Kesamaan Kalimat dalam “Merumahkan Orang Rimba”

Dalam narasi reportase Jogi Sirait, “Merumahkan Orang Rimba” (dimuat Pindai 18 November 2015), ada tanggapan dari Roy Thaniago, peneliti Remotivi yang tengah studi media di Swedia. Roy menulis artikel “Jokowi, Orang Rimba, dan Kekerasan Kultural” (dimuat Geo Times pada 1 November 2015) sebagai respons kedatangan rombongan Jokowi dari Jakarta bertemu dengan orang Rimba di Jambi pada 30 Oktober.

Artikel Roy adalah salah satu diskusi viral yang sehat sebagai kritik terhadap upaya pemerintah “merumahkan” orang Rimba yang kian menyempit ruang hidupnya, di tengah gempuran korporasi dalam agenda kepentingan ekonomi-politik ekspansi global, sekalipun mayoritas orang Rimba tinggal di satu kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai taman nasional. Proses mengubah status menjadi taman nasional itu, sebagian ide awalnya merujuk pengakuan hak adat dan lahan tempatan orang Katu di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. (Telaah proses perubahan dari pengakuan hak orang Katu, bisa Anda baca: Claudia D’Andrea, Kopi, Adat dan Modal (Sajogyo Institute, Yayasan Tanah Merdeka, Tanah Air Beta, 2013). (more…)

Sinar Harapan 1970

Sinar Harapan dan Senjakala Media Cetak

Ada kabar bahwa Sinar Harapan (baik cetak maupun online) akan berhenti terbit awal tahun 2016. Belum ada pengumuman resmi yang bisa dibaca, meski jika kita menyimak tren penurunan besar-besaran jumlah eksemplar media cetak di berbagai belahan dunia, hal seperti ini wajar terjadi.

Buat saya, ini tetap kabar yang mengejutkan. Satu-satu media cetak di Indonesia runtuh, dan terpaksa berhenti terbit. Tahun ini saja Jakarta Globe menghentikan edisi cetaknya, demikian juga dengan Readers Diggest Indonesia, Koran Tempo minggu, Harian Bola, bahkan Majalah Detik (yang terbit online) juga memutuskan berhenti terbit. Entah apalagi yang menyusul.

Tren global memang menunjukkan bahwa media-media cetak banyak yang berhenti terbit, bahkan media-media besar seperti Newsweek (meski pada akhirnya memutuskan terbit kembali). Sementara di Indonesia, sulit merujuk data yang pasti tentang angka penurunan eksemplar dan pembaca suratkabar. Kita hanya bisa membaca “pranata mangsa” dari apa yang ditemui sehari-hari: semakin jarang orang membaca koran, akses online yang tinggi, loper koran yang semakin merugi, dan sebagainya. (more…)

Foto diambil dari www.popsci.com

Jurnalisme Realitas Maya

Perkembangan teknologi mutakhir selalu menghasilkan cara-cara baru untuk menyampaikan informasi. Tak hanya sebatas menyampikan informasi, tetapi teknologi menghasilkan bentuk media baru yang dapat memberikan alternatif lain terhadap cara-cara bercerita.

Berawal dari media konvensional seperti surat kabar atau majalah yang hanya mampu bercerita melalui teks, grafik, serta citra/ilustrasi. Kehadiran media internet telah memungkinkan sebuah produk jurnalisme dapat ditampilkan melalui sebuah halaman web yang interaktif. Melalui halaman web itulah format media pendukung seperti audio, video, dan citra bergerak dapat dikombinasikan untuk menghasilkan sajian yang lebih atraktif.

Interaktivitas sebuah media bukanlah satu-satunya alasan untuk mendigitalkan sebuah produk jurnalisme. Namun, ada alasan lain yang lebih penting, yaitu bagaimana produk jurnalisme itu bisa diterima dengan baik dan dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pembaca. Pembaca seolah-olah sedang mengalami sendiri peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. (more…)