BAGIKAN

Estimasi waktu baca: 21 menit

Seorang dosen seni di Yogyakarta memilih tidak lagi menggambar figur makhluk bernyawa karena keyakinan politik agamanya. Orang ramai mengecam, pemberitaan menyudutkannya. Dan kelompok seninya dianggap “anti-Pancasila.” Bisakah kita keluar dari prasangka dan memahaminya lewat sudut pandangnya, menyusup ke balik karya-karyanya, sambil berusaha menulis catatan kritis lewat penggambaran yang simpatik?

SORE HARI saat berusia 5 tahun 11 bulan, sepulang merayakan ulangtahun teman, Deni Junaedi menggunting kertas berwarna dari potongan huruf dan angka, lalu menempel dan menggabungkannya ke selembar kertas putih hingga membentuk figur manusia sederhana. Kolase kertas itu tidaklah istimewa. Hanya saja, barangkali intuisi sang ayah meyakini bahwa di dalam diri anaknya tersimpan bakat seni yang kuat, sehingga keisengan macam itu layak disimpan sebagai kenang-kenangan berharga. Dan memang, sampai bertahun-tahun berikutnya, kolase itu menemani perjalanan seni Deni sebagai arsip-lahir batin yang terus dikenangnya sebagai karya seni pertamanya.

Deni mengenang talenta ayahnya yang piawai melukis dengan bulu ayam, bermain gitar, gamelan, dan keroncong sebagai sumber dari naluri seni yang mengalir padanya, termasuk adik Deni yang kini menekuni dunia musik. Ia menunjukkan foto secarik kertas karya kolase yang disimpan ayahnya itu ketika saya bertanya apa yang telah membuatnya memilih jalan hidup sebagai seniman. Ini adalah pertanyaan yang membuka percakapan panjang kami tentang kesenian, keyakinan, dan keimanan.

Dilihat dari sekarang, cerita Deni tentang pucuk pangkal riwayat keseniannya nyaris terdengar bak mitos. Seolah-olah wewenang nasib telah memberkahinya dengan bakat seni, sehingga jalan hidup sebagai seniman bukanlah suatu pilihan melainkan keniscayaan. Meski begitu, pengembaraan artistik seorang seniman nyatanya tak selalu berupa rentetan keajaiban yang muskil ditelusuri asal muasalnya. Di antara segala kebetulan dan kemungkinan, pilihan-pilihan sadar bergayutan dengan keyakinan ideologis dan kesempatan sosial, membangun rute subjektivitas yang dibentuk seniman dan karya seninya.

Apabila gambar kolase 37 tahun lalu itu dicatat ayahnya sebagai “orang baru akan memukul bola,” di hari ketika kami bertemu, Deni telah yakin memilih untuk tidak lagi menggambar manusia dan makhluk bernyawa lain. Di antara dua keyakinan tentang bentuk itu, terdapat pelabuhan-pelabuhan artistik yang telah disinggahi Deni dalam merundingkan subjektivitas seni dan orientasi ideologi.

Deni Junaedi adalah seniman, penulis, dan dosen seni lukis dan estetika di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia sejak 2006. Banyak tulisannya tentang seni dimuat majalah Visual Arts, dan saat ini ia menjabat redaktur majalah Galeri milik Galeri Nasional, Jakarta. Selain itu Deni pengikut aktif organisasi politik Hizbut Tahrir Indonesia sejak 2008 dan ketua Khilafah Arts Network, suatu lembaga seni yang berdiri di Yogyakarta pada medio 2016. Aktivitas belakangan inilah yang membuat Deni membelokkan haluan artistiknya, menjadikan seni sebagai jalan dakwah, dan mantap berhenti menggambar figur makhluk bernyawa berdasarkan hadis yang ia praktikkan secara ketat, atau bahkan terlalu ketat bagi sebagian orang. Itu pula yang membuat saya tertarik untuk bertemu dengannya dan menulis catatan ini.

Sejak pemberitaan tentang keberadaan HTI di kampus ISI, banyak orang mempersoalkan batasan-batasan artistik-ideologis yang dibuat dosen ISI pengikut HTI, sekaligus mencurigai kehadirannya di kampus-kampus sebagai selubung mendakwahkan metode berpikir yang sejalan politik organisasi tersebut. Motif ideologis HTI bisa dibilang cukup terang sebab organisasi ini blakblakan merepresentasikan visinya dalam media resmi mereka. Pelbagai studi telah menjelaskan cukup gamblang soal gambaran besar aktivitas organisasi politik transnasional ini dalam upaya menegakkan apa yang mereka sebut “Khilafah Islamiyah.”

Namun sosok dan karya-karya Deni sebagai seniman pengikut HTI menunjukkan suatu hubungan yang tidak selamanya definitif antara motif seni, agama, dan ideologi politik. Setiap riwayat personal selalu memiliki kompleksitas yang tak bisa sekadar disematkan secara mekanis pada narasi besar yang menaunginya. Deni tidak semata menelan ideologi yang kini ia yakini. Ia menginterpretasikannya dengan membuat irisan antara estetika seni kontemporer, aksiologi Islam, dan ideologi HTI yang ia terjemahkan ke dalam karya-karyanya.

Saya kemudian menyusun sebagian besar tulisan ini dengan mencermati riwayat karya seni Deni—dalam tekstur, gestur, warna, dan komposisi; bukan sekadar berlandaskan prasangka terhadap esensi ideologi di balik kemasannya. Penekanannya ada pada persoalan bentuk seni yang lahir dari konsekuensi religiositas yang dipilih Deni, seraya berusaha mengulik problematika wacana ideologis dalam karya-karyanya. Langkah ini diambil untuk menghindari citraan positif-negatif yang kerap jatuh pada penyederhanaan dan penyosokan yang umum diberitakan media massa.

Mendengarkan Deni menuturkan kolase kisah-kisah perjalanan hidup yang membawa pada praktik seni Islami yang kini diyakininya, saya mendapati gambaran yang tak sepenuhnya tertangkap dari pencitraan umum media tentang pengikut HTI di ISI.

VIBRASI MITOS secarik kertas yang merekam naluri seni Deni sejak kecil tak serta merta memuluskan jalan baginya menjadi seniman “sungguhan”. Setelah lulus SMA di Sukorejo tahun 1992, keinginan Deni melanjutkan sekolah seni di Yogyakarta terhalang keterbatasan dana. Meski begitu, antara 1992 sampai 1997, Deni tekun mengasah bakat melukis secara otodidak. Karya-karyanya pada masa belajar mandiri ini mengejar teknik pengimitasian kenyataan secara realis. Ia melatih diri dengan mereproduksi koleksi potret keluarganya ke dalam lukisan dan menggambar pemandangan sehari-hari, suatu fase umum yang ditempuh banyak seniman pemula.

Semasa SMA sampai beberapa saat sesudah lulus sekolah, Deni aktif mengaji di Pelajar Islam Indonesia, sebuah organisasi eksternal untuk pelajar dan mahasiswa yang pernah dilarang pada masa kebijakan depolitisasi Orde Baru tahun 1980-an. Keterlibatannya di sana terbilang ringkas, meski ketaatan menjalankan ajaran agama dengan kadar yang luwes bisa dibilang nyaris tak pernah luntur. Kegiatan di PII menurutnya hanyalah pencarian sesaat anak muda dengan semangat pembangkangan, yang dilampiaskan melalui persekutuan sembunyi-sembunyi untuk mengaji bersama teman-teman. Namun perkenalannya dengan beberapa orang dari jaringan PII memberi kesempatan untuk hijrah ke Bandung dan belajar selama sekitar setahun di sanggar seni rupa Jeihan.

“Saya sudah mengagumi Jeihan sejak melihatnya tampil di TVRI,” ujar Deni. Acara yang dimaksud adalah ‘Sosok Budayawan’ yang tayang pada akhir 1980-an. Pada masa itu Jeihan telah dikenal lewat lukisan figur manusianya yang khas selalu bermata hitam pekat, suatu temuan artistik sang seniman yang merasa tak mampu menggambar mata secara realistis.

Tekad Deni melanjutkan sekolah seni semakin kuat. ISI Yogyakarta tetap jadi pilihan utama. “Nekat saja ikut tes masuk, meski saya belum tahu bagaimana nanti caranya membayar andaikata diterima.” Dan benar, namanya tertera di antara daftar lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru ISI tahun 1997. Lagi-lagi bermodal nekat, Deni masuk kuliah di ISI dan bersiasat menjual lukisan-lukisan yang beberapa dibuatnya untuk tugas kuliah. “Lukisan-lukisan itu saya salurkan ke Pasar Seni Ancol,” cerita Deni, “hasil penjualannya bisa menanggung biaya dari pilihan saya untuk kuliah di Yogya.”

Deni menyebut gaya lukisan-lukisannya pada masa itu sebagai karya pesanan yang bersifat dekoratif. Karya-karya yang ia jual berpenampilan naif dan kekanak-kanakan, dengan pilihan warna-warna terang untuk menggambarkan potret hidup sehari-hari. Secara kasar, rasanya karya Deni bisa disamakan dengan gaya lukisan Erica Hestu Wahyuni yang memang laris di pasar seni rupa tahun 1990-an.

Studi di ISI mempertemukan Deni dengan pengetahuan baru tentang pelbagai mazhab seni dari peradaban Barat modern. Halaman-halaman diktat kuliah seni yang masih disimpan di perpustakaan pribadinya, diramaikan tulisan tangannya yang mengajukan pertanyaan dan perbandingan antara bahan bacaan dan ide-ide yang berkeliaran di kepala. Deni merasa, untuk menjadi seniman sungguhan yang bukan sekadar tukang gambar, ia harus memikirkan konsep karyanya lebih matang, dan untuk itulah ia semakin gencar membaca buku. Bergumul dalam pusaran aliran-aliran seni rupa, Deni mencari-cari “tanda tangan” yang dapat mengafirmasi otentisitas nilai dan gaya karya seninya, suatu kegelisahan khas dalam jiwa seniman modern.

Perpustakaan pribadinya, tempat kami berbincang dalam beberapa kesempatan, adalah ruang tamu kecil yang disesaki rak-rak buku dari kayu, menopang pelbagai pengetahuan dari penjuru disiplin sosio-humaniora. Selintas pandangan mata saya memindai koleksi buku-buku itu. Di antaranya dari lapangan filsafat kebudayaan, teori seni, semiotika, kajian-kajian sosial seperti sosiologi, psikologi media, studi gender, serta katalog dan majalah seni rupa. Koleksi lain, yang lebih ekstensif, adalah buku-buku kajian sejarah, politik, dan tafsir agama. Perbendaharaan buku, entah dibaca atau sekadar dipajang, adalah representasi biografi intelektual seseorang.

Salah satu buku yang berkesan bagi Deni semasa kuliah adalah Strategi Kebudayaan karangan Cornelis Anthonie van Peursen, filsuf dan teolog Belanda yang karya-karyanya banyak diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dari Yogyakarta. Dalam buku itu van Peursen melukiskan kebudayaan manusia sebagai gerak pasang surut yang diresapi seluruhnya oleh kesadaran atas waktu. Strategi kebudayaan, menurut van Peursen, adalah pertautan antara manusia dan kekuasaan-kekuasaan di luar dirinya, yaitu alam raya dan pola-pola sosial.

Antithesis of the Darwin Theory (2001) | cat akrilik di kanvas, 140 cm x 200 cm
Antithesis of the Darwin Theory (2001) | cat akrilik di kanvas, 140 cm x 200 cm

“Saya ingin menangkap gerak,” begitu Deni menggambarkan suasana kekaryaan yang ia hayati dalam praktik seni pada rentang 2000-2002. Gerak yang direpresentasikan Deni dalam lukisannya selaras dengan gagasan perkembangan budaya yang diterangkan van Peursen. Saya beranggapan bahwa dinamika gerak dalam lukisannya menampilkan kesadaran waktu yang ulang-alik, kadang terbolak-balik. Misalnya Antitesis Teori Darwin (2001) yang membengkokkan gerak teleologis evolusi biologi teori Darwin, atau Hipnotis Televisi (2002) yang bermain dengan kontur untuk menciptakan ilusi gerak keluar-masuk, timbul-tenggelam, pada permukaan bidang datar kanvas.

Tampak jelas karya-karyanya kala itu secara signifikan mengalami perubahan bentuk visual. Pilihan nuansa warna cenderung gelap, sapuan kuasnya lebih kasar dan menunjukkan aksen gerak yang dinamis. Secara artistik, bentuk ini memberi kesan kuat yang mengingatkan saya pada figur-figur abstrak kinetik dalam lukisan Marcel Duchamp pada awal abad 20. Apabila figur bergerak Marcel Duchamp tertarik pada fluktuasi dan kontur gerak sebagai antitesis dari kubisme yang statis, karya Deni menangkap nuansa irama gerak manusia dalam pelbagai fase perubahan kebudayaan.

Seperti halnya arus gerak kebudayaan, karya Deni terus berubah seiring berjalan waktu. Pada masa berikutnya sampai tahun 2004, Deni terus meraba bentuk gerak tapi lebih mengejar pencapaian teknik dalam gaya seni abstrak. Untuk sementara waktu, ia meninggalkan pertarungan makna secara figuratif dan bergulat mencari bahasa visual yang total abstrak dalam lukisannya. Deni mengejawantahkan gerak dengan menyapukan cat minyak menggunakan bongkahan stereofoam untuk mengeksplorasi kemungkinan karakter tekstur dan komposisi di bidang datar. Tekstur bergelombang pada sapuan cat minyak tampak bebas merambah topologi bidang tanpa beban untuk mengisinya dengan makna apa pun selain bentuk, terlihat dari judul-judul lukisannya yang formalis seperti Composition 1 (2003), Composition 2 (2004), Poetic (2003), dan Vertical Color (2004).

Composition 2 (2004) | cat minyak di kanvas, 40 cm x 40 cm
Composition 2 (2004) | cat minyak di kanvas, 40 cm x 40 cm

Tak lama baginya untuk kembali membatalkan karakter yang melekat dalam gaya lukisan abstraknya dan mencari bentuk baru. “Saat membuat lukisan abstrak, saya kehilangan kenikmatan melukis,” ujar Deni, yang menjelaskan panjang lebar teknik pengaplikasian cat minyak dengan stereofoam ke bidang kanvas. Selain membutuhkan intuisi dan spontanitas, menurutnya, lukisan abstrak juga membutuhkan konsentrasi panjang yang tak bisa diinterupsi oleh kegiatan lain. Sementara, ia sebetulnya senang melukis santai sambil minum kopi atau mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan teknik macam itu dalam melukis abstrak, Deni harus segera mengatur arah sapuan dan polesan cat minyak sebelum bahan itu mengering. “Saya juga merasa kehilangan ruang untuk menyampaikan konsep-konsep dalam lukisan,” tuturnya.

Dari dua alasan itulah ia mulai berpaling pada gaya neo-realisme yang seketika membuatnya seakan kembali pada kesenangan semula semasa belajar melukis lewat teknik realis yang pernah ditekuninya. Namun, kali ini Deni menyadari bahwa realisme bukan sekadar keterampilan tangan dalam mengimitasi realitas. Neo-realisme, menurutnya, adalah suatu konstruksi yang membangun dunia lewat lukisan dari kolase citraan atas realitas. Saya kemudian teringat kreasi kolase yang pernah dibuat Deni semasa kecil. Dengan gaya neo-realisme ini Deni kini menyusun kolase citraan ide-idenya di atas penampang kanvas.

Pada periode eksplorasi gaya neo-realisme, ia melukis banyak figur manusia termasuk potret diri sendiri. Kebanyakan karyanya, seperti Get Knowledge (2006,) menampilkan figur manusia dengan teknik foto-realis tapi dilatari suasana yang asing, kontras, dan memberi kesan surealistik. Dalam lukisan-lukisan itu, manusia seperti menjadi situs kolase-dekolase tanda-tanda dari budaya dan ekosistem di sekelilingnya. Baginya, gestur dan ekspresi figur manusia memberi lebih banyak kemungkinan untuk mengungkapkan ide yang disusun oleh konstelasi simbol dalam lukisan. “Selain itu,” ia menambahkan, “yang menonton karya juga masih bisa terpuaskan oleh detail dari teknik realis yang saya kerjakan.”

Meski menggandrungi teknik-teknik melukis atas nama pencapaian artistik, Deni menekankan pula pentingnya narasi yang dimuat pada sebuah lukisan. Ia mengaku mulai tersungkur dalam diskursus posmodern sewaktu mengerjakan lukisan-lukisan neo-realismenya. Itu tahun 2007 dan posmodernisme tentu bukan terminologi yang asing, untuk tidak mengatakannya usang, dalam skena seni kontemporer di Indonesia. Percampuran gaya neo-realisme dan bagasi pengetahuannya tentang posmodernisme melahirkan seri lukisan parodi yang mendorong perkembangan signifikan bagi karier seni Deni yang semakin sering diundang pameran.

Selama beberapa tahun Deni memproduksi lukisan yang memparodikan karya-karya kanon Barat. Ia juga menyematkan figur dirinya sebagai subjek yang mengontestasi bangunan narasi dalam lukisan yang diparodikan, sekaligus memberi komentar sosial terhadap peristiwa terkini. Pengetahuannya tentang sejarah seni rupa semakin terasah berkat profesinya sebagai dosen di ISI. Pada 2008, sebagai komentarnya atas rancangan Undang-Undang Pornografi, ia mengapropriasi dua lukisan Édouard Manet, The Luncheon in the Grass (1863) dan Olympia (1863), dengan menambahkan figur dirinya yang memegang kain batik untuk menutupi tubuh perempuan telanjang di masing-masing lukisan itu.

“Banyak teman-teman yang komentar kalau mata saya di lukisan itu seperti mencuri lirik ke tubuh perempuan telanjang, dan gestur tangan saya justru seperti ingin menyingkap kain.” Ia tersenyum meringis dan menimpali ceritanya sendiri, “Tapi begitulah posmodernisme, intepretasi karya jadinya serba bebas dan relatif.”

UU Porno (2008) | cat air di kertas, 53 cm x 99 cm
UU Porno (2008) | cat air di kertas, 53 cm x 99 cm

Saya sendiri awalnya mengira Deni ingin mengkritik otoritas maskulin dalam draf undang-undang pornografi yang mengobjektivikasi seksualitas tubuh perempuan lewat lukisan parodinya. Tetapi saya keliru. Deni benar-benar ingin menutup tubuh perempuan telanjang di lukisan-lukisan Manet. Bagi Deni, kain batik dalam lukisan itu melambangkan moralitas adat ketimuran yang menjadi landasan ambigu dalam beleid soal pornografi itu. Pada kesempatan kali itu saya tak menggugat penyederhanaan interpretasi Deni atas identitas dan moralitas Timur yang ia terjemahkan secara ahistoris. Bukankah dulu perempuan-perempuan pribumi bertelanjang dada sebelum mata kolonial membuat kaum perempuan harus menutupi tubuhnya dengan pakaian?

Hari itu kami tak banyak berdebat tentang posmodernisme, dan saya membiarkan Deni melanjutkan ceritanya. Dari karya-karya lukisan parodi, ia mendapat sambutan yang cukup baik dan mulai dikenal secara identik sebagai ‘Deni yang melukis parodi’. Karyanya, Kuliah Seni Lukis Alam Benda (2009), mendapat nominasi di kontes Indonesian Art Award ‘Contemporaneity’ tahun 2010 yang tim jurinya diketuai Jim Supangkat. “Kalau biasanya kita belajar seni rupa dari Barat, di lukisan ini gantian saya yang mengajari mereka,” ujar Deni menjelaskan lukisan itu.

Kuliah Seni Lukis Alam Benda (2009) | akrilik di kanvas, 200 cm x 260 cm
Kuliah Seni Lukis Alam Benda (2009) | akrilik di kanvas, 200 cm x 260 cm

Posmodernisme yang direpresentasikan lukisan parodi Deni berupaya mendekonstruksi narasi besar modernisme seni Barat. Ia menjadikan figur dirinya sebagai subjek yang menginterupsi tatanan baku patron seni lukis Barat. Namun sepemahaman saya, dengan skema interpretasi posmodern seperti ini, Deni menyingkirkan pusat yang lama (Barat) hanya untuk menggantinya dengan pusat baru yang direpresentasikan lewat subjek dirinya dalam lukisan. Bila mengacu pada cara pikir ini, klaim subjek poskolonial dalam politik identitas diarahkan pada perayaan identitas yang esensialistik, seolah-olah “Timur” adalah entitas murni yang harus dilestarikan untuk menggugat Barat.

Bangunan pemikiran posmodernis menjadikan moralitas dan adat ketimuran sebagai tameng dari serangan budaya modern Barat atas nama perayaan atas identitas. Problem ini tidak secara khusus menjangkiti tubuh pemikiran Deni saja. Gerakan pribumisasi (indigenization) pengetahuan dengan nuansa nasionalisme eksesif juga tampak dalam pelbagai retorika akademik tentang apa yang disebut “kearifan lokal” dengan mempersoalkan rasionalitas Barat tapi mengukuhkan pengertian primodialis tentang “Timur”, “Indonesia”, atau “Nusantara.”

Posmodernisme mendukung relativitas nilai sebagai penolakan atas absolutisme rasio modern. Tetapi terlepas dari janji pembebasan yang ditawarkan posmodernisme, afirmasi terhadap keterbatasan akal manusia dan penolakan terhadap kategori kebenaran rasional justru menciptakan frustrasi eksistensialis, yang salah satu efeknya, mendorong konsolidasi dengan agama sebagai suatu kategori identitas yang penting.

Saya melihat bahwa Deni selalu meriwayatkan fase kekaryaannya sebagai serangkaian epos yang menjabarkan patahan-patahan pemikiran: dari ekspresionisme, abstraksionisme, neo-realisme sampai posmodernisme. Sambungan kisah hidup Deni ketika ia mulai rajin mengaji di HTI dikisahkannya sebagai suatu ‘momen pencerahan’. Akan tetapi menurut saya, ini tak lebih dari ekses posmodernisme.

“SUATU KETIKA saya merasa kangen ngaji.”

Jawaban Deni  Junaedi tak terang benar saat merefleksikan alasannya melabuhkan pencarian bentuk baru dalam lukisannya. Jawaban “suatu ketika” darinya adalah fase ketika ia sukses menjadi dosen muda di ISI serta karya-karyanya meraih penghargaan yang cukup layak. Saat itu ia merasa bahwa “naluri untuk mengagungkan nama Allah seperti kembali begitu saja.”

Deni menuturkan kepada saya bahwa ayahnya seorang dai dan ia tumbuh dalam keluarga muslim yang taat. Kita dapat mengingat kembali ceritanya soal rentang aktivitas yang singkat di PII sewaktu SMA dan pengakuannya bahwa ia tak pernah meluputkan salat sepanjang waktu. “Pada waktu itu saya hidup berkecukupan dan bisa saja nggaya dengan pencapaian karier seni saya. Tapi saya justru rindu ngaji dan ingin mencari Allah dengan kembali sungguh-sungguh membaca Alquran.” Deni, yang melihat saya mengernyitkan kening, melanjutkan, “Naluri untuk mengagungkan nama Allah itu bukan hanya milik orang miskin dan berkesusahan.”

Pada 2008, entah kapan persisnya, ia mulai kembali menggeluti Alquran dengan khusyuk. Suatu hari seorang kawan mengajaknya ikut pengajian rutin Hizbut Tahrir Indonesia. Ia menerima ajakan itu sebagai tawaran terlibat dalam komunitas lingkar studi Alquran, yang agaknya sulit ditemukan di lingkungan kesenian. Selanjutnya, secara perlahan tapi pasti, ia semakin mendalami ajaran-ajaran HTI dan secara ketat menjadikan hadis sebagai pedoman dalam berkesenian.

Meski begitu, menelusuri karya-karyanya secara kronologis, kita bisa mencatat bahwa perubahan itu tidak terjadi seketika. Sampai tahun 2010, Deni masih membuat beberapa lukisan parodi dan menggambar figur manusia. Karya Migration of Symbol (2010) saya lihat  sebagai alusi visual transisi pemikirannya yang makin terlibat dengan ideologi Islam HTI. Dasar karya ini ialah cetak digital di atas kanvas foto Presiden Amerika Serikat George W. Bush yang berpidato di Hungaria. Pada bagian wajah Bush, Deni menimpakan cat minyak berwarna merah sehingga tampak seperti kobaran api yang menghanguskan wajah figur tersebut.

Setelahnya, untuk beberapa tahun, Deni hanya menghasilkan sedikit lukisan. Pada 2011, ia hanya memproduksi sebuah lukisan berupa tulisan “seni rupa rupa” beraksen percikan dan tumpahan cat di sana-sini untuk mengisi bidang kanvas. Ia sempat rehat dan melanjutkan studi di program pascasarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Universitas Gadjah Mada. Deni menulis tesis berjudul Bendera Hizbut Tahrir Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta: Kajian Konteks Sejarah, Konteks Budaya dan Estetika Semiotis, dan lulus dengan predikat cumlaude.

“Tidak melukis makhluk bernyawa merupakan suatu tantangan artistik yang berat,” tutur Deni. Di lain kesempatan ia juga bercerita, “Saya sempat menangis saat menyadari bahwa saya tidak bisa lagi menggambar manusia, tetapi ini pilihan saya untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim.” Percikan dan tumpahan cat akrilik dalam lukisan Seni Rupa Rupa barangkali seperti manifestasi visual tetes air mata Deni kala itu.

Seni Rupa Rupa (2011) | akrilik di kanvas, 80 cm x 60 cm
Seni Rupa Rupa (2011) | akrilik di kanvas, 80 cm x 60 cm
PEMAHAMAN SEMPIT tentang kemungkinan bentuk estetika seni yang Islami akan menyeret kita dalam asumsi bahwa ekspresi artistik seturut norma Islam hanya terbatas pada seni kaligrafi. Sejarah kesenian Islam dan pengertian seni yang Islami perlu dibedakan untuk memahami kesinambungan sekaligus ketidaksinambungan antara konstruksi wacana Islam dan nilai Islami yang dipraktikkan Deni Junaedi dalam keseniannya.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, hanya segelintir seniman yang merepresentasikan identitasnya sebagai ‘seniman muslim’ secara tegas dan terang-terangan. Abdul Djalil Pirous, misalnya, adalah satu pionir seni modern yang membaurkan gaya abstrak Barat dengan kaidah tradisional seni kaligrafi dan unsur dekoratif budaya Aceh. Setelah Pirous, dengan pengecualian Syaiful Adnan dan Agus Baqul Purnomo (yang masih berupaya menemukan kembali bahasa kaligrafi sebagai tekstur estetik), saya sulit untuk menunjuk sosok seniman dalam arus utama seni kontemporer di Indonesia yang menawarkan kemungkinan bahasa baru dari perpaduan estetika seni dan aksiologi agama. Yang menarik dari karya-karya Deni, di saat ia mulai kian luruh dalam ideologi HTI, ialah kemampuannya menerjemahkan hukum agama atau syariat yang diyakininya dan menunjukkan bahwa ranah seni Islami tak terbatas pada kaligrafi.

Pada 2013, Deni kembali mengambil kuas, menyentuh kanvas, dan membuat karya-karya yang disebutnya “seri figur ambigu.” Dalam upayanya menemukan strategi visual baru, ia mengeksplorasi teknik ilusi optik untuk mengaburkan perbedaan struktur atas-bawah, luar-dalam, dan horizontal-vertikal pada bentuk-bentuk bangunan tiga dimensi di atas media dua dimensi. Al Mushowiru (2014) adalah salah satu lukisan dari seri figur ambigu dan sejauh ini, saat tulisan ini dibuat, satu-satunya karya dia yang menerjemahkan estetika kaligrafi dalam bentuk kontemporer. Pilihan kata ‘Al Mushowiru’ atau ‘Maha Pembentuk Rupa,’ satu dari 99 nama Allah, bisa dibilang sebagai manifesto estetikanya yang berkait erat dengan keyakinannya sekarang.

Al-Mushowiru (2014) | cat minyak di kanvas, 70 cm x 100 cm
Al-Mushowiru (2014) | cat minyak di kanvas, 70 cm x 100 cm

Deni menerangkan, terbukanya multi-interpretasi karena ambiguitas bentuk dalam lukisan-lukisannya terinsipirasi oleh kisah Nabi Muhammad saat situasi perang melawan kaum suku Quraisy. Muhammad berpesan kepada tentaranya untuk jangan melakukan salat Asar kecuali di perkampungan Quraisy. Saat tiba waktu salat, ada sekelompok tentara yang tetap melanjutkan perjalanan, tetapi ada pula yang memilih berhenti sejenak dan menunaikan salat Asar. Dua tafsiran menjalankan pesan ini dibenarkan semua oleh Muhammad.

Lewat lukisan figur ambigu itu, Deni seakan mengafirmasi pilihan untuk menerapkan hukum halal-haram berkesenian sesuai ideologi Hizbut Tahrir, meski sebagian lain kalangan muslim menentang interpretasi tersebut. “Perbedaan pendapat tentang ajaran Islam itu niscaya,” ujarnya. “Yang penting adalah niat untuk menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan akal kita.”

Pendalaman agama sejak aktif mengaji di lingkaran Hizbut Tahrir Indonesia telah mendorongnya merenungi pelabuhan-pelabuhan artistik yang telah ditempuhnya selama ini. Pada awal diskusi bersama rekan-rekan pengajian, serangkaian pertanyaan eksistensialis mengusiknya: Dari mana kehidupan berasal? Untuk apa kita hidup? Dan ada apa setelah kehidupan ini? Pertanyaan macam ini membuatnya secara ulang alik mengunjungi karya-karya lamanya pada kurun yang disebutnya “masa jahiliah.” Tujuannya mengorientasikan kembali jalan keseniannya pada masa kini dan untuk masa depan.

Untuk mendukung jalan cerita ini, Deni menunjukkan salah satu karyanya, Where Did We Come From Where Will We Go Next (2000), yang dibuat ketika ia mengeksplorasi bentuk dan makna gerak. Sebelum sepenuhnya hanyut dalam abstraksi gerak, lewat lukisan yang masih bergaya naif figuratif ini, ia menggambarkan gerak dalam epos roda kehidupan yang berjalan lurus sekaligus mengalami putaran-putaran. “Saya melihat kembali karya-karya saya yang dulu dan menyadari adanya irisan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang diajukan teman-teman ngaji saya,” ujarnya. Ia merasa jalan menuju jawaban dari sejumlah pertanyaan itu bisa ditempuh dengan mendalami ilmu agama. Sembari berputar ke masa lampau, ia kemudian menapaki masa depan yang ingin ia capai sesuai cita-cita organisasi Hizbut Tahrir untuk mengembalikan kejayaan Islam.

Lebih dari sekadar mencerna makna lukisan-lukisan yang pernah dibuatnya dengan perspektif baru, ia juga merespons ulang beberapa karya yang pernah dibuatnya. Pada 2000, Deni melukis pemandangan sebuah kota dengan alur komposisi yang dibuat melengkung sehingga melenturkan tatanan garis horizontal-vertikal yang kaku, berjudul Pipe World. Di dalam panorama kota yang dilukis dengan perspektif jarak pandang yang jauh dari atas, tampak terlihat tujuh figur manusia, laki dan perempuan, melayang-melayang di udara. Unsur-unsur yang membangun pemandangan kota ditata secara sirkular mengelilingi pusaran biru muda yang diidentifikasinya sebagai gunung, meski bagi saya elemen itu lebih terlihat bak lubang yang menyedot keseluruhan lanskap. Tiada asosiasi makna yang ingin dilekatkannya saat pertama ia membuatnya, selain untuk bereksperimen dengan elastisitas lukisan pemandangan di bidang kanvas.

Pada 2012, Deni menghapus seluruh figur manusia pada lukisan itu dan menggantinya dengan monumen-monumen kecil yang meresonansikan semangat visual lukisan seri figur ambigu, dan memberi judul baru: Menuju Pusat. Tekstur pusaran biru yang dianggap Deni sebagai gunung dibuat lebih kabur sehingga memberi kesan jarak yang lebih jauh. Tanpa bertanya kepada Deni, saya semakin meyakini interpretasi saya bahwa pusaran biru itu seperti relung yang memancarkan sekaligus menyedot intensitas semesta gubahan si perupa pada lukisan itu.

Merevisi lukisan cat minyak bukanlah hal mudah. Dibutuhkan mata yang jeli dan keterampilan tangan yang cermat untuk menghapus, menimpa, dan membubuhi elemen-elemen baru di sebidang kanvas. Deni melakukan semuanya dengan ketelitian tingkat tinggi sehingga tak terlihat bekas koreksi pada lukisannya. Metode serupa diterapkan pada Kuliah Seni Lukis Alam Benda, lukisan yang pernah mengantarkannya pada puncak karya-karya parodinya. Kali ini saya berkesempatan melihat langsung lukisan ini. Saat ia menuntun saya ke garasi tempat lukisan itu dipajang, saya sedikit terhenyak dan merasa ngeri. Tubuh tokoh-tokoh dalam lukisan itu dihapus, tapi pakaian-pakaiannya dibiarkan dan tampak mengambang seperti hantu-hantu penasaran.

Painting Class (2014) | cat akrilik dan minyak di kanvas, 200 cm x 260 cm
Painting Class (2014) | cat akrilik dan minyak di kanvas, 200 cm x 260 cm

Namun kengerian itu pudar segera setelah menyadari nilai penting lukisan ini bagi Deni. Di bagian pojok kiri atas dan pojok kanan tengah kanvas, ia membubuhkan dua bidang tiga dimensi berwarna jingga yang mengacu pada bentuk-bentuk dalam seri figur ambigu terdulu. Karya-karya lama ini adalah penampang bagi arsip lahir-batin Deni, menyimpan momen-momen formasi dan deformasi rupa dalam perjalanan estetika pribadinya. Laku revisi ini bisa jadi ditempuh sebagai peristiwa ketubuhan untuk memeriksa pemikiran-pemikirannya terdulu dan mengganti dengan keyakinan baru.

Setelahnya, Deni menelantarkan segala kemampuannya menggambar manusia dan menyerahkan segala bentuk pada sang Maha Pembentuk Rupa.

TIBALAH KITA pada pelabuhan artistik Deni Junaedi yang terkini. Ia tidak lagi melukis dengan cat minyak. Saat ini ia menikmati melukis dengan cat air di atas kertas. Alasannya, ayahnya meninggal tahun lalu akibat penyakit paru-paru karena terlalu sering mengecat papan nama dan stempel pesanan orang di ruangan tertutup. Selain alasan kesehatan, ia mengaku sedang asyik mempelajari kembali dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan tekstur visual yang bisa dihasilkan medium cat air.

Sejak tidak melukis makhluk bernyawa, ia mulai banyak melukis pemandangan, khususnya jalanan dengan pepohonan rimbun. Pada beberapa lukisan ini, ia secara khusus mengolah tekstur warna daun-daun pohonan dan sawang langit dengan memainkan transparansi cat air. Selain itu ia semakin aktif menyuarakan pandangan-pandangan politik Hizbut Tahrir dalam lukisan-lukisan cat airnya. Tentu saja meneropong geliat praktik seni rupanya terdulu, Deni takkan betah hanya mengeksplorasi teknik-teknik melukis. Ia selalu ingin menyampaikan sesuatu dengan karya-karyanya.

Seni yang Islami dalam pengertian Deni yang pertama adalah tidak menggambar makhluk bernyawa, sesuai hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Kedua, yang dianggapnya paling penting saat ini, seni yang Islami harus bisa mengemban dakwah Islam. Karya-karya cat air ini mulai mengemban opini-opini penegakkan khilafah dan penerapan syariat, misalnya Demokrasi Bukan Jalan Khilafah (2016), Kabinet: Ganti-Ganti Tetap Henti (2016), dan Weaker and Stronger (2016). Ketiga lukisan ini mengandung opini visi politik Hizbut Tahrir yang ingin mengambil alih kendali sistem-sistem pemerintahan dunia dan lantas memimpinnya di bawah hukum Islam.

Weaker and Stronger (2016) | cat air di kertas, 38 cm x 56 cm
Weaker and Stronger (2016) | cat air di kertas, 38 cm x 56 cm

Pertengahan 2016, Deni menginisiasi Khilafah Arts Network (KHAT), sebuah wadah ekspresi seni dari seniman muslim yang secara sadar menjadikan seni sebagai media dakwah untuk menegakkan peradaban Islam dalam bingkai khilafah. Proyek seni pertamanya adalah Arts of Future Islamscape, sarana kolaboratif-partisipatoris jangka panjang dalam bentuk situsweb. Proyek ini dirancang sebagai undangan bagi seniman muslim dari pelbagai belahan dunia untuk menciptakan imajinasi visual sekaligus perhitungan rasional demi utopia peradaban masa depan khilafah, misalnya dengan merancang lanskap kota, arsitektur fasilitas publik, desain pakaian, desain produk, dan sebagainya.

Ide kreatif proyek kolaboratif ini patut dihargai serius. Di satu sisi, pandangan mereka tentang masa depan yang bersifat teleologis-determinatif membuat imajinasinya terbatas pada hasrat mengembalikan kejayaan Islam dari masa lampau. Tetapi, yang menarik, meski visi ideologi politik KHAT sangat arkaik, visi estetisnya dalam pagar syariat masih bisa eksploratif yang merambah kemungkinan bahasa ungkap baru. Posisi Deni Junaedi sebagai direktur eksekutif KHAT boleh jadi berperan besar atas balutan bahasa dan bentuk seni KHAT yang terasa cukup mutakhir. Deni mengatakan tak ada hubungan struktural antara KHAT dan HTI, meski banyak anggota KHAT bergiat mengaji di lingkungan HTI.

Tak lama setelah ia dan rekan-rekannya meluncurkan KHAT pada Mei 2016, sekelompok mahasiswa, dosen, dan alumni ISI menggelar aksi menolak keberadaan HTI di lingkungan kampus. Deni menduga kedua peristiwa ini memiliki hubungan kausal. Visibilitas KHAT sebagai kolektif, menurutnya, bisa jadi dianggap ancaman lebih besar ketimbang gerak-gerik intelektualnya sebagai individu. “Sejak dulu saya tidak pernah menyembunyikan aktivitas saya dengan HTI,” katanya. “Saya juga pernah mempresentasikan makalah saya tentang ideologi kesenian yang saya yakini di forum akademik kampus dan tidak ada yang mempermasalahkannya secara besar-besaran.”

Makalah itu, dibuat tahun 2013, berjudul Benturan Estetis antara Liberalisme, Sosialisme dan Islam. Ia berusaha menangkap benturan ideologi estetik liberalisme dan sosialisme di era perang dingin, yang di Indonesia, dalam gambaran paling sederhana, memuncak dalam pertentangan antara kelompok Manifes Kebudayaan dan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Deni berargumen, pasca-kemenangan ideologi liberal yang memerosotkan peradaban, ideologi Islam dalam bingkai khilafah harus diterapkan bukan hanya pada landasan hukum pemerintahan dan sistem ekonomi, tapi juga nilai ideologi estetik. Pertentangan “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat” dijawab Deni dengan jalan ketiga, yaitu “seni untuk ibadah”.

Memang, sudah banyak studi yang menyimpulkan penyebaran ideologi Islamisme seperti HTI di kampus-kampus cenderung dapat menyuburkan paham fundamentalisme ekstrem dan sikap intoleran di kalangan anak muda. Paham Hizbut Tahrir khususnya secara terang-terangan bersikap anti-demokrasi, dengan menyatakan gerakan politik dan keagamaan mereka bertujuan untuk menegakkan sistem pemerintahan khilafah.

Ketakutan terhadap momok wacana Islamisme konservatif yang demikian itu menjadi alasan utama bagi sejumlah dosen dan alumni ISI untuk berdemonstrasi di depan kampus pada pertengahan Juni 2016. Kelompok ini mengeluarkan pernyataan publik yang menolak keberadaan HTI di kampus ISI karena dianggap “anti-Pancasila, tidak menghargai kebebasan akademik, dan dalam jangka panjang dapat mengancam eksistensi negara.”

Seketika retorika anti-HTI ini mengingatkan saya pada glorifikasi Pancasila ala propaganda Orde Baru. Orientasinya mengarah pada nasionalisme romantik dengan imajinasi primodial yang tidak kalah konservatifnya dengan gerakan Islamisme transnasional macam Hizbut Tahrir. Retorika ini pula yang dipakai kalangan intoleran untuk melarang komunisme, Marxisme, dan aliansi Kiri lain.

Argumen kuat untuk menentang ideologi HTI adalah sikap organisasi ini yang anti-demokrasi meski kebebasan mereka untuk berpendapat justru buah dari kehidupan di alam  demokrasi. Namun, saya kira, kita perlu mundur dan mempertanyakan kembali apa yang kita maksud dengan demokrasi. Di satu sisi, serangan HTI terhadap demokrasi liberal bisa dibilang tepat sasaran meski solusi yang mereka tawarkan, dalam pandangan saya, boleh jadi tidak tepat.

Ideologi demokrasi liberal menolak pemerintahan otoriter dan menjadikan negara sebagai penjamin kebebasan berpendapat. Esensi demokrasi adalah menolak totalitarianisme, yang memusatkan kekuasaan tak terbatas pada individu. Akan tetapi, dalam demokrasi liberal, totalitarianisme sesungguhnya direplikasi dalam suatu tatanan sosial, di mana setiap individu dianggap memiliki kebebasan tanpa batas. Dalam hal ini, demokrasi liberal menggunakan dalih hak asasi manusia yang juga menjamin individu meraih kebebasan dan kemakmuran individual tanpa batas sepanjang tidak menghambat logika ekonomi kapitalis.

Sementara itu, kekeliruan mendasar dari pandangan Islam totaliter HTI ialah menyamakan sistem demokrasi liberal dengan ide demokrasi. Negara kita, meski sering dianggap negara demokratis, sesungguhnya masih dalam sistem pemerintahan oligarkis. Demokrasi liberal yang mesra dengan logika ekonomi kapitalisme adalah bentuk totalitarianisme, dan menurut saya, kita tidak membutuhkan totalitarianisme Islam untuk menggantikannya. Utopia negara Khilafah-nya HTI membayangkan masyarakat-masyarakat dipimpin oleh seorang khalifah pilihan Allah untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Pendekatan wahyu ini memusatkan kekuasaan pada individu, atau kekuasaan yang puritan, dan mengabaikan kesetaraan intelektual yang dimiliki oleh seluruh umat manusia untuk mengatur kehidupan bersama-sama. Baik demokrasi liberal dan sistem negara Khilafah sama-sama berhasrat untuk memusatkan kekuasaan pada satu pihak: yang pertama pada pemilik modal, yang kedua pada “pewaris” wahyu Allah.

Dalam hal ini, yang ingin saya bela adalah prinsip demokrasi sebagai prinsip egaliter dalam pembagian kekuasaan dan bukan sistem pemerintahan demokrasi liberal. Berangkat dari pemahaman bahwa demokrasi adalah prinsip yang mendorong partisipasi politik aktif dari seluruh lapisan masyarakat, maka kritik terhadap ideologi HTI harus diupayakan dengan negosiasi dan saling koreksi, bukan pembungkaman dan pelarangan berdasarkan tirani mayoritas.

Saya tidak membayangkan alam demokrasi sekadar sebagai ruang netral yang mewadahi perbedaan pendapat dengan tenteram. Lebih dari itu, ia adalah arena tempat perbedaan ideologi harus selalu dibandingkan, didiskusikan, dan dipertentangkan. Tidak ada satu pun praktik sosial yang berada di luar domain ideologi. Justru, dalam upaya membagi ruang secara egaliter, kita harus terus-menerus mempertemukan persinggungan antarideologi. Setidaknya, itulah yang ingin saya peragakan dengan memuat persinggungan dan perbedaan antara cara pandang Deni dan saya dalam tulisan ini.

SELEPAS PERTEMUAN kami, saya tidak menjadi lebih yakin bahwa ideologi agama yang dipegang Deni adalah suatu kebenaran, meski saya sangat menghargai eksplorasi artistiknya sebagai seniman sekaligus pengikut HTI. Saya percaya bahwa kebenaran tidak bersifat absolut-objektif. Namun, kebenaran juga tidak bersifat relatif-subjektif. Upaya untuk mengintervensi pemikiran Deni dengan pemikiran saya di sini adalah praktik dialektis yang ingin terus mempertanyakan ruang-ruang subjektif dan objektif dalam ideologi.

Deni telah memberi saya kesempatan untuk sedikit menengok ke lapisan dalam dirinya dan karya-karyanya. Saya tidak benar-benar tahu lapisan mana yang ia suguhkan kepada saya. Bagaimanapun, wawancara adalah ruang pemanggungan identitas. Saya memerankan diri sebagai pewawancara dan Deni memerankan diri sebagai narasumber. Tentu ada perihal yang tak bisa diakses dari pemanggungan identitas ini, dan upaya menuliskannya boleh jadi hanya menyederhanakan kerumitan interaksi di luar pertemuan kami.

Kolase manusia yang dibuat Deni Junaedi saat berusia 5 tahun 11 bulan © dok. pribadi
Kolase manusia yang dibuat Deni Junaedi saat berusia 5 tahun 11 bulan © dok. pribadi

Melihat kembali foto secarik kertas di masa kecilnya, saya telah mencoba menyusun sosok Deni Junaedi melalui potongan-potongan kisah yang dituturkannya, persis seperti guntingan kertas warna yang dibuatnya 37 tahun lalu. Apa yang dapat saya gambarkan mengenai Deni saat ini hanyalah tempelan-tempelan dari timbal balik tanya-jawab selama percakapan kami. Sebagaimana tempelan kertas yang dibuat Deni kecil membentuk figur manusia sederhana yang berkepala kecil dan berkaki besar. Utuh tapi tidak proporsional. Sementara itu, hasil dari gambaran saya tentang Deni tak mungkin utuh, kendati saya mencoba untuk proporsional.

Ketika Deni meyakini bahwa ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk tidak menggambar makhluk hidup, ia tidak membuang atau menelantarkan lukisan-lukisan lamanya. Ia memilih untuk merespons ulang lukisannya dengan menghapus dan menambahkan keyakinan barunya pada permukaan kanvas. Seperti rangkaian kolase pada lukisan-lukisan Deni, saya beranggapan bahwa hidup juga merupakan rentetan proses kolase/dekolase yang tidak pernah selesai. Melihat riwayat karya-karyanya, Deni tampak selalu berproses untuk mempelajari, mempertanyakan, dan menggugat keyakinannya sendiri. Saya hanya berharap agar keyakinannya kali ini tidak membuatnya berhenti bertanya.●

 

Seluruh hak pemuatan gambar lukisan dan dokumen pribadi atas seizin Deni Junaedi.

 

BAGIKAN
Artikel sebelumyaWujud Asli sang Pelukis Palsu
Brigitta Isabella
Menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di KUNCI Cultural Studies Center, sebuah kolektif peneliti di Yogyakarta, yang berkecimpung dengan produksi dan pelbagai pengetahuan kritis melalui publikasi media, perjumpaan lintas disiplin, riset-aksi, intervensi artistik, dan pendidikan ugahari baik di dalam maupun antara ruang-ruang komunitas. Email: brigitta.isabella@yahoo.com.
  • Syamsul Icul Barry

    Sekedar mengingatkan bahwa persoalannya adalah didirikan HTI chapter ISI Yogyakarta yang diberitakan pada kegiatan2nya. Padahal ormas dilarang buka cabang di dalam kampus.
    Kalau soal metoda penciptaan deni junaedi, tentu karena ada diranah akademis maka yang harus dilakukan melakukan perjuangan lewat akademis, yang jadi soal kalau menganggap yang lain salah itu masalahnya. Bagusnya deni mendorong mendirikan jurusan seni lukis di UIN saja tentu akan lebih cepat berkembang.

    • Koeliah Oemoem

      maaf, pak. anda malah fasistik; menuduh bahwa laku berkesenian teman-teman UIN seolah kaku. bukankah kesenian yang kaku itu bila menganggap monopoli seni hanya milik ISI? lantas, APANYA YANG NYENI? itu cuma permisalan. monggo berdebat yg estetik!