BAGIKAN

Media online perlu memberi ruang liputan mendalam, tak sekadar mengejar jumlah klik.

SEBAGIAN besar pemberitaan mengenai Sistem Jaminan Kesehatan dari empat media online yang diteliti menunjukkan nada negatif, demikian hasil riset media prakarsa Pindai yang dilakukan Wisnu Prasetya Utomo. Nada negatif itu muncul dari judul pemberitaan tapi lebih menunjukkan kutipan narasumber, yang lebih menangkap persepsi psikologis ketimbang realitas sosiologis.

Dalam riset berjudul “Kritik Tanpa Kedalaman (LINK): Analisis isi berita Jaminan Kesehatan Nasional di Portal Detik, Kompas, Merdeka, dan Vivanews 1 Januari – 15 Maret 2014”, Utomo menguraikan bagaimana keempat portal media itu dalam memberitakan sistem terbaru asuransi kesehatan publik lebih banyak dari narasumber resmi, atau dalam jurnalisme disebut “official view”.

Bisa dilihat orientasi yang state-centric dalam pemilihan sumber berita. Tercatat ada 24,4% berita di mana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial menjadi narasumber berita. Berikutnya, 16,3 % berita dengan pemerintah pusat sebagai narasumber dan 12,4 % berita dengan pemerintah daerah sebagai narasumber. Artinya, sekitar 53 % narasumber pemberitaan berasal dari sumber resmi.

“Temuan tersebut menandakan bahwa—meminjam istilah Ashadi Siregar—realitas psikologis mendominasi pemberitaan media,” menurut Utomo. Realitas psikologis berkaitan dengan apa yang diucapkan atau disampaikan oleh narasumber berita. Realitas psikologis berbeda dengan realitas sosiologis yang berangkat dari sebuah tindakan atau fakta-fakta di lapangan. Orientasi berita dengan realitas psikologis yang lebih kental berpotensi mengaburkan pelbagai masalah mendasar tentang program Jaminan Kesehatan Nasional.

Media-media online mestinya sadar juga untuk membangun reportase yang mendalam, setidak-tidaknya memberi ruang bagi peliputan panjang yang dapat menguraikan persoalan penting macam kesehatan publik secara proporsional dan komprehensif yang jadi elemen penting dari jurnalisme, menurut Utomo. Media online tak hanya mengejar jumlah klik pembaca namun juga memenuhi kebutuhan pembaca digital yang setiap tahun naik, yang menginginkan informasi tak cuma dari berita-berita pendek.

“Kecenderungan media online dengan pemberitaan pendek dan judul provokatif, cenderung bombastik, memang lebih mudah menaikkan jumlah klik,” kata Utomo. Tapi mesti pula dipertimbangkan bahwa mutu jurnalisme juga mengandaikan kualitas informasi.

Jumlah pengguna internet menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2013 sekitar 71, 19 juta. Di antara mereka yang mencari kebutuhan berita berkisar 78, 49 persen. Dari data itu seyogianya media online sudah harus memikirkan perkembangan pembacanya, yang mulai beralih dari tradisi mengonsumsi infromasi lewat cetak ke internet.

Pindai, sebuah ruang media berbasis digital yang salah satu kegiatannya melakukan kajian pemberitaan, berpandangan bahwa peliputan atas suatu kebijakan, termasuk isu sistem asuransi kesehatan publik, tak hanya mengangkat sisi yang riuh dan temporer, yang bisa cepat berganti dengan isu terbaru lain yang lebih memancing kegaduhan. Sisi yang riuh itu bisa diimbangi dengan kedalaman reportase, mengangkat banyak sumber primer, terutama orang-orang biasa yang menjadi lingkaran terdalam dari suatu kebijakan pemerintah. Bila hanya berputar pada sumber resmi, berdasarkan pengalaman pemberitaan di bawah Orde Baru, justru tak banyak berubah.

Riset Pindai ini sebatas pada analisis isi berita, sehingga mendasarkan pada apa-apa yang muncul dari teks-teks berita. Ia misalnya tak sampai menjawab pertanyaan mengenai politik keredaksian terkait isu Jaminan Kesehatan Nasional. “Perlu ada penelitian-penelitian selanjutnya untuk menggali korelasi antara pemberitaan yang muncul itu dan pola kerja ruang redaksi di sebuah media online,” ujar Utomo.

 

Untuk hasil riset utuh Pindai mengenai pemberitaan keempat media online terhadap Sistem Jaminan Kesehatan, dapat dibaca di sini.

Hasil riset juga dapat diunduh di sini:

Untuk sejumlah liputan yang diprakarsai Pindai dalam bentuk hibah reportase kepada wartawan mengenai kebijakan dan sistem kesehatan masyarakat, sila lihat: http://pindai.org/category/program/