Yang dicari oleh redaksi Pindai

Mulanya adalah kurasi. Penekanannya pada cerita. Tetapi pertaruhannya tetap pada membaca.

Sebagaimana lazimnya satu media, baik dikerjakan main-main dengan upaya sungguh-sungguh maupun sebaliknya, Pindai hendak menyodorkan naskah-naskah bercerita bukan laporan lempang, cerita-cerita mendalam (dan sesekali personal) bukan berita satu halaman.

Kami mengukur, dan sering kami umumkan, panjang naskah Pindai antara 1.000 – 1.500 kata; bahkan acapkali ada yang lebih dari batasan itu. Semua naskah yang kami muat mendapatkan honorarium. Kami hendak menghargai upaya menulis, sebagaimana sudah semestinya.

Sampai akhir tahun 2015, Pindai melansir naskah-naskah reguler yang berpunggung pada pembicaraan mengenai buku. Setiap bulan ada kurasi tema. Dalam tiga bulan terakhir, Pindai menyoroti tema tentang kitab-kitab keagamaan (Juli, saat bulan puasa), dan cerita tentang para penulis maupun individu yang mencintai dunia literasi (bulan Agustus).

Pada September ini, redaksi Pindai mengangkat tema tentang dunia Orde Baru. Dengan melihatnya dari bacaan dan buku-buku yang membicarakan masa pemerintahan yang panjang itu, Pindai mengetengahkan warisan-warisan buruknya yang terus membayangi pemerintahan berikutnya. Bagaimana kekerasan dan teror negara di bawah Orde Baru? Bagaimana Orde Baru—yang menganggap kekuasaan sebagai jaringan keluarga besar—memandang perlawanan? Bagaimana humor-humor di masa pemerintahan represif? Apa wacana yang menonjol pada masa panjang kediktatoran Soeharto itu? Bagaimana anak-anak muda pasca-Orde Baru memproduksi buku-buku untuk mengoreksi rezim itu, membuat wacana tandingan atau yang selama ini ditenggelamkan secara sistematis?

Esai pembuka yang menjadi naskah perdana Pindai dari Linda Christanty, sastrawan dan wartawan yang memiliki kepedulian serius atas kemanusian. Esainya mengisahkan pengalaman personal mengenai bacaan dan buku-buku saat ia remaja hingga dewasa, sejak usia sekolah dasar di Pulau Bangka sampai ia melanjutkan studi di Bandung dan Jakarta. Atas pengaruh kakeknya, juga perkenalannya dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer, Linda Christanty bisa mengukur dan memosisikan dirinya, sebagai individu dan pengarang, di tengah situasi di Indonesia dan dunia.

Pengalaman personal selalu otentik, dan pengaruh orang terdekat maupun peran institusi sebagai struktur yang menopang bangunan satu negara, akan membentuk persepsi kita terhadap lingkungan sekitar; dalam skala apapun. Kira-kira esai Linda hendak mengungapkan bagaimana bacaan dan buku-buku yang ia baca itu membentuknya dan memengaruhinya melihat negara Orde Baru.

Itu sekaligus mengisahkan rentang historis, dalam artikulasi yang bersandar pada pengalaman pribadi, untuk menyingkap dunia di sekitar individu—dalam esai Linda, itu adalah masa Orde Baru. Ini yang kerap jadi penekanan pada naskah-naskah Pindai: menarasikan satu sudut pandang dengan menggamit konteks di baliknya.

Redaksi Pindai terlalu sering menerima naskah yang abai pada “konteks” ini. Ada beberapa naskah, yang akhirnya kami tolak untuk dimuat, karena kurangnya konteks. Kita bisa menulis manasuka, tentang profil atau kasus tertentu di satu tempat yang tidak kita kenali, tetapi dengan menempatkan konteks di dalamnya, setidaknya pembaca bisa menemukan satu pengalaman bersama. Konteks, dengan kata lain, adalah jembatan bagi pembaca. Ia adalah perkakas untuk membayangkan audiens naskah yang kita tulis.

Seseorang misalnya tidak lahir langsung miskin, atau kaya, atau hidup dengan lahir cacat; tetapi mengapa ia miskin, mengapa ia kaya—itulah cerita. Dalam banyak hal, kehidupan dan keputusan kita kerap dipengaruhi dari satu kebijakan yang diatur di Jakarta, dan keputusan di Jakarta ini, sangat mungkin, dipengaruhi dari gejolak keuangan dunia, dibicarakan di ruang-ruang berpendingin udara di kantor-kantor keuangan global, di rapat-rapat segelintir eksekutif dan politisi.

Redaksi Pindai ingin menegaskan tentang satu prinsip dasar dari jurnalisme: proporsional dan komprehensif. Sekaligus menarik dan relevan. Naskah-naskah Pindai berada di jalur itu. Karena kurasi kami sampai akhir tahun 2015 mengupas tentang dunia buku (termasuk dunia penerbitan di dalamnya), maka cerita-cerita reguler berpatok pada tema itu.

Kami menunggu kiriman para peminat di luar sana untuk tersambung dalam halaman Pindai.ORG. Menantikan Anda menulis untuk kami dengan pijakan mendalam dan kritis. Anda bisa cerita tentang orang biasa, tetapi bila Anda berhasil mengungkap cerita besar di balik orang biasa ini, itulah yang redaksi Pindai inginkan.

Terus ikuti dan terhubung dengan kami lewat akun media sosial Pindai: Facebook dan Twitter. Sila kirim naskah Anda, dengan mengikuti tema bulanan kami, ke redaksi@pindai.org.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *