IMG-20160216-WA0012

Diskusi Pindai: 7 Poin dari Kami

Kedua pembicara, Nezar Patria dan Andreas Harsono, membahas dinamika media daring di Indonesia dan kemungkinan jurnalisme naratif berkembang lebih dinamis di era internet.

oleh Aditya Rizki Yudiantika & Fahri Salam

 

Hoax

Bagaimana kita lebih percaya pada cerita bohong di era media sosial?

Kasus yang dibicarakan Nezar Patria soal “burung” Ahmad Dhani. Di tengah banjir kampanye culas antara dua kubu yang bertarung dalam pemilihan presiden 2014, di mana selebritas itu mendukung Prabowo Subianto, muncul tangkapan layar sebuah tweet yang isinya Dhani akan potong alat kelamin bila Jokowi menang. Ia menjadi viral dan tambah riuh di jejaring media sosial ketika Jokowi akhirnya terpilih sebagai presiden. Faktanya? Dhani tidak pernah mengoceh tweet seperti itu.

Saat layar proyektor menampilkan sebuah foto berisi para pendemo yang menyerukan Dhani segera menepati janjinya itu, dan Patria menirukan yel-yel pendemo, sontak para audiens terbahak. Di momen itu lah, dalam pembicaraan yang menuntut perhatian serius, suasana diskusi mulai mencair.

Patria mengulangi dari apa yang jadi aktivitasnya sebagai anggota Dewan Pers. Ada banyak laporan dan pengaduan terkait polah media di era internet ke Dewan Pers, demikian Patria. Dalam presentasinya, data pengaduan itu setiap tahun cenderung naik, dan paling banyak terjadi tahun 2014 ketika pemilihan presiden telah mendorong intensitas kebohongan dan pemelintiran informasi, termasuk apa yang menimpa Ahmad Dhani. Dia melaporkan sejumlah media yang terus mengabarkan tweet tipuan tersebut dan meminta mereka meminta maaf. (more…)

20151206_161138

Bertemu Kawan Lama dan Baru di Jakarta

Diskusi #narasi dan bedah buku.

DATANG KE JAKARTA sebetulnya bertemu dengan teman-teman lama, atau teman baru yang kenal lebih dulu lewat jejaring sosial. Termasuk ketika empat editor Pindai punya agenda pada 5 & 6 Desember 2015.

Di acara Festival Pembaca Indonesia, yang digelar rutin setiap tahun sejak 2010, Pindai mengisi satu slot sesi workshop—demikian panitia menyebutnya (meski sebetulnya lebih pas sebagai diskusi)—tentang bagaimana jurnalisme naratif berkembang di era digital. Acara ini dibikin oleh komunitas Goodreads Indonesia, yang mengklaim memiliki “lebih dari 14.000 anggota terdaftar” di goodreads.com. Tema besar yang diusung tahun ini adalah “reading, caring, and sharing.”

Di acara itu, saya bertemu Aldo Zirsov, menyebut diri “book aficionado”, yang kisah pencarian buku-bukunya yang hilang dalam ekspedisi justru kemudian menemukan lingkaran pembaca dan pertemanan. Kisah ini ditulis oleh Maulida Sri Handayani untuk Pindai, Agustus lalu. Maulida datang pada acara itu, juga sejumlah kenalan lain, yang (sungguh mati) rupanya berniat juga mengikuti seleksi untuk mengisi kuota yang kami batasi 25 kursi. Nama-nama lain yang kami kenal, dan pernah menulis untuk Pindai, adalah Ardyan M. Erlangga, Fatimah Zahrah, Nuran Wibisono, dan Viriya Paramita. Viriya, biasa disapa Jawir (karena namanya sering disalahduga sebagai perempuan), baru saja menerbitkan buku perdananya lewat Hibah Buku Nonfiksi Pindai. Ada juga Aditia Purnomo, yang mengelola Jombloo.co dan kabarburuh.com. Partisipan lain adalah wartawan dan penulis traveling. (more…)