Diskusi Pindai: Jurnalisme (dan) data di era digital

 

acara-jmr-pindai

Undangan Diskusi

PINDAI terlibat dalam satu diskusi di acara Jagongan Media Rakyat 2016. Kami mengajak Beritagar, Fandom, Remotivi untuk berbagi pengetahuan tentang tema jurnalisme (dan) data di era digital. Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.

Diskusi akan mengelaborasi tentang apa itu jurnalisme data. Apakah di tengah kecenderungan media di Indonesia mempraktikkan talking news, jurnalisme data memiliki masa depan? Bagaimana peran jurnalisme dan warga di era digital untuk tetap relevan? Diskusi akan melihat sejumlah kemungkinan mengenai jurnalisme data di Indonesia. (more…)

IMG-20160216-WA0012

Diskusi Pindai: 7 Poin dari Kami

Kedua pembicara, Nezar Patria dan Andreas Harsono, membahas dinamika media daring di Indonesia dan kemungkinan jurnalisme naratif berkembang lebih dinamis di era internet.

oleh Aditya Rizki Yudiantika & Fahri Salam

 

Hoax

Bagaimana kita lebih percaya pada cerita bohong di era media sosial?

Kasus yang dibicarakan Nezar Patria soal “burung” Ahmad Dhani. Di tengah banjir kampanye culas antara dua kubu yang bertarung dalam pemilihan presiden 2014, di mana selebritas itu mendukung Prabowo Subianto, muncul tangkapan layar sebuah tweet yang isinya Dhani akan potong alat kelamin bila Jokowi menang. Ia menjadi viral dan tambah riuh di jejaring media sosial ketika Jokowi akhirnya terpilih sebagai presiden. Faktanya? Dhani tidak pernah mengoceh tweet seperti itu.

Saat layar proyektor menampilkan sebuah foto berisi para pendemo yang menyerukan Dhani segera menepati janjinya itu, dan Patria menirukan yel-yel pendemo, sontak para audiens terbahak. Di momen itu lah, dalam pembicaraan yang menuntut perhatian serius, suasana diskusi mulai mencair.

Patria mengulangi dari apa yang jadi aktivitasnya sebagai anggota Dewan Pers. Ada banyak laporan dan pengaduan terkait polah media di era internet ke Dewan Pers, demikian Patria. Dalam presentasinya, data pengaduan itu setiap tahun cenderung naik, dan paling banyak terjadi tahun 2014 ketika pemilihan presiden telah mendorong intensitas kebohongan dan pemelintiran informasi, termasuk apa yang menimpa Ahmad Dhani. Dia melaporkan sejumlah media yang terus mengabarkan tweet tipuan tersebut dan meminta mereka meminta maaf. (more…)

Masa Depan Jurnalisme Naratif

MASA DEPAN JURNALISME NARATIF

 

Diskusi dan Peluncuran Buku #Narasi oleh Pindai

13 Februari 2016 Pukul 13:00-16:00

Auditorum IFI-Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta

Jalan Sagan No. 3 (Peta: https://goo.gl/rbmGwc)

 

Pembicara:

Andreas Harsono, wartawan (Yayasan Pantau & peneliti Human Rights Watch)

Nezar Patria, wartawan (anggota Dewan Pers Indonesia & pemred The Jakarta Post online)

 

Moderator:

Anang Zakaria, wartawan (Ketua AJI Yogyakarta) (more…)

Media Digital sebagai Medan Perang

Beberapa waktu yang lalu saya ikut diskusi dengan Ross Tapsell, pengajar di Australian National University. Ia menulis buku By-lines, Balibo, Bali Bombings: Australian Journalists in Indonesia (2014) dan beberapa artikel tentang media di Indonesia, salah satunya tentang kemunculan oligarki media dan fenomena Jokowi. Ada beberapa catatan menarik dari diskusi dengan Ross yang membahas tentang risetnya mengenai media digital di Indonesia tersebut.

Pertama, Ross menggunakan Marshall McLuhan sebagai basis pemikiran dalam risetnya. McLuhan dalam buku Understanding Media (1964) menyebut bahwa medium is the message, setiap medium menjadi pesan itu sendiri. Berangkat dari sana Ross mengutip Ben Anderson yang menyebutkan bahwa nasionalisme Indonesia (dan juga negara-negara lain) dibawa dan dibentuk oleh media cetak. Koran menjadi medium yang memungkinkan munculnya sebuah komunitas terbayang.

Sementara itu, kehadiran televisi di Indonesia pada era politik mercusuar Soekarno yang kemudian berkembang masif di era Soeharto menjelaskan bagaimana watak rezim politik otoriter. Sebagai medium komunikasi massa yang searah, televisi menjadi medium ideal untuk melakukan berbagai propaganda politik. Philip Kitley dalam bukunya Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca(2001) menjelaskan bagaimana ideologi kekeluargaan ala Orde Baru beroperasi dengan memanfaatkan berbagai tayangan televisi.   (more…)