Tampilan pajangan naskah-naskah Pindai.

Memindai Pindai dalam Ruang Rupa

Bagaimana menampilkan naskah-naskah bernapas panjang dalam ruang pameran? Terutama, karena sifatnya dalam-ruang dan mengundang keramaian, standar yang lazim dipakai pertama-tama menonjolkan dimensi visual ketimbang rumputan teks—apalagi teks itu memiliki beban ‘mendalam dan kritis’—slogan yang diusung Pindai.

Para pegiat @radiobuku termasuk Muhidin M. Dahlan dan Faiz Ahsoul pada satu malam menawarkan (redaksi) Pindai memamerkan makalah. Teknisnya, editor Pindai memilah 23 naskah terpilih yang terbit di situsweb tersebut, lantas dicetak, kemudian naskah-naskah itu akan diletakkan di satu meja dalam ruang pameran di kantor Iboekoe, dan bila ada pengunjung yang tertarik, ia bisa menggandakan di mesin fotokopi. Panitia kegiatan ini sudah menyiapkan mesin tersebut.

Pindai diajak terlibat dalam kegiatan tiga hari pada awal Oktober 2015 bernama “Festival Literasi Selatan” dalam satu rangkaian program pra-Biennale Jogja Equator #3. Selain Pindai, dari Komunitas Bahagia EA (di Yogyakarta bagian utara), juga ada Mojok.co dan Jombloo.co serta Minumkopi.com. Mereka bersama para pegiat/ pengarsip zine mengisi perayaan yang memberi ruang pada praktik literasi komunitas dan praktik kultural masyarakat setempat. Ia dibantu lewat kurasi oleh Rain Rosidi, direktur artistik Biennale dan pengajar Institut Seni Indonesia.

Selain Pindai, semua komunitas itu sudah memiliki gambaran dengan eksekusi matang. Jombloo diajak untuk bikin “Kamar Jomblo” berkolaborasi dengan pegiat Ruang Kelas SD. Ia sejak awal sudah menerbitkan gelak-tawa karena penuh eksperimen nakal. Minumkopi akan ada sesi khusus untuk mendiskusikan petakopi di Indonesia. Mojok, sebagai situs ‘sedikit nakal banyak akal’ sejak dilansir pada Agustus 2014, telah membentuk keramaian dan percakapan di ruang media sosial. Ia, dengan sendirinya, diberi peran memobilisasi massa aksi untuk #MojokBareng. Tetapi Pindai?

Editor dan manajer medsos kami, Prima Sulistya, memberi usulan lain dari gagasan semula panitia pada pertemuan berikutnya beberapa hari kemudian. Dia bilang, naskah-naskah yang terbit di Pindai adalah naskah panjang, lebih dari 1.500 kata. Bila dicetak, ia akan memakan banyak kertas. Itu memang bisa disebut “makalah”—sebagaimana tawaran panitia; tetapi ia akan mendatangkan keribetan sendiri. Para pengunjung boleh jadi akan membacanya kemudian dengan menggandakan salinan naskah tersebut. Tetapi, seperti alasan di muka, itu akan boros kertas.

Usulan muncul dari kami. Kami tetap akan membawa 23 naskah terpilih tapi dengan hanya menampilkan satu halaman berisi ringkasan naskah tersebut. Dalam satu lembaran itu akan dicantumkan “QR Code” yang memindai pengunjung ke laman naskah tersebut di situsweb. Hambatan dimensi visual? Rupanya tidak ribet dan terbantu sekali oleh ilustrasi yang mengiringi setiap naskah yang terbit di Pindai. Itu, rupa-rupanya juga—bila dipikirkan sekarang—membantu kurator dalam menerangkan konsep Biennale tahun ini yang mengusung tema “hacking conflict” (saya tidak tahu mengapa perlu memakai bahasa Inggris, padahal dalam bahasa Indonesia tak kalah puitis: “meretas konflik”).

Pengunjung menekuri pajangan naskah-naskah Pindai.
Pengunjung menekuri pajangan naskah-naskah Pindai.

