Diskusi Pindai: Jurnalisme (dan) data di era digital

 

acara-jmr-pindai

Undangan Diskusi

PINDAI terlibat dalam satu diskusi di acara Jagongan Media Rakyat 2016. Kami mengajak Beritagar, Fandom, Remotivi untuk berbagi pengetahuan tentang tema jurnalisme (dan) data di era digital. Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.

Diskusi akan mengelaborasi tentang apa itu jurnalisme data. Apakah di tengah kecenderungan media di Indonesia mempraktikkan talking news, jurnalisme data memiliki masa depan? Bagaimana peran jurnalisme dan warga di era digital untuk tetap relevan? Diskusi akan melihat sejumlah kemungkinan mengenai jurnalisme data di Indonesia. (more…)

Masa Depan Jurnalisme Naratif

MASA DEPAN JURNALISME NARATIF

 

Diskusi dan Peluncuran Buku #Narasi oleh Pindai

13 Februari 2016 Pukul 13:00-16:00

Auditorum IFI-Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta

Jalan Sagan No. 3 (Peta: https://goo.gl/rbmGwc)

 

Pembicara:

Andreas Harsono, wartawan (Yayasan Pantau & peneliti Human Rights Watch)

Nezar Patria, wartawan (anggota Dewan Pers Indonesia & pemred The Jakarta Post online)

 

Moderator:

Anang Zakaria, wartawan (Ketua AJI Yogyakarta) (more…)

20151206_161138

Bertemu Kawan Lama dan Baru di Jakarta

Diskusi #narasi dan bedah buku.

DATANG KE JAKARTA sebetulnya bertemu dengan teman-teman lama, atau teman baru yang kenal lebih dulu lewat jejaring sosial. Termasuk ketika empat editor Pindai punya agenda pada 5 & 6 Desember 2015.

Di acara Festival Pembaca Indonesia, yang digelar rutin setiap tahun sejak 2010, Pindai mengisi satu slot sesi workshop—demikian panitia menyebutnya (meski sebetulnya lebih pas sebagai diskusi)—tentang bagaimana jurnalisme naratif berkembang di era digital. Acara ini dibikin oleh komunitas Goodreads Indonesia, yang mengklaim memiliki “lebih dari 14.000 anggota terdaftar” di goodreads.com. Tema besar yang diusung tahun ini adalah “reading, caring, and sharing.”

Di acara itu, saya bertemu Aldo Zirsov, menyebut diri “book aficionado”, yang kisah pencarian buku-bukunya yang hilang dalam ekspedisi justru kemudian menemukan lingkaran pembaca dan pertemanan. Kisah ini ditulis oleh Maulida Sri Handayani untuk Pindai, Agustus lalu. Maulida datang pada acara itu, juga sejumlah kenalan lain, yang (sungguh mati) rupanya berniat juga mengikuti seleksi untuk mengisi kuota yang kami batasi 25 kursi. Nama-nama lain yang kami kenal, dan pernah menulis untuk Pindai, adalah Ardyan M. Erlangga, Fatimah Zahrah, Nuran Wibisono, dan Viriya Paramita. Viriya, biasa disapa Jawir (karena namanya sering disalahduga sebagai perempuan), baru saja menerbitkan buku perdananya lewat Hibah Buku Nonfiksi Pindai. Ada juga Aditia Purnomo, yang mengelola Jombloo.co dan kabarburuh.com. Partisipan lain adalah wartawan dan penulis traveling. (more…)

Tampilan pajangan naskah-naskah Pindai.

Memindai Pindai dalam Ruang Rupa

Bagaimana menampilkan naskah-naskah bernapas panjang dalam ruang pameran? Terutama, karena sifatnya dalam-ruang dan mengundang keramaian, standar yang lazim dipakai pertama-tama menonjolkan dimensi visual ketimbang rumputan teks—apalagi teks itu memiliki beban ‘mendalam dan kritis’—slogan yang diusung Pindai.

Para pegiat @radiobuku termasuk Muhidin M. Dahlan dan Faiz Ahsoul pada satu malam menawarkan (redaksi) Pindai memamerkan makalah. Teknisnya, editor Pindai memilah 23 naskah terpilih yang terbit di situsweb tersebut, lantas dicetak, kemudian naskah-naskah itu akan diletakkan di satu meja dalam ruang pameran di kantor Iboekoe, dan bila ada pengunjung yang tertarik, ia bisa menggandakan di mesin fotokopi. Panitia kegiatan ini sudah menyiapkan mesin tersebut.

Pindai diajak terlibat dalam kegiatan tiga hari pada awal Oktober 2015 bernama “Festival Literasi Selatan” dalam satu rangkaian program pra-Biennale Jogja Equator #3. Selain Pindai, dari Komunitas Bahagia EA (di Yogyakarta bagian utara), juga ada Mojok.co dan Jombloo.co serta Minumkopi.com. Mereka bersama para pegiat/ pengarsip zine mengisi perayaan yang memberi ruang pada praktik literasi komunitas dan praktik kultural masyarakat setempat. Ia dibantu lewat kurasi oleh Rain Rosidi, direktur artistik Biennale dan pengajar Institut Seni Indonesia. (more…)