BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 8 menit

Kehilangan, sikap nyeleneh, dan manfaat avokad.

 

MEREKA tinggal di Bekasi dan Riyan Riyadi adalah bocah yang lebih suka mengutarakan sesuatu lewat menggambar. Bila pengin mobil-mobilan, misalnya, dia akan menggambar benda itu di tembok rumah sampai kemudian si ayah menyadarinya.

Ayahnya kerap menegur kebiasaan itu, terkadang menghapusnya. Tapi Riyan akan menggambar lagi sampai keinginannya dikabulkan. Menghadapi ayahnya yang galak, dia juga lebih memilih untuk menggambar saat sedih atau marah.

Namun, kendati bersikap keras, sang ayah sering pula membiarkan, mungkin menyadari ekspresi anak lebih penting ketimbang diatur-atur. Dia bahkan memberikan satu set spidol warna sebagai hadiah ulang tahun.

Sasaran gambar Riyan bertambah seiring remaja di sekolah. Meja tulis, halaman kosong buku pelajaran, seragam teman-temannya, sampai ijazah. Sewaktu SMP, misalnya, seorang guru pernah naik pitam gara-gara kebiasaannya itu.

“Akhirnya gue dikunci, dihukum di kamar mandi. Temboknya ya gue gambar juga,” katanya, tertawa.

Tahun 2013 ayahnya meninggal. Setahun kemudian, saat membereskan lemari, dia menemukan sebuah tas milik ayahnya. Di dalamnya ada arsip lengkap sejak 2005 berisi karya, profil, dan wawancara dia di media massa. Riyan bukanlah pendokumentasi yang rapi, tapi juga merasa sangat terlambat mengetahui bila ayahnya pengapresiasi terbaik dirinya.

Riyan terharu. Sang ayah, yang jarang akur dan beda pola pikir dengan dia, ternyata mengikuti segala aktivitas berkeseniannya.

Didorong setumpuk kehilangan sekaligus kekaguman itu, Riyan mengilustrasikan cinta seorang anak kepada sang ayah lewat lima karya mural dalam Indonesia Arts Festival 2014. Berjudul “D.O.A”, dia menulis: “Tuhan memberikan surga-Nya lebih dulu di dunia kepada saya, yaitu anak-anak saya—Ayah”.

Riyan Riyadi adalah seniman mural pencipta The Popo, karakter berkepala plontos dan agak lonjong, dengan mata besar dan tak punya hidung. Biasanya karakter ini dibubuhi kutipan nyeleneh, kocak, dan satir. Tapi, dalam karya “D.O.A”, kutipan pengiringnya lebih tebal emosi personalnya. Terbiasa merespons karyanya dengan senyum kecut atau memantik tawa, kita mungkin tak menduga bila ada seorang ibu yang menangis saat melihat karya itu.

“Itu karya yang menurut gue masterpiece,” katanya.

Salah satu gambar mengilustrasikan dirinya naik kuda-kudaan kayu. Salah satu bilah pengayun mainan itu rusak, yang diganti potongan lengan sang ayah.

“Itu metafora. Bokap gue ternyata rela mengorbankan sebagian jiwanya untuk kebahagiaan anaknya.”

THE POPO dibikin Riyan Riyadi pada 2001. Awalnya dia ingin membuat gambar wajahnya sendiri. Tapi, setelah mencoba berulang kali, dia menyerah untuk menggambar realis.

”Mata gue belo, akhirnya kayak gitu.”

Sejak itu karakter The Popo terus dia pakai. Sosoknya bisa Anda jumpai di dinding jembatan, bangunan, atau tembok rumah; pendeknya di ruang-ruang publik. Pesan-pesan muralnya bermacam tapi bisa disimpulkan semuanya mengangkat masalah sosial yang sangat dekat dengan keseharian warga Jakarta seperti fasilitas umum, macet, dan banjir.

Karena Riyan dan The Popo ini sudah nyaris kembar identik, orang lebih sering menyapanya Popo—saya pun lebih nyaman memanggilnya begitu. Dia mengatakan sendiri bahwa karakter The Popo adalah “ego gue” dan sengaja ingin dipakai sebagai nama panggilannya.

Dia dan karakternya berada di dunia dan kehidupan yang sama, begitu pula kondisi dan latar sosialnya. Dan karakter ini, dianggapnya, memiliki perspektif lebih kritis ketimbang dirinya sebagai Riyan.

“Karena nama Riyan kan sudah umum. Sudah banyak. Nanti dianggap Riyan Jombang atau Riyan Hidayat.” Popo tertawa. Dua nama yang disebutkannya adalah pembunuh berantai yang kasusnya meledak tahun 2008 dan satunya adalah aktor Indonesia pemeran Lupus.

Popo mulai membikin mural tahun 2009. Saat studi komunikasi pada 2001 di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, dia menemukan lingkungan pergaulan dengan ketertarikan yang sama. Dari sana lah dia mengembangkan gairahnya sebagai seniman jalanan.

Namun, Popo juga bukan anti-galeri. Sebagaimana dia selalu terbuka pada kemungkinan berkarya dalam pelbagai bentuk dan rupa. Dia adalah seniman yang sadar atas proses, dan dari sana dia dapat membangun negosiasi maupun kompromi.

Berkembang dari pengalaman sosial maupun riset, setiap karyanya di ruang terbuka selalu menekankan pada konteks dan lokalitas. Misalnya, sebagaimana dihadapi banyak warga Jakarta, dia kerap bertemu macet saat melintasi Jalan TB Simatupang sewaktu pergi kuliah. Dari sana dia pun membuat mural dengan kutipan: ”Jangan Pucet Liat Jakarta Macet”.

Pada 2011, demi proyek jalan baru yang menghubungkan daerah Antasari dan Blok M, pemerintah kota menebang sedikitnya 554 pohon. Bersama sejumlah kawannya, Popo merespons perubahan ruang itu dengan tajuk, “Demi flyover, pohon game over”.

Proses merepons lingkungan sosial inilah yang menggerakkan Popo untuk berinteraksi dengan warga.

Saat ajang Jakarta Biennale 2013, dia berbincang dengan para pedagang mainan di Pasar Asemka. Didominasi warna kuning dan hitam, dia lantas membuat cukup banyak gambaran kehidupan para pedagang. Salah satunya mengilustrasikan seorang ayah yang sedang membonceng anaknya naik sepeda. Mural ini bertahan hingga awal 2016.

Mural 'Hidup adalah Mainan', Jakart a Biennale 2013. © Riyan Riyadi
Mural ‘Hidup adalah Mainan’, Jakarta Biennale 2013. © Riyan Riyadi

Interaksi itu yang menjadi standar utama Popo saat berkarya di ruang publik. Bila dia hendak mengambar tembok rumah, dia akan minta izin. Tapi, bila fasilitas umum macam tembok jembatan, dia akan melakukanya secara manasuka, kendati dia tetap menghadapi kemungkinan terburuknya.

Seperti halnya kerap dialami para seniman jalanan, Popo juga pernah ditegur oleh satuan pamong praja. Apes-apesnya, dibawa ke kantor polisi. Biasanya, tuduhan mereka adalah menyalahi izin atau merusak fasilitas umum. Namun, menurut Popo, mengategorikan karya muralnya sebagai vandal adalah keliru. Vandal secara definisi, kata Popo, sama dengan perusak. “Mural gue ngerusak enggak? Apa yang dirusak?” ujarnya. Jika alasannya karena tak ada izin, Popo mengatakan belum tentu tanpa izin itu merusak.

Mural-mural ini, dari yang masih awet sampai yang sudah hilang, bagi Popo adalah “kayak diary visual gue.” Mereka adalah hasil dari apapun yang sudah Popo jalani, yang telah dia lihat, dia rasakan, dia dengar, dan dia baca.

Mungkin, karena sikap rileksnya atas seni—yang bikin Popo bisa bergerak dari beragam ruang dan media—dia mengidolakan sosok Bansky, sebutan populer untuk seniman misterius asal Bristol, Inggris.

Alasannya, “Dia licik, dia komersil, dia bangsat banget lah pokoknya! Tapi gue suka.”

“Kalau ada kesempatan, gue pengin banget kolaborasi sama dia: gambar tikus di depan Gedung DPR.”

Salah satu karya mengingatkan ja nji penguasa. © Riyan Riyadi
The Popo mengingatkan janji penguasa. © Riyan Riyadi
DI daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, saya pernah menemukan mural dengan karakter The Popo dengan kutipan: “Saya tak percaya hari akhir, tapi saya percaya Jakarta hujan sedikit pasti banjir”. Tapi, garis-garis karakter itu beda dari buatan Riyan Riyadi. Karya itu memang bukan hasil goresan tangan Popo. Popo mengaku tak masalah karya-karyanya “diteruskan” orang lain di tempat-tempat berbeda.

“Mereka tetap menulis nama itu The Popo,” katanya.

Sebagian dari mereka yang mengadopsi karyanya juga meminta izin melalui akun media sosial. Lain ceritanya jika karya Popo dimanfaatkan untuk tujuan komersial dan tanpa izin. Ini pernah terjadi: sebuah tempat hiburan besar di bilangan Jakarta Utara pernah membuat selebaran diskon di internet memakai karakter Mat Kosim. Mat Kosim merupakan karakter meme buatan Popo berbentuk komik strip.

Popo menanggapinya biasa saja, tapi orang-orang lain—mayoritas pengikutnya di media sosial—ramai angkat bicara.

Satu kali, saat berkunjung ke Candi Borobudur di Jawa Tengah, Popo pernah bertemu sekumpulan anak muda yang membuat mural dengan karakter ciptaannya.

“Ini kayaknya gambarnya sering gue ngeliat,” kata Popo.

“Iya, Mas, ini gambar Popo. Ada senimannya dari Bekasi.”

“Kok gambar karya orang lain, ngebajak dong?”

“Enggak, enggak ngebajak. Kita sudah minta izin untuk gambar ini.”

Popo, yang menyembunyikan identitasnya kepada mereka, cuma tertawa.

Imitasi atau menjiplak karya memang tak terhindarkan di ruang yang sangat terbuka via internet. Karya seseorang sangat gampang didaur-ulang. Dan internet, dengan media sosial sebagai alun-alun baru, adalah ruang tak terbatas bagi para kreator untuk memperkenalkan karyanya maupun menyebarkan gagasannya.

Popo termasuk salah satu dari mungkin ratusan seniman di Indonesia yang sadar atas media baru ini.

“Media sosial kan juga ruang publik. Gue bisa meneruskan karya gue di sana,” katanya.

Popo mulai aktif menyebar karya-karyanya dan intens di media sosial sejak 2011. Pengikutnya, baik di akun Twitter (@thepopo) dan Instagram (@_thepopop), berjumlah lebih dari 60.000. Sebagaimana karya-karyanya, di media sosial Popo melanjutkan kembali eksplorasinya dalam bercanda sekaligus memaksimalkan ketengilan. Bonus lainnya: dia bisa sesekali menerima iklan sebagai buzzer—tentu lewat proses negosiasi dan kompromi yang dilakoninya.

Medium yang berbeda tentu mengondisikan karya yang berbeda pula. Di blognya, Popo lebih sering memakainya sebagai medium menyebarkan “kalender bahagia” yang dia buat rutin selama lima tahun terakhir. Kalender ini bebas unduh dan, namanya juga kalender dengan pasukan tanggal merah, ia harus dicetak berwarna, kalau tidak Anda akan kehilangan esensi humorisnya.

Sementara, di musim banjir meme, Popo juga rajin menggarap komik strip. Ada dua versi: Ati Ampela Boys, yang menggambarkan dua anak kecil berseragam SD berwajah konyol tapi sok tahu; dan Mat Kosim, karakter anak kecil telanjang dada, memakai popok, dan berwajah tengil. Karakter ini mudah didapatkan dari pencarian via Google. Ia dikemas lagi sedemikian rupa memakai aplikasi Photoshop.

Rhoma Irama, Sutan Bhatoegana, Farhat Abbas, dan Mario Teguh di antara nama tokoh publik yang sering jadi bulan-bulanan Popo. Leluconnya diambil dari seputar kehidupan sosial Popo. Dia intens menyebar komik strip kocak tiga kolom ini sejak 2012 dan sudah membuat sekitar 150-an.

“Misalnya ada temen gue yang ngehek banget, tengil, tapi bloon. Gue panggil, ‘Eh, Mat Kosim!’”

Komik strip Mat Kosim, intens dibuat Popo sejak 2012. Para pesohor jadi sasaran lelucon. © Riyan Riyadi
Komik strip Mat Kosim, intens dibuat Popo sejak 2012. Para pesohor jadi sasaran lelucon. © Riyan Riyadi

Tapi ada juga yang muncul dari rasa sakit.

Popo menderita asam lambung dan, karena parah, dia harus dirawat di sebuah rumah sakit. Selama dia dirawat itu, lama tidak berinteraksi dengan ayahnya, dia jadi dekat dengan sang ayah, yang menasihatinya soal kesehatan. Menurutnya, seniman tak masalah memiliki kehidupan urakan. Tapi, apa artinya jika sakit meski banyak berkarya? Intinya, Popo harus punya tanggung jawab terhadap tubuh sendiri.

Beberapa hari setelah dibolehkan pulang, ayahnya meninggal.

Kondisinya belum pulih, anggota keluarga terpukul dengan kehilangan mendadak. Itu mendorong Popo untuk segera sembuh. Dia konsultasi ke dokter, diskusi dengan kawannya yang sekolah gizi, membaca buku, dan menelusuri di internet. Dia mengetahui kemudian bahwa avokad adalah obat asam lambung paling mujarab.

“Akhirnya gue ngebahas tentang avokad, dan ngebawa avokad ke dalam karya gue.”

Dia kerap mendiskusikan tentang ketertarikan dan khasiat buah berdaging tebal yang lunak dan enak dimakan ini. Tak heran selanjutnya di akun Instagram-nya, kita bisa mendapati karakter The Popo membawa avokad. Popo menyebut buah berkulit hijau atau cokelat-ungu ini dengan sebutan sayang “Avocado”.

Kini, dia tengah bikin proyek “Jurnal Avocado”. Ke depan, buku ini akan dijual-belikan, dan dibuatkan pula versi gratis dalam bentuk e-book. Recananya, buku yang memuat pengalamannya tentang buah bulat lonjong berwarna kuning-hijau ini setebal 200 halaman.

The Popo dan Avocado, pengalaman personal Popo bisa keluar dari krisis. © Riyan Riyadi
The Popo dan Avocado, pengalaman personal Popo bisa keluar dari krisis. © Riyan Riyadi
SEBUAH stiker menempel di satu meja kedai kopi mungil di Ruang Rupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer  di wilayah selatan Jakarta. Ia memperlihatkan karakter wajah The Popo. Ada tulisan “Karma” di bawahnya. Itu stiker kolaborasi Popo dan band Naif dari ajakan “satu seniman satu lirik lagu” saat acara ulang tahun Naif.

Selain Naif, Popo juga berkolaborasi dengan band Efek Rumah Kaca. Pada 2015, dia mengajukan diri untuk membuat visualisasi terhadap lirik-lirik lagu di album ketiga mereka, Sinestesia. Popo tertarik karena terkesima dengan lirik-lirik lagu ERK, dan kerap membayangkan visualisasinya.

Gayung bersambut. Cholil, vokalis ERK, menyetujui untuk dibuatkan artwork dari album ERK terbaru.

“Po, kalau lo enggak suka sama liriknya, lo enggak usah gambar,” kata Cholil menyarankan Popo tidak memaksakan diri.

Tapi, dari semua lagu yang diajukan, Popo memberi sentuhan visualnya. Bahkan ada ilustrasi yang sudah dibuat terlebih dahulu sebelum proyek ini berjalan ternyata pas dengan lirik lagu di album itu.

Beberapa band lain, jika mereka minta, Popo bersedia memvisualisasikan lirik-liriknya. Popo menyebut misalnya Morfem dan Barasuara.

Pada akhir April tahun ini, dia bersama seniman mural dari TrotoArt akan menggambar tembok kosong di dekat Kali Opak, Jakarta Utara. Panjangnya sekitar 250 meter.

“Ini mural terpanjang yang gue bikin.”

Menurut Jhons Patriatik Karlah atau akrab disapa Joni, seniman mural dari TrotoArt, mural ini mengisahkan kondisi sosial di wilayah Penjaringan. Joni, yang melakoni seniman mural sejak 1989, mengatakan bahwa alasan mengajak Popo karena Popo memiliki kekuatan dalam karya seninya.

Ada beberapa ilustrasi The Popo yang akan dibuat, dalam tema berbeda. Salah satunya posisi bertumpuk saat tidur, telungkup, duduk, berdiri, dan sebagainya.

“Ini menggambarkan keadaan lingkungan yang padat penduduk,” kata Popo kepada saya.

Seniman yang mengajar komunikasi visual di almamaternya ini mendefinisikan diri soal harapan. Menurutnya, selagi dia bisa berkarya di ruang publik dan membicarakan soal keadaan sosial, politik, agama, dan lain sebagainya, itu adalah harapan yang sedang dia jalani.*

 

  • Teguh Irawan

    Baru ngeh, album sinestesia-nya erk emang gb popo. Ntap!