Gambarannya: ruangan tengah Gelaran Iboekoe di Sewon (belakang ISI) dipakai untuk semua komunitas literasi itu. Bersitentang dengan dinding pamer Pindai, ada beragam salinan tampilan muka zine yang ditempel di dinding. Sebelah Pindai, di hari biasa sebagai ruang arsip koran-koran lama, dirangkailah panel-panel sehingga membuat sebuah instalasi kamar dan di sanalah Jombloo menawarkan pengunjung tertawa di ruangan yang sebetulnya sangat suram—menurut sensus Biro Pusat Statistik tahun 2013, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 624.750 jiwa dari kaum perempuan di Indonesia.

Aditya Rizki, editor web Pindai, mengambil peran untuk mengeksekusi usulan terbaru. Bentuknya dibikin seragam. Ilustrasi ditempatkan di kepala halaman, ringkasan di samping kiri, dan “kode QR” serta biodata ringkas penulis naskah di sebelah kanan halaman. Kecil saja, di tepi bawah pagina, disematkan logo Pindai beserta rujukan alamat situs, medsos, dan email redaksi.

Persoalan beres. Dan giliran Saiful Bachri, ilustrator tetap kami, mencetak ke-23 naskah terpilih itu dalam ukuran kertas A3+. Setiba di Iboekoe, malam sebelum esok petangnya acara pembukaan festival tersebut, mula-mula segera dia menempelkan materi desain ringkasan naskah itu ke selembar busa, satu demi satu, supaya tetap memberi kesan rapi ketika ditempel di tembok. Berkebalikan dengan tempelan sampul muka zine yang dibuat acak, tempelan karya naskah-naskah Pindai dibikin simetris.

Rain Rosidi, di tengah Saiful mengerjakan itu, mengatakan kerapian dari konsentrasi visual dari Pindai telah “membuat kontras” dari dinding zine dan ‘kamar jomblo’ yang liar, dan saling-bersitentang sekaligus saling-melengkapi itu bisa pula disebut ruang-ruang dalam permaianan “meretas konflik”.

Rain Rosidi, direktur artistik Biennale Equator #3, di depan pajangan naskah Pindai di Iboekoe.
Rain Rosidi, direktur artistik Biennale Equator #3, di depan pajangan naskah Pindai di Iboekoe.

Ke-23 naskah yang dipajang dalam festival itu adalah sebagian dari yang kami kerjakan sejak 2014. Satu naskah datang dari kurasi hibah reportase yang mengkritisi kebijakan kesehatan publik. Naskah-naskah lain memiliki dimensi advokatif pada kurasi kurun kedua akhir 2014 dan awal 2015, serta yang terbaru adalah kurasi tema yang membicarakan seputar dunia pustaka hingga akhir tahun ini. Bila dirangkum, ke-23 naskah itu menampilkan narasi-narasi peliputan dan esai analisis seputar persoalan struktural, pertarungan wacana, dan pembacaan mutakhir Indonesia.

Ilustrasi untuk ringkasan ke-23 naskah ini datang dari seniman Alit Ambara, dikenal lewat ketekunannya membuat poster aksi berupa Nobodycorp. Internationale Unlimited; Saiful Bachri yang belakangan sering menemani naskah-naskah yang terbit di Pindai; serta Wulang Sunu dan The Popo yang karyanya di sini diambil dari pameran “Jinayah Siyasah” (Yogyakarta, 2015).

Saiful Bachri usai memajang tampilan naskah Pindai dalam Festival Literasi Selatan di Iboekoe, Sewon, Bantul.
Saiful Bachri usai memajang tampilan naskah Pindai dalam Festival Literasi Selatan di Iboekoe, Sewon, Bantul.

Ruang rupa dari satu kegiatan pelibatan komunitas ini telah menjadi sebuah proses dari ruang memindai naskah Pindai ke tengah audiens (yang kasat mata) dan mengajak mereka meretas ke ruang daring situsweb Pindai dengan memindai “kode QR” dari telepon pintar mereka.[]

 

Liputan acara:

 

 

One thought on “Memindai Pindai dalam Ruang Rupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *