasokan global.

Dan mungkin, saat suatu hari saya kembali ke sana, pengalaman mabuk laut saya pun tak akan bisa diulang. Ada perasaan sedih tersendiri membayangkannya.*

 

Naskah ini berbasis riset etnografi di Seram Utara (Juni – Agustus 2015) yang didanai lewat Hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

___

 

  • Surya Lung

    Desa Parigi dan Laut Parigi tepatnya dimana ya? Setahu saya Parigi ada di Sulawesi.
    Lalu itu Klostor maksudnya mungkin coldstorage, ada di masohi, kabupaten Maluku Tengah P. Seram. Infonya salah.

    • Geger Riyanto

      Terima kasih untuk komentarnya, Bung Surya.

      Pertama, Parigi artinya sumur. Istilah ini cukup umum sehingga tak heran kalau ada nama kampung lain yang sama. Lokasinya sudah dituliskan yakni di Kecamatan Seram Utara. Peta yang disediakan di artikel ini bisa membantu menunjuk ke daerah bersangkutan.

      Kedua, klostor adalah istilah yang dipakai warga setempat. Memang, bisa jadi istilah ini berawal dari pelafalan coldstorage yang keliru. Tetapi saya tak berkesempatan menilik asal-usul istilahnya pada saat itu. Berita yang ditayangkan harian di Kompas dan Ambon Ekspress, termasuk kutipan pernyataan dari JK dan DKP juga mempergunakan istilah klostor.

      Pada periode penelitian, setiap pengiriman ikan di kampung yang saya riset selalu ditujukan ke Ambon. Pengepul bilang ada tempat membeli ikan di Masohi. Tapi dia tak menganggapnya sebagai klostor. Mungkin saja definisinya tentang klostor berbeda dengan yang dipakai secara lebih umum namun kita bisa memakluminya.

      • Surya Lung

        Terima kasih juga atas research bung Geger. Kebetulan saya ada kolstor di Masohi. Mungkin bila ada kesempatan bisa cerita lebih banyak. Saya ingin sekali memajukan perikanan setemat untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah disana.

        • Geger Riyanto

          Terima kasih untuk kabarnya, Bung Surya. Semoga kalau saya sempat kembali ke sana, saya bisa kunjungi Anda dan dengar cerita dari Masohi. Pastinya menarik.

  • kasamago

    Kisah yg super menarik. Dusun Parigi dg ikan tuna lyak utk diangkat ke film dokumenter.. shng lbh mudah dishare sec luas.

    • Rachmad Hadjarati

      Semoga dibaca penggiat film dokumenter untuk kemudian dibuatkan filmnya 😀