Penerima Hibah Buku Nonfiksi Pindai 2015

“Sulitnya Mencari yang Kritis dan Mendalam”

PINDAI mengucapkan selamat kepada Viriya Paramita Singgih, wartawan muda yang baru menjalani karier serius dalam jurnalisme selama tiga tahun terakhir, sebagai penerima penghargaan Hibah Buku Nonfiksi Pindai. Dengan demikian, karya-karya lepas nonfiksinya akan segera diterbitkan oleh Pindai.

Jawir, sapaan akrabnya, menulis dan mengirimkan naskah-naskah seputar pembicaraan kelas menengah di Jakarta yang sering jadi kegaduhan di media sosial. Topik-topik tersebut ia ikat dalam tema “urban”. Naskahnya adalah hasil liputan saat bekerja sebagai jurnalis magang di Beritasatu, pekerja penuh di Geo Times, dan naskah lepas yang diterbitkan ke sejumlah media komunitas saat ia melepaskan diri sebagai pekerja penuh waktu untuk menjadi penulis lepas. Topiknya merentang dari fenomena JKT48, LGBT, media, sensor, kehidupan di perkotaan Jakarta, kaum minoritas, para penyintas, teater, film, demokrasi, hingga pencari suaka—rangkaian perbincangan yang bisa anda dapati dalam sebagian besar isu yang muncul di media sosial.

Jawir, lahir dan besar di Jakarta, akrab dengan tema yang ia tulis sekaligus juga membangun satu sikap kritis. Naskahnya tidak begitu mendalam—akan kami jelaskan di bawah—dan itu menjadi salah satu catatan dari program hibah kali ini.

Kami sudah menyadari sebelumnya, membikin satu penghargaan untuk sekumpulan naskah jurnalisme yang kritis sekaligus mendalam berarti masuk dalam pusaran kepelikan sistem yang diciptakan ruang redaksi media-media besar, mayoritas berbasis di Jakarta. Jarang kita melihat satu langkah redaksi yang mau membangun investasi besar bagi reportase berkualitas sekaligus menyajikan naskah naratif. Era koran, bagaimanapun, telah stagnan—bila tidak menurun; dan era digital makin membentuk pusaran yang kian mengamini informasi yang serba gegas dan pendek. Naskah-naskah Viriya Paramita berada dalam iklim media macam itu, yang membentuk naskah kurang eksploratif. Meski, dalam kecenderungan yang khusus, muncul pula naskah-naskah naratif sejalan makin banyaknya media yang mengkhususkan diri pada isu-isu spesialis serta media berbasis blog bersama yang lebih lapang memberi tenggat; sesuatu yang tengah ditawarkan juga oleh Pindai; satu kerja jurnalisme yang lebih menekankan pada proses telaten dan pemilahan tematik.

Ada sejumlah pengirim untuk hibah buku nonfiksi kali ini. Di luar Jawa, di antara yang lain, ada dari Banda Aceh, Pontianak, Makassar, Palu, Gorontalo, dan Jayapura. Ada yang gugur lebih dulu karena buruk, ada yang tidak sesuai dengan kriteria hibah kali ini (yakni naskah-naskah reportase), ada yang terlalu pendek untuk dibukukan, ada pula yang kualitasnya sama dengan, tetapi tidak ada dalam, naskah Viriya Paramita. Satu yang khas dari naskah Viriya “Jawir” Paramita adalah ia tidak mengawali frasa pembuka yang klise (ingat teori kita perlu membunuh senja atau suasana alam pada awal kalimat).

Kualitas yang setara dari sekumpulan naskah di antara sebagian kecil pengirim, setelah ditapis lagi, membuat tim editor Pindai perlu memikirkan pertimbangan di luar naskah. Salah satunya, apakah naskah-naskah ini, setelah dibukukan, bisa menarik untuk dibaca? Apakah ia mengundang ketertarikan bagi pembaca, dan menjadi obrolan sehabis membacanya? Pilihan akhirnya jatuh pada naskah yang ditawarkan Viriya Paramita. Kami tentu bisa keliru. Dan untuk pengirim naskah-naskah yang kualitasnya setara ini, kami tentu berharap naskah-naskah itu, dalam kesempatan yang lain, bisa menemui pembaca yang luas. Ini barangkali bisa disebut sebagai bias “pembaca Indonesia”—sesungguhnya mengandung pijakan abstrak—karena informasi yang kita baca lebih sering dari apa yang diproduksi dari Jakarta.

Komprominya adalah, kami ingin menghadirkan naskah yang memang jadi obrolan “kelas menengah” tetapi dengan sikap yang setidaknya mengajak untuk memandangnya secara kritis lewat sekumpulan naskah reportase Viriya Paramita. Kami sadar bahwa pertimbangan ini, kalaupun ada, tidak semua bisa bikin puas—bahkan di antara tim editor Pindai—terutama bagi para penulis dan wartawan yang telah mengirimkan naskah-naskahnya untuk ikut program hibah buku nonfiksi kali ini.

Kami tentu berharap, pada masa seterusnya, Viriya Paramita bisa makin mendalam untuk mengangkat satu topik tertentu, sembari tetap kritis, tanpa kehilangan penyajian yang luwes dan enak dibaca. Tantangan kepenulisan (nonfiksi) di manapun adalah menyajikan narasi yang menarik sekaligus relevan mengenai persoalan di dunia yang makin kompleks. Usia Viriya Paramita masih 24 tahun ketika mengirim naskah-naskah yang akan dibukukan ini. Itu juga ujian baginya, dan taruhan bagi kami (yang genit semata), apakah ia bisa konsisten dalam laku jurnalisme dan (membangun) karier menulis yang lain.

Selamat kepada Viriya Paramita Singgih. Dan terima kasih kepada para pengirim hibah buku nonfiksi Pindai yang lain. Semoga program ini, kendati dalam iklim media yang memberi sikap lazim pada kecepatan, bisa terulang lagi pada tahun depan.

 

Fahri Salam

Editor Pindai

 

Tim seleksi Hibah Buku Nonfiksi

  1. Aditya Rizki Yudiantika
  2. Fahri Salam
  3. Prima Sulistya Wardhani
  4. Wisnu Prasetya Utomo