acehsingkil

Membaca Berita Aceh Singkil

Setiap ada peristiwa tertentu yang sedang hangat di linimasa media sosial, rutinitas yang saya lakukan adalah mengetik kata kunci kejadian tersebut di google. Saya penasaran seperti apa media-media online memberitakan sebuah peristiwa dengan cepat. Biasanya, jika melihat karakter kecenderungan media online di Indonesia, berita-berita di menit-menit awal pasca kejadian tidak akan banyak menunjukkan kebijakan redaksi sebuah media.

Akan sulit menilai framing atau bingkai berita di awal peristiwa karena fokus ada pada kejadian. Kecepatan berita datang dengan spontanitas, satu hal yang kemudian bisa menunjukkan karakter, persepsi, keyakinan atau bias-bias tertentu seorang wartawan yang sudah melekat di kepala. Baru kalau sudah agak berjarak, posisi politik kebijakan redaksi akan terlihat gamblang. Itu sebabnya kenapa berita-berita di media online kerap diralat belakangan, baik dari sisi akurasi data, atau juga sampai penggunaan istilah-istilah tertentu.

Saya menemukan hal yang sama ketika membaca berita pembakaran gereja di Aceh Singkil beberapa hari lalu. Firdaus Mubarik memberikan rangkuman singkat tentang berita-berita awal tentang Aceh Singkil di empat media Kompas, Detik, Tempo dan Republika. Dari amatan sekilas Firdaus, tidak ada perubahan berarti pada cara media meliput isu agama dibanding satu dekade belakangan. Salah satu indikasinya adalah tidak satupun dari empat media di atas menjelaskan latar belakang kasus yang sudah terjadi sejak 1979 di mana terjadi kekerasan terhadap warga Kristen yang menyebabkan warga mengungsi. (more…)

Yang dicari oleh redaksi Pindai

Mulanya adalah kurasi. Penekanannya pada cerita. Tetapi pertaruhannya tetap pada membaca.

Sebagaimana lazimnya satu media, baik dikerjakan main-main dengan upaya sungguh-sungguh maupun sebaliknya, Pindai hendak menyodorkan naskah-naskah bercerita bukan laporan lempang, cerita-cerita mendalam (dan sesekali personal) bukan berita satu halaman.

Kami mengukur, dan sering kami umumkan, panjang naskah Pindai antara 1.000 – 1.500 kata; bahkan acapkali ada yang lebih dari batasan itu. Semua naskah yang kami muat mendapatkan honorarium. Kami hendak menghargai upaya menulis, sebagaimana sudah semestinya.

Sampai akhir tahun 2015, Pindai melansir naskah-naskah reguler yang berpunggung pada pembicaraan mengenai buku. Setiap bulan ada kurasi tema. Dalam tiga bulan terakhir, Pindai menyoroti tema tentang kitab-kitab keagamaan (Juli, saat bulan puasa), dan cerita tentang para penulis maupun individu yang mencintai dunia literasi (bulan Agustus). (more…)

Lubang Cerita

Reportase terbaru di Pindai, tentang Aldo Zirsov dan buku-buku miliknya yang menguap di Tanjung Priok, lantas terdampar di sejumlah tempat termasuk di Bandung, memiliki celah cerita yang tidak bisa menjawab mengapa sampai hilang, tidakkah Aldo (mestinya) menggugat pihak bea cukai?

Maulida Sri Handayani, penulis laporan, menulis, “Beberapa kali barang kiriman dibuka petugas bea cukai dan entah mengapa tidak terkirim ke alamat tujuan.” (Paragraf 15). Bagian “entah mengapa” ini yang kurang dijelaskan. Ini juga keteledoran saya (seringkali!) sebagai editor laporan tersebut.

Saya berbincang dengan Aldo mencari tahu jawaban itu. Sekelumit perbincangan ini juga sudah kami bagikan lewat akun Twitter Pindai.

Kita perlu konteks termasuk kurun waktu di sini. Aldo mengirim buku-buku miliknya, secara rutin 2-3 bulan sekali, dalam rentang 3,5 tahun (2004-2007), dari Denver ke Jakarta, totalnya hingga 3.500 buku.

Di Priok, ada beberapa pengiriman yang diperiksa atau masuk apa yang sering dikenal “jalur merah” di pabean. Satu kontainer besar ini, yang hilir-mudik, bongkar-muat, di pelabuhan berisi banyak barang, tak cuma barang berupa buku, juga dari beberapa nama pemilik. (more…)