Masa Depan Jurnalisme Naratif

MASA DEPAN JURNALISME NARATIF

 

Diskusi dan Peluncuran Buku #Narasi oleh Pindai

13 Februari 2016 Pukul 13:00-16:00

Auditorum IFI-Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta

Jalan Sagan No. 3 (Peta: https://goo.gl/rbmGwc)

 

Pembicara:

Andreas Harsono, wartawan (Yayasan Pantau & peneliti Human Rights Watch)

Nezar Patria, wartawan (anggota Dewan Pers Indonesia & pemred The Jakarta Post online)

 

Moderator:

Anang Zakaria, wartawan (Ketua AJI Yogyakarta)

 

Mengapa media-media lama di sini, yang infrastrukturnya telah tersedia berkat usia panjang mereka sejak era Orde Baru, masih lambat mengutamakan dan memantapkan jurnalisme di ranah daring? Mengapa jurnalisme majalah belum banyak dipakai di media online? Apa yang bisa kita lihat dari munculnya sejumlah situsweb alternatif—dikelola dengan organisasi kecil dan setengah subsidi—yang lebih sering menawarkan liputan dan esai panjang? Mengapa model penulisan nonfiksi yang mengeksplorasi seni bercerita sekaligus disiplin jurnalisme masih minim dikerjakan oleh ruang redaksi publikasi besar? Bagaimana lanskap digital yang diciptakan internet mendorong bentuk penyampaian jurnalisme secara interaktif dan multimedia?

Saat sejumlah inisiatif terus mengembangkan penulisan panjang di pelbagai publikasi ruang maya, yang ditandai dengan tagar #longform atau #longreads, kita masih berdebat dan mencemaskan tentang sebuah era yang meringkus kejayaan media cetak. Ketika peran jurnalisme video sudah dianggap vital oleh media besar dunia untuk lebih merebut perhatian audiens, dengan durasi pendek serupa berita lempang dan disebar lewat media sosial terutama Facebook, kita masih berdebat betapa pentingnya kemampuan mengurai, mengurasi, dan memindai apa yang disebut ‘big data’ di belantara internet.

Diskusi ini hendak mengelaborasi perkembangan media, terutama yang terlihat sejauh ini, dan apa yang bisa kita pelajari dari perubahan yang diciptakan internet. Ia membahas pula kemungkinan genre jurnalisme naratif bisa berkembang di media-media daring arus utama. Mengapa tolok ukur merebut perhatian audiens lewat jumlah klik, judul bombastis, dan model artikel cepat lain, misalnya, tidak diimbangi dengan prosa-prosa nonfiksi yang mengeksplorasi kematangan bertutur lewat jurnalisme naratif?

Pembahas diskusi adalah @andreasharsono dan @nezarpatria. Harsono dikenal salah satunya lewat upaya dia, bersama Majalah Pantau (1999-2003) dan Yayasan Pantau (http://www.pantau.or.id/), mengembangkan penulisan naratif. Kelasnya yang diampu di Jakarta, rutin dua kali dalam setahun selama 15 tahun terakhir, telah banyak mendidik puluhan penulis dan jurnalis menerapkan metode penulisan naratif. Genre itu mematangkan prosa nonfiksi lewat perkakas dalam novel. Harsono akan bicara pengalamannya bersentuhan dengan naskah-naskah narasi, perkakas apa saja yang diperlukan, dan bagaimana model naskah storytelling diterapkan oleh sejumlah situs media.

Nezar Patria akan bicara soal era digital yang diterapkan oleh banyak media di Jakarta. Patria, sebelum kini di The Jakarta Post, dulu bekerja di Vivanews dan CNN Indonesia. Dia akan memberi gambaran soal tren jurnalisme online di Indonesia. Bagaimana dari tren itu—yang menciptkan iklim wartawan harus menyetor belasan artikel setiap hari—bisa diimbangi dengan penyajian berita mendalam? Bagaimana komprominya untuk pembaca di Indonesia? Bagaimana model penyajian interaktif dan multimedia?

Kedua pembicara akan membahas tema ini selama sekira satu jam dari pukul 13:00. Lantas ada coffee-break, dan dilanjutkan lagi diskusi bersama audiens hingga sekira pukul 16:00. Kami menawarkan proyektor, bila diperlukan, bagi kedua pembicara mengelaborasi diskusi ini.

Acara diadakan di auditorium Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta. Ia akan dipandu oleh @anangzakaria sebagai moderator. Kegiatan ini akan dihadiri oleh mahasiswa yang bergiat di pers kampus, para wartawan, mahasiswa komunikasi, selain dari masyarakat umum. Kursi untuk audiens terbatas 100 orang.

Kegiatan ini bersamaan dengan peluncuran buku Pindai terbaru berjudul #Narasi—berisi 18 naskah panjang dari 18 penulis. Mereka adalah Andina Dwifatma (PanaJournal, Jakarta), Andreas Harsono (Jakarta), Anugerah Perkasa (Bisnis Indonesia, Jakarta), Bayu Maitra (Bacaan Malam, Jakarta), Budi Setiyono (Historia, Jakarta), Chik Rini (Aceh), Coen Husain Pontoh (Indoprogress, New York), Fahri Salam (Pindai, Yogyakarta), Imam Shofwan (Pantau, Jakarta), Jogi Sirait (Jambi), Mahfud Ikhwan (Belakang Gawang, Yogyakarta), Nody Arizona (Minum Kopi, Yogyakarta), Prima Sulistya Wardhani (Literasi, Yogyakarta), Puthut EA (Mojok, Yogyakarta), Raka Ibrahim (Disorder Zine, Jakarta), Rusdi Mathari (Jakarta), Yusi Avianto Pareanom (Jakarta), dan Zen RS (Panditfootball, Bandung).

 

Kontak acara:

 

Wisnu Prasetya Utomo [@wisnu _prasetya] +62 817-0584-344

@pindaimedia | facebook.com/pindai.org

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *