BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 5 menit

Seumur hidup saya sejauh ini, jangankan berbincang santai dengan seorang kriminal, bertatap muka langsung pun belum pernah saya lakukan. Saya melakukan kedua hal itu untuk pertama kalinya pada awal Juli 2016.

 

ORANG YANG AKAN saya temui adalah John Myatt. Saya berkesempatan menemui dia pada satu pagi di vila The Pala, Pandawa Cliff Estate.

Saya dan rekan saya melangkahkan kaki ke dalam vila. Sembari menunggu, kami mengagumi galeri lukisan di lorong panjang sebelum memasuki ruang tamu. Tampaknya pemilik vila adalah pencinta seni. Salah satu staf vila menawari kami minuman. Tak lama kemudian, manajer vila mempersilakan kami untuk masuk ke ruang tamu.

Di depan pintu menuju ruang tamu, seorang pria, lebih dari setengah baya, berdiri. “Selamat pagi, saya John Myatt,” sapanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Saya harap kalian tidak menunggu terlalu lama.”

“Tidak sama sekali,” kami menggeleng.

Tingginya sekitar 170 sentimeter. Dia mengenakan kemeja putih bermotif kotak-kotak yang dipadankan celana hijau gelap. Kaos kaki cokelat tua menutupi kakinya beralaskan sandal.

“Kita duduk di mana enaknya?” Dia mengarahkan pandangan pada kedua sofa di sisi ruangan. “Di sini saja, lebih luas,” ujarnya sambil melangkah menuju sofa di bagian kanan ruang tamu, sofa berwarna biru tua yang ditata mengitari meja kayu rendah. Saya mengikutinya dari belakang.

“Anda mau minum?” tanya saya kepada Myatt ketika kami duduk. Sungkan rasanya apabila cuma tamu yang disuguhi minuman. “Tidak, saya baru saja sarapan. Saya masih kenyang,” jawab Myatt sambil memegang perutnya. Dia terlihat santai.

Saya tidak menyangka bahwa John Myatt, pria yang dijuluki Scotland Yard sebagai “penipu seni terbesar abad ke-20” adalah seorang yang ramah dan gampang disukai.

Ini pertama kalinya Myatt menginjakkan kaki di Bali. Saya bertanya bagaimana dia bisa sampai di pulau Dewata. Dia sempat mengira undangan Pak Anthony ke Bali adalah lelucon.

“Saya di sini karena Hanson, anak lelaki Anthony (pemilik vila) menginginkan pelajaran melukis yang lebih profesional. Ayahnya berkata apabila dia bisa menemukan seorang yang baik, yah… dia oke.”

Seperti kebanyakan anak muda pada umumnya, Hanson menemukan Myatt di jaringan video terbesar di dunia, YouTube. Hanson menonton salah satu acara televisi yang dibawakah oleh Myatt, ‘The Forger’s Masterclass’, yang disiarkan Sky Television.

Keinginan seorang anak dan dukungan Anthony yang membawa Myatt ke Bali.

Hanson dan Clarisha, pasangan Hanson, yang memang sudah memiliki bakat melukis, mendapatkan ajaran langsung dari sang ahli. Mereka berdua memiliki gaya tersendiri.

Dalam “menggambarkan” kedua muridnya, Myatt berkata, “Hanson sangat intuitif, sedangkan Clarisha sangat visual. Mereka berdua memiliki rasa ingin belajar sangat tinggi dan sikap yang tepat.” Myatt juga memfokuskan pengembangan diri mereka sebagai seorang artis ketimbang mencoba menanamkan sesuatu di atas apa yang sudah mereka tahu. Lukisan-lukisan yang dipajang di galeri kecil di lorong luar ruang tamu adalah kreasi Hanson.

“Saya dan keluarga Anthony pergi ke Ubud kemarin. Kami mengunjungi ARMA (Agung Rai Museum of Art). Agung Rai kebetulan berada di taman dan kami mengobrol asyik. Saya tidak tahu bagaimana dia melakukan apa yang telah dia lakukan. Saya merasa karyanya begitu menakjubkan. Sungguh menakjubkan. Detail-detail lukisannya begitu fenomenal dan saya kehilangan kata-kata.”

Myatt menyipitkan matanya, “Beberapa lukisan di vila ini sebenarnya dibeli Anthony dari ARMA,” ujar Myatt sambil melayangkan pandangannya pada sepasang lukisan raksasa yang menghiasi dinding putih di belakang kami.

Ketika saya bertanya apakah dia akan mencoba meniru lukisan yang berada di ARMA, dia tertawa dan berkata, “Tidak, hal itu tidak akan saya lakukan. Lagi pula, gaya lukisan saya begitu berbeda. Gaya saya cenderung ke gaya Eropa.”

Myatt memang terkenal akan kehebatannya meniru lukisan karya Braque, Matisse, Giacometti, Monet, Van Gogh, dan bahkan Picasso. Namun dia tidak sekadar meniru mereka. Sama seperti seorang aktor yang mencoba mendalami karakter, Myatt memasuki pikiran dan kehidupan setiap artis ketika melukis. Dia mengadopsi teknik mereka dan mencari inspirasi di belakang setiap sudut pandang artis tersebut. Hanya pada saat itulah Myatt mulai melukis sebuah ‘Asli Tapi Palsu’.

“Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda bukanlah seorang pelukis?” tanya saya.

Kurang dari lima detik, Myatt menjawab: “Seorang musisi. Saya bermain piano dan saya sempat berkecimpung di industri musik. Pada tahun 1979, saya membantu menulis lagu berjudul ‘Silly Games’ yang menduduki posisi nomor satu di tangga musik Inggris.” Dia tersenyum simpul. Ini adalah sesuatu yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang.

“Tapi menurut saya, industri tersebut lebih cocok untuk anak muda. Bekerja lewat tengah malam dan lain-lain, saya rasa semua itu terlalu banyak ketika Anda melewati usia 35.”

Itu adalah masa ketika dia mencari nafkah sebagai penulis lagu. Ayah Myatt adalah petani. Myatt memang suka menggambar dan melukis dari kecil. Dia menimba ilmu di sekolah seni dan di situlah dia menyadari bakatnya untuk meniru gaya lukis artis lain, tetapi dia hanya melukis iseng dan untuk teman-temannya. Setelah berhenti dari industri musik, Myatt mengajar di Staffordshire, kampung kelahirannya yang berjarak tiga jam dari London.

Ketika istri pertamanya meninggalkan Myatt dengan dua orang anak yang masih kecil tahun 1985, dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencari penghasilan dari rumah untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya.

Dia memasang iklan di halaman belakang koran lokal ‘Private Eye’ yang berbunyi ‘Lukisan Asli Palsu seharga £150 dan £200’ (sekarang berharga £510 dan £680). Tidak ada yang ilegal dari bisnis tersebut.

Iklan tersebut direspons oleh John Drewe, yang ternyata penipu ulung. Myatt menerima telepon dari ‘Professor Drewe’ yang mengaku sebagai fisikawan nuklir dan memerlukan lukisan untuk dekorasi rumahnya. Drewe pada awalnya meminta lukisan dari Matisse, Klee, dan dua lukisan marinir bergaya pelukis terkenal dari Belanda abad ke-17.

Pada 1986, sesuatu yang berbeda terjadi. John melukis untuk Drewe dalam gaya pelukis kubisme Albert Gleizes. Drewe menelepon Myatt untuk menginformasikan bahwa Christie, sebuah rumah lelang, menghargai lukisan tersebut sebesar £25,000.

Kejahatan tercipta ketika Myatt menunjukkan ketertarikan.

Seminggu kemudian, Drewe memberikan setengah dari hasil penjualannya kepada Myatt. Uang disimpan di sebuah amplop cokelat, tanpa pertanyaan.

Krisis finansial rumahtangga yang dialami Myatt terselesaikan seketika. Perlahan tapi pasti, Myatt terjerat semakin erat dalam jaringan tipuan yang dirajut oleh Drewe dan dia lanjut melukis 200 buah tiruan dari serangkaian ahli lukis sepanjang sejarah seni.

Satu pagi September 1995, Myatt membuka pintu rumahnya untuk menemani anaknya berjalan ke bus sekolah dan menemukan polisi di halaman rumahnya. Seorang opsir berpenampilan biasa memperkenalkan diri sebagai Jonathan Searle—seorang pelukis, ahli dalam bidang restorasi lukisan, dan sejarawan seni serta detektif sersan di Scotland Yard.

Myatt tidak menyangkal perbuatannya. Dia mengaku lukisannya terbuat dari cat rumah dan K-Y Jelly (seperti agar-agar), campuran yang cepat kering tapi tak mirip sama sekali dengan pigmen cat asli. Myatt bahkan menawarkan untuk mengembalikan uang yang dia dapatkan dan membantu menangkap Drewe.

Myatt membantu setiap langkah investigasi yang berjalan selama empat tahun dan dijatuhi hukuman ringan selama dua belas bulan pada 1999. Pada akhirnya, dia dibebaskan dari Brixton Prison setelah hanya empat bulan karena berperilaku baik.

Setelah dibebaskan, Myatt bersumpah tidak akan melukis lagi. Lucunya, Searle menugaskan Myatt untuk melukis keluarganya. Pengacara yang waktu itu melawan Myatt juga menginginkan Myatt melukis untuknya, sebagai kenang-kenangan kasus. Pada akhir tahun yang sama, galeri seni dan orang-orang dari stasiun TV mulai menelepon dan akhirnya Myatt mempunyai penghasilan murni dari lukisannya.

Myatt menikah dengan istri keduanya, Rosemary, pada 2001. Istrinya ikut datang ke Bali. Pada saat berbincang dengan Myatt, istrinya duduk di sofa di seberang saya. Penampilannya tenang dan bersahaja.

Selain melukis, Myatt juga mengajar kelas seni di Cambridge University. Muridnya memiliki latar belakang berbeda-beda, dari ibu rumahtangga, anak muda, bahkan duta besar Amerika Serikat.

Myatt memang mengajar kelas seni, tetapi apa yang dia ajarkan kepada murid-muridnya lebih dari kuas yang digenggam di tangan dan lukisan yang tercipta di kanvas. Dia memberikan motivasi, masukan membangun, dan yang paling penting, mendorong mereka untuk lebih percaya diri.

“Bagi saya, rasa percaya diri itu sangat penting. Anda harus berani bereksperimen, memamerkan lukisan Anda dan siap dikritik. Tidak semua orang akan menyukai lukisan Anda, tetapi Anda harus bisa menerima itu.” Saya mengangguk setuju. Rasa percaya diri adalah bagian fundamental bukan hanya bagi seorang artis, tetapi bagi seorang manusia.

Tidak terasa hampir satu jam lamanya kami berbincang. Myatt akan menghabiskan hari dengan lanjut mengajar Hanson dan Clarisha. Kami berterima kasih atas waktu yang sudah diberikan dan pamit meninggalkan vila.

Entah kapan lagi saya bisa bertemu dengan Myatt.

John Myatt akan selalu dikenal kebanyakan orang karena lukisan palsunya. Akan tetapi bagi saya, bakat seninya adalah asli dan itu tidak akan ada tiruannya.*

 

  • kasamago

    Keren si Myatt, bakat hebat yg mlh tenar krn tindakan pemalsuanny
    Blessing in disguise