BAGIKAN

Berita-berita tentang sepak bola di media cetak dan televisi mulai tak lagi diminati. Apakah era digital yang mengikisnya?

Kamis pagi, 9 Oktober 2014, tanda pagar (tagar) #SoccerPamit menjadi salah satu topik pembicaraan terhangat di linimasa Twitter. Tagar tersebut merujuk pada keputusan Tabloid Soccer untuk berhenti terbit pada 11 Oktober 2014, tepat di edisi 13/XV. Our Final Match, begitu yang tertulis di sampul tabloid yang terbit pertama kali pada Juni 2000 dengan nama Hai Soccer.

Mereka tak sendirian. Sebelumnya, Sport7 mengumumkan melalui akun Twitter resminya bahwa terhitung mulai Senin, 6 Oktober 2014, Sport7 Pagi sudah tak tayang lagi. Salah satu acara olahraga di televisi yang menempatkan sepak bola sebagai sajian utama tersebut sudah berusia sembilan tahun.

Tutupnya dua media sepak bola ini menyajikan fakta menarik. Selain secara bisnis sudah tak lagi menguntungkan, tabloid Soccer berkaitan dengan oplah yang terus menurun. Sementara sebagai acara televisi yang dinilai dari rating dan share-nya, Sport7 sudah tak lagi diminati oleh pemirsa sehingga tak lagi menarik untuk mendatangkan iklan yang menjadi sumber pemasukan utama industri televisi.

Fakta di atas juga paradoks jika melihat bahwa sepak bola masih merupakan olahraga yang paling diminati di Indonesia. Lantas apa yang membuat bisnis kedua media tersebut tak lagi menjanjikan? Apakah benar adanya jika era digital telah mengikis bisnis media cetak dan elektronik?

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan memulainya dari penelusuran jejak pemberitaan sepak bola di berbagai media Indonesia. Penulis memulai pembahasan dari jejak sepak bola di media cetak, kemudian televisi, lalu radio, lantas media daring (online), dan diakhiri dengan kesimpulan guna menjawab pertanyaan yang telah diajukan sebelumnya.

Jejak Sepak bola di Media Cetak

Bagaimanapun ini semua hanyalah perkara perubahan zaman. Sepak bola selalu diminati sepanjang zaman, tetapi cara orang untuk menikmatinya itu yang senantiasa dinamis mengikuti perkembangan zaman. Ada era di mana media cetak begitu diminati oleh penikmat sepak bola untuk memperkaya informasi mereka tentang olahraga mengolah si kulit bundar ini.

Surat kabar harian (SKH) Kompas pertama kali dalam sejarah mencapai tiras 500 ribu eksemplar berkat pemberitaan Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Meksiko. “Kalau kita buat kuis katakanlah soal Piala Dunia, kartu pos yang masuk bisa sampai satu juta,” cerita Budhiarto Shambazy, redaktur olahraga Kompas ketika itu.[i]

Sepak bola selalu diminati sepanjang zaman, tetapi cara orang untuk menikmatinya itu yang senantiasa dinamis mengikuti perkembangan zaman.

SKH Kedaulatan Rakyat pada edisi 6 Januari 1951 mengabarkan mengenai proses pembentukan tim nasional sepak bola Indonesia untuk pertama kali yang dipersiapkan guna ambil bagian dalam pesta olahraga negara Asia pertama, Asian Games, yang diselenggarakan di New Delhi pada Januari 1951.

Namun, jumlah halaman olahraga di SKH sangat sedikit. Hanya ada satu halaman khusus olahraga, itupun tidak hanya sepak bola tetapi berbagi dengan cabang olahraga lain. Sepak bola memperoleh porsi pemberitaan yang besar ketika ada pertandingan internasional atau perhelatan olahraga internasional, seperti ketika menjadi headline berbagai SKH Indonesia saat timnas mampu menahan imbang Uni Soviet tanpa gol di Olimpiade Melbourne 1956.

Wajah halaman khusus olahraga SKH Kedaulatan Rakyat edisi 6 Januari 1951
Wajah halaman khusus olahraga SKH Kedaulatan Rakyat edisi 6 Januari 1951

Berangkat dari keterbatasan halaman olahraga di SKH serta banyaknya informasi seputar olahraga yang layak untuk diinformasikan pada publik, mulai muncul media yang fokus mengupas olahraga. Kedaulatan Rakyat pada 1962 menerbitkan “Madjalah Sport” yang memiliki tagline “Madjalah Lembaran Berisikan Chusus Olah-Raga”. Majalah mingguan yang terbit setiap Selasa itu memungut biaya langganan Rp8,5 per bulan bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya yang ingin berlangganan.

Salah satu iklan majalah 'Sport' milik Kedaulatan Rakyat tahun 1962
Salah satu iklan majalah ‘Sport’ milik Kedaulatan Rakyat tahun 1962

Di kemudian hari, semakin banyak media cetak baru yang fokus pada olahraga yang menghadirkan sepak bola sebagai sajian utama. Banyak pula media cetak yang kemudian seluruh isinya merupakan informasi seputar sepak bola baik cerita di dalam maupun luar lapangan. Di antara sederet nama itu yang paling fenomenal tentu Tabloid BOLA.

Tabloid BOLA pada mulanya terbit sebagai sisipan Kompas. Ketika terbit pertama kali pada Sabtu, 3 Maret 1984, BOLA memilih bentuk tabloid yang lebih kecil dengan tebal 16 halaman. Mulai 9 Maret 1984, BOLA terbit setiap Jumat. Jadilah pembeli Kompas setiap hari Jumat memperoleh insentif berupa sisipan khusus olahraga.

Baru empat tahun kemudian BOLA diterbitkan secara terpisah dan dikenal sebagai “Tabloid BOLA”. Edisi perdana terbit secara mandiri ini mulai tanggal 1 April 1988 dan tetap terbit setiap hari Jumat. Dengan mempertimbangkan arus informasi yang lebih cepat serta kebutuhan pembaca, pada tahun 1997 BOLA yang sebelumnya dikenal sebagai tabloid mingguan yang terbit sekali seminggu menambah jadwal terbitnya menjadi dua kali seminggu setiap hari Selasa dan Jumat. Tanggal 11 Maret 1997 merupakan edisi Selasa perdana.

Pada masa itu oplah Tabloid BOLA bisa mencapai 500 ribu eksemplar. Menyaingi saudara tuanya, Kompas. Tabloid BOLA telah menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk memperoleh berita terbaru seputar sepak bola dunia maupun nasional. Melihat minat masyarakat yang besar terhadap sepak bola, Tabloid BOLA pun membidani terbitnya media cetak baru.

BOLA membidani lahirnya majalah BolaVaganza yang pertama kali terbit pada bulan November 2001.[ii] Terbit pula Bola Sports yang mengupas cabang olahraga lain selain sepak bola. Ada pula Bola Poster yang berisi poster klub sepak bola maupun pemain, serta dua majalah sepak bola impor dari Inggris, yaitu FourFourTwo dan Inside United yang secara khusus membahas klub Manchester United.

BOLA menjadi pemimpin dalam industri media olahraga tapi dia tak sendirian. Tersebutlah nama majalah Liga Italia. Majalah ini mulai terbit bulanan pada tahun 1998 dan bekerja sama dengan Football Italia. Namun, kebijakan berubah, majalah Liga Italia terbit setiap dua minggu sekali.

Perubahan kebijakan tersebut tentu mendorong perlunya sumber informasi baru. Setelah Entong Nursanto, sang pemilik majalah bertemu dengan Ivan Zazzaroni, penanggung jawab Guerin Sportivo, haluan kerja sama pun berubah. Dengan format yang baru, majalah Liga Italia menjalin kerja sama dengan Guerin Sportivo, majalah sepak bola mingguan Italia. Berkat kerja sama tersebut majalah Liga Italia yang diawaki oleh Ronny Pangemanan, Jan Nabut, Tommy Welly, Jaja Sutedja, dan Sumardjo inipun memperoleh informasi eksklusif langsung dari berbagai kota-kota di Italia yang ditulis oleh jurnalis Guerin Sportivo.

Media dengan paradigma untuk memuaskan pembaca sepuas-puasnya agar bisnis lancar jelas lebih mematuhi kehendak pasar ketimbang mempertahankan idealisme untuk memberi porsi pada berita yang tidak sesuai permintaan pasar.

