BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 19 menit

Eka bicara tentang sambutan pembaca atas karya-karyanya, blognya sebagai catatan berbagi bacaan, proses dan kebiasaannya menulis, hingga pandangannya atas novel yang mengubah cara pandang orang terhadap dunia.

“SETIDAKNYA ada tiga hal,” kata laki-laki itu dengan nada santai tatkala seseorang bertanya kepadanya perihal alasan apa yang selama ini membuatnya menulis, “Pertama, untuk mencatat. Kedua, untuk membagi catatan itu kepada orang lain. Ketiga, mungkin yang terlihat sepele tapi bagiku penting, yaitu untuk bermain-main. Tanpa yang terakhir itu, semuanya akan terasa sekadar aktivitas mekanik.”

Kamis, 28 April 2016, saya bertemu Eka Kurniawan di Yogyakarta. Hari itu selepas azan asar, saya sedang duduk santai di pelataran Radio Buku bersama Fairuzul Mumtaz dan Faiz Ahsoul ketika Eka muncul di hadapan kami. Ia mengenakan sepatu hitam, jin biru, dan kaus Joger biru telur asin (bertuliskan “HIDUP INI BISA JADI TAMBAH INDAH, JIKA KITA MAU & TIDAK TAKUT BERUBAH, DIUBAH & MENGUBAH”). Untuk lawatan ini, ia membawa ransel punggung, dan mengajak adik laki-lakinya. Eka tersenyum dan menyapa. “Kami habis makan pempek tadi di sana,” katanya santai.

Sore itu Radio Buku mengadakan rangkaian acara memperingati 10 tahun kematian Pramoedya Ananta Toer. Eka datang pada hari kedua untuk membicarakan buku terbarunya, novel berjudul O. Acara mengobrol bersama Eka Kurniawan merupakan bagian dari “Kata Rupa Festival” yang berlangsung selama tiga hari. Gramedia Pustaka Utama, pihak penerbit buku-buku Eka, menghubungi saya dan meminta kesediaan saya memandu acara bincang-bincang bareng dia di Yogyakarta. Dengan senang hati saya mengiyakan.

Ngobrolin apa nih kita, Mas?” tanya saya iseng saat duduk di kursi menghadap meja bundar di halaman depan Radio Buku.

Eka mengambil tempat di sebelah kiri saya, di sebelahnya lagi Fairuz dan Faiz. Angin pukul tiga sore berembus dan bikin ngantuk. Suasana lokasi acara masih sepi. Meski demikian, beberapa menit berikutnya satu-dua pengunjung berdatangan. Saya membenarkan posisi duduk, mencari pose yang nyaman.

“Terserah mau ngobrol apa,” jawab Eka, seraya nyengir dan meregangkan tubuh.

“Pura-pura dia itu,” sahut Faiz merujuk ke saya. “Pasti sudah siapkan tiga puluh halaman pertanyaan buatmu.”

Saya tertawa.

Di dalam tas, ada empat lembar berisi pertanyaan untuk acara ini.

Acara dimulai terlambat satu jam. Kursi-kursi hampir terisi penuh. Selama dua jam, saya berusaha melontarkan seluruh pertanyaan yang sudah saya susun beberapa hari sebelumnya. Saya mencoba mengungkap sebanyak mungkin sisi Eka—kesuksesannya di luar negeri, ihwal penerjemahan karya-karyanya, hobi membaca buku, novel O, hingga kehidupan personal. Eka menjawab dengan santai, tidak terburu-buru, dan efektif. Sesekali ia mencoba menyelipkan lawakan, yang memang berhasil membuat orang-orang tertawa.

Masuk nominasi Man Booker International Prize 2016 dan meraih World Readers Award 2016 di Hong Kong. Bagaimana rasanya?

Terkejut dan senang (hening sebentar). Ya, itu saja, sih.

Punya ekspektasi khusus dari pembaca di luar negeri usai karya-karyamu diterjemahkan ke bahasa asing?

Kalau bahasa asing lain (selain Inggris), aku tidak punya bayangan, karena sama sekali tidak tahu seperti apa pembaca dan industri buku mereka. Tapi kalau yang dalam bahasa Inggris, sedikit banyak aku membayangkan penerimaan atas buku-bukuku sesuai dengan penerbitnya. Bukuku yang diterbitkan New Direction (Beauty is a Wound), misalnya. Aku berharap para pembaca New Direction suka dengan bukuku.

New Direction bukan penerbit besar, mereka penerbit menengah yang memang hanya menerbitkan buku-buku sastra. Mirip Pustaka Jaya kalau di Indonesia-walau Pustaka Jaya juga menerbitkan selain sastra. Jadi, aku membayangkan buku-bukuku sebetulnya tidak begitu dibaca dengan sangat luas seperti buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit mainstream yang lebih besar lagi.

Meski begitu, ternyata hasilnya sedikit melebihi perkiraanku. New York Times sampai mengulas bukuku sebanyak tiga kali dan The New Yorker satu kali. Itu sesuatu yang jarang terjadi. Mereka sebetulnya jarang membahas buku sastra yang sangat spesifik, lebih sering ke buku-buku mainstream.

ka Kurniawan bicara di hadapan pembacanya. Respons yang ramai atas karya-karyanya sekarang justru semula berkat banjir pujian dari media internasional termasuk oleh The New York Times. © Bernard Batubara
Eka Kurniawan bicara di hadapan pembacanya. Respons yang ramai atas karya-karyanya sekarang justru semula berkat banjir pujian dari media internasional termasuk oleh The New York Times. © Bernard Batubara

Buku-bukumu lebih laku di luar negeri ketimbang di Indonesia. Dan tentu hasil penjualannya lebih besar?

Iya. Ketimbang di Indonesia, lebih laku di sana.

Mungkin karena bukuku di luar dijual dengan harga lebih mahal. Kalau dijadikan Rupiah, novel Cantik itu Luka (2002) harganya sampai tiga ratus ribu. Di sini, enggak sampai seratus ribu. Persoalan royalti, sih, sama saja. Tapi, misalnya, kalau di sini bukuku butuh tiga belas tahun lamanya untuk mencapai angka penjualan tertentu, sedangkan di Amerika hanya butuh satu tahun.

Tetapi, itu juga enggak bisa dibilang laku banget, karena di sana ukurannya beda. Di Amerika, kamu bisa menjual buku sebanyak 30.000 eksemplar itu hitungannya enggak gede-gede banget. Gede itu berarti ratusan ribu atau bahkan jutaan eksemplar.

Bagaimana peluang bagi buku-buku penulis Indonesia lain untuk juga dilihat oleh pembaca di luar?

Selama ini kita membayangkan pintu atau gerbang tersebut (untuk menembus pasar luar negeri) sulit ditembus, padahal sebenarnya tidak. Kesempatan itu selalu ada. Tapi barangkali sebagian besar penulis tidak tahu pintu-pintu atau gerbang itu. Gerbang selalu ada di tempatnya. Mungkin kita tidak menemukannya, tidak tahu, atau tidak berani mencoba.

Seberapa penting, bagi seorang penulis, karyanya dibaca di luar negeri?

Sebenarnya, yang jauh perlu dipertanyakan adalah: Penting enggak bagi mereka membaca karya sastra Indonesia? Ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia dan hendak menawarkan tulisan tersebut dalam bahasa lain, itu seperti kita sedang memasak sesuatu dan menjajakan makanan tersebut, lantas bertanya: Penting enggak menjual makanan ini? Ya, tentu saja penting untuk menghasilkan duit atau alasan lain. Tapi persoalannya adalah, mereka butuh enggak makanan yang kita masak itu?

Selama kamu berpromosi di luar negeri, apa yang paling sering ditanyakan pembaca di sana?

Karena mereka baru mendengar namaku, baru tahu buku dari Indonesia, dan bahkan beberapa baru tahu soal Indonesia, hal yang paling umum ditanyakan adalah perkara teknis, seperti kenapa butuh waktu sampai tiga belas tahun untuk bukuku diterjemahkan ke bahasa Inggris. Menurut mereka, itu waktu yang sangat lama. Aku jawab, enggak ada jawaban pasti buat pertanyaan itu, justru aku masih beruntung akhirnya bukuku bisa terbit dalam bahasa Inggris, karena kalau tidak mungkin seumur hidup enggak bakal terbit (tertawa).

Hal berikutnya adalah, mereka selalu masuk ke dalam buku. Ketika berhadapan dengan buku, mereka bertanya hal-hal yang memang ada di buku itu. Buatku itu menyenangkan, karena aku telah menulis sesuatu dan mereka bertanya tentang apa yang aku tulis. Misalnya, mereka akan bertanya dari mana kamu dapat ide soal manusia keluar dari kuburan, dan setelahnya mau tidak mau aku bercerita tentang pengaruh novel-novel horor dan novel-novel silat yang kubaca. Mereka tidak bertanya di luar itu, seperti konteks politik atau lainnya, karena tentu saja mereka harus cari tahu dulu mengenai hal-hal tersebut. Kalau mereka tertarik, baru mereka akan bertanya.

Bagaimana ceritanya buku-bukumu bisa diterjemahkan dan dipasarkan di luar negeri?

Akhir tahun 2008 aku bertemu Pak Ben (alm. Benedict Anderson) di Jakarta untuk mengobrol biasa saja. Tapi di ujung pertemuan itu dia bilang bukuku harus dibaca di luar negeri, diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Prancis atau keduanya. Dia tidak secara spesifik menyebut buku yang mana. Sampai tiga tahun kemudian aku enggak melakukan apa-apa, karena malas (tertawa).

Kemudian, akhir 2011 aku bertemu Tariq Ali, karib dekat Ben. Dia bilang, dia diberi pesan oleh Benedict Anderson untuk menemuiku. Dia tanya apa bukuku sudah diterjemahkan, dan aku jawab belum. Terjemahkan sekarang juga, katanya, dan aku iya-iya saja. Tapi begitu dia pulang aku lagi-lagi enggak melakukan apapun.

Tapi Tariq mengirimiku e-mail terus-terusan sampai-sampai aku merasa terteror (tertawa). Jadi aku menghubungi Mirna, editorku di Gramedia, dan bertanya apa kita punya penerjemah. “Gue males, nih, diteror mulu,” kataku. Kami mengontak empat penerjemah dan meminta contoh hasil terjemahan mereka. Waktu itu kami putuskan menerjemahkan Lelaki Harimau (2004), karena tipis, jadi enggak terlalu mahal ongkosnya dan masuk akal buat proyek penerjemahan pertama. Dari contoh hasil terjemahan yang masuk, terpilihlah Dalih (Labodalih Sembiring), dia berasal dari Bantul.

Pada saat yang bersamaan, pada 2011, aku dapat e-mail dari Annie Tucker. Dia bertanya apa dia boleh menerjemahkan novel Cantik itu Luka? Saat itu dia sudah menerjemahkan satu bab. Aku membacanya dan aku suka hasil terjemahannya. Saat itu dia lagi penelitian di Malang, dan karena aku akan ke Radio Buku, aku mengajaknya bertemu di Yogya. Jadi aku bertemu dengan Annie dan Dalih di waktu yang sama.

Kepada Dalih aku hanya bilang bahwa aku dan Ben bersepakat kamu yang akan mengerjakan Lelaki Harimau. Sementara ke Annie aku mengajukan dua syarat: Pertama, kamu harus menyelesaikan terjemahan Cantik itu Luka apapun yang terjadi. Kedua, aku enggak mau kamu menawarkan kepada siapapun di Indonesia. Kamu harus tawarkan buku ini ke Amerika atau Inggris.

Jadi Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka diterjemahkan di waktu yang sama. Lelaki Harimau sudah lebih dulu mendapatkan penerbitnya, Verso, karena Tariq Ali yang memasukkannya, kemudian baru dapat penerjemah. Sedangkan Cantik itu Luka lebih dulu mendapatkan penerjemah baru kemudian penerbitnya.

Soal Cantik itu Luka, setelah Annie selesai menerjemahkannya, dia bawa naskah itu ke Amerika dan mendapat dana terjemahan dari PEN American Center. Dari situ naskah terjemahannya dibaca oleh empat penerbit. Termasuk dalam keempat itu adalah New Direction. Karena aku sudah mengenal banget buku-buku terbitan New Direction, aku bilang ke Annie apa kita bisa sama mereka, dan ternyata New Direction sendiri juga sangat tertarik. Mereka minta contoh hasil terjemahan lebih banyak, sekira sembilan bab—separuh buku—yang baru selesai dikerjakan Annie. Setelahnya mereka langsung bikin kontrak.

Terjemahan bahasa Inggris novel Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka sama-sama dapat kontrak tahun 2013 dan terbit dua tahun kemudian.

Seberapa penting menerjemahkan karya sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa asing atau sebaliknya?

Sangat penting. Tetapi menurutku, daripada kita menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa asing, jauh lebih penting menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa asing ke Indonesia. Kalau karya-karya terbaik di luar masuk ke Indonesia, kita bisa membaca karya-karya bagus, dan kalau kita membaca karya-karya bagus, kita akan menghasilkan karya-karya yang insyaallah juga bagus. Jika karya-karya kita bagus, otomatis mereka juga ingin baca.

Mereka di luar juga sebetulnya selalu butuh dan mencari karya-karya dari luar negara mereka untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Tetapi memang agak berbeda antara Amerika dan Inggris dengan negara-negara di Eropa. Di Amerika dan Inggris, hanya tiga persen jumlah karya terjemahan, sedangkan di Eropa seperti Prancis dan Jerman porsinya bisa sampai empat puluh persen—mereka menerjemahkan banyak karya sastra luar karena percaya enggak bakal bisa hidup hanya dari konten lokal. Sebaliknya, Amerika dan Inggris merasa sudah cukup membaca karya-karya dari mereka sendiri.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Aku rasa di Indonesia juga seperti Amerika dan Inggris, hanya konteksnya beda. Kalau di Amerika dan Inggris menerjemahkan begitu sedikit karya sastra dari luar negara mereka karena merasa cukup dengan karya sendiri. Sementara di Indonesia bukan karena itu, tapi mungkin juga karena kurang kesadaran untuk menerjemahkan karya sastra dari bahasa asing.

Eka Kurniawan dalam satu acara bincang- bincang di Yogyakarta. Seni menulis novel, baginya, tak bisa lepas dari semangat untuk bermain-main. © Bernard Batubara
Eka Kurniawan dalam satu acara bincang- bincang di Yogyakarta. Seni menulis novel, baginya, tak bisa lepas dari semangat untuk bermain-main. © Bernard Batubara

Seberapa sering kamu menerjemahkan karya sastra luar ke Indonesia?

Sekarang, sih, sudah jarang. Kalau dulu masih punya banyak waktu, aku sering menerjemahkan karya-karya yang aku suka, hampir setiap hari.

Aku menerjemahkan karena ingin tahu bagaimana kata per kata ditulis oleh si penulis karya tersebut. Penting bagi penulis untuk menerjemahkan karya sastra, karena kita dipaksa menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu dari cerita yang bukan milik kita tetapi harus kita tulis dalam bahasa kita sendiri, sehingga kita jadi terlatih menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu yang tepat.

Lebih asyik menerjemahkan karya orang lain atau menulis karya sendiri?

Kesenangannya berbeda. Menerjemahkan enggak begitu pusing karena ceritanya sudah ada, tinggal mengalihbahasakannya. Kesulitannya hanya saat berusaha menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Kalau menulis karya sendiri kita membangun semua dari nol, mencari kata-kata sendiri, hampir tanpa panduan sama sekali.

Beberapa penulis mengerjakan bukunya dengan kerangka yang ketat, sedang yang lain menulis tanpa punya outline. Bagaimana caramu menuliskan buku-bukumu?

Sebagian besar bukuku ditulis tanpa outline atau perencanaan apapun. Dalam proses kreatifku, yang lebih penting adalah rewriting—menulis ulang. Kadang, setelah beberapa puluh halaman, aku tiba-tiba sadar nama tokohku berubah, atau plot cerita mendadak belok ke mana-mana. Tapi itu semua peristiwa yang alami, karena kita menulis tanpa perencanaan. Jadi aku biarkan tetap mengalir.

Kalau ceritaku sudah sampai di titik enggak tertolong lagi karena benar-benar jelek, aku akan menulis ulang semuanya dari awal, sambil mengingat-ingat di bagian mana tadi aku melakukan kesalahan. Ketika menulis ulang, aku mencoba menemukan ekspresi-ekspresi baru. Jika tulisan sebelumnya terasa menjemukan atau gaya menulisnya enggak enak, aku akan tulis cerita yang sama dengan cara yang baru. Prosesnya hampir selalu begitu, dan aku melakukannya sampai aku merasa novel itu sudah menemukan bentuknya.

Cantik itu Luka, misalnya, aku tulis ulang sebanyak dua-tiga kali. O, aku sudah enggak bisa hitung, sepanjang delapan tahun sudah berapa kali menulis ulang novel itu. Karena proses menulis ulang itu, selalu ada beberapa versi dari novel-novelku. Ada yang perbedaannya sedikit, ada yang cukup jauh.

Cerita pendekmu juga ditulis dengan cara yang sama?

Kurang-lebih sama. Tapi kalau cerita pendek, karena enggak sepanjang novel, jadi enggak lebih merepotkan. Kadang-kadang begitu selesai menulis satu cerita sudah ketahuan di mana letak bolongnya. Kadang pula sekali ditulis sudah enggak perlu ditulis ulang lagi karena sudah rapi. Ada cerita yang pembukaannya sudah oke, bagian akhirnya sudah oke, tapi pertengahannya kurang, maka bagian itu yang aku bongkar.

Aku enggak bisa membongkar novel dengan cara seperti itu, karena novel itu panjang dan proses pengerjaannya lama. Satu bagian dibongkar, bagian lain harus ikut. Kalau di bagian tengah ceritanya nggak jalan, ya sudah, aku tulis ulang semuanya dari awal. Akibat dari menulis ulang itu, naskah yang tadinya aku anggap sudah oke mau enggak mau aku rombak lagi.

Bagaimana caramu mempertahankan konsistensi suara cerita pada naskah yang proses pengerjaannya hingga bertahun-tahun?

Naskah akhir yang kemudian terbit jadi buku adalah naskah yang aku kerjakan selama waktu yang tidak jauh dari waktu terbitnya. O, misalnya, yang mulai aku kerjakan dari tahun 2008, tentu saja apapun di naskah tersebut yang ada pada tahun itu sudah tidak ada lagi dalam versi akhirnya sekarang. Cerita besar dari naskahnya masih ada, tetapi versi yang akhirnya terbit adalah cerita yang aku tulis secara maraton dalam setahun terakhir. Kalau enggak begitu, pasti akan ada tone cerita yang berubah dan enggak enak.

Kamu punya jam khusus untuk menulis?

Kalau masih dalam proses pengerjaan draf, enggak ada jadwal khusus. Kapanpun aku pengin menulis, ya aku tulis. Kalau sedang enggak pengin, hingga berhari-hari pun aku enggak akan menulis.

Tetapi begitu satu naskah sudah ada beberapa versi dan aku melihat sepertinya aku bisa merampungkan ini dengan membuat versi akhirnya, aku akan menulis maraton, setiap hari selama lima sampai delapan jam sehari. Pada tahap itu, aku enggak mengerjakan apapun selain naskah akhir tersebut.

Versi akhir harus dikerjakan dengan cara maraton, karena kalau pengerjaannya terputus, misalnya aku tinggalkan naskah itu selama dua minggu saja, sudah sulit untuk memasukinya lagi. Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku pakai beristirahat.

Punya tempat favorit pada saat menulis?

Aku bisa menulis di mana saja. Rumah, kantor, atau tempat-tempat di luar. Aku bisa menulis selama tidak ada yang mengajak ngobrol. Aku enggak masalah menulis di tempat yang banyak orang berlalu-lalang.

Kamu juga menulis skenario. Pengaruh macam apa yang diberikan oleh proses membuat skenario ini terhadap kerja membuat novel?

Aku banyak menulis skenario untuk televisi, sejak tahun 2005 ketika aku tinggal di Jakarta. Waktu itu, aku sudah menerbitkan dua novel, kemudian masuk ke rumah produksi dan menulis skenario. Setelah itu aku keluar dari PH, tetapi di tengah-tengah promosi novel terbaruku tahun lalu pun aku masih menulis skenario.

Hal yang aku pelajari dan sangat berguna dari menulis skenario adalah adanya batasan durasi tayangan film atau televisi yang ketat dan sangat terbatas. Lebih-lebih di televisi, benar-benar sudah dihitung kapan commercial break atau music break masuk, dan sudah tidak bisa lebih longgar lagi.

Itu membuat seorang penulis harus bekerja dan mencari tahu bagaimana cara mengatur cerita dalam ruang sempit, memperkenalkan karakter-karakter tanpa bertele-tele, dan dengan demikian bercerita secara efektif. Pelajaran dari kerja menulis skenario ini aku pakai saat menulis novel maupun cerpen.

Novel atau cerita pendek sebenarnya tidak punya batasan seperti skenario. Kita bisa menulis sebanyak apapun. Tetapi aku sudah memiliki disiplin itu, bekerja dalam kerangka yang efektif dan tidak mengizinkan cerita untuk melebar ke sana dan ke mari. Sebisa mungkin cerita harus terus berjalan. Kalaupun kita ingin cerita berhenti sebentar, harus ada tujuan mengapa cerita itu menjadi lambat, atau mengapa kita membuatnya kembali cepat.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) dan O punya tempo cepat seperti film. Novel-novel itu ditulis dalam pengaruh kerja menulis skenario?

Ya, memang. Buatku, efektifitas itu sangat penting. Selain menulis dengan efektif dan efisien, dari penulisan skenario aku juga belajar bagaimana membuat visual. Dua novel pertamaku menggunakan teknik telling—mengatakan, sementara du novel terakhirku lebih showing—menunjukkan, sehingga ada lebih banyak adegan dan dialog. Itu aku pelajari dari menulis skenario film dan televisi.

Aku merasa selama ini aku menulis cerita lebih banyak sebagai pendongeng, dan kini aku ingin menciptakan narator yang lebih objektif. Aku mau meletakkan saja adegan-adegan dan dialog-dialog tanpa intervensi dari narator.

Selain cerpen, novel, skenario, kamu juga menulis di blog. Bagaimana awal kamu membuat blog?

Aku membuat ekakurniawan.com dari tahun 2000, tetapi waktu itu memang enggak begitu rajin menulis di blog. Aku bikin blog karena saat itu melihat ada hal baru yang menyenangkan: Internet. Ketika media mainstream di masa itu masih kuat, Internet hadir menjadi media alternatif. Semua orang ingin mencobanya, termasuk aku.

Aku mulai rajin menulis di blog baru selama beberapa tahun terakhir, didorong rasa bosan terhadap media mainstream—koran dan majalah—sampai aku merasa enggak terlalu pengin menulis di sana lagi, kecuali satu-dua kali aku masih menulis esai. Tetapi, di waktu yang bersamaan, sebenarnya aku melihat Internet pun sudah mulai jadi mainstream. Semua orang ada di sana.

Aku sempat ingin meninggalkan blog juga, tapi kupikir kalau blog enggak punya dan koran atau majalah juga enggak aku baca, terus mau ngapain? Akhirnya aku pertahankan blog agar aku masih bisa menulis dan menyimpan satu-dua ide kecilku.

Dalam kesusastraan dan dunia Internet, blog adalah sesuatu yang unik. Kita tahu di kesusastraan ada yang namanya jurnal, tetapi jurnal sifatnya sangat personal, ditulis untuk diri sendiri. Aku melihat blog sebagai media yang personal sekaligus terbuka buat publik. Sifat blog yang semacam itu menjadi tantangan buatku, bagaimana caranya menulis sesuatu yang personal sekaligus juga bisa dibaca banyak orang.

Di blog, kamu sering mengulas buku yang kamu baca. Enggak khawatir sumber pengetahuanmu sebagai penulis ketahuan orang?

Enggak, lah. Terserah saja kalau orang mau mencuri ilmu atau membaca buku yang sama dengan yang aku baca. Lagipula, sumber-sumberku menulis justru dari buku-buku yang tidak aku ulas di blog (tertawa).

Kalaupun aku enggak mengulas buku-buku yang aku baca, ada banyak orang yang tetap mampu melacak apapun dari tulisan-tulisanku. Satu-satunya cara menjadi orisinal adalah menulis dengan pintar. Kalau mau meniru satu penulis, sebisa mungkin jangan tiru plek-plek. Harus kreatif. Ibarat ada bahan buah kedondong dan mangga, kita enggak hanya membuatnya jadi rujak, tapi bikin sesuatu yang lain.

Justru bacaan yang aku buka ke publik menjadi tantangan buatku untuk menulis dengan lebih baik lagi.

Pernah menghitung berapa banyak buku yang kamu sudah baca?

Enggak. Karena aku enggak punya rak yang besar, koleksi pribadiku juga sebetulnya enggak begitu banyak, hanya sekitar seribu lima ratus buku. Kalau sudah melebihi itu, biasanya aku sortir dan sisanya akan aku sumbangkan ke perpustakaan.

Sepertiga koleksi bacaanku novel sastra dari Indonesia maupun luar negeri—termasuk buku-buku lama Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, sedikit buku-buku filsafat, dan yang jumlahnya agak banyak adalah buku-buku sejarah, karena buku-buku itu agak sulit ditemukan kembali.

Buku-buku sejarah sulit dicari dan jarang diterbitkan ulang, sehingga kalaupun suatu saat nanti koleksi buku sejarahku bertambah dan memenuhi rak, aku akan merelakan buku-buku yang lain tergeser. Buku-buku sejarah penting bagiku buat mencari referensi. Beda dengan novel, setelah aku baca dan sudah tahu ceritanya belum tentu aku baca ulang. Kecuali, beberapa novel yang aku sangat suka, baru akan aku simpan terus.

Buku yang bagus itu bagaimana?

Buku-buku bagus adalah buku-buku yang menggangguku, secara intelektual maupun emosi, baik itu melalui isi cerita maupun teknik menulisnya. Ada buku yang bagus tetapi dalam pengertian ia hanya menghiburku, tidak membuatku tertarik melihatnya kembali. Tetapi, ada buku-buku yang setelah aku selesai membacanya, aku tahu aku akan kembali dan melihatnya lagi untuk merasakan ulang gangguan itu. Bahkan saat aku sudah bisa memecahkan misteri mengapa buku itu menggangguku, aku akan terganggu lagi oleh hal lain.

Buku-buku semacam itu yang aku anggap buku bagus.

Di blog, kamu bilang pernah membuat satu proyek panjang yang diberi judul Malam Seribu Bulan. Bisa ceritakan tentang itu?

Ide awalnya datang dari salah satu buku yang aku suka, Seribu Satu Malam. Di sana terdapat banyak cerita yang digabung menjadi satu oleh sebuah kerangka: Syahrazad yang mendongeng dari malam ke malam. Cerita-cerita dalam buku itu sangat menarik. Aku membayangkan diriku membuat proyek serupa memakai latar Indonesia. Mungkin aku akan menuliskan kisah-kisah yang lebih urban dan modern, tetapi tetap dengan elemen-elemen serupa buku itu: violence, seks, hal-hal gaib—segala genre dongeng yang ada di sana.

Setelah Lelaki Harimau terbit kali pertama, aku mulai mengumpulkan banyak cerita demi proyek panjang Malam Seribu Bulan. Satu-satunya tantangan bagiku adalah aku tidak ingin menceritakannya seperti Syahrazad menceritakan Seribu Satu Malam. Setelah bertahun-tahun proyek itu jalan, aku mulai terlunta-lunta karena kehilangan arah, sampai akhirnya beberapa bagian dari proyek panjang itu aku putuskan untuk menjadi satu novel utuh yang berdiri sendiri. Bagian dari proyek itu adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan O.

Bagaimana gagasan awal tentang monyet bisa muncul di dalam novel O?

Sebenarnya monyet datang belakangan. O masih bagian dari proyek panjang Malam Seribu Bulan, tetapi bagian monyet baru muncul pada tahun 2012.

Ketika itu aku sudah punya anak dan anakku senang melihat topeng monyet, yang pada masanya masih diperbolehkan di Jakarta. Mulanya aku terpikir untuk menulis fabel tentang monyet, namun seiring jalan aku memutuskan, baiklah ini akan masuk saja ke proyek panjang itu. Ide membuat fabel anak-anak tentang kisah monyet kemudian buyar begitu saja.

Aku tidak punya satu rencana jelas ingin membuat novel apa. Aku jalan bersama banyak cerita yang aku kumpulkan. Gagasan dasarnya hanya: Akan ada banyak cerita yang bergabung menjadi sebuah novel. Aku mulai menulis dari awal satu persatu cerita. Beberapa akhirnya berakhir sebagai cerita pendek saja, yang juga masuk dalam kumpulan Perempuan Patah Hati yang Menemukan Kembali Cinta Melalui Mimpi.

Bayangan bentuk yang lebih utuh tentang satu novel baru mewujud ketika cerita tentang monyet itu bergabung.

O adalah novel multi-plot. Tapi apakah ada gagasan tunggal di dalamnya?

Gagasan tunggalnya adalah bahwa cerita tidak berdiri sendiri. Sebelum O, aku sudah membuat cerita multi-plot di Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, meskipun di sana ada satu plot yang lebih kuat yang menjadi tulang punggung sub-plot sub-plot lain.

Kemudian, dari kedua novel tersebut aku mencoba menarik satu hal, yaitu bagaimana sub-plot dan plot utama tidak memiliki posisi yang hierarkis—baik plot utama maupun sub-plot berada sejajar. Si monyet di O, meskipun namanya menjadi judul novel, sebenarnya hanya bagian dari banyak karakter yang ada di sana.

Lawatan peluncuran novel terbarunya setela h di Jakarta, Surabaya, dan Malang. Baru-baru ini novel ketiga Eka telah dibeli hak ciptanya untuk difilmkan. © Bernard Batubara
Lawatan peluncuran novel terbarunya setelah di Jakarta, Surabaya, dan Malang. Baru-baru ini novel ketiga Eka telah dibeli hak ciptanya untuk difilmkan. © Bernard Batubara

 

Soal karakter dalam fiksimu, ada tokoh polisi bernama Joni Simbolon di O yang ternyata juga pernah muncul di Lelaki Harimau. Kamu memang punya teman polisi?

Joni Simbolon itu memang nama polisi di Pangandaran.

Ada kalimat, “Manusia, dari sampah kembali ke sampah” di bagian akhir novel O. Kamu pesimistis dengan nasib umat manusia?

Aku tidak melihat dari konteks itu. Kalau soal pesimistis atau optimistis juga aku tidak tahu. Tetapi, gagasan kecil soal O adalah mengenai hidup yang berulang. Si monyet O yang setelah hidupnya berakhir sebagai monyet, ia akan menjadi manusia, walau monyet-monyet itu sebenarnya enggak pernah tahu bagaimana kelak nanti kalau mereka jadi manusia.

Mirip dengan kita yang mungkin sering bertanya: Setelah hidup sebagai manusia, lalu apa? Kita pun enggak pernah tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan sok yakin, setelah mati nanti akan masuk surga atau neraka. Tidak ada yang pernah bisa membuktikannya. Sama dengan O yang tidak pernah bisa membuktikan saat menjadi manusia nanti seperti apa.

Kalimat yang ada di akhir cerita itu aku maksudkan sebagai coda, bagian yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan sebelumnya, tetapi mengulang info yang ada di awal. Aku memelesetkan kalimat penutup itu dari frasa terkenal “From dust to dust.” (Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust).

Banyak hewan di dalam O. Kamu merasa terhubung dengan yang mana?

Burung kakaktua, yang menyuruh orang salat tapi dirinya sendiri kagak salat.

“Keyakinan bisa membunuh,” katamu di satu bagian O. Apa artinya ini?

Orang yang sudah yakin biasanya memang tidak membutuhkan bukti apapun untuk keyakinannya. Kalau sudah yakin, ya yakin. Menurutku, semestinya semua keyakinan harus dipertanyakan terus-menerus.

Kamu mencantumkan kalimat dari Animal Farm karya George Orwell di dalam O.  Saat menuliskan O kamu terpengaruh novel itu?

Kutipan yang aku letakkan dari Animal Farm itu semacam joke, meskipun memang ada paralelisme antara novel Orwell dan novelku. Orwell menulis fabel dan di novelku juga terdapat bagian yang berupa fabel, tetapi kalau dilihat lagi, struktur kedua novel tersebut amat berbeda.

Orwell menulis tentang totalitarianisme—binatang melakukan kudeta pada manusia, lalu menciptakan dunia totaliternya sendiri. Sementara di novelku, fabel beroperasi dengan terbalik. Binatang-binatang di dalam novelku sangat anarki. Kirik, misalnya, anjing yang tidak memiliki tuan dan tidak mempertuan siapapun.

Jadi, quote dari Animal Farm yang aku letakkan di dalam O itu semacam lelucon yang juga aku harap dapat membuat orang membaca atau membaca ulang novel George Orwell setelah membaca novelku dan kemudian membandingkannya.

(Kutipan dari Animal Farm itu: “Hewan-hewan di luar menoleh dari si babi ke manusia, dari si manusia ke babi, dan dari si babi ke manusia lagi: tapi sudah tak mungkin membedakan yang satu dari lainnya.)

“Dongeng selalu menjadi racun,” bunyi kalimat salah satu bagian novel O. Apakah ini visimu sebagai penulis? Caramu mengatakan bahwa novel yang menyenangkan dibaca itu novel yang berwujud seperti dongeng?

Sebetulnya kalimat itu adalah responsku buat novel Don Kihote. Don Kihote membaca novel-novel tentang kisah ksatria, dan saking tergila-gilanya dia sama novel-novel itu, dia menganggap dirinya sendiri ksatria, sehingga dia akhirnya keluar dengan membawa perisai, pedang, kuda, dan berkelana seperti ksatria di novel-novel yang dia baca.

Entang Kosasih seperti dicuci otaknya oleh dongeng-dongeng yang ia dengar. Sebagai penulis, kamu punya intensi mencuci otak pembacamu melalui novel-novelmu?

Tentu saja. Jika itu berhasil (tertawa). Aku rasa itu mirip seperti pertanyaan yang juga cukup sering diajukan orang: Apakah sebuah novel bisa mengubah dunia? Buatku, hal semacam itu penting nggak penting, tentang bisa atau tidak novel mengubah dunia. Tetapi, yang paling penting dan lebih bisa diusahakan adalah, bagaimana sebuah novel bisa mengubah cara orang melihat dunia. Karena ketika cara pandang orang terhadap dunia bisa berubah, dunia juga bisa berubah.

Apa tugas terbesar seorang penulis?

Ya, itu dia tadi, mengubah cara pandang orang terhadap sesuatu. Setiap orang punya gagasan dan cara melihat dunia. Bagaimana kita pada dasarnya saling mencoba mempengaruhi dalam memperlihatkan cara yang lebih baik untuk melihat hal-hal tertentu. Tentu saja masing-masing melakukannya dengan metode yang berbeda. Beberapa mungkin memilih cara yang straight to the point dengan mengatakan kamu harus begini dan harus begitu. Tetapi buatku, novel tidak beroperasi seperti itu. Novel masuk dan kemudian mengubah cara pandang seseorang tanpa orang itu menyadarinya.

Ada banyak novel bagus yang berhasil membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Salah satu kekagumanku terhadap Pram adalah dia berhasil membuatku melihat Indonesia dengan cara yang berbeda.

Dari novelmu yang pertama sampai yang sekarang, terlihat keinginan untuk terus mengubah gaya bercerita. Seberapa penting eksplorasi gaya menulis buatmu?

Bagiku, yang lebih penting adalah evolusi atau perkembangan. Perkembangan yang terjadi pada situasi, cerita, serta konteks sosial, politik, pengetahuan, intelektual, dan lain-lainnya menuntut perubahan-perubahan tertentu. Jika aku menuliskan Cantik itu Luka di masa kini, aku rasa bentuknya sudah pasti akan berbeda. Ada pengetahuan-pengetahuan baru dan cara-cara bercerita yang lebih baik, atau setidaknya lebih membuatku senang.

Perubahan gaya menulis bagiku sesuatu yang mengalir saja. Aku tidak, misalnya, mengharuskan diriku untuk terus berubah. Kalau aku merasa suatu cerita harus ditulis dengan cara yang sama seperti cerita sebelumnya, ya aku tulis saja.

Di beberapa novelmu, kamu menggunakan kampung halamanmu sendiri sebagai latar cerita. Apakah memang sebaiknya penulis mengambil materi tulisannya dari tempat ia tinggal?

Ketika menulis, yang paling penting kamu mengenal tempat yang sedang kamu tulis. Mengenal dalam artian kamu pernah berada di sana atau melakukan riset atas tempat itu. Kamu, kan, menulis untuk membuat orang lain percaya dengan apa yang kamu tulis—bahwa cerita tertentu terjadi di ruang dan waktu tertentu. Untuk membuat orang percaya, kamu harus meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu tahu pasti apa yang kamu tulis.

Tetapi, yang lebih perlu diperhatikan adalah apa pentingnya aku menulis dengan latar tempat tertentu. Jika suatu cerita bisa aku tulis menggunakan latar tempat yang aku lebih familiar, aku akan memakai tempat itu. Artinya, pemilihan latar tempat cerita harus memiliki konteks dan makna. Jangan sampai kita menuliskan tempat tertentu tidak lebih hanya karena kita menganggap tempat itu eksotis tanpa memberikan makna apapun terhadapnya, karena dengan demikian kita sudah melakukan semacam “kolonialisme baru”.

*

Bakda isya, sesi mengobrol dan tanya-jawab rampung. Sebelum beranjak dari lokasi acara, seorang peserta sempat menyampaikan rasa ingin tahunya kepada Eka dan bertanya apa yang Eka harapkan dari penulis-penulis yang datang dari generasi lebih baru. Eka menjawab, “Seperti aku menyukai buku-buku yang menggangguku, aku juga berharap dan menunggu akan ada buku-buku seperti itu. Buku-buku yang menawarkan cara pandang baru atas dunia dan membuatku memikirkan cara pandang tersebut.”*