Foto diambil dari www.popsci.com

Jurnalisme Realitas Maya

Perkembangan teknologi mutakhir selalu menghasilkan cara-cara baru untuk menyampaikan informasi. Tak hanya sebatas menyampikan informasi, tetapi teknologi menghasilkan bentuk media baru yang dapat memberikan alternatif lain terhadap cara-cara bercerita.

Berawal dari media konvensional seperti surat kabar atau majalah yang hanya mampu bercerita melalui teks, grafik, serta citra/ilustrasi. Kehadiran media internet telah memungkinkan sebuah produk jurnalisme dapat ditampilkan melalui sebuah halaman web yang interaktif. Melalui halaman web itulah format media pendukung seperti audio, video, dan citra bergerak dapat dikombinasikan untuk menghasilkan sajian yang lebih atraktif.

Interaktivitas sebuah media bukanlah satu-satunya alasan untuk mendigitalkan sebuah produk jurnalisme. Namun, ada alasan lain yang lebih penting, yaitu bagaimana produk jurnalisme itu bisa diterima dengan baik dan dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pembaca. Pembaca seolah-olah sedang mengalami sendiri peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu.

Bayangkan bagaimana pembaca bisa merasakan detik-detik runtuhnya gedung WTC pada peristiwa 11 September 2001? Bagaimana merasakan kedekatan empati dengan para pengungsi Syria, padahal pembaca terpisah begitu jauh di belahan dunia yang lain? Bagaimana menyusun kronologi investigatif perampokan sebuah bank yang didalamnya memiliki banyak sudut pandang? Cerita-cerita tersebut tentu akan menarik jika diilustrasikan ke sebuah media yang dapat menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi ketimbang — pada hal-hal tertentu — hanya dituliskan dalam sebuah serangkaian reportase.

Teknologi web barangkali sudah bisa mengakomodasi sebuah ‘media yang interaktif’, tetapi teknologi realitas maya (Virtual Reality/VR) mencoba mengisi ceruk ‘media yang dapat lebih dirasakan’. Chris Milk, dalam sebuah presentasi TED, menyebut VR sebagai ‘mesin empati’. Ia mendemonstrasikan film Clouds Over Sidra dalam bentuk VR, sebuah kisah seorang anak pengungsi Syria berumur 12 tahun, yang bernama Sidra. Film tersebut membawa pengguna ke lingkungan kamp pengungsian Za’atari di Yordania, mengajak pengguna seolah-olah ia sedang berada di sana. Pengguna akan diajak menjelajahi kondisi lingkungan Za’atari, dari halaman kamp, dapur masak, kamar pengungsi, hingga ruang kelas. “VR menghubungkan empati satu manusia ke manusia yang lain secara mendalam. VR membuat kita lebih welas asih, lebih empatik, serta lebih terhubung,” jelas Chris Milk di akhir presentasi.

Salah satu scene 'Clouds Over Sidra' jika dilihat dari perangkat VR.
Salah satu scene ‘Clouds Over Sidra’ jika dilihat dari perangkat VR.

Istilah VR populer dalam dunia teknologi sejak tahun 1991 melalui karya buku nonfiksi Virtual Reality karangan Howard Rheingold. VR merupakan jenis teknologi yang termasuk dalam kajian realitas campuran (mixed reality) yang diklasifikasikan melalui paper yang ditulis oleh Paul Milgram berjudul A Taxonomy of Mixed Reality Visual Displays (1994). Istilah VR digunakan untuk menyebut kajian teknologi yang menyimulasikan kehadiran fisik ke dalam lingkungan maya (lingkungan yang dibangkitkan oleh komputer), serta memungkinkan interaksi pengguna ke dalam lingkungan tersebut. VR secara artifisial menciptakan pengalaman sensorik yang mencakup indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan penciuman. Untuk menggunakan teknologi VR, pengguna memerlukan sebuah perangkat bantu, dalam istilah VR disebut sebagai wearable devices. Perangkat tersebut berupa kacamata yang dapat digunakan pengguna untuk menimbulkan kesan 3D. Pengguna dapat melihat ke sepenjuru ruang atau lingkungan (360 derajat) dengan cara mengarahkan/menggerakkan kacamata VR tersebut ke berbagai sudut.

VRSE adalah salah satu contoh startup yang khusus menangani solusi untuk jurnalisme realitas maya. Jika menilik beberapa portofolionya — termasuk Clouds Over Sidra, proyek-proyek yang mereka kerjakan sebagian besar berkutat pada isu-isu sosial. Belakangan media New York Times (NYT), yang juga bekerja sama dengan VRSE, membangun sebuah video reportase dalam bentuk VR bertajuk ‘Walking New York’. Video tersebut mencoba mendokumentasikan proses pembuatan street art oleh seniman asal Perancis, JR, di salah satu jalanan kota New York. Street art tersebut dibuat untuk menggambarkan kepedulian New York sebagai kota imigran. Menurut kabar yang beredar, NYT akan mengerjakan proyek kolaborasi jurnalisme VR ini dengan tema yang berbeda, sekaligus mendistribusikan satu juta cardboard VR kepada pelanggan The New York Times Magazine.

Jalanan di kota New York yang digunakan untuk membuat proyek jurnalisme maya 'Walking New York'.
Jalanan di kota New York yang digunakan untuk membuat proyek jurnalisme realitas maya ‘Walking New York’.

Kini semakin banyak perangkat keras wearable VR yang masih terus bermunculan. Perusahaan-perusahaan teknologi dunia juga ikut melakukan investasi untuk mengembangkan perangkat dan konten VR. Sebut saja Oculus Rift (Facebook), Samsung Gear VR, Sony PlayStation VR, HTC Vive, Microsoft Hololens, atau versi yang paling murah Google Cardboard. Meskipun harga perangkat-perangkat tersebut cenderung masih mahal, setidaknya jurnalisme VR masih mempunyai harapan yang cerah saat ini.

Jurnalisme VR tak sekadar memindahkan narasi pada media konvensional ke media digital. Lebih jauh dari itu, jurnalisme VR menawarkan sebuah narasi yang dapat dirasakan secara lebih nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *