Tampilan pajangan naskah-naskah Pindai.

Memindai Pindai dalam Ruang Rupa

Bagaimana menampilkan naskah-naskah bernapas panjang dalam ruang pameran? Terutama, karena sifatnya dalam-ruang dan mengundang keramaian, standar yang lazim dipakai pertama-tama menonjolkan dimensi visual ketimbang rumputan teks—apalagi teks itu memiliki beban ‘mendalam dan kritis’—slogan yang diusung Pindai.

Para pegiat @radiobuku termasuk Muhidin M. Dahlan dan Faiz Ahsoul pada satu malam menawarkan (redaksi) Pindai memamerkan makalah. Teknisnya, editor Pindai memilah 23 naskah terpilih yang terbit di situsweb tersebut, lantas dicetak, kemudian naskah-naskah itu akan diletakkan di satu meja dalam ruang pameran di kantor Iboekoe, dan bila ada pengunjung yang tertarik, ia bisa menggandakan di mesin fotokopi. Panitia kegiatan ini sudah menyiapkan mesin tersebut.

Pindai diajak terlibat dalam kegiatan tiga hari pada awal Oktober 2015 bernama “Festival Literasi Selatan” dalam satu rangkaian program pra-Biennale Jogja Equator #3. Selain Pindai, dari Komunitas Bahagia EA (di Yogyakarta bagian utara), juga ada Mojok.co dan Jombloo.co serta Minumkopi.com. Mereka bersama para pegiat/ pengarsip zine mengisi perayaan yang memberi ruang pada praktik literasi komunitas dan praktik kultural masyarakat setempat. Ia dibantu lewat kurasi oleh Rain Rosidi, direktur artistik Biennale dan pengajar Institut Seni Indonesia. (more…)

Yang dicari oleh redaksi Pindai

Mulanya adalah kurasi. Penekanannya pada cerita. Tetapi pertaruhannya tetap pada membaca.

Sebagaimana lazimnya satu media, baik dikerjakan main-main dengan upaya sungguh-sungguh maupun sebaliknya, Pindai hendak menyodorkan naskah-naskah bercerita bukan laporan lempang, cerita-cerita mendalam (dan sesekali personal) bukan berita satu halaman.

Kami mengukur, dan sering kami umumkan, panjang naskah Pindai antara 1.000 – 1.500 kata; bahkan acapkali ada yang lebih dari batasan itu. Semua naskah yang kami muat mendapatkan honorarium. Kami hendak menghargai upaya menulis, sebagaimana sudah semestinya.

Sampai akhir tahun 2015, Pindai melansir naskah-naskah reguler yang berpunggung pada pembicaraan mengenai buku. Setiap bulan ada kurasi tema. Dalam tiga bulan terakhir, Pindai menyoroti tema tentang kitab-kitab keagamaan (Juli, saat bulan puasa), dan cerita tentang para penulis maupun individu yang mencintai dunia literasi (bulan Agustus). (more…)

Lubang Cerita

Reportase terbaru di Pindai, tentang Aldo Zirsov dan buku-buku miliknya yang menguap di Tanjung Priok, lantas terdampar di sejumlah tempat termasuk di Bandung, memiliki celah cerita yang tidak bisa menjawab mengapa sampai hilang, tidakkah Aldo (mestinya) menggugat pihak bea cukai?

Maulida Sri Handayani, penulis laporan, menulis, “Beberapa kali barang kiriman dibuka petugas bea cukai dan entah mengapa tidak terkirim ke alamat tujuan.” (Paragraf 15). Bagian “entah mengapa” ini yang kurang dijelaskan. Ini juga keteledoran saya (seringkali!) sebagai editor laporan tersebut.

Saya berbincang dengan Aldo mencari tahu jawaban itu. Sekelumit perbincangan ini juga sudah kami bagikan lewat akun Twitter Pindai.

Kita perlu konteks termasuk kurun waktu di sini. Aldo mengirim buku-buku miliknya, secara rutin 2-3 bulan sekali, dalam rentang 3,5 tahun (2004-2007), dari Denver ke Jakarta, totalnya hingga 3.500 buku.

Di Priok, ada beberapa pengiriman yang diperiksa atau masuk apa yang sering dikenal “jalur merah” di pabean. Satu kontainer besar ini, yang hilir-mudik, bongkar-muat, di pelabuhan berisi banyak barang, tak cuma barang berupa buku, juga dari beberapa nama pemilik. (more…)