Majalah Liga Italia pun maju cukup pesat. Tirasnya ketika itu mencapai 50 ribu eksemplar setiap kali terbit. Kesuksesan ini tidak lepas dari populernya sepak bola Italia di Indonesia pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Pada masa itu Liga Inggris belum sepopuler seperti saat ini. Tidak hanya berhenti dengan Liga Italia, pada September 2001, Entong Nursanto menerbitkan majalah Planet Football. Berbeda dengan majalah Liga Italia, Planet Football mengulas sepak bola dunia secara keseluruhan. Guna memasok informasi yang eksklusif, Planet Football bekerja sama dengan Don Balon, majalah sepak bola asal Spanyol.

Majalah lain yang cukup dikenal pada era itu adalah majalah Liga Inggris, majalah Sportif, juga majalah Football+. Nama yang disebut terakhir itu dimiliki oleh salah seorang pengurus PSSI, Gunawan Tjandra. Hal tersebut tentu berpengaruh pada kebijakan medianya. Lantaran sang bos merupakan salah satu pengurus federasi yang memiliki kedekatan dengan Agum Gumelar –ketua umum PSSI saat itu yang juga menteri perhubungan– majalah yang pertama kali terbit Mei 2001 itu menambah porsi pemberitaan sepak bola nasional lebih dari 20 persen jumlah halaman mulai Juli 2001. Namun, kebijakan itu tak bertahan lama. Majalah beroplah lima hingga enam ribu eksemplar itu tak lagi memberikan porsi pada sepak bola nasional sejak edisi Agustus. Alasannya berita sepak bola Indonesia tak laku dijual.

Media dengan paradigma untuk memuaskan pembaca sepuas-puasnya agar bisnis lancar jelas lebih mematuhi kehendak pasar ketimbang mempertahankan idealisme untuk memberi porsi pada berita yang tidak sesuai permintaan pasar. Begitu pula yang kemudian terjadi pada media dengan platform lain.

Merambah ke Layar Kaca

Di industri televisi, sepak bola juga menjadi salah satu tayangan untuk menarik pemirsa. Negeri ini pertama kali memiliki stasiun televisi ketika Televisi Republik Indonesia (TVRI) mulai mengudara pada tanggal 24 Agustus 1962.

TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta. Salah satu cabang olahraga yang diliput adalah sepak bola. Di kemudian hari TVRI aktif untuk meliput berbagai event olahraga multi cabang. Juga menyiarkan sepak bola, termasuk Piala Dunia ketika televisi swasta belum ada. Salah satu program paling diingat adalah Dari Gelanggang Ke Gelanggang yang dibawakan oleh Max Sopacua – kini politisi Partai Demokrat – yang berisi informasi olahraga termasuk sepak bola.

Cuplikan pertandingan sepak bola menjadi acara favorit, apalagi jika para penggemar sepak bola tak memiliki kesempatan untuk menyaksikan siaran langsung. Dari sinilah kemudian muncul program televisi yang khusus membahas mengenai sepak bola di stasiun televisi swasta.

Walaupun TVRI lebih dulu menayangkan tetapi Rajawali Citra Televisi Indonesia yang mulai mengudara pada 1989 bisa dinilai lebih rajin memuaskan masyarakat dengan menghadirkan pertandingan sepak bola kelas dunia. Liga Italia yang melejit pada dekade 1990-an setiap akhir pekan dihadirkan ke ruang-ruang keluarga Indonesia.

Stasiun televisi ini juga membuat program acara khusus sepak bola. Sebut saja Planet Football yang tayang setiap hari Sabtu pukul 12:30 (sempat berubah jam tayang menjadi jam 13:00). Acara ini berisi cuplikan pertandingan dan informasi terkini dari dunia sepak bola.

Seperti yang terjadi di media cetak, apa yang menjadi isi dari acara televisi ini pun mengikuti kehendak pasar. Lega Calcio hadir sebagai pelengkap dari siaran langsung pertandingan Liga Italia. Kemudian ketika Manchester United namanya melejit berkat raihan gelar Treble Winners di musim 1998/1999 Planet Football kerap menyajikan informasi yang berkaitan dengan klub yang berjuluk Setan Merah tersebut.

Tayangan sepak bola nasional juga hadir di layar kaca meski porsi pemberitaannya tetap kalah jika dibandingkan dengan berita sepak bola mancanegara. Umumnya sepak bola nasional hanya hadir dalam satu segmen terakhir program sepak bola di televisi. Begitu pula ketika One Stop Football (OSF) mulai tayang di Trans7 pada tahun 2003. Program anyar ini menyajikan sepak bola internasional yang dikemas secara aktual mulai dari highlight pertandingan, profil pemain bintang, prediksi, hingga peristiwa unik dari lapangan hijau.

Berbarengan dengan perhelatan Copa Dji Sam Soe (Piala Indonesia) 2005, OSF mengenalkan segmen khusus sepak bola nasional yang bertajuk Galeri Sepak Bola Indonesia. Setahun kemudian, setelah menerima respons positif dari pemirsa, GSI tayang sebagai program tersendiri di hari Sabtu dan Minggu siang. Belakangan ini dengan alasan tidak memperoleh rating dan share yang bagus, GSI hanya hadir setiap hari Minggu pukul 13:30. Sementara OSF tetap hadir seminggu dua kali di hari Sabtu dan Minggu pukul 12:45.

Mengudara Bersama Radio Republik Indonesia

Sebelum televisi memasuki setiap rumah untuk menyiarkan secara langsung pertandingan sepak bola, Radio Republik Indonesia (RRI) sudah terlebih dahulu menghadirkan keseruan dari lapangan hijau kepada penggemar olahraga sebelas lawan sebelas ini. Laporan pandangan mata yang melaporkan secara langsung jalannya pertandingan begitu ditunggu masyarakat pada masanya. Inilah salah satu program paling populer yang pernah dibuat oleh RRI.

Publik memang hanya dapat mendengar, tak dapat menyaksikan kejadian yang sesungguhnya seperti apa. Tapi, keriuhan dan kehebohan yang kerap kali dihadirkan oleh sang penyiar cukup untuk membawa atmosfir menegangkan ke dalam benak setiap pendengarnya.

Belum diketahui secara pasti kapan radio yang secara resmi berdiri pada 11 September 1945 ini pertama kali membuat program laporan pandangan mata untuk pertandingan sepak bola di Indonesia. Namun, untuk siaran yang melibatkan tim nasional Indonesia di ajang internasional ada dua jejak berharga yang bisa menuntun kita pada pertandingan mana yang dilaporkan secara langsung melalui siaran radio.

Pertama dari majalah Olahraga yang bertanggal 15 Mei 1954. Di edisi tersebut ada sebuah foto yang di bawahnya bertuliskan “Mahargono tampak sedang melakukan siaran pandangan – mata pertandingan Indonesia lawan Djepang pada malam pertama. Disebelahnya kelihatan Mintorogo jang lebih mendalami hal ichwal atletik, tapi suka djuga pada sepak bola. Kedua saudara inilah jang bersedia menulis djuga untuk madjalah kita ini”.

Jika membaca sejarah sepak bola Indonesia maka kita akan menemukan bahwa pada waktu itu Indonesia memang bertemu dengan Jepang di ajang Asian Games II yang berlangsung di Manila, Filipina. Tim yang dilatih oleh Tony Pogacnic mampu menang 5-3 di laga perdana.

Jejak kedua muncul dari ajang Olimpiade Melbourne ketika Indonesia mampu menahan imbang tanpa gol timnas Uni Soviet yang ketika itu merupakan salah satu tim sepak bola terbaik dunia. SKH Kedaulatan Rakyat pada “DJUM’AT 30 NOPEMBER 1956” memasang headline :

Kes. Indonesia – Kes. Rusia 0-0 Pertandingan diperpandjang 30 menit Kesebelasan kita djadi sensasi besar”. Pertandingan tersebut disiarkan langsung oleh RRI. KR di paragraf kedua berita itu menulis “Wartawan RRI Djakarta jang membuat siaran pandangan mata kemarin telah mentjutjutkan air mata, karena terharu menjaksikan banteng2 Indonesia mati-matian mempertahankan bentengnjya terhadap serangan2 seru dari pihak raksasa Rusia, 120 menit lamanja pemain2 Indonesia bekerdja mati2an untuk membendung serangan pemain2 Rusia jang keras dan bertubi2 itu. Sympati publik tertudju kepada pemain2 kita, jang selama pertandingan menundjukkan sportiviteit jang tinggi. Wasit (Orang Djepang) berkali-kali melewatkan free kick dan hands!”

Wajah SKH Kedaulatan Rakyat edisi 30 November 1956
Wajah SKH Kedaulatan Rakyat edisi 30 November 1956

Kini, di era digital radio tak lantas tergerus zaman hingga menghilang. Justru kemudian banyak radio yang sudah ada maupun baru lahir memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh internet. Radio tak hanya bisa didengar melalui perangkat tertentu tapi sudah bisa diakses melalui smartphone maupun gadget lainnya lantaran kini radio tidak hanya memanfaatkan gelombang melainkan juga internet yang akrab disebut dengan radio streaming.

Adaptasi di Era Digital

Internet pun mendorong hadirnya media baru yang berbasis website atau blog. Bagaikan jamur di musim hujan, kemunculan media online yang khusus membahas sepak bola ini banyak sekali. Tapi, pada akhirnya tak semuanya mampu bertahan dan tak banyak pula yang bisa menyita perhatian masyarakat.

Kemunculan media daring yang khusus membahas sepak bola ini bagaikan jamur di musim hujan. Tapi, pada akhirnya tak semuanya mampu bertahan.

Biangbola.com bisa dikatakan sebagai pionir portal berita yang khusus memberitakan sepak bola. Mulai diperkenalkan pada tahun 2001 Biangbola pada awalnya hanya ada tiga reporter (kemudian jadi enam) yang juga didukung kontributor untuk Liga Indonesia dan ada tiga koresponden khusus di Muenchen, London, serta Milan. Tapi, portal ini kemudian tak lagi hidup. Websitenya sudah tak bisa diakses dan setelah menelusuri akun twitternya diperoleh data bahwa sejak 6 Juli 2013 Biangbola tak lagi aktif.

Namun, kegagalan Biangbola ini tak lantas membuat orang takut untuk memulai usaha media online yang spesialis membahas sepak bola. Sejak booming media sosial pada tahun 2008 bisa dikatakan pertumbuhan media online sangat pesat. Tapi tak semua mampu menyita perhatian khalayak. Di antara sedikit media online yang mampu menempatkan diri sebagai pilihan terdepan pecinta sepak bola di tanah air tersebutlah dua nama, yakni Pandit Football dan Bolatotal.

Pandit Football berdiri sejak tahun 2011 di bawah bendera PT Pandu Talenta Nusantara. Perusahaan ini menyediakan data serta analisis performa berdasarkan statistik di industri sepak bola Indonesia. Keunggulan Pandit Football ini adalah penyediaan analisis dan liputan pertandingan yang akurat, informatif, dan cepat.

Sebelum akhirnya merilis website www.panditfootball.com pencinta sepak bola di tanah air terlebih dahulu mengenal Pandit Football melalui artikel-artikel yang tayang di Detiksport. Ketika itu mereka menulis mengenai analisis-statistik pertandingan Piala Eropa 2012 dan sesekali esai yang terkait dengan turnamen tersebut. Sesuatu yang masih jarang di Indonesia.

Keunggulan Pandit Football ini adalah penyediaan analisis dan liputan pertandingan yang akurat, informatif, dan cepat.

Respons pembaca yang sangat besar terhadap tulisan seperti itu membuat redaksi Detiksport mempertimbangkan untuk membuat subkanal di laman sepak bola yang akan menyajikan artikel “berbeda” dan “berkelas”. Selain itu juga dengan pertimbangan bahwa tren sepak bola telah sedemikian beragam dan semakin semaraknya media sosial yang membuat informasi sepak bola bergulir semakin cepat.

“Dari tren yang tiba-tiba pesat itu kami mencoba membuat ruang “khusus” tentang sepak bola di kanal kami, berupa artikel dengan perspektif “tidak pasaran” – at least, mencoba untuk demikian. Toh sepak bola bukan sekadar menyepak-nyepak Si Kulit Bundar di lapangan hijau. Ini adalah sepak bola. It’s “About the Game,” terang Andi Sururi, Redaktur Pelaksana Detiksport mengenai subkanal About The Game yang mulai tayang sejak Februari 2013. Pandit Football pun kembali menjadi kolumnis tetap untuk About the Game dengan analisis pertandingan sebagai porsi terbesarnya.

Pertengahan 2013, Pandit Football meluncurkan website resminya untuk menampilkan core bisnis. Content kemudian bertambah dengan mengunggah tulisan Pandit Football yang tayang di subkanal About the Game milik Detiksport. Tapi, berselang sekitar 2 bulan setelah tayang di Detik, karena ini berkaitan dengan klausul kerja sama.

Kini, website Pandit Football sudah jauh berkembang. Mulai akhir 2013, Pandit Football mulai merancang website yang real-time memproduksi tulisan baru. “Kami membayangkan sebagai portal yang mendedikasikan diri untuk menurunkan 2 hal utama: football story dan analisis. Dua hal ini yang coba terus menerus kami terjemahkan dalam praktik pengelolaan situs sehari-hari. Kami tidak mentabukan berita, tapi sebisa mungkin kami mengambil angle yang lebih time-less, sehingga kadar ceritanya lebih kuat ketimbang kadar beritanya,” terang Zen Rachmat Sugito.

Sementara Bolatotal, meski berdiri belakangan dibanding Pandit Football, lebih dahulu meluncurkan websitenya. April 2012, www.bolatotal.com resmi diluncurkan. “Kami memang tidak memiliki kekuatan yang cukup dalam hal berita, tetapi kami punya para kontributor yang berkualitas dengan tulisan opini atau feature mereka yang memiliki ciri khas masing-masing,” kata Rezky Agustyananto, chief editor sekaligus social media manager Bolatotal.

Bolatotal memiliki empat personel inti yang tidak hanya ingin mengurusi website tetapi juga ingin menjadi semacam agensi digital khusus di bidang sepak bola. Karena itu Bolatotal sempat nampang di adboard pertandingan persahabatan internasional seperti ketika timnas U-19 melakukan tur Spanyol September 2014 lalu berkat kerja sama dengan promotor sepak bola, Nine Sports.

Kesimpulan

Media cetak sudah ada yang mulai menutup bisnisnya lantaran tak lagi menguntungkan secara bisnis. Begitu pula acara televisi yang sangat mempertimbangkan rating dan share setiap acaranya lantaran berhubungan langsung dengan pemasukan dari iklan.

Namun, itu bukan berarti bahwa internet lah yang menjadi satu-satunya alasan media mainstream mengalami kemunduran. Tak semua media cetak mengalami kebangkrutan. Ada cerita dari harian TopSkor. Koran olahraga harian pertama di Indonesia yang terbit perdana pada 6 Januari 2005 ini bisa dibilang sukses di tengah tergerusnya bisnis media cetak akibat penetrasi internet. TopSkor yang bekerja sama dengan La Gazzetta Dello Sport, koran terbesar di Italia dan Marca, koran populer Spanyol, masih mampu mencapai tiras 250 ribu eksemplar dengan distribusi untuk wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Tentu ada resep khusus agar media cetak tak mati ditinggal pembaca setianya.

Tidak semua media online menuai kesuksesan pula. Meski menjanjikan keuntungan, Soccer juga tetap tidak akan meneruskan website www.duniasoccer.com. Ini berarti memindahkan bisnis dari cetak ke online tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain persaingan yang ketat, perlu ada cara spesial agar netizen menempatkan website milik kita sebagai primadona tempat mereka membaca.

Perlu punya ciri khas agar pembaca loyal. Selain itu juga tetap mempertahankan prinsip bahwa berita yang diproduksi haruslah bisa dipercaya karena di tengah arus informasi yang tak terkendali ini kerap kita jumpai berita yang memberitakan tentang kebohongan atau isu yang tidak jelas. Itu semua perlu dikelola secara konsisten agar pembaca tak pergi. Satu lagi resep agar eksis adalah punya tenaga marketing yang handal karena traffic tinggi belum tentu bisa mudah berjualan.

Bagaimanapun kiat-kiat itu belum tentu bisa membuat media online menggapai kesuksesan. Di era digital ini, tak ada satu paket cara yang akan menjamin keberhasilan jika diaplikasikan pada berbagai media. Bisa saja ada cara yang berhasil diterapkan oleh media A, tapi ketika cara itu diaplikasikan pada media B belum tentu hasil yang diperoleh sama. Seperti yang dikatakan Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam pengantar buku The New Digital Age, internet merupakan satu dari segelintir hal yang dibangun manusia tapi tidak benar-benar kita pahami.

[‘i’] Achmad, Salahudin, 2001, Sepak Bola Dalam Berita, Pantau Tahun II Nomor 020, Desember 2001.

[ii] Situmorang, Ian, 2009, Perubahan Mengikuti Zaman, Bola No. 1909, Selasa 3 Maret 2009.

 

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini. Anda juga bisa mengunduhnya dalam bentuk file PDF: