BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 10 menit

“Dalam jurnalisme, satu fakta kecil yang keliru dapat menggoyahkan keseluruhan cerita. Sebaliknya, dalam fiksi, satu fakta tunggal yang sahih dapat melegitimasi keseluruhan ceritanya.”

CIRCA, penerbit indie berbasis di Yogyakarta, merilis terbitan perdananya akhir Mei lalu dengan menerjemahkan karya jurnalisme Gabriel García Márquez—biasa disapa Gabo untuk kalangan Amerika Latin. Edisi asli buku itu terbit pada 1996 dan setahun kemudian dirilis dalam bahasa Inggris dengan judul News of a Kidnapping (diterjemahkan Kisah-kisah Penculikan oleh Circa). Ini prosa jurnalisme Gabo yang dibanggakannya; dia mengerjakan selama tiga tahun dan diakuinya sebagai “tugas paling sedih dan paling sulit.” Kecuali bagi mereka yang punya minat khusus pada sastra di kawasan subbenua itu, terutama pada karya-karya Gabo, kira-kira kita butuh 20 tahun untuk akhirnya bisa mengakses buku ini, dan menikmatinya dengan bahasa terjemahan. Saat diobrolkan pada satu petang dalam perhelatan #PekanBukuIndie di Dongeng Kopi, Irwan Bajang—pengelola Indie Book Corner yang memoderasi acara tersebut—bertanya: Apakah karya nonfiksi Gabo punya pengaruh bagi para penulis nonfiksi di sini sebagaimana karya fiksinya?

Saya berpikir agak lama, tapi kemudian saya menjawab “praktis tidak ada,” tanpa ragu. Namun pertanyaan Bajang muncul kembali seusai acara itu, di dalam kepala saya, dan saya tertarik untuk mengelaborasi jawaban singkat tersebut.

Berbeda dengan novelnya yang termasyhur, Seratus Tahun Kesunyian sebagai “Alkitab-nya Amerika Latin”, yang mengangkat Gabo sebagai selebritas dunia, nyaris sejumlah prosa jurnalismenya dipercakapkan selintas saja, kendati dia mengawali kariernya sebagai reporter yang disebutnya “pekerjaan terbaik di dunia.” (Ungkapan ini agaknya perlu direvisi karena kini reporter adalah profesi suram seiring senjakala media cetak.)

Visi Gabo dalam jurnalisme bisa dikenali lewat yayasan yang dia dirikan pada 1995, dengan kegiatannya adalah menggelar lokakarya keliling mengenai pengajaran dan teknik jurnalisme—disebutnya “Sekolah Tanpa Tembok.” Dia mengeluhkan soal mutu jurnalisme di kawasan Ibero-Amerika yang makin ke sini makin gemar menyajikan ‘talking-news’ dan ‘breaking-news’. Dia mengkritik privilese wartawan dengan kartu persnya yang jungkir-balik mengejar berita tapi minim etika dan verifikasi, kreativitas dan reportase. “Mereka digerakkan oleh semangat bahwa cerita terbaik adalah yang pertama kali dimuat, bukan oleh cerita yang paling bagus dituturkan,” menurut Gabo.

Gabo mengikuti perkembangan Jurnalisme Baru yang muncul di Amerika Serikat pada 1970-an, dan dia mengagumi Hiroshima karya John Hersey, reportase tentang dampak bom atom berdasarkan tuturan enam penyintas yang terbit di New Yorker pada 1946. Dalam satu wawancaranya di Paris Review, Gabo berkata bahwa fiksi membantu penulisan jurnalismenya karena memberinya aspek sastrawi, sebaliknya jurnalisme menuntunnya untuk mencermati fakta-fakta dalam penulisan fiksi. Betapapun kritikus menyebut karya fiksinya sebagai “realisme magis”, yang kerap disalah-artikan, sejumlah detail paling khayali sekalipun dalam novel dan cerpennya berdasarkan pengamatannya atas peristiwa dan realitas sehari-hari. “Dalam jurnalisme, satu fakta kecil yang keliru dapat menggoyahkan keseluruhan cerita. Sebaliknya, dalam fiksi, satu fakta tunggal yang sahih dapat melegitimasi keseluruhan cerita. Hanya itu satu-satunya perbedaan,” jelas Gabo, “dan keduanya terletak pada komitmen penulis.”

Tentu saja dengan kerendahan hati yang dibuat-buat, Gabo sering meyakinkan dirinya bahwa profesi dia sebenarnya adalah wartawan. Dia kerap berkata hal ini dalam sejumlah kesempatan, dan dengan status selebritasnya sebagai novelis, yang memberinya penghasilan besar (dia punya sejumlah rumah di sejumlah negara), dia kadang merindukan masa-masa mudanya yang masih bebas ke mana-mana melakukan reportase, kecuali kondisi miskin dan situasi kerja yang sulit saat itu. Dia mengenang masa bekerja di satu suratkabar di Bogotá, yang mengharuskannya menulis tiga cerita dalam seminggu, dua sampai tiga catatan editorial setiap hari, dan mengulas film. “Malamnya,” ujar Gabo, “setelah semua orang pulang, aku masih di belakang meja untuk menulis novel.”

Cerita bersambung yang dia tulis soal awak kabin yang selamat dari sebuah kapal yang karam diterbitkan setiap hari selama dua pekan, bukan dengan byline dia, melainkan si pelaut tersebut. Duapuluh tahun kemudian cerita itu diterbitkan ulang atas namanya sesudah dia terkenal berkat novel Seratus Tahun Kesunyian. “Tak ada editor yang menyadari cerita itu bagus sampai kemudian aku menulis novel tersebut,” ujarnya. Karya nonfiksi inilah yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Caldas oleh LKiS (2002). Satu lagi, kisah tentang sutradara Chile yang melawan diktator Pinochet dari tempat pengasingan lewat gerakan perlawanan bawah tanah, diterjemahkan sebagai Klandestin di Chile oleh penerbit akubaca (2002).

Jadi, ada dua karya nonfiksi Gabo sebelum Kisah-kisah Penculikan, tetapi apakah mereka memengaruhi para penulis di sini?

Saya ragu untuk menjawab “ya” mengingat dua karya pertama itu tidak sepelik dari segi cerita. Sebaliknya, Kisah-kisah Penculikan, melihat jumlah halamannya saja, kita bisa mempelajarinya untuk menilai kelebihan dan mungkin saja kekurangan. Ini berbeda dengan novelnya, terutama Seratus Tahun Kesunyian. Tahun lalu, misalnya, penulis nonfiksi David Samuels memakai pendekatan struktur novel itu untuk mengisahkan riwayat keluarga jiu-jitsu yang diberinya judul “One Hundred Years of Arm Bars.” Ini persis sebagaimana karya Hiroshima yang strukturnya dicangkok oleh reporter Barry Bearak untuk mengisahkan peristiwa dahsyat tsunami Aceh tahun 2004. Atau penulis Linda Christanty lewat “Hikayat Kebo”, salah satu karya jurnalisme cemerlang yang pernah terbit di Indonesia, yang merekonstruksi kisah pemulung yang dibakar hidup-hidup di Jakarta pasca-krisis ekonomi Soeharto—proses awal reportasenya hampir sama, meski tak terpengaruh, dari karya In Cold Blood – Truman Capote. (Koreksi jika saya keliru.*)

Jelaslah soal pengaruh sebuah karya bisa sedikitnya bersinggungan dengan ambisi yang terkandung dalam karya tersebut. Kisah-kisah Penculikan, saya kira, mengandung segi ambisi itu. (Sebagai gambaran: kita tidak butuh banyak waktu hanya untuk mempelajari artikel lempang lima paragraf, betapapun banyak sekali berita cepat yang ditulis dengan buruk di sini.)

Dalam buku itu, Gabo mengisahkan tentang penculikan sepuluh warga Kolombia, delapan di antaranya adalah jurnalis, dan tiga di antara mereka berasal dari keluarga elite politik, salah satunya putri presiden (Bayangkan, misalnya, anak Jokowi diculik oleh regu gerilyawan atau pedagang narkotik). Dia juga punya tujuan politik: kekerasan yang melanda negerinya bisa secepatnya berakhir dan tidak terulang lagi. Atau, jika pun masa depan cerah untuk negerinya masih lama dan saat itu terjadi Gabo tak sempat menikmatinya, setidaknya dia sudah menulis kisah mereka karena, demikian tulisnya, “… tak satu pun dari mereka yang akan menemukan tempat di koran lebih dari sekadar cerminan pudar tentang horor yang harus mereka tanggung dalam kehidupan nyata.”

Kita bisa menilai: Ada visi politik Gabo dalam buku ini seiring suaranya dikutip di halaman muka suratkabar. Pandangannya tentang perang “narko-gerilya” di negerinya pun secara konsisten jelas: dia menolak jika para bos kartel narkotik dari negaranya diekstradisi ke Amerika Serikat. Dia meminta beragam faksi untuk melakukan negosiasi damai, sebagaimana dia terlibat dalam perundingan mengakhiri perang sipil di El Salvador dan Nikaragua, serta membantu upaya pembebasan para sandera. Buku ini terbit ketika Pablo Escobar, gembong kartel narkoba Medellín yang melakukan penculikan, telah meninggal, tewas ditembak oleh Kepolisian Nasional Kolombia. Perang sengit melawan jaringan narkotik kelak berpindah ke Meksiko seiring menguatnya para kartel di negara ini, tempat Gabo menghabiskan sebagian besar waktunya, sesudah para gembong narkoba di Kolombia terpecah-belah.

DALAM DISKUSI ITU, saya mengutip pendapat Mark Kramer, pengajar jurnalisme naratif, soal tiga elemen yang bisa dipakai untuk mendekati sebuah karya nonfiksi: karakter, struktur, dan konteks. Pendekatan ini bisa diterapkan untuk karya García Márquez tersebut. Bagaimana Gabo menggambarkan karakter dalam bukunya: rasa takut, amarah, motivasi, perasaan cemas, perubahan sikap, dan sebagainya. Di buku ini, misalnya, kita bertemu dengan Alberto Villamizar, seorang suami dan kakak dari istri dan adik perempuan yang diculik (Villamizar pernah ditunjuk sebagai duta besar untuk Indonesia). Gabo menulisnya:

[…] seorang teman ditanya tentang Villamizar, dan ia mendefinisikan diri dengan sekali ungkapan: “Ia teman minum yang luar biasa.” Villamizar mengakui hal ini dengan bercanda sebagai kesalehan yang membikin iri dan tak lazim. Tetapi pada hari istrinya diculik, ia menyadari bahwa hal itu juga berbahaya dalam situasi itu, dan memutuskan untuk tidak minum di depan umum hingga istrinya dan saudara perempuannya bebas. Seperti peminum sosial lain, ia tahu bahwa alkohol menurunkan kewaspadaan, melonggarkan lidah, dan mengubah pencandraan tentang realitas. Itu akan menghancurkan orang yang seharusnya mengukur tindakan dan kata-katanya hingga tingkat milimeter. Jadi, aturan ketat yang diterapkan kepada dirinya bukan bersifat pengekangan diri, melainkan tindak keamanan. Ia tidak lagi menghadiri pertemuan, ia mengucapkan sayonara pada sifat bohemianismenya yang ringan hati dan berbagai sesi minum-minum hingga mabuk dengan para politisi.

Struktur mungkin sekali menjadi aspek terpenting dalam penulisan naratif. Biasanya ia digarap berdasarkan topik atau pokok pikiran (misalnya dalam bentuk bab demi bab), atau mengikuti alur perjalanan waktu; atau gabungan keduanya. Elemen ini juga memberi penulisnya mengatur tempo, naik-turun narasi, memasukkan keseluruhan aspek cerita—detail, adegan, karakter. Atau dalam bahasa Gabo: “Kau harus pagari ceritamu, ibarat ternak.”

Buku ini dibuka dengan penculikan Maruja Pachón saat hendak pulang menuju rumahnya, dan ditutup dengan Maruja lagi ketika memakai cincin yang sempat hilang saat disekap, yang diantarkan oleh seseorang dalam sebuah kado terikat pita emas ke depan pintu rumahnya. Di antara sela panjang pembuka dan penutup narasi, Gabo mulai menyisipkan kisah-kisah lain mereka yang diculik. Dan pada setiap pergantian bab, tema ceritanya selalu berganti: bila bab sebelumnya adalah kisah mereka yang disandera, bab berikutnya adalah kisah keluarga mengupayakan pembebasan—konsistensi pendekatan ini terus bergerak sampai akhir buku, progresinya terletak pada peristiwa yang melibatkan para karakter. Drama memuncak di tengah naskah ketika terjadi eksekusi dua sandera, salah satunya figur terkenal yang terbunuh dalam satu penyergapan fatal dan tanpa perencanaan matang. Kira-kira di sepertiga akhir buku, misalnya, Gabo mulai mengisahkan upaya negosiasi lanjutan, dan mengenalkan karakter baru sebagai figur sentral untuk peranan tersebut. Kisah akhirnya, sebagaimana drama tiga babak, berakhir bak napas pelepasan.

Struktur itu memiliki perbedaan sangat kentara ketimbang seni fiksinya: narasinya mengular; dia dikenal empu dalam teknik pembocoran cerita (foresahadowing). Tetapi dalam prosa jurnalismenya, Gabo menyusun kisah secara gamblang—tentulah kesan ‘magis’ dia buang. Dia menulis buku ini memang membayangkan khalayaknya adalah pembaca suratkabar.

Konteks memberi penggambaran dan pendalaman cerita, melalui studi pustaka dan pemilahan informasi latarbelakang. Di tengah cerita yang bergerak, misalnya, penulis bisa menyisipkan jeda dengan memberi konteks, yang melengkapi rasa ingin tahu dan pemahaman pembaca, lalu kembali lagi ke cerita. Ibaratnya: mesin terus bergerak—rangkaian peristiwa dan adegan mengikuti alur tujuan—lantas kita bisa menyelipkan petunjuk cerita. Dalam era yang makin kompleks seperti sekarang, konteks menjadi sangat dibutuhkan—sesuai relevansi, proporsi, dan keutuhannya—guna mengaitkan dimensi lebih luas di luar subjek. Gabo dalam buku ini bukan hanya cerita tentang pengalaman para individu yang disekap, tetapi soal situasi politik di negerinya: kepelikan sebuah bangsa menghadapi perang sipil, yang korban terbanyaknya adalah rakyat sipil juga.

Dalam satu sesi kelas “Jurnalisme Sastrawi” yang saya ikuti di Pantau, faktor terpenting lain dalam penulisan narasi adalah akses. Inilah yang membedakan karya Gabo dalam Kisah-kisah Penculikan bila ia ditulis oleh wartawan biasa dengan kisah yang sama. Sebagai seorang García Márquez, dia tentu punya akses mewah mewawancarai para petinggi negara, setidaknya tiga presiden Kolombia, serta para bos kartel narkotik untuk mengisi detail dalam ceritanya. Kehidupan yang tidak asing di lingkaran kekuasaan ini telah memberinya peluang untuk dia penuhi dengan vitalitas politisnya sebagai pengarang. Digarap dengan bantuan dua asistennya, salah satunya jurnalis, serta melihat cakupan buku ini, saya kira tiga tahun adalah waktu yang singkat bila tidak disebut menuntut proses lebih lama kalau dikerjakan sendirian.

MUNGKIN SATU-SATUNYA aspek yang sama, dan paling menonjol, antara karya fiksi dan nonfiksinya adalah kekuatan metafora. Inilah yang menjadi gaya khas Gabo, selain sering mengenali karakter lewat pendekatan rasi bintang. Metafora dipakai secara intensif untuk menyingkap karakter dalam peristiwa. Dia misalnya menulis Pablo Escobar dengan penggambaran: “Dalam sejarah Kolombia, tidak ada orang yang pernah memiliki atau memperlihatkan talenta seperti dirinya dalam hal membentuk opini publik. Dan tidak ada yang pernah punya kuasa lebih besar untuk melakukan pembusukan. Aspek paling meresahkan dan berbahaya dari kepribadiannya adalah ketidakmampuan totalnya membedakan antara kebaikan dan kejahatan.”

Kekuatan metafora ini sepadan dari cara kita menafsirkan peristiwa dan detail informasi terhadap subjek yang kita kisahkan. Fungsinya mendekatkan realitas pelik dan berlapis ke hadapan pengalaman manusiawi pembaca. Di tengah ingar-bingar propaganda, istilah teknis, dan kompleksitas dunia, relasi antara subjek dan realitas memerlukan metafora yang gamblang. Teranglah pribadi seperti Kivlan Zein, misalnya, bisa kita sebut sebagai “kekonyolan jenderal tunabaca”, atau menyebut “Orde Baru” bisa dengan “32 tahun kekuasaan lewat pembantaian massal”.

Bercermin dari karya penulis lain, saya perlu menyebut reporter Polandia, Ryszard Kapuściński, untuk kemampuan memaksimalkan seni metafora ini. Lebih muda lima tahun tapi meninggal lebih cepat dari Gabo, Kapuściński adalah suara untuk pergolakan dan kudeta di sejumlah belahan dunia, dari Eropa hingga Afrika, dari Iran hingga Amerika Latin. Beberapa pengarang termasuk Gabo menyebutnya sebagai “Maestro”, yang salah satu karya terbaiknya, The Soccer War (1978), menceritakan “konflik berdarah yang sulit dipercaya antara Honduras dan El Salvador pada 1969 hanya karena pertandingan sepakbola.” Pengamatan tajam Kapuściński dari pelbagai pelosok negara yang tersuruk kolonialisme dan peperangan telah membuka mata dunia, dan atas perannya ini, Hadiah Nobel Sastra telah berutang padanya. (Panitia Nobel butuh belasan tahun lagi membayar kesalahannya dengan memberikan hadiah itu tahun lalu kepada Svetlana Alexievich, reporter asal Belarusia.) Kritikus memuji Kapuściński soal “kemampuannya mendengarkan ragam orang yang dia temui, dan “membaca” sesuatu yang tersembunyi dari tempat yang dia datangi.”

Jelaslah kemampuan menyingkap psikologis karakter, menerapkan beragam teknik penceritaan, memilin metafora yang kaya, tidak bisa dikerjakan sekali-dua reportase dan penulisan. Ia butuh latihan, termasuk mendalami beragam bacaan.

Betapapun ada kritik terhadap prosa jurnalisme Gabo (misalnya, kecenderungan dia “menyelaraskan” realitas serasi imajinasinya), kita bisa belajar dari karya jurnalismenya yang ambisius ini. Dan adanya “moral error” terhadap suatu karya nonfiksi (sebagaimana kritik serupa atas In Cold Blood – Capote), lagi-lagi menjelaskan bahwa metode penulisan naratif selalu mendapatkan tempat dan sorotan, bukan untuk membunuhnya, melainkan meningkatkan standar yang lebih baik justru karena kita belajar dari pundak karya terbaik. “Jauh lebih gampang menulis fiksi,” ujar Gabo satu kali di depan para wartawan muda, “di mana aku penguasanya.”*

 

Catatan:

Untuk sebagian besar kutipan di naskah ini, saya mengambil dari terjemahan Ronny Agustinus atas reportase Silvana Peternostro berjudul “Tiga Hari Bersama Gabo”: http://goo.gl/bcqEdE (1) & http://goo.gl/EVsa3d (2). Blog “Sastra Alibi” yang digawangi Agustinus merupakan rujukan bernilai untuk membaca perkembangan (dan gosip) sastra Amerika Latin dari seorang penerbit dan penerjemah yang tekun mengalihbahasakan dari sumber bahasa aslinya. Saya juga mengacu wawancara Gabo di Paris Review tahun 1981 http://goo.gl/8WKppG, setahun sebelum dia mendapatkan Hadiah Nobel yang diantisipasinya bakal bikin dia kerepotan di bawah lampu ketenaran. Gabo meninggal tahun 2014, dan negara Kolombia mengumumkan tiga hari berkabung untuk kematiannya. Beberapa pengarang Indonesia, termasuk Eka Kurniawan dan AS Laksana, menulis ungkapan “solitude”. Kematian Pramoedya Ananta Toer (nama yang bisa setara disandingkan dengan kebesaran Gabo dari segi karya dan visi politik pengarang) pada tahun 2006 juga menyulut ungkapan duka; tetapi berbeda dengan Gabo, negara Indonesia tidak pernah secara resmi mengakui peran Pram yang telah mengangkat negeri malang ini ke tengah percakapan global.

* Versi awalnya: Reportase “Hikayat Kebo” (Pantau, September 2001) “… terpengaruh dari karya In Cold Blood-nya Truman Capote.” Linda Christanty meralat bahwa naskahnya itu tidak terpengaruh dari karya tersebut (Random House, 1966). Memang ada kesamaan keduanya, berangkat dari sebuah laporan pendek: Capote lewat berita The New York Times soal pembunuhan satu keluarga petani di Holcomb, Kansas, pada 16 November 1959; sementara Christanty dari berita di The Jakarta Post. Hanya itu satu-satunya kesamaan, dan hal ini bukanlah sesuatu yang istimewa bagi kerja-kerja reportase meski sekaligus pula menegaskan lagi sebuah saran terbaik: peristiwa yang menyimpan cerita yang bagus bukan dari berita yang muncul di halaman muka surat kabar, melainkan di berita-berita singkat yang dianggap jauh kalah penting di antara kolom-kolom iklan.

Linda Christanty menulis kepada saya lewat pesan pendek:

“Meski tidak memengaruhi menulis “Hikayat Kebo”, aku penyuka karya-karya Kapuściński tentang Afrika dan memoarnya, Imperium (Vintage, 1993). Tapi aku kagum pada reportase yang dahsyat tentang gempa di Mexico City yang ditulis Elena Poniatowska. Karyanya, Nothing, Nobody (Temple University, 1995), itu luar biasa. Aku punya bukunya dan menurutku perlu diterjemahkan. Buku reportase Sebastian Junger tentang Afghanistan, judulnya War (Twelve, 2010), aku suka sekali. Ketika memasuki wilayah-wilayah pasca-konflik maupun konflik, bacaanku juga mengikuti apa yang terjadi di sana dan artinya, membaca buku-buku yang ditulis para jurnalis tentang wilayah-wilayah tersebut, selain membuat liputanku sendiri